"Jadi ini karena pengaruh obat? Pantas saja cara bicaranya aneh." Sang polisi menghela napas kasar.
"Iya! Dia keluar pagi-pagi buta setelah minum obat. Aku yang kurang mengawasi, aku kita dia masih di kamar," ucap Shui membuat alasan.
"Hari ini kami dapat memaklumi, jangan sampai terjadi lagi. Ingat ada beberapa obat-obatan yang tidak aman dikonsumsi saat menyetir. Jika sampai terjadi lagi, kami benar-benar akan menilang atau memenjarakannya!" tegas petugas kepolisian.
"Maaf," ucap Shui yang berada di samping Kara. Meraih kepala suaminya, berusaha menekannya agar menunduk minta maaf pada petugas kepolisian.
Petugas kepolisian hanya menghela napas kasar menatap ke arah Kara. Kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah.
"Benar kan? Suamimu hanya dapat membuat masalah. Aku heran bisa-bisanya kalian menikahkan Shui dengan seorang pecundang. Bahkan hingga usia 28 tahun mendapatkan gelar S1 saja belum! Berbeda dengan Sonya, dia akan menikah dengan orang yang lebih pintar dan berbakat." sindir Rita.
Shui mengenyitkan keningnya. Benar-benar kesal rasanya."Pelayan! Kosongkan kamar tamu! Bibi Rita ingin keluar dari rumah!"
"Apa hakmu mengusirku. Aku---" Kata-kata Rita terpotong.
"Yang boleh menghina dan menindas suamiku hanya aku. Kamu berani melakukannya? Ingin kesabaranku habis, dan berhenti memberikan uang bulanan pada putrimu?" tanya Shui, sedangkan Sisilia (ibu Shui) menahan tawanya. Entah putrinya mewarisi sifat siapa, benar-benar tidak mudah ditindas.
Para pelayan segera berlari, mengambil koper dan pakaian dari kamar tamu. Sedangkan para pelayan pria menarik paksa Rita untuk pergi.
"Aku tidak mau pergi. Dasar wanita br*ngsek! Sialan! Ular berbisa!" berbagai sumpah serapah penghinaan diucapkan Rita.
Sonya mengenyitkan keningnya. Perlahan Kara akan menjadi kelemahan terbesar Shui Murren. Wajahnya tersenyum, merapikan penampilannya.
"Kara, bagaimana jika aku mengantarmu berangkat kuliah? Aku searah menuju lokasi syuting," ucapnya, ingin kembali menggoda dan mengendalikan Kara.
"Tidak mau! Aku akan berangkat dengan istriku. Benar kan sayang?" tanyanya tiba-tiba memeluk Shui.
"Dasar bodoh! Kekuasaan Shui lebih besar. Menempel padanya maka aku akan memiliki segalanya." Batin Kara ingin rasanya tertawa kencang dengan rencana briliannya.
Tapi apa rencananya akan berhasil? Dalam perasaan antara pria dan wanita. Orang yang memiliki perasaan yang paling dalamlah yang akan kalah. Kekalahan yang dialaminya 500 tahun lalu, masih mencintai Fu hingga saat ini.
"Ayo kita berangkat, ambil buku-bukumu! Pelayan akan memasang plat mobilmu. Aku juga harus pergi ke perusahaan," ucap Shui menghela napas kasar.
Pemuda yang segera menunju lantai dua, kemudian turun beberapa menit kemudian. Pergi keluar dari rumah dengan dengan Shui.
Atmaja terdiam sejenak menatap ke arah punggung putrinya. Benar-benar pasangan yang cocok baginya. Terkadang pria dengan ambisi dan karier cemerlang, mungkin suatu hari nanti akan merasa rendah diri dengan kedudukan istrinya yang lebih tinggi. Atau bahkan merebut semua yang dimiliki Shui. Itulah sebabnya Atmaja memilih Kara. Pemuda yang tidak memiliki ambisi sama sekali.
*
Mobil melaju meninggalkan gerbang besar rumah tersebut. Senyuman mengembang di wajah Kara, sesekali melirik ke arah Shui. Hingga Shui memulai pembicaraan.
"Hentikan mobilnya!" ucapnya tiba-tiba.
Dengan cepat Kara menghentikan mobilnya di tengah jalan, membuat mobil di belakangnya menekan klakson berkali-kali.
"Maksudku tepikan mobilnya, parkir di bawah pohon sebelah sana."Shui memijit pelipisnya sendiri, benar-bebar memiliki suami dengan tingkah yang aneh.
Mobil ditepikan di bawah pohon yang cukup rindang. Wanita itu menghela napas berkali-kali."Setelah kita bercerai sekitar satu atau dua tahun lagi kamu dapat menikah dengan Sonya. Bersabarlah," gumamnya mengetahui suaminya tidak mencintainya.
