"Kenapa Lika tidak lanjut ke sekolah SD disini saja?" tanya Bu Dina
"Saya ingin Lika mengenal lingkungan baru Bu, lagipula sekarang lika sudah banyak perkembangan dan bisa mandiri jadi aku memutuskan untuk mencari sekolah yang bagus untuk mengembangkan potensinya," jawab Zahra
"Iya juga sih, semoga Lika sukses ya di sekolah barunya,"
"Aamiin, makasih Bu," jawab Zahra
Hari pertama masuk sekolah, Zalika terlihat begitu bersemangat. Zahra mulai melepas Zalika karena ia sudah bisa mandiri sekarang. Tapi meskipun demikian ia tetap memantau putrinya dengan tetap berada di lingkungan kelasnya.
Zahra mengira jika masuk sekolah elit, akan merubah paradigma masyarakat terhadap putrinya. Namun semua itu salah, Zalika tetap mendapatkan perlakuan yang berbeda sama seperti saat ia di TK.
"Itu kan Zalika, anak hiperaktif dari TK Tunas Harapan, kok bisa sih dia masuk sekolah sini?"
"Kayaknya dia masuk sekolah ini karena lukisannya yang viral deh!"
"Iya juga sih, kan ada jalur masuk prestasi. Kalau bukan dari lukisan itu mana mungkin dia bisa masuk sini. Anak gak normal kaya dia mana bisa sih pinter secara akademik,"
Zahra hanya diam mendengarkan cibiran para wali murid yang kebetulan juga masih menunggu putra-putri mereka di kantin.
"Denger-denger sih ibunya itu guru, tapi kok anaknya gitu ya, harusnya kan anak guru itu pintar eh dia malah anaknya gak normal,"
*Brakkkk!!!
Karena sudah tak tahan mendengar hinaan dari para wali murid membuat Zahra menghampiri mereka dan menggebrak mejanya.
"Anak siapa yang gak normal??" tanyanya menatap satu persatu wajah wali murid di hadapannya
"Zalikalah siapa lagi?"
"Ok, kita lihat saja ya, anak siapa yang gak normal setelah kegiatan belajar mengajar di mulai. Karena gak etis dong menilai seseorang sebelum pertandingan, jangan pernah melihat seseorang dari covernya, karena makanan basi saja jika dibungkus dengan wadah yang menarik akan terlihat bagus dan banyak yang beli, tapi apa akibatnya bagi yang makan sakit perut bukan?. Singkong memang bukan terigu yang bisa langsung diolah menjadi aneka jenis makanan. Tapi jangan salah singkong akan bernilai tinggi jika kita bisa mengolahnya. Sebut saja brownies singkong yang harganya tak kalah mahal dari brownies coklat, mari kita lihat saja nanti apa terigu akan bisa mengalahkan singkong?" ucap Zahra menantang para orang tua murid di depannya
Mereka sejenak terdiam mendengar ucapan Zahra, namun siapa sangka mereka kembali bergosip saat Zahra pergi.
"Sombong banget dia, padahal cuma mantan guru swasta aja sok, gimana kalau dia seorang guru sekolah terkenal!"
"Benar, sekarang juga kita tunjukkan sama tuh wanita sombong kalau anak singkong gak bakal bisa berkembang di sini,"
"Yes, setuju,"
Merasa sekolah barunya bukan tempat yang ramah untuk putrinya, membuat Zahra bertekad untuk tetap mengawasinya.
Hari pertama semua siswa belum belajar maksimal, mereka hanya melakukan observasi lingkungan sekolah mereka.
Para wali murid langsung mendekati ruang kelas saat jam istirahat. Mereka sengaja mengantar makanan untuk putra-putrinya karena pihak sekolah meminta mereka untuk membawa bekal dari rumah.
Aksi saling pamer makanan sudah di mulai. Beruntungnya Zalika tidak terpengaruh dengan mereka yang membawa banyak makanan dan memamerkannya kepada teman-temannya.
"Wah kasian sekali kamu cuma makan snack, memangnya ibu kamu gak masak ya!"
Zalika hanya diam saat wali kelasnya menegurnya karena ia hanya membawa makanan ringan, berbeda dengan teman-teman lainnya yang membawa aneka macam makanan.
Bu Jessi segera menghampiri Zahra dan menegurnya, "Mama Zalika, besok-besok Lika jangan di bawain snack ya, soalnya kan gak bagus buat kesehatan. Lagipula kami sudah memberitahu untuk membawa makanan sehat bukan snack,"
"Iya Bu, tapi makanan yang Lika bawa itu sehat kok, bisa dilihat dari kandungan gizinya. Sebelumnya saya juga sudah memberitahu ibu kan kalau Lika itu mengidap ADHD Jadi ada beberapa makanan yang harus di hindari atau istilahnya diet. Nah hanya Snack itu yang memenuhi diet Lika, dan saya bisa jamin kalau Snack yang ia makan itu sehat, kalau tidak mana mungkin ada izin BPOM nya," jawab Zahra
"Iya sih bu, tapi jangan keseringan karena makanan itu kan mengandung banyak micin dan micin kan gak bagus buat kesehatan. Bikin anak bodoh,"
"Ibu jangan percaya hoax dong, masa sebagai pendidik ibu bisa memilah informasi yang benar atau hoax, kalau soal micin itu gak bakal bikin anak bodoh bu, selama takarannya sesuai. Yang bikin bodoh itu kalau takarannya berlebihan, karena sesuatu yang berlebihan itu emang gak baik. Jadi santai saja Ibu, insya Allah Zalika gak berlebihan micin,"
Bu Jessi yang sedikit kesal karena Zahra selalu berhasil mematahkan argumennya langsung meninggalkannya.
