Junichi Dan Fu

Mengapa segalanya dapat seperti ini? Kara mulai sedikit membuka matanya, wajahnya tersenyum menatap keadaan wanita ini yang baik-baik saja.

Hal serupa pernah dialaminya, 500 tahun lalu. Tidak sama namun hanya serupa.

*

500 tahun lalu, tengah hutan tepi barat, perbatasan wilayah kerajaan dengan hutan berkabut.

Sang anak berpakaian lusuh meraih apel yang diberikan sang pemuda. Matanya menelisik, seorang pemuda berambut panjang, mengenakan pakaian serba hitam. Entah kemana, sayap yang berada di punggungnya tiba-tiba menghilang.

"Tidak takut dimakan siluman? Aku akan memakanmu!" teriak Junichi berusaha membuat sang anak berlari sambil membawa apel pemberiannya.

Namun, sang anak tetap diam dengan wajah manisnya sambil terus mengunyah.

"Pergi dari sini!" perintah Junichi, menggunakan sihir, merubah wujudnya menjadi makhluk merah menyeramkan. Mengusir anak ini pergi? Adalah tujuannya, menginginkan hutan tempat tinggalnya tetap tidak terjamah.

Tapi bukannya takut, sang anak menarik ujung pakaiannya. Menatapnya dengan sepasang bola mata yang jernih."Paman boleh aku ikut paman?" tanyanya menelas.

Junichi menghela napas kasar, kembali ke wujud aslinya seorang pemuda rupawan berpakaian hitam."Belum takut juga? Aku ini siluman, dapat memakan dagingmu mentah-mentah,"

Sang anak menggeleng."Aku tidak takut, karena lebih menyeramkan di hutan ini sendirian. Paman..." Pintanya tiba-tiba memeluk tubuh Junichi yang jauh lebih tinggi darinya. Tidak akan melepaskannya apapun yang terjadi.

"Lepas! Atau tanganmu aku potong!" bentak Junichi.

"Kita membuat penawaran, aku akan bekerja pada paman siluman, menuruti semua kata-katamu! Jangan buang aku!" sang anak yang berwatak jauh lebih keras darinya, mendekapnya.

Tidak bisa melepaskannya? Junichi bisa saja melepaskannya. Namun, dirinya tidak melakukannya, menghela napas berkali-kali. Jiwa pria tua berusia ratusan tahunnya bangkit, bertindak lebih bijaksana.

"Membuat penawaran? Apa yang dapat kamu tawarkan?" tanya Junichi.

"Apa yang paman sukai?" Fu menonggakkan kepalanya.

"Sifat alamiku adalah menyukai benda yang berkilau," jelasnya, dengan senyuman yang menyeringai.

"Paman dapat mendatangi istana timur. Ayahku seorang perdana menteri, dia sering membawaku bertemu dengan putra mahkota. Di kamar putra mahkota terdapat banyak giok. Bahkan pakaian putra mahkota disulam dengan benang emas." Kata-kata penuh kesungguhan dari Fu. Terlalu cerdas untuk anak berusia 5 tahun.

Namun, anak kecil yang tidak menyadari. Tujuan perdana menteri membawanya ke istana timur untuk mendekati putra mahkota yang mungkin lebih dewasa lima tahun dari Fu. Ingin putri bungsunya yang paling cerdas memasuki istana sebagai putri mahkota.

Mengapa? Sang perdana menteri hanya memiliki Fu sebagai anak dari istri sah. Sedangkan dari selir sang ayah memiliki anak perempuan dan laki-laki. Kedua orang anak yang berusia tiga dan empat tahun lebih tua dari Fu.

"Emas? Batu giok? Anak yang benar-benar pintar dan penurut. Aku akan memandikanmu, memberimu makan sampai gemuk. Kemudian, menghisap darah dan memakan jantungmu," Kata-kata mengerikan dari Junichi.