Kara tersenyum, tertawa kecil."Apa dia lebih cantik atau lebih kaya darimu? Lebih berkuasa darimu? Kenapa aku harus menikah dengannya?"
"Karena memang akan ditakdirkan seperti itu. Kamu akan jenuh memiliki istri lumpuh. Suatu hari nanti meninggalkanku untuk wanita lain. Jika bukan Sonya akan ada lagi, wanita yang lebih menggoda. Aku memang terlahir untuk sendiri dan tidak menikah." Ucap Shui, membuat Kara memegang erat stir mobilnya.
Kata-kata yang mirip dari orang yang berbeda. Apa yang dikatakan Fu? Remaja yang selalu melarikan diri dari rumah untuk menemuinya.'Karena kita memang tidak ditakdirkan bersama. Aku akan menua dan mati. Dan kamu akan menemukan wanita yang lebih cantik dariku. Jadi bisakah kita---' Kalimat yang dulu tidak dilanjutkan Fu, dirinya membungkam bibir wanita itu. Menciumnya menikmati setiap detik kebersamaan mereka.
Apa yang dilakukannya saat ini? Dirinya refleks melakukan hal yang sama. Mencium bibir Shui, benar-bebar pria yang bodoh. Namun matanya terpejam, perasaan yang sama didapatkannya. Ini aneh, apa karena dirinya telah menikah dengan Shui?
Menikmati setiap gerakan bibir sang pemuda, Shui hanya dapat mencengkeram kemeja hitam yang dikenakan Kara. Hingga bibir mereka terpisah.
Dua orang yang tiba-tiba menunduk bagaikan telah melakukan hal yang bodoh. Mengalihkan pandangan mereka, berlawanan arah.
"Kita lupakan hal tadi. Tadi tidak ada yang terjadi," ucap Shui, entah kenapa. Mungkin karena faktor usia, ingin rasanya mencabik-cabik pakaian Kara. Untuk pertama kalinya merasakan perasaan seperti ini. Darahnya berdesir sulit untuk dikendalikan. Tidak, ini tidak boleh terjadi, dirinya harus menjauh dari makhluk ini.
"I...iya, tidak ada yang terjadi. Sayang, kamu yang tercantik, bahkan lebih cantik dari seorang Dewi. Aku tidak akan berdekatan dengan Sonya." Ucap Kara gelagapan, bingung dengan dirinya sendiri. Dirinya harus menghindar dari Shui. Benar-benar harus menghindar, ada yang aneh dengan tubuhnya. Tidak dapat mengendalikannya dengan baik. Apa yang harus dilakukannya? Apa harus menggigit leher wanita itu?
Pemuda yang menghela napas berkali-kali. Menganggap perasaan anehnya tadi karena memasuki tubuh manusia. Mungkin saja Kara yang asli memiliki hubungan dengan Shui Murren? Itulah alasan yang ada difikirannya. Meyakinkan dirinya sendiri. Tapi tetap saja, bibir itu sesekali diliriknya, kala melakukan mobilnya.
"Fu sedang menungguku, Fu sedang menungguku, tenang kamu tidak boleh menyukai wanita k*parat ini," batinnya, benar-bebar berusaha mengendalikan aliran darahnya yang tidak stabil. Jakunnya bergerak naik turun, ingin menerkam wanita ini.
Pemuda yang menghela napas berkali-kali. Apa Junichi pernah merasakan perasaan seperti ini pada Fu? Perasaan yang serupa namun usia Fu saat itu masih 14 tahun. Mereka tidak pernah melakukan lebih banyak, hanya berciuman atau melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama.
Suasana yang benar-benar canggung saat ini. Dua orang menolak perasaan aneh pada diri mereka.
"Aku menikah dengannya hanya untuk menuruti nasehat ayah. Setelah satu atau dua tahun tinggal bercerai," batin Shui penuh tekad. Walaupun sesekali menelan ludahnya sendiri, mengingat hal yang baru saja terjadi.
Sedangkan Kara hanya diam, wajahnya tersenyum sesekali. Namun dengan cepat menggeleng."Dia hanya akan aku manfaatkan untuk menjadi kaisar. Sebuah batu pijakan, setelah menemukan Fu, aku akan mendepaknya," itulah yang ada di dalam fikirannya. Walaupun sejatinya berusaha keras menahan perasaan gemas yang aneh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Lovesekebon
Sejatinya cinta sudah mulai tumbuh 🤭
2023-02-21
0
Herlan
apakah shui reinkarnasi dari Fu?
2022-12-06
5
weny
wanita hebat bs aja reinkarnasi fu dtubuh shui
2022-12-05
6