Sementara itu, Zalika tiba-tiba merebut makanan temannya saat snack miliknya habis.
Bu Jessi langsung berteriak saat melihat Zalika yang menggigit sang pemilik snack. Bukannya memisahkan Zalika dan temannya Bu Jessi malah keluar memanggil Zahra.
"Mama Lika, itu anaknya gigit orang!" seru Jessi
Zahra segera berlari menuju ruang kelas dan memisahkan Zalika. Ia kemudian menasihati putrinya jika perbuatannya itu salah, dan menyuruhnya untuk meminta maaf kepada temannya tersebut. Tidak lupa Zalika juga mengembalikan snack yang diambilnya.
"Sayang, kalau kamu masih mau jajan lagi gak boleh ngambil punya teman ya kamu minta saja sama mamah, pasti mamah akan belikan lagi, ok?"
Lika mengangguk paham dan kembali duduk.
Meskipun masalah sudah selesai namun, dengan kejadian itu membuat para wali murid memerintahkan anak-anaknya menjauhi Zalika.
Di hari berikutnya para siswa sudah mulai belajar seperti biasa. Meskipun Zalika sudah semakin tenang di dalam kelas namun tidak di pungkiri ia masih tidak fokus saat melihat gurunya mengajar dengan metode ceramah.
Karena melihat Zalika tak memperhatikannya dan selalu sibuk menggambar saat Bu Jessi sedang menjelaskan, membuat wanita itu kesal.
Ia terang-terangan menyebutnya anak tidak normal dan tidak layak masuk sekolah itu, karena Zalika selama belajar tidak pernah mau mendengarkannya saat ia menjelaskan materi di depan kelas.
"Sepertinya Zalika gak cocok deh sekolah di sini mamah. Sebagai orang tuanya pasti mamah lebih mengerti kondisinya, dan saya sebagai pengajar menyarankan kepada mamah untuk memindahkan Zalika ke sekolah inklusi atau sekolah Luar biasa yang memang bisa menerimanya," ucap Bu Jessi
"Maaf sebelumnya jika saya lancang ibu, tapi selama ini Zalika selalu fokus jika belajar dengan saya di rumah. Setelah saya amati selama dua hari ini, ternyata bukan hanya Zalika yang tidak fokus saat ibu sedang menjelaskan materi, tapi siswa lain juga sama. Beberapa anak terlihat jalan - jalan saat ibu mengajar, hanya saja ibu tidak tahu karena fokus melihat buku modul. Ibu juga gak tahu kan kalau anak-anak di belakang pada ngobrol karena ibu hanya duduk sambil menjelaskan, jadi gimana Lika dan anak-anak yang lainnya akan fokus mengikuti pelajaran Ibuz sementara ibu tidak menarik di mata mereka," jawab Zahra membuat Jessi semakin marah
"Memangnya guru yang menarik itu gimana?" tanya Jessi dengan ketus
"Guru yang menarik adalah guru yang bisa memberikan pelajaran yang menyenangkan kepada siswanya sehingga mereka tertarik untuk memperhatikannya. Untuk menjadi guru yang menarik tentu harus memiliki media pembelajaran yang menarik agar para siswa tertarik dengan apa yang kita sampaikan,"
"Kalau cuma teori mah gampang, coba saja anda praktekan, apa anda bisa menjadi guru yang menarik?" tantang Jessi
"Baik jika ibu tak keberatan, beri saya waktu sehari untuk mengajar di kelas Ibu. Insya Allah saya akan mencontohkan gimana caranya menjadi guru yang menarik meskipun tak berwajah cantik," jawab Zahra
"Ok, saya izinkan besok anda mengajar di kelas ini," jawab Jessi
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Eli Elieboy Eboy
𝚕𝚊𝚑 𝚍𝚒𝚊 𝚖𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚗𝚊𝚗𝚝𝚊𝚗𝚐𝚒𝚗 𝚣𝚊𝚑𝚛𝚊 𝚋𝚞𝚊𝚝 𝚗𝚐𝚊𝚓𝚊𝚛...
𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚕𝚊𝚠𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚢
2024-11-01
0
Lilik Rudiati
Zahra d lawan
2024-11-18
0
Ani Ani
Kau jangan cabar Kau tengok sendiri nanti
2024-06-30
1