Mata pemuda itu terbuka, sisa-sisa racun masih ada di tubuhnya. Mengendalikan peredaran darahnya sendiri, kembali memuntahkan racun yang bercampur dengan darah. Bagaikan dapat mengendalikan segala zat yang ada ditubuhnya, menyerap racun yang telah bercampur dengan daging-daging di tubuhnya.
Selang infus masih berada di pergelangan tangannya. Beberapa dokter menanganinya, cukup terkejut dengan kondisi pasien yang ada di hadapan mereka. Seharusnya sudah mati atau mengalami cacat permanen.
Tapi kadar racun berangsur berkurang, masih hidup dan bernapas dengan wajah yang benar-benar pucat.
"I...ini keajaiban," gumam sang dokter.
Farhan memasuki ruangan dengan cepat menatap ke arah Kara yang duduk di atas tempat tidur."Kara! Kamu? Dasar bodoh!"
Sang ayah memeluk tubuh putranya, air matanya mengalir. Seorang anak tidak berguna yang hidup kembali.
"Lancang! Jangan memelukku! Budak sebaiknya kamu ingat statusmu!" bentak Kara tiba-tiba, membuat semua orang terdiam sesaat.
"Apa kita perlu melakukan CT Scan? Otaknya mungkin bermasalah," gumam sang dokter pada perawat di sampingnya.
"Tidak perlu, siang ini pernikahan dengan anak tertua keluarga Murren akan dilakukan. Jika sampai ketahuan putraku mencoba bunuh diri, maka Atmaja tidak akan melepaskanku karena mempermalukan putri kesayangannya." Farhan menghela napas kasar menatap kondisi putranya.
Perlahan pria itu mendekat."Apa ingatanmu hilang? Aku ayahmu. Dengar! Siang ini pulih atau tidak, bagaimana pun kondisimu kamu harus menikah dengan putri tertua keluarga Murren. Layani dia dengan baik."
Kara mengenyitkan keningnya."Kenapa harus? Apa dia putri raja? Anak bangsawan?"
Farhan menepuk dahinya sendiri. Menghela napas berkali-kali. Menghadapi putranya yang mungkin mengalami delusi parah. Menimbalinya? Hanya itulah yang dapat dilakukannya.
"Semacam itu, dia mungkin seperti putri bangsawan. Jika kamu menikah dengannya kamu bisa membeli apa saja. Hanya tinggal menjadi suami yang manis dan baik. Dilayani banyak pelayan, salah maksudku dayang. Kamu mau ya?" pintanya pada putranya.
Kara terdiam sejenak, sedikit melirik ke arah Farhan. Pria ini adalah ayah dari Kara yang asli, dirinya benar-benar tidak mengerti tentang masa saat ini. Rumah berganti dengan tempat yang tinggi. Manusia dapat bergerak dengan cepat mengendarai besi, tanpa perlu belajar ilmu meringankan tubuh.
Menikah dengan putri bangsawan? Mungkin bukan pilihan yang buruk. Dirinya dapat memanfaatkan kekuasaan istrinya. Kemudian menjadi kaisar menguasai seluruh benua. Menemukan tempat Fu terlahir, setelah itu menyingkirkan istrinya yang sudah tidak berguna.
Benar-benar siluman yang licik. Walaupun pada kenyataannya dirinya akan kesulitan mengenali Fu. Bagaimana tidak, ketika manusia bereinkarnasi ke tubuh baru tidak akan memiliki ingatan, wajahnya juga akan berubah.
Bagaimana cara mengenali Fu? Entahlah, dirinya akan memikirkannya nanti. Yang terpenting saat ini, mencari kekuasaan dengan cara apapun.
"Aku setuju, aku akan menikah dengan putri bangsawan." Jawaban darinya penuh senyuman.
Farhan menghela napas kasar, putranya lebih mudah di bujuk ketika kehilangan ingatan."Kamu jalani semua pengobatan dokter, salah maksud ayah tabib. Ayah akan melanjutkan persiapan pernikahanmu untuk siang ini," ucap Farhan segera berlari meninggalkan ruangan.
Bersamaan dengan dokter dan perawat yang meninggalkannya untuk mempersiapkan pemeriksaan lain.
Kara terdiam, menatap ke arah jendela. Hanya sebagian kecil kemampuan yang dimilikinya saat ini. Matanya melirik ke arah vas bunga, sebuah kelopak bunga mawar putih melayang terbang, terjatuh ke jemari tangannya.
Hanya ini kemampuan yang dimilikinya? Bahkan untuk menerbangkan setangkai bunga pun sulit.
Seorang pria tua tiba-tiba masuk."Tuan," ucapnya tertunduk pada Kara.
"Kamu siapa?" satu pertanyaan yang dilayangkan pada Shim.
"Namaku Shim, generasi ke lima dari keluarga Wei. Mengapa anda memutuskan untuk bangkit dalam tubuh keponakanku. Tolong kembali lah! Keponakanku---" Kata-kata Shim disela.
