"Kalau anda tidak keberatan, silakan datang ke sanggar seni lukis saya. Kebetulan saya juga mengajar seni lukis dan putri anda boleh bergabung jika mau. Saya melihat bakat menulisnya sangat besar, bahkan karya seni lukis abstrak ekspresionis ini masih jarang, jadi sayang kalau tidak di kembangkan," ucap pria itu kemudian memberikan kartu namanya
"Iya juga sih, tapi...." jawab Zahra terlihat gamang saat hendak menerima tawaran Pria itu
"Jangan khawatir, aku akan memberikan les gratis untuk putri anda."
"Bukan itu masalahnya, aku perlu menanyakan dulu sama Lika, apa dia mau atau tidak?" jawab Zahra
"Ok, Untuk lukisannya boleh saya bawa untuk dipamerkan di galeri seni lukis saya?. Kebetulan nanti malam saya akan mengadakan pameran seni lukis di galeri saya, kalau ibu mau datang silakan," imbuhnya
"Silakan saja kalau anda ingin membawanya, Insya Allah saya datang ke pameran anda, dan terimakasih sudah memberitahuku tentang bakat putriku,"
"Sama-sama Bu," ucap Pria itu kemudian memberikan kartu namanya sebelum meninggalkan mereka.
Selesai melukis Zahra kemudian mengajak putrinya pulang. Setibanya di rumah, ia memikirkan kembali tawaran Lelaki itu. Bagaimanapun juga ucapan Heru, ada benarnya tentang bakat Zalika, tentu saja hal itu membuat Ia memutuskan untuk menerima tawaran dari lelaki itu meskipun ia masih harus menanyakannya kepada Zalika.
"Lika, mau gak kalau belajar melukis?" tanya Zahra
Zalika langsung mengangguk setuju.
"Ok, berarti nanti malam kita datang ke pameran lukisan Om Heru ya sekalian mamah bilang sama dia kalau kamu mau belajar lukis di sanggarnya,"
"Iya,"
Sebelum mendatangi pameran seni lukis, terlebih dahulu Zahra mencari tahu dulu tentang Heru. Ia sedikit berhati-hati karena takut penipuan.
Ia mulai mencari tahu tentang pria bernama Heru Laksono, di google dan hasilnya mencengangkan.
Heru Laksono adalah seorang dosen seni rupa di Universitas ternama di ibukota. Ia juga dikenal sebagai maestro seni lukis abstrak Indonesia.
"Alhamdulillah, Zalika akhirnya menemukan guru yang tepat, terimakasih Ya Robb sudah menunjukkan bakat Lika melalui Pak Heru," ucap Zahra begitu bersyukur
Malam Harinya Ia mendatangi pameran seni lukis Heru Laksono, di kawasan Jakarta Selatan.
Sebagai salah seorang maestro seni lukis di Indonesia, Zahra tahu jika yang datang ke pameran itu pastilah bukan orang-orang sembarangan.
Saat ia kebingungan memilih baju apa yang akan di pakai tiba-tiba Gading datang mengunjunginya.
Lelaki itu begitu terkejut saat melihat tumpukan baju tergeletak di sofa.
"Sepertinya kamu akan pergi kencan, hingga kebingungan memilih outfit yang cocok,"
"Jangan sok tahu, gue lagi nyari baju yang cocok buat ke pameran lukis nanti malam," jawab Zahra sambil mencoba satu persatu bajunya
"Pameran lukisan apa sih, sampai membuat kamu mempersiapkan semuanya dengan perfect," jawab Gading
Zahra kemudian menceritakan tentang pertemuannya dengan Heru Laksono kepada Gading. Pemuda itu benar-benar tak menduga kalau mereka akan diundang oleh seorang maestro seni lukis.
"Benar kan dugaan gue, kalau Lika itu memiliki bakat melukis. Sebaiknya kamu terima saja tawaran Pak Heru. Aku yakin Lika akan menjadi pelukis terkenal di bawah bimbingannya,"
"Iya Ding, makanya tujuan aku datang ke pameran itu ya untuk menjawab tawaran Pak Heru,"
"Menurut kamu aku lebih cocok pakai baju yang mana?" tanya Zahra
"Apapun yang kamu pakai selalu cantik,"
"Ish kebiasaan deh kalau dimintai masukan selalu kaya gitu," ucap Zahra mendengus kesal
"Kamu tahu kan kalau di acara seperti itu pasti yang datang itu orang-orang penting. Dan pasti outfit mereka juga bukan kaleng-kaleng, aku gak mau dikucilkan hanya karena salah kostum," imbuh Zahra
"Sejak kapan sih seorang Zahra jadi minder gini. Kamu pasti trauma berat dengan perlakuan keluarga Bahri hingga menganggap semua orang kaya seperti mereka?"
