Satu-persatu buku diletakkannya. Pemuda yang kemudian berjalan mendekati Herlan.
"Ini," Herlan tersenyum, setelah selesai menyombongkan tentang iPhone milik Kara di media sosial."Nomor Shui Murren yang diberikan sekretarisnya dan nomorku sudah aku simpan di sini,"
"Bagaimana cara menggunakan batu bersinar (handphone)?" tanya Kara.
"Kamu bercanda kan? Orang kaya sejak lahir tidak bisa memakai phonecell?" ucap Herlan tertawa. Tapi tidak dengan Kara pemuda itu tidak tertawa sama sekali, menatap serius padanya.
Herlan menghela napas kasar."Benar-bebar tidak bisa? Bukannya dulu kamu punya phonecell? Mungkin karena iPhone keluaran terbaru."
Sejatinya benar-benar merasa aneh dengan sifat Kara saat ini. Menjadi cerdas dan memiliki kharisma tersendiri, lebih banyak bicara, juga terkadang mengungkit hal yang tidak dimengertinya. Namun, pemuda di hadapannya ini memang Kara, mungkin ini karena telah menikah. Pemuda yang dulu sering ditipunya menjadi sosok yang lebih dewasa.
Satu persatu fitur diajarkannya. Benar-benar cepat untuk mengerti. Kini Kara, lebih tepatnya Junichi mengetahui, bukan hanya perpustakaan, ada juga yang disebut google dalam batu bersinar. Mengumpulkan informasi, penuh rasa ingin tahu, itulah dirinya.
Beberapa puluh menit berlalu. Tata hukum masa tempatnya tinggal, kini sudah diketahuinya. Menghela napas kasar."Aku ingin bertemu dengan seseorang. Sebagai budak kamu harus ikut."
"Kita akan pergi kemana?" tanya Herlan penasaran.
"Penjara," jawaban dari Kara.
"Penjara?" gumam Herlan mengenyitkan keningnya. Apa yang dilakukan Kara di penjara? Menemui maha guru rahasianya atau melakukan sesuatu yang lebih ekstrim? Seperti dalam film action bertema penjara?
Tapi dirinya sudah menyiapkan kacamata hitam, untuk menambahkan aura keren dari dua pria yang menjadi pahlawan penegak keadilan.
*
Apa sejatinya yang terjadi pada manusia dengan iblis yang telah lenyap? Sebagian sadar dengan perbuatannya. Tapi sebagian lagi, menumbuhkan iblis lain yang lebih kuat.
Tidak semua, seperti yang terjadi pada Sonya, mengulangi perbuatannya lagi. Tanpa disadari memelihara dan memberi makan iblis yang singgah dan melekat pada tubuhnya. Memberi nutrisi dari napsu dan iri hati, akan lebih buruk jika berlumuran darah manusia.
Kedatangan Kara untuk menjenguk seorang pencopet yang dikalahkannya di hari pernikahannya. Pria itu tertunduk, seorang polisi mengantar mereka bertemu.
Pria yang hanya menyesali perbuatannya. Air matanya mengalir, segera diseka olehnya. Bukan hanya untuk menyewa wanita, atau meminum alkohol, tapi dirinya menggunakan narkotika. Sudah berusaha untuk berhenti, namun tidak bisa, ketagihan setelah dijerat pengedar dimasukkan dalam minumannya.
Tangan dan kakinya terluka, setiap kali mengeluarkan keringat dingin akibat merindukan narkotika. Bahkan dirinya melukai dan meminum darahnya sendiri akibat kecanduan.
Berdoa? Mendekatkan dirinya pada Tuhan? Semua sudah dilakukannya, namun pengaruh narkotika bagaikan cambuk yang menyiksanya. Itulah alasan dirinya berfikiran tidak logis, mencopet untuk bersenang-senang dan mengkonsumsi narkotika, hingga melukai korbannya.
"Kamu menyesal?" Tanya Kara.
Pemuda itu mengangguk."Aku menggunakan biaya pengobatan ibuku untuk bersenang-senang. Ingin berhenti tapi tidak bisa, terkadang aku merasa lebih baik mati saja," ucapnya menitikan air mata.
"Maaf, kita bahkan tidak saling mengenal, tapi aku malah banyak bicara," lanjut sang pencopet.
"Aku bisa membantumu tapi ini cara yang menyakitkan." Ucap Kara memberi tawaran.
"Kamu tidak akan bisa membantuku. Aku---" Kata-katanya terhenti.
Kara tiba-tiba bangkit, satu jarinya menyentuh kening sang pemuda. Dirinya tidak dapat membersihkan total, hanya dapat menghentikan efek kecanduan. Beberapa buku yang dibacanya di perpustakaan kampus terdapat rincian tentang zat tanaman aneh yang pernah diciumnya dari sang pencopet.
Kelinci percobaan? Mungkin itulah sang pencopet baginya kini. Jika dapat mengeluarkan racun tertentu dari tubuh manusia dengan kemampuannya mengurai zat.
Huek!
Gumpalan darah kental, berukuran cukup besar mengalir dari mulut sang pencopet. Sekujur tubuhnya terasa lemas, walaupun rasa aneh dan gemetarnya akibat kecanduan menghilang.
"Ka...kamu, apa yang kamu lakukan?" tanyanya lirih.