"Paman lebih tampan dari kaisar dan putra mahkota." Satu kalimat dari Fu. Membuat Junichi diam seketika, wajahnya perlahan tersenyum jiwa narsistik dan gila pujian.

"Aku akan membawamu ke tempatku tinggal!" ucap Junichi melangkah perlahan diikuti Fu, dua orang yang menghilang di tengah kabut.

Apa yang terjadi setelahnya? Pemuda yang membesarkan sang anak. Memberinya makanan, pakaian, bahkan memandikannya.

Panggilan paman berubah dengan cepat menjadi Junichi. Pemuda rupawan, dengan rambut hitamnya itu sering memainkan serulingnya di tengah hutan berkabut. Sedangkan Fu bermain di sungai sambil mendengarkan lagu yang mengalun.

Bukan lagu biasa hanya sebuah rasa kesepian. Fu kecil segera bangkit, memetik bunga kecil berwarna kebiruan dari pinggir sungai. Tangannya terangkat, mengenakan pada rambut Junichi.

"Junichi tidak sendirian. Ada Fu disini," ucap sang anak. Sedangkan siluman itu hanya tertawa kecil, mengacak-acak rambut sang gadis dengan tangan putih pucat, ujung kukunya berwarna hitam beracun.

"Suatu saat aku akan sendiri. Manusia suatu saat nanti akan menua dan mati. Siklus kehidupan yang selalu berlalu di tempat yang sama. Tapi aku akan tetap berada di titik ini, sampai aku mati..." Hanya itulah yang diucapkan Junichi.

Dirinya hanya siluman kelas rendah, tidak seperti naga yang hampir menyerupai dewa, atau rubah berekor sembilan sebagai pelayan Dewa. Dirinya hanya siluman yang hidup menggunakan banyak kelicikan. Bahkan ibunya mati dibakar pendeta, karena dianggap membunuh manusia. Sang ibu hanya memakan bangkainya saja, bukan ibunya yang membunuh manusia, tapi menerima konsekuensinya.

Sifat gagak bukan membunuh, tapi mencari bangkai untuk makanannya. Sifat alami yang telah menghilang dalam diri Junichi, bertapa ratusan tahun hanya untuk menghilangkan beberapa sifat alaminya. Tidak memiliki perasaan, hanya ingin tinggal di hutan berkabut seorang diri. Membuat labirin hingga tidak ada seorang manusia pun yang dapat keluar masuk dengan bebas. Tapi gadis kecil ini benar-benar lancang.

Wajahnya tersenyum, mungkin hanya beberapa tahun lagi, anak rapuh ini akan mati, karena memang itulah manusia.

Suara air terdengar, seorang wanita cantik berjalan perlahan diatas air."Junichi, siluman rendah sepertimu membawa manusia kemari?" tanya sang wanita, dengan ekor belakang dan telinganya yang terlihat di atas kepala, bagaikan telinga kucing. Memakai pakaian putih yang panjang dan indah, rupa yang cantik terlihat manis.

"Apa yang kamu inginkan?" tanya Junichi, dengan mata memerah, urat di lehernya terlihat menghitam.

"Jangan marah! Aku hanya ingin membuat sebuah penawaran. Manusia ini sesuai dengan seleraku, ini sebenarnya penawaran yang merugikan bagiku. Tapi mau bagaimana lagi, salinan buku sihir keluargaku," gumam sang wanita tersenyum. Tidak mudah menemukan daging manusia di hutan berkabut, hutan berkabut yang sejatinya formasinya dibuat oleh Junichi.

Tangan Fu masih gemetar, bersembunyi di balik tubuh Junichi.

"Aku setuju! Bawa anak ini!" ucap Junichi melempar tubuh anak yang dua tahun ini hidup bersamanya. Benar-benar dirawatnya dengan baik.

"Junichi!" teriak Fu menangis terisak, wanita tersebut melempar sebuah gulungan, membawa Fu pergi.

