Hanya ciuman, yang diakhiri dengan beberapa kecupan kecil. Cahaya yang hanya masuk dari jendela gudang. Dua orang yang kembali canggung.
Shui menghela napas berkali-kali, berusaha kembali bersikap dingin."Aku harus kembali ke ruangan rektor. Hari ini ada beberapa pertemuan yang aku batalkan karena kejadian ini. Mungkin nanti malam aku akan pulang larut," ucapnya terdengar dingin, menggerakkan kursi rodanya meninggalkan gudang, hingga pintu gudang kembali dibukanya.
Kara meraba bibirnya sendiri, merutuki dirinya. Mengapa dapat membuat tanda pengikat perjanjian dengan Shui. Pemuda yang menghela napas berkali-kali. Sebuah tanda yang membuatnya terikat untuk selalu menyelamatkan Shui di segala situasi. Juga sebagai tanda persyaratan, tidak ada satupun orang yang dapat memiliki Shui selain dirinya.
"Mulut bodoh!" gumam si gagak cerewet menyesal, berucap dengan suara kecil.
Namun dirinya harus bertindak senormal mungkin. Wajahnya tersenyum, berjalan dengan cepat."Sayang! Jadi kamu akan lembur? Aku akan kesepian di rumah tanpamu, aku mencintaimu. Akan begitu merindukanmu,"
Kara menyusul istrinya, meraih pegangan kursi roda.
"Diam!" hanya itulah jawaban dari Shui dengan raut wajah datar. Namun, sejatinya menahan diri agar tidak mulai menyukai pemuda tengil pembuat masalah.
*
Strategi? Itulah yang dilakukan Shui Murren. Sang rektor tentu tidak akan diam saja, ketika jabatannya dipertaruhkan. Pria yang diam-diam, ingin memberikan kunci jawaban pada Kara. Namun, dengan penuh percaya diri Kara mengembalikan kunci jawabannya.
"Aku akan melindungimu!" ucap Kara menampakan aura keren, menepuk bahu sang rektor.
"Idiot..." gumam Fahira, menatap suami dari majikannya. Sedangkan Shui hanya dapat memijit pelipisnya sendiri.
"Kamu mudah mendapatkan istri yang kaya. Jika dikeluarkan bisa meminta untuk pindah kampus. Bahkan kuliah di luar negeri. Sedangkan aku? Baru kemarin aku mengambil mobil baru. Belum lagi istriku ikut arisan, cicilan rumah yang baru dibayar setengah. Setelah ini aku mungkin akan diseret ke pengadilan agama oleh istriku," batin sang rektor dengan wajah pucat pasi, ingin rasanya menangis dan memohon agar Kara bersedia menggunakan kunci jawaban yang dibuatkannya.
*
Ujian yang menjadi taruhan sekaligus pembuktian dimulai. Windu mengerjakan soal dengan serius, soal yang cukup sulit, penjelasan secara mendetail. Apa rektor sengaja mempersulitnya? Namun, yang dihadapinya hanya mahasiswa terbodoh, sekaligus mahasiswa abadi.
Lembar demi lembar, diisi olehnya, sedikit melirik ke arah Kara. Pemuda yang membaca lembaran soal, dengan cepat. Kemudian menutupnya, beralih mengambil lembaran jawaban. Sama seperti di ujian sebelumnya.
"Bodoh!" batin Windu tersenyum.
Tangan Kara bergerak cepat, kini hanya fokus pada lembar jawaban. Tanpa membaca kembali lembaran soal. Benar-benar cara yang aneh, tidak mungkin memahami dan menghafal semua lembar soal bukan? Mungkin tidak mungkin bagi orang kebanyakan.
Hingga 15 menit waktu berlalu. Kara mengumpulkan jawabannya.
Hanya Shui Murren, sekretaris, supir dan rektor yang menyaksikannya? Tidak berita tentang pertandingan antara dosen dan mahasiswanya itu sudah tersebar di penjuru kampus. Tentunya beberapa mahasiswa yang tidak sengaja lewat ke ruang ujian yang menyebarkannya.
Beberapa orang merekam, bersiap-siap memiliki video betapa memalukannya seorang Kara. Sedangkan, para mahasiswi berteriak mendukungnya. Modal mobil, penampilan, dan karakter gerak-gerik bagaikan bad boy yang menawan, menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka. Walaupun mengetahui Kara sudah beristri. Suami orang lebih menantang, moto itulah yang memotivasi.
Sebagian besar wanita mengatakan tipenya pria baik-baik yang sederhana. Namun, ketika melihat pria menawan, dengan mobil mewah, memiliki karakter bad boy. Maka kata-kata itu akan dilupakannya.
Mendukung Kara, menjadi fans dadakan. Walaupun pemuda itu digosipkan mencontek, dan membeli jawaban ujian akhir semester.
Lembar jawaban dikumpulkan Kara terlebih dahulu. Sang rektor dan Shui Murren mengamati hasilnya. Dua orang yang sama-sama membulatkan matanya.
"Tahu begini, aku kirim Kara saja untuk mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Singapura," gumam sang rektor dengan tangan gemetar.
Sebenarnya mereka tidak perlu menunggu Windu. Namun lembar jawaban sang dosen juga harus diperiksa bukan?
