Hadiah

Apa yang ada di fikiran Junichi saat ini? Pemuda yang kembali berjalan menuju istana timur, tempat putra mahkota berada. Dirinya tidak dapat membiarkan Fu tetap tinggal dengannya. Tapi di tempat ini tidak juga terlalu baik.

*

Semacam kabut menyebar memenuhi istana timur. Suhu tiba-tiba menjadi benar-benar dingin, dayang dan pengawal semuanya tiba-tiba tertidur. Seorang pria berpakaian hitam masih melangkah, membawa anak kecil berusia 7 tahun yang tertidur.

Sang putra mahkota yang kini berusia 12 tahun juga tengah tertidur saat itu. Hingga tiba-tiba matanya terbuka, menatap seseorang di kamarnya. Seorang pemuda yang membawa Fu, putri perdana menteri yang menghilang dua tahun lalu.

"Pengawal!" teriak putra mahkota panik.

Tapi tidak ada jawaban, semua pelayan dan pengawal telah tidur oleh kabut aneh yang diciptakan Junichi.

"Kamu mengenal anak ini?" tanya Junichi padanya.

Putra mahkota mengangguk."Aku akan menghukummu dengan hukuman mati jika berani melukai Fu!"

Junichi tersenyum."Anak yang cukup berani. Ikut aku, aku ingin bicara denganmu."

Dengan ragu putra mahkota bangkit, mengikuti langkah seorang pemuda rupawan yang memiliki rambut hitam panjang. Mengapa? Fu adalah teman bermain putra mahkota dari kecil, walaupun usianya terpaut lima tahun, gadis kecil yang cantik. Menghilang dua tahun yang lalu, kala tandu milik sang putri bangsawan dijegat perampok di tengah hutan.

Kabur sedikit tersingkap seiring dengan langkah Junichi. Hingga pada akhirnya sang pemuda terhenti melihat indahnya bunga sakura yang berguguran.

Sedangkan putra mahkota hanya diam menatap punggung Junichi.

"Aku tidak dapat mengembalikan anak ini ke kediaman perdana menteri," ucapnya pada putra mahkota.

"Kenapa?! Lancang! Ini adalah kejahatan! Menculik putri seorang bangsawan!" bentak putra mahkota.

Junichi tersenyum, menonggakkan kepalanya, bunga sakura berwarna putih yang benar-benar indah."Kamu menyukainya? Dapat menjaganya?"

Putra mahkota mengangguk, menelan ludahnya sendiri, mengepalkan tangannya."Aku bisa menjaganya!"

"Aku akan mengembalikannya ke kediaman perdana menteri. Tapi berjanjilah satu hal, jadikan dia sebagai ratu, dan tidak boleh ada selir sama sekali. Jika kamu melanggar janji, aku akan mencari cara lain untuk membuat Fu bahagia. Mungkin kembali membawanya pergi." Kata-kata dari Junichi.

Asal bicara? Itulah yang dilakukan putra mahkota. Anak yang belum mengerti apa itu menikah, napsu dan cinta. Dengan tegas mengangguk."Iya!" ucapnya.

Junichi tersenyum, meraih pelan kelopak bunga yang jatuh ke atas pipi Fu yang tengah tertidur, menggunakan jemari tangannya yang pucat, kuku hitam beracun yang kontras.

"Jujur saja, aku adalah siluman. Tidak akan pernah menua untuk menentangmu. Buat dia tertawa dan tersenyum." Ucap Junichi menatap wajah Fu.

Kabut kembali tebal, menutupi tubuh sang pemuda dan putri perdana menteri. Hingga tiba-tiba kabut menghilang. Tidak ada orang sama sekali. Penjaga dan dayang terbangun.

Apa ini mimpi? Mungkin itulah yang ada dalam benak putra mahkota.

Apa yang terjadi setelahnya? Kabar kepulangan putri perdana menteri terdengar keesokan harinya. Putra mahkota yang hanya asal bicara saat itu tidak begitu peduli. Hanya fokus pada tugasnya saja, tidak pernah menjenguk Fu, teman masa kecilnya. Putra mahkota yang tidak akan pernah menyadari betapa cantik dan harumnya bunga Peony akan tumbuh nantinya.

Gadis kecil yang kini dibanding-bandingkan dengan anak selir. Bukan luka secara fisik, namun mental, sesuatu yang membuatnya terkadang melarikan diri ke dalam hutan berkabut, untuk menemukan Junichi. Tapi Junichi tidak pernah menampakkan dirinya lagi.

Nenek, kakek, ibu kandung, bahkan ayahnya sendiri menuntut banyak darinya, yang baru berusia 7 tahun. Bahkan dua tahun ini hanya tinggal di hutan dengan Junichi, tanpa mengikuti pendidikan. Tidak ada keceriaan di rumah perdana menteri, hanya hujatan yang merendahkan anak sah, dan memuji anak selir.

Beberapa tahun berlalu tepat pada usia putra mahkota yang telah menginjak 16 tahun, putri mahkota terpilih. Anak dari seorang jenderal yang rupawan, sang calon ratu di masa depan. Sesuatu yang akhirnya diketahui oleh Junichi, tidak pernah ada masa depan yang bahagia untuk Fu.