Junichi yang awalnya terlihat tenang, mulai membuka gulungan segera setelah wanita itu pergi. Apa yang dilakukan? Kemampuan belajar tidak terbatas. Membaca isi dan memahami segala hal dalam gulungan dengan cepat. Siluman berusia 756 tahun? Itulah dirinya saat itu, disaat siluman lain meningkatkan level kemampuan fisik, dirinya meningkatkan level pengetahuan. Tidak ada trik sihir yang tidak diketahuinya. Bahkan berbagai naskah filsafat kerajaan manusia juga dilafalkannya.

Bug!

Dengan cepat naskah itu kembali digenggamnya. Setelah semua isinya tercetak jelas diingatannya.

"Aku tidak jadi menukar Fu! Dia sudah seperti cucuku sendiri!" teriak Junichi terbang mengejar sang wanita yang bergerak lincah.

"Junichi!" teriakan Fu kembali terdengar, bau darah tercium menyengat. Wanita itu memegang Fu dengan kasar hingga terluka.

"Kembalikan!" tegas Junichi.

"Tidak akan! Ini adalah syarat untuk kenaikan kemampuanku. Memakan daging manusia," ucap sang wanita masih berlari sembari membawa Fu.

Junichi mengeluarkan pedangnya, menggerakkan dengan sihirnya. Pria yang tidak memiliki level kekuatan tapi menguasai berbagai sihir.

Srak!

Tangan sang wanita terpaku di pohon. Sebuah pedang yang tidak dapat dicabutnya.

"Gagak rendah! Pemakan bangkai!" teriak sang wanita mengeluarkan bola api.

Mata Junichi memerah."Aku dapat menyerap kemampuan fisik kalian. Kemudian menyimpannya. Karena itu---" Kata-kata Junichi terhenti, bibir sang wanita didekatinya. Mata wanita itu menjadi ungu, sepasang bibir yang tidak bersentuhan sama sekali.

Bola bagaikan mutiara melayang, dari bibir sang wanita ke bibir Junichi. Menelan sumber kemampuannya hingga sang wanita berubah menjadi anak harimau putih.

"Fu, ayo kita pulang," ucap Junichi.

Fu menggeleng, tangan yang memegang area pinggang dan perutnya mulai diperlihatkan olehnya. Mungkin jika, cakar-cakar wanita itu menembus lebih dalam lagi, organ dalam Fu akan terluka dapat menyebabkan kematian.

Junichi memeluknya erat, untuk pertama kalinya ketakutan kehilangan seseorang selain ibunya yang sudah mati."Anak bodoh!" gumamnya, tangannya masih gemetar hingga saat ini.

"Junichi," Fu menangis sesegukan memeluknya. Dedaunan berguguran di dekat mereka, hutan berkabut yang sejatinya benar-benar indah.

*

Malam semakin larut, Fu telah tertidur. Junichi mulai mengangkat tubuh kecilnya. Sang anak yang tidak mau pulang ke rumah perdana menteri setelah peristiwa perampokan yang terjadi padanya, entah apa penyebabnya. Mungkin pelajaran etika bagi anak kaum bangsawan yang benar-benar mengekang dirinya. Bahkan cara berjalan pun diatur, dalam kediaman perdana menteri.

Junichi terbang perlahan menunju kediaman perdana menteri. Namun, hanya keramaian yang terlihat. Telah dua tahun Fu menghilang, kini kakaknya yang merupakan anak selir diangkat menjadi anak sah, menggantikan posisi Fu.

Junichi masih mengangkat tubuh gadis kecil yang tertidur. Merasa iba dengannya, mengapa gadis kecilnya yang pintar harus digantikan?

Terpopuler

Comments

Lovesekebon

Lovesekebon

Cinta sejati Fu 🥰🥰

2023-02-21

0

mama angga

mama angga

d

2022-12-11

2

Noveler

Noveler

up

2022-12-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!