Menit ke 50 sang dosen mengumpulkan jawabannya. Satu persatu diperiksa oleh Shui Murren dan rektor. Tidak diragukan lagi, dosen yang cukup pintar.
"Kara, mengaku dan minta maaf! Kamu sudah mencontek! Dan katakan dimana kamu membeli kunci jawaban! Aku akan diangkat menjadi rektor yang baru, jadi jika aku mengeluarkanmu maka---" Kata-kata Windu disela.
"Kamu kalah, Kara mendapatkan nilai sempurna. Sedangkan ada satu dari soal pilihan ganda yang salah di lembar kerjamu. Satu lagi, untuk esai penjelasannya kurang lengkap." Kata-kata dari sang rektor membuat Windu membulatkan matanya, mengambil lembaran jawaban milik Kara.
Pria yang menjatuhkan lembaran jawaban setelah memeriksanya. Benar-benar nilai sempurna, mengapa bisa? Si bodoh ini berpura-pura bodoh? Berapa sebenarnya IQ-nya.
"IQ-mu berapa?" tanya sang dosen pada Kara.
"Pengembangan potensi tidak terbatas." Hanya itu jawaban ambigu darinya, membuat semua mahasiswi yang melihat dari jendela ruangan menjerit. Bertambah kagum, dengan seseorang yang dulu disebut sebagai pecundang.
"Sayang! Ayo aku akan mengantarmu ke mobil. Kamu terlalu sibuk, maaf membuat masalah lagi," ucap Kara tiba-tiba, hanya menjadi manja dan manis di depan istrinya. Mengapa? Tidak ada yang mengalahkan kedudukan Shui Murren yang saat ini diketahuinya. Perlahan dirinya akan membuat Shui Murren bergantung, memanfaatkannya seperti boneka.
Sebuah rencana yang membuatnya tersenyum-senyum sendiri. Walaupun tanpa disadarinya, dirinya yang perlahan akan dikendalikan oleh perasaannya. Melupakan Fu? Tidak mungkin dapat melupakannya.
Dirinya yang merawat Fu saat tersesat di hutan ketika gadis kecil itu berusia lima tahun. Setelah tandu yang dinaiki putri bangsawan itu di rampok.
Gadis yang mengikuti sang siluman selama dua tahun. Mengikuti semua keinginan Kara, dijadikan umpan olehnya untuk pertukaran dengan siluman lain. Walaupun pada akhirnya dirinya menggunakan trik untuk merebut Fu kembali.
Mengikuti siluman? Gadis kecil yang merasa aman setiap berada dengan Junichi. Hingga pada akhirnya Junichi memulangkan Fu pada keluarganya. Mengantarkannya kembali ke hutan.
Sebuah pertemuan yang tidak akan dilupakan oleh sang gadis kecil. Hingga berkali-kali, melarikan diri dari rumah untuk bertemu dengan Junichi yang mengajarkannya banyak hal.
Fu? Sesuatu yang tidak akan pernah dilupakan oleh Junichi. Pemuda yang tersenyum, pura-pura tersenyum, lebih tepatnya menyimpan segalanya.
Mengantar Shui Murren, ke dalam mobilnya. Dirinya mulai mencintai Shui Murren? Itu tidak boleh terjadi. Telah berjanji untuk bersama dengan Fu, bagaimana pun caranya. Tidak menyadari perasaan yang ada dalam dirinya sendiri.
Mobil Shui Murren, melaju meninggalkan parkiran. Bertepatan dengan Windu yang berjalan sambil tertunduk, dengan wajah pucat.
"Guru (Dosen) walaupun Shui mengeluarkanmu dari kampus ini. Aku akan memintanya untuk membantumu mencari kampus lain," ucap Kara berbalik pergi.
Perlahan senyuman mengembang di bibirnya yang bergetar. Benar-benar mengira dirinya akan kehilangan mata pencaharian. Hampir saja menangis, dengan cepat melajukan motor sport miliknya. Terlalu gengsi untuk menangis di kampus.
Beberapa mahasiswi, berjalan cepat menggoda meminta nomor dan media sosial Kara. Walaupun dirinya tidak mengetahui apa itu WhatsApp atau media sosial, bahkan Shui belum memberikannya handphone.
"Aku tidak punya. Jika pun punya, hanya akan dapat menghubungi istriku. Akan aku pertimbangkan jika status sosial dan kekayaan kalian melebihi Shui Murren," jawabnya membuat para mahasiswi semakin menginginkannya.
Menembus kerumunan mahasiswi yang mengidolakannya. Kaya, pintar, tampan, punya aura bad boy, siapa yang tidak akan tertantang untuk memiliki Kara?
Hingga langkah Kara kembali terhenti. Mengenyitkan keningnya menatap ke arah Herlan yang berjalan mengendap-endap.
Bagian belakang kerah kemeja pria itu ditariknya."Budakku, mau kemana?!" tanyanya membuat Herlan ingin menangis rasanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
reecka
Thor bagus bgt karyamu,, knpa aku baru ketemu
2024-02-26
1
Lovesekebon
Kara memang juarahh 🥰🥰
2023-02-21
1
Audya
mimpinya Shui tuh nyata di masa lalu? unyu,,,
2023-01-04
3