Karena itulah, pada malam pernikahan putra mahkota. Junichi menemui Fu setelah empat tahun berlalu.

Wanita yang sudah bertambah tinggi, namun tubuhnya terlihat kurus, lagi-lagi mencarinya di tengah hutan berkabut.

"Junichi!" ucapnya yang melarikan diri dari rumah perdana menteri setiap ada kesempatan. Selama empat tahun, berkali-kali mendatangi hutan berkabut untuk bertemu Junichi yang tidak pernah keluar.

Junichi memeluk gadis kecil yang kini berusia 11 tahun itu."Apa kamu tidak bahagia? Aku akan mengajarimu segala hal, agar dapat bersaing dengan anak selir. Menari, musik, filsafat, puisi, semuanya. Tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri lagi."

Gadis kecil yang kesepian itu menangis, bahkan ibu kandungnya sendiri lebih memuji anak selir. Tangannya membalas pelukan Junichi. Terlihat lebih tinggi, namun sekarang bagaikan gadis kecil dengan kakaknya.

Pria yang tidak menua sama sekali, dengan anak yang dari tahun ke tahun akan bertambah cantik, menebarkan aura kemuliaan yang diincar semua pria.

*

Saat ini.

Dengan santainya Kara bangkit, meraih handuk berbentuk kimono. Tubuh Shui Murren yang terlihat masih tertidur diangkatnya. Wanita itu masih saja berpura-pura tertidur. Jantungnya berdegup cepat, membayangkan adegan dewasa di kamar mandi.

Biasanya akan seperti itu bukan? Adegan dimana setelah melakukan malam pertama di ranjang akan dilanjutkan dalam bathtub atau pinggiran wastafel.

Dirinya benar-benar takut untuk saat ini. Namun, tubuhnya diletakkan di dalam bathtub.

"Jangan berpura-pura tidur, sudah pagi! Kamu harus mencari uang untuk kita," Kata-kata tidak tahu malu dari sang gagak.

Shui membuka matanya. Air di bathtub diisi oleh Kara, memberikan sabun cair disana. Seperti biasanya, penunda ini seperti tanpa napsu sama sekali.

Apa tubuh Shui kurang indah? Tentu saja tidak, tapi pemuda itu memang bagaikan sudah sesepuh. Dapat mengendalikan napsunya, walaupun terkadang sulit, seperti saat dalam gudang beberapa hari lalu.

Tidak ada bagian yang tidak dibersihkannya. Tapi hanya membersihkan saja.

"Apa yang terjadi semalam?" tanya Shui ragu.

"Semalam kamu terlalu banyak minum. Hampir terjatuh dari atap gedung. Untung saja ada aku yang menyelamatkanmu. Jadi apa imbalan untukku? Sayang..." jawabnya membuat cerita yang masuk akal.

Shui menghela napas kasar, benar-benar suami yang materialistis."Nanti aku akan mengirimkanmu hadiah,"

Kara tersenyum, hanya tersenyum. Dirinya malam ini akan membuat perhitungan dengan pria yang mendorong Shui.

"Berani-beraninya ingin membakar lahan pertanianku!" batinnya, menganggap Shui adalah sumber kekayaan dan kekuasaan.

Tapi apa benar?

Satu ciuman tiba-tiba diberikan Shui pada bibir Kara. Memberikan perasaan aneh pada sang pemuda. Hanya haus akan kasih sayang. Tangan wanita itu ditariknya, tengkuknya di tahan. Sepasang suami-istri yang memejamkan matanya.

Tidak mengakui cinta dan telah kalah. Tapi tetap saja mudah terhanyut. Hingga ciuman itu terlepas, sepasang jantung yang berdegup cepat.

"Ce... cepat-cepatlah lulus kuliah!" bentak Shui tiba-tiba gelagapan.

"Karena cintamu, aku akan lulus kuliah dengan cepat. Kecantikan istriku benar-benar bagikan bunga musim semi." Komat-kamit berbagai rayuan diucapkannya. Mengakui takluk pada Shui Murren? Itu tidak boleh terjadi, jika Fu sudah kembali dirinya akan menemukannya, menepati janjinya.

*

Beberapa jam kemudian.

Beberapa konten di media sosial dibuat oleh Herlan. Kala berada di kampus bersama Kara, menggunakan iPhone keluaran terbaru majikannya untuk berfoto.

"Mari kita unboxing gadget terbaru yang aku beli. Ini asli, dibayar lunas tanpa mencicil," ucap Herlan membuat video. Membuka hadiah yang baru saja diantarkan sekertaris Shui untuk Kara.

Apa yang tengah dilakukan Kara? Pemuda yang berada di perpustakaan bersama tumpukan buku. Beberapa wanita diam-diam memperhatikannya, bahkan ada yang sengaja memberikan bekal makanan untuknya.

Bekal makanan yang mungkin akan diberikan Kara pada Herlan nantinya.

Terpopuler

Comments

RahaYulia

RahaYulia

menang banyak tuh budak ...

2024-08-19

0

Lovesekebon

Lovesekebon

Ayolah Kara cepat lulus ujian 🤭🤭

2023-02-21

0

afikamanisih Manisih

afikamanisih Manisih

satu satunya budak yg menang banyak

2022-12-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!