"Keluarga Wei? Rupanya keluarga cenayang yang menyegelku. Kenapa? Sudah merasa bersalah? Aku yang memberi kalian kemampuan sihir. Tapi sebagai imbalannya kalian menyegelku. Hanya tubuh manusia biasa, aku hanya mengambil tubuh keponakanmu atas persetujuannya. Apa aku salah? Seharusnya aku mencungkil jantung seluruh keturunan kalian," ucap Kara, benar-benar terdengar cerewet. Namun, sekelebat bola matanya yang hitam memerah, terlihat mengerikan.
Tangan Shim gemetar."Maaf, tidak seharusnya aku---"
"Aku sudah menjadi bagian dari keluarga kalian. Namaku saat ini bukan Junichi lagi, tapi Kara. Tugasmu hanya melayaniku sebagai seorang budak. Mengerti?" tanyanya tersenyum menyeringai.
"Mengerti, tapi tolong katakan bagaimana keadaan Kara? Kenapa dia tidak bersedia kembali?" tanya sang paman yang putus asa.
"Siapa yang akan kembali, begitu hidup dia akan cacat karena tidak memiliki kemampuan untuk menetralisir racun. Mengetahui perselingkuhan kekasihnya dengan kakaknya sendiri. Benar-benar kehidupan yang berantakan," gumam Kara, menghela napas berkali-kali.
Shim terdiam, air matanya mengalir melewati pipi keriputnya. Dengan cepat diseka olehnya, keponakan yang paling disayangi olehnya. Hanya dapat merelakan kepergiannya. Seorang pemuda lugu yang tidak memiliki ambisi.
Mungkin memiliki sifat bertentangan dengan Junichi. Siluman picik yang akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya.
*
Setelan tuxedo dikenakannya."Pakaian yang aneh? Berlapis-lapis tapi benar-benar ketat," keluhannya hanya dapat bersabar.
"Tuan," Shim tertunduk melangkah ke ruang ganti.
"Aku hanya harus mengatakan bersedia bukan? Itu mudah." Ucap Kara enteng.
"Benar, tapi mohon jangan mempermalukan diri di acara ini. Banyak orang-orang dari kalangan atas yang hadir,"
"Iya! Iya! Ini mudah! Menikahi wanita, menggodanya, kemudian mendapatkan kekuasaan darinya. Mendepaknya setelah aku menjadi kaisar!" suara tawanya terdengar. Benar-benar tidak menyadari jaman kerajaan sudah berakhir. Ini jaman modern, tidak ada yang takluk pada kaisar atau perbudakan lagi.
Shim hanya dapat memijit pelipisnya sendiri. Membiarkan siluman picik ini mengetahui tentang bagaimana berjalannya dunia ini.
Suara alunan musik terdengar. Pernikahan yang tidak dihadiri begitu banyak orang. Hanya keluarga dan relasi bisnis penting, sedangkan setelah ini pesta resepsi tengah menanti.
Sang mempelai pria sudah berada di depan altar. Sedangkan sang mempelai wanita, didorong menggunakan kursi roda oleh Atmaja, menuju altar. Dua orang anak penabur bunga berjalan di depan mereka.
Sang pengantin pria yang rupawan, bersanding dengan pengantin wanita dengan wajah yang ditutupi kain tipis.
Apa yang ada di fikiran Kara? Apa mungkin tegang dengan pernikahannya?
"Apa itu? Apa tandu pengantin? Tapi kenapa bentuknya aneh, tidak megah sama sekali. Apa bangsawan ini jatuh miskin?" Gumamnya dengan suara kecil, untuk pertama kalinya menatap ke arah kursi roda yang dinaiki Shui.
Hingga acara paling menegangkan dimulai.
"Kara Senaida apa kamu bersedia mencintai Shui Murren, dalam sakit maupun sehat. Dalam senang maupun susah hingga maut memisahkan?" ucap sang pendeta.
"Bersedia," jawaban dari Kara, terlihat tersenyum.
"Shui Murren apa kamu bersedia mencintai Kara Senaida, dalam sakit maupun sehat. Dalam senang maupun susah hingga maut memisahkan?" Sang pendeta kembali berucap.
"Bersedia,"
"Bersedia,"
Kedua mempelai berucap bersamaan. Membuat semua orang menertawakan tingkah konyol dari Kara.
"Kenapa semuanya tertawa? Apa yang salah?" gumamnya tidak mengerti. Dirinya hanya diberikan instruksi oleh Shim, harus mengatakan bersedia setiap pendeta bertanya.
Tanpa menyadari pertanyaan yang sebenarnya ditujukan pada pengantin wanita.
Semuda orang benar-benar tertawa dengan kencang."Mungkin mempelai prianya kurang Akua!" teriak salah seorang putra pengusaha.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Triani
kebanyakan minum santan kara rasa sianida....
2023-08-16
1
Abimanyu Rara Mpuzz
sianida 🙃
2023-08-06
0
Lovesekebon
Selain kelaparan juga dehidrasi, karena belum ada episode makan dan minum sehabis menempuh perjalanan akhirat 🤔😔😅
2023-02-21
0