"Bukan gitu, aku cuma jaga-jaga saja," jawab Zahra
"Kalau begitu pakai saja baju yang aku bawa," ucap Gading memberikan sebuah paper bag kepadanya
"Meskipun bukan karya desainer terkenal namun aku yakin baju itu akan terlihat mahal jika kamu yang memakainya," ucap Gading
"Thanks a lot Gading,"
"Sama-sama, yaudah kalau gitu gue balik ya,"
"Kamu gak mau nemenin aku di pameran itu?" tanya Zahra
"Sebenarnya gue mau banget datang, tapi gue ada jadwal kuliah malam jadi aku gak bisa Za. Sorry banget ya Za," jawab Gading
"Iya gak papa, aku tahu kok. Btw terimakasih atas semuanya, "
"Kembali kasih," jawab Gading kemudian segera pergi meninggalkan kediaman Zahra
Setibanya di lokasi pameran, Heru langsung menyambut kedatangannya dengan ramah. Ia bahkan memperkenalkan Zalika kepada para pelukis terkenal, hingga memperlihatkan hasil karyanya kepada mereka.
Tiba-tiba seorang Pria begitu tertarik dengan lukisan Zalika bahkan mengatakan akan membelinya berapapun harganya.
Zahra tak mampu menyembunyikan rasa bangga sekaligus terharu saat Heru memberitahukan kepadanya jika lukisan Zalika di sukai oleh seorang kolektor lukisan dan bersedia membayar berapapun untuk lukisan tersebut.
"Bagaimana apa kau akan menjualnya atau tidak?" tanya Heru
Zahra mengangguk setuju.
Acara lelang di mulai, lukisan Zalika berhasil terjual dengan harga dua ratus juta.
Karena lukisan Zalika yang viral dan dihargai begitu mahal membuat nama gadis itu mulai muncul dalam pemberitaan dan berbagai media online.
Dirga yang mengetahui putrinya memiliki prestasi diam-diam menemuinya tanpa sepengetahuan Zahra.
Siang itu ia sengaja mendatangi Zalika di sekolahnya.
Ia segera menghampiri gadis kecil itu saat ia sedang olahraga.
"Sayang, apa kamu gak kangen sama papah?" ucapnya berkaca-kaca
Ia kemudian memeluknya erat, " Maafkan Papah kalau aku tidak pernah mengunjungimu selama ini. Tapi mulai sekarang ayah akan sering menemui mu, asal kamu tidak memberitahuku mamah kalau papah menemui kamu, ok?" ucap Dirga
Pria itu segera pergi meninggalkan Zalika saat melihat Zahra berjalan kearahnya.
Seorang wartawan berhasil mengabadikan momen pertemuan mereka dan mengupload foto mereka ke media sosial dan viral.
Keluarga Bahri begitu geram saat melihat pemberitaan media.
Sore itu Merry mendatangi kediaman Zahra dan meluapkan kemarahannya.
Ia menuduhnya berusaha mendekati Dirga untuk mengambil semua harta anak bungsunya itu.
Ia sengaja mempermalukannya di depan orang-orang yang berkerumun menontonnya.
"Kalau kamu kekurangan uang kenapa kamu harus gengsi saat aku menawarkan uang kepadamu. Apa kamu sengaja melakukan itu agar bisa merayu putraku lagi, kau pikir aku akan membiarkan mu menggoda putraku untuk kedua kalinya jangan mimpi!" maki Merry
"Lagipula aku juga tidak tertarik dengan putra anda, dan asal anda tahu aku tidak butuh uang dari kalian. Kau tahu kan hanya dengan satu lukisan saja Zalika bisa menghasilkan dua ratus juta, bagaimana kalau aku menjual semua lukisan Lika?" ucap Zahra kemudian membuka garasi rumahnya yang dipenuhi oleh Lukisan Zalika.
"Bahkan aku bisa membeli sebagian saham Bahri Group suatu saat nanti, tunggu saja tanggal mainnya!" imbuhnya membuat Merry seketika terdiam mendengarnya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Rafinsa
cerita antara bab sebelumnya dan bab selanjutnya agak gak sikron.. jadi bingung sama alurnya
2024-09-27
0
Uthie
sukurin 😡
2024-09-21
0
Ani Ani
terkejut kau
2024-06-30
1