Realistis

Club'malam yang cukup ternama, sebuah mobil sport berwarna putih berhenti di area parkir. Mata semua wanita menelisik, apa yang lebih utama dari seorang pria? Tentu saja isi kantong. Wanita terkadang bukan makhluk materialistis, tapi makhluk realistis.

Make up, pakaian, bahkan sesuap nasi, semuanya berasal dari lembaran tipis bergambar tokoh proklamator. Jika tidak ada, menikah dengan cinta pun percuma rasanya, saat melihat anak-anak mereka kelaparan.

Hidup berkecukupan mungkin itu bagus bagi wanita realistis, tapi lebih bagus lagi jika dapat hidup bagaikan istri sultan. Itulah yang ada di fikiran wanita materialistis.

Pintu mobil terbuka, cara membuka pintu yang berbeda, pintu naik ke atas. Shui Murren benar-benar tidak main-main memberikan hadiah untuk suaminya. Walaupun sampai sekarang Kara belum memiliki phonecell.

Dari pada mengunjungi club'malam, mungkin lebih baik Kara menggunakan uang hadiah dari polisi untuk membeli handphone android second, seharga kurang dari 1,5 juta rupiah, seperti milik penulis yang super pelit.

Tapi sekali lagi, menemukan makanan adalah tujuannya. Menyerap kemampuan semua iblis, mengembalikan mereka ke alam bawah.

Para wanita berpakaian minim mulai mendekat menatap dua orang keluar dari mobil. Satunya berpakaian kemeja kotak-kotak yang pada umumnya dijual di online shop. Satunya lagi, tubuh berbalut pakaian bermerek, mengenakan kemeja merah marron, dengan celana panjang hitam.

Mereka langsung mengenali status Kara, berusaha mendekatinya.

"Kak, mau minum bersamaku? Aku yang traktir," pinta seorang wanita berpakaian terbuka. Tang top dan rok mini tepatnya.

"Apa kamu kuat?" gumam Kara menatap iblis lemah yang ada di belakang sang wanita, matanya menelisik, apa sang iblis cukup kuat menjadi makanannya malam ini?

"Kuat? Tentu saja, biar aku di atas. Kamu tinggal menikmati saja..." bisik sang wanita, mendekati Kara. Menganggap yang ditanyakan Kara adalah kuat dalam aktivitas ranjang.

Kara tertawa kecil, kemudian tersenyum."Aku dapat mengalahkanmu dalam satu gerakan, membuatmu tidak dapat bangkit lagi," ucapnya berjalan berlalu. Menatap ke arah iblis yang tidak dapat bicara hanya berwujud asap hitam, bahkan tidak akan menambah kemampuannya sama sekali.

"Sa...satu gerakan?!" geram sang wanita menghentakkan kakinya kesal. Namun tetap saja begitu menggoda baginya, tertantang untuk lebih mendekati Kara.

Herlan memasang pose terbaiknya di dekat mobil sport. Jujur saja, ini pertama kali dirinya mendatangi club'malam, mengingat perekonomiannya yang sulit.

"Denganku saja bagaimana?" tanya Herlan mengedipkan sebelah matanya.

"Mobil ini milik temanmu kan?! Dasar pria penipu, sudah check-in nanti bilangnya tidak punya uang, alasan dompet ketinggalan," gumam sang wanita yang mungkin seumuran dengannya, berjalan pergi masuk ke dalam club'malam.

"Siapa juga yang mau memberikan keperjakaanku pada sarung longgar!" gumam Herlan menghela napas, memijit pelipisnya sendiri. Mungkin hanya pacarnya tersayang, anak sulung ibu kost yang paling mengerti dan mau menerima dirinya. Tepatnya pria yang sering menunggak bayaran, walaupun dirinya bekerja sampingan sebagai ojek online, terkadang kala tugas kampus menumpuk dirinya tidak bekerja.

Hanya sang kekasih yang paling mengerti dirinya, pria yang masih memiliki hutang 50.000 di tukang bakso keliling langgannya.

*

Sementara di ruangan lain dalam club'malam.

Sui berada di sana duduk berhadapan dengan salah satu orang kepercayaannya. Tidak semua bisnis milik Shui Murren dipertaruhkannya pada perusahaan. Namun ada juga beberapa investasi yang ditanamnya pada hotel dan beberapa aset bergerak.

Azra adalah orang kepercayaannya untuk mengelola semua aset yang bahkan tidak diketahui ayahnya, Atmaja. Tidak ingin Sonya iri, dan mengira hal yang berasal dari kerja kerasnya adalah pemberian tidak adil dari sang ayah.

"Ini tidak berakohol," ucap Azra menuangkan minuman yang mungkin merupakan sirup rasa buah dalam tiga gelas yang berbeda.

"Kenapa bertemu disini? Biasanya di restauran?" tanya Shui, mulai meