Hari berikutnya Bu Dina akhirnya meminta maaf secara pribadi kepada Zalika dan Zahra.
Zahra merasa senang meskipun Bu Dina tidak melakukannya di depan umum, tapi ia sudah lega karena sekarang Zalika tidak di remehkan lagi.
Saat pelajaran olahraga Pak Awam guru olahraga Zalika mengajak Zahra berbicara tentang kegemaran Zalika pada olahraga lari.
Pria itu menyarankan kepada Zahra untuk sering melakukan latihan kepada putrinya untuk meningkatkan kecepatannya.
Ia bahkan menawarkan diri untuk menjadi pelatihnya.
"Terimakasih Pak Awam atas perhatiannya," ucap Zahra
"Kalau ibu tidak keberatan, Lika mau saya ikutkan lomba lari tingkat kecamatan, gimana mau tidak?" tanya Pak Awam
"Saya setuju saja Pak, kira-kira kapan lombanya?"
"Hari Minggu Bu, nanti sore kalau bisa Zalika datang ke sekolah buat latihan,"
"Baik Pak awam, terima kasih banyak," jawab Zahra kemudian mengajak putrinya pulang
Sore itu Zahra memenuhi permintaan Pak Awam untuk mengajak Zalika berlatih lari.
Gadis kecil itu terlihat begitu bersemangat saat berlatih lari dengan teman-teman sebayanya.
Zalika selalu bersemangat setiap kali datang latihan hingga membuat Pak Awam begitu optimis jika ia bisa memenangkan perlombaan nanti.
Zalika yang berhasil mendapatkan nilai sempurna di semua pelajarannya berhasil membuat guru-guru terkejut melihatnya. Namun meskipun demikian tak sedikit dari wali murid yang mengira jika Zalika mendapatkan nilai sempurna karena faktor keberuntungan.
Zahra tak menghiraukan ucapan para wali murid yang mencibirnya, ia tetap menanamkan sikap positif terhadap putrinya agar selalu semangat belajar dan bersaing dengan sehat di dalam kelas.
Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu pun tiba, hari sabtu pagi Zalika begitu bersemangat untuk mengikuti perlombaan pertamanya sebagai atlet lari mewakili sekolahnya.
Meskipun awalnya banyak guru yang meragukan Zalika bisa memenangkan pertandingan, namun dengan bimbingan dan kerja keras Pak Awam, berhasil meyakinkan kepala sekolah untuk memberikan izin kepada Zalika untuk mengikuti lomba tersebut mewakili TK Tunas Harapan.
Zahra begitu antusias saat menonton pertandingan perdana putrinya. Ia terus memberikan semangat meskipun awalnya Zalika berada di urutan terakhir.
Dengan semangat Zalika akhirnya berhasil menyalip beberapa temannya di menit-menit terakhir hingga ia berhasil menjadi juara pertama.
Zalika berhasil mendapatkan piala untuk pertama kalinya, dan itu sudah membuat gadis itu begitu bahagia dan mulai percaya diri.
Tentu saja hal itu membawa perubahan bagi Zalika yang biasanya pemalu menjadi lebih percaya diri saat berhadapan dengan orang lain.
Perkembangan Zalika ini tak luput dari pengamatan Zahra yang tidak lupa mengulasnya dalam tesisnya.
Ia berharap tesisnya kali ini bisa bermanfaat bagi para orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus seperti dirinya.
Selain itu Zahra juga sudah menulis sebuah buku tentang pengalamannya dalam merawat Zalika. Ia ingin berbagi pengalamannya kepada semua orang tua di Indonesia agar bisa menangani anak-anak berkebutuhan khusus seperti putrinya.
Sore itu Zahra sengaja menemui temannya yang bekerja di sebuah perusahaan penerbit buku. Ia begitu senang saat sahabatnya menerima naskah darinya.
"Thanks ya Der, kamu udah mau bantu nerbitin naskah aku,"
"Sama-sama Za, btw kamu datang gak di acara nikahan mantan kamu?"
"Gaklah, lagian kedatangan gue gak diharapkan jadi untuk apa aku datang," jawab Zahra
Ia kemudian berpamitan setelah urusannya selesai. Namun karena ponselnya ketinggalan ia terpaksa kembali menemui Sahabatnya Derby.
Ia begitu terkejut saat melihat naskah darinya di buang di tempat sampah. Ia kemudian mengambil naskah itu dan segera memasukannya kedalam tasnya.
Seorang satpam kemudian menghampirinya dan memberikan ponselnya yang ketinggalan.
Ia segera bergegas pergi dan menjemput Zalika di kediaman sahabatnya Gading.
"Thanks ya Ding udah mau jagain anak gue," ucap Zahra
"Sama-sama Za, btw gimana naskahnya, diterima gak?" jawab Gading
"Di buang ke tempat sampah," jawab Zahra dengan nada kesal
"Astaghfirullah, kok bisa sih si Derby kaya gitu, emang kalian lagi ada masalah?"
"Tidak ada, mungkin ini perintah dari Bu Merry, maklum saja dia kan jongosnya," jawab Zahra
"Yaudah sabar aja, meskipun kamu tidak bisa menerbitkan buku kamu di penerbit terkenal kamu bisa menerbitkan buku di penerbit biasa atau Indi. Sini biar gue bantu,"
Zahra kemudian menyerahkan naskah bukunya kepada Gading.
"Tunggu aja ya Za, nanti gue kabarin kalau udah berhasil. Btw anak lo jago banget gambar kenapa gak ikutin les melukis, kali aja dia ada bakat jadi pelukis terkenal,"
"Belum kepikiran Ding, tapi nanti gue coba deh, thanks ya masukannya,"
Melihat Zahra akan pulang, Gading kemudian menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.
"Gak usah repot-repot loh, gue bisa pulang sendiri,"
"Gak papa Za, kebetulan gue lagi senggang jadi bisalah kalau cuma nganter lo pulang. Sekalian gue pengen tahu dimana kamu tinggal sekarang,"
Gading segera membukakan pintu mobilnya dan mempersilakan Zahra dan Zalika masuk.
"Maaf ya gue duduk di belakang, bukannya gak sopan, tapi karena anak gue gak bisa diem jadi aku harus menjaganya agar perjalanan kita bisa aman sampai tujuan,"
"Ya aku tahu kok, sans aja kali Za,"
Gading segera melesatkan mobilnya menuju ke kediaman Zahra.
Setibanya di rumah Zahra, ia begitu terkejut saat melihat tempat tinggal sahabatnya itu.
"Lo beneran tinggal di sini Za?" tanyanya tidak percaya
"Emangnya kenapa?"
"Secara Lo itu kan sultan, kok bisa tinggal di rumah sederhana seperti ini, memangnya anak lo betah?"
"Yang sultan itu keluarga mantan gue. Lo tahu kan gue ini siapa, kenapa gue di buang dari keluarga itu??, jadi gak masalah kalau gue harus kembali hidup miskin. Itu sudah biasa, dan untungnya Lika juga tidak pernah mengeluh dan happy-happy aja tuh di sini," jawab Zahra
"Syukurlah kalau gitu, btw kamu benaran gak mau ngajar lagi?. Sayang loh guru genius kaya Lo harus diam di rumah,"
"Memangnya kalau gue ngajar anak gue sama siapa??, terus apa ada sekolah yang masih menerima gue setelah keluarga Bahri mem-blacklist nama gue di semua sekolah di Jakarta," jawab Zahra
"Kenapa lo gak ngajar di luar Jakarta, atau buka bimbel. Kalau anak kamu kan bisa sama pengasuh?"
"Gue gak mau lagi menitipkan anak gue sama pengasuh karena aku tak mau anakku semakin parah. Aku ingin menyembuhkan putri ku dan aku memilih tak berkarier agar ia bisa sembuh dan hidup bahagia bersama ibunya tanpa harus kehilangan kasih sayangnya. Lagipula aku tidak akan kehilangan skill ku karena selama ini aku masih menjadi guru untuk putriku. Aku akan merasa senang dan bangga bila aku bisa membuat Putriku bisa hidup normal dengan mengembangkan kelebihan yang dimilikinya. Daripada aku mencerdaskan anak orang lain sementara anakku sendiri malah Terabaikan," jawab Zahra membuat Gading benar-benar salut dengan pemikirannya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Fatimah Bajari
sahabat ulat bulu
2025-03-10
0
Uthie
Nahhh.. bagus tuhhh.... TDK egois dalam Karier... lebih utama anaknya dulu.. baru anak lain 👍👍👍👍
2024-09-21
0
Ani Ani
ya Anak lagi penting
2024-06-30
1