"Mulai saat ini, kamu tidak akan menginginkan hal itu (narkotika) lagi. Berikan ini sebagai biaya pengobatan ibumu. Kamu akan menyadari betapa kesepiannya saat dia mati." Jawab Kara melepaskan jam tangannya. Jam tangan senilai puluhan juta, segala keperluannya yang ada di dalam kamar Shui Murren yang disiapkan Atmaja sebelum pernikahan. Berbagai jam tangan, bahkan pakaian bermerek.
Pencopet itu menangis, berlutut, membenturkan kepalanya di lantai. "Terimakasih, terimakasih, terimakasih..." ucapnya, dengan dahi terluka mengeluarkan darah segar.
Kara berjalan berlalu pergi. Baginya pria tersebut hanya bahan percobaan, dan jam tangan adalah bayarannya. Mengeluarkan racun dengan metode tersebut, ternyata dapat dilakukannya, walaupun tidak begitu efektif.
Namun, bagi sang pencopet Kara mungkin penyelamat yang dikirimkan Tuhan untuknya.
*
Herlan mengenyitkan keningnya, memasukan mobil mengikuti Kara. Pria itu tidak menghancurkan penjara, atau melawan penjahat, tapi membuat orang muntah darah hanya dengan jari telunjuknya.
Ini lebih keren lagi. Apa Kara sebenarnya adalah alien yang berpura-pura bodoh?
"Setelah ini kita mau kemana?" tanya Herlan.
"Aku akan membuatmu melihat bagaimana caranya menghukum," jawaban dari Kara dengan mata sekelebat memerah, kini tengah menyetir, entah kemana tujuannya.
*
Surat wasiat palsu kini ada di tangannya turun dari mobil, hendak menemui seseorang yang bernama Azra.
Dimana keberadaan Azra saat ini? Tentu saja di salah satu restauran berbintang milik Shui Murren. Wajah yang tersenyum ramah menyambut para pelanggan.
Kara mulai duduk, diikuti Herlan seorang pelayan memberikan daftar menu padanya.
Herlan membulatkan matanya, menelan ludahnya sendiri, bahkan terdapat hidangan senilai 20.000.000 rupiah. Jika digunakan untuk membeli bakso, mungkin dirinya dapat berenang di dalam kuahnya. Matanya menelisik menatap ke arah Kara, apa dirinya dan Kara akan mencuci piring jika tidak dapat membayar?
Berapa piring yang harus dicucinya? Mungkin puluhan ribu piring hingga tangannya keriput dan mati rasa.
"Kara! Ayo kita pulang..." bisik Herlan dengan suara kecil. Pasalnya jika meninggalkan KTP, KTP-nya sudah ditinggalkan saat meminjam uang di bank keliling.
"Aku ingin dilayani oleh pemilik tempat ini," tegas Kara meletakkan daftar menu.
"Kara! Walaupun istrimu kaya, jika makan dengan harga menu semahal ini, cepat atau lambat dia akan menceraikanmu." Bisik Herlan lagi.
Tapi Kara tidak menggubris, pemuda yang duduk di sampingnya. Pemuda yang merogoh saku hanya terdapat beberapa lembar Pattimura disana dan satu lembar tokoh proklamator.
"Mampus!" batinnya ingin rasanya menangis, harga makanan yang sama dengan harga motor.
Azra yang hanya diam didekat kasir terlihat dihampiri pelayan. Pemuda yang kemudian menoleh ke arah Kara, berjalan mendekatinya.
Suami Shui Murren? Tentu saja dirinya mengetahui informasi tersebut dengan baik. Tapi pecundang ini ingin dilayani olehnya? Jangan pernah bermimpi.
"Maaf, ada apa?" tanya Azra dengan senyuman ramah. Mengepalkan tangannya menahan rasa kesal, pasalnya dirinya sudah berusaha mendekati Shui Murren bertahun-tahun untuk menguras semua miliknya. Tapi pecundang ini muncul begitu saja, menikah dengan Shui, memasuki keluarga Murren.
Senyuman terlihat di wajah Kara."Kamu pecundang yang berselingkuh dengan istriku?"
Azra membulatkan matanya, menatap aneh sekaligus menahan amarahnya.
"Pecundang, yang merangkak, menjilat kaki majikannya selama bertahun-tahun." Kara tertawa kecil.
"Tapi setelah menjilat kakinya pun, kamu hanya seekor peliharaan..."
Bug!
Satu pukulan dilayangkan Azra, tidak membuat Kara mengalami luka berarti. Para pengunjung restauran, menyaksikan segalanya.
Brak!
Dengan sekali gerakan, Kara membanting tubuh Azra, hingga tubuh itu memecahkan meja kayu jati menjadi dua. Mungkin beberapa tulangnya patah Azra tidak dapat bergerak sama sekali.
Dibanting bukan dengan tenaga manusia. Sekelebat mata Kara memerah mendekatinya."Ingin membuat seolah-olah aku yang membunuh istriku? Bagaimana jika aku saja yang membunuhmu, agar kamu tau betapa menyenangkannya kematian,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Lovesekebon
👍👍👍💯
2023-02-21
1
afikamanisih Manisih
gmn maszeh rasanya di banting oleh kenyataan? enak? mau lagi? monggo mas kara di lanjut unboxing
2022-12-11
3
afikamanisih Manisih
jd danau kuah bakso
2022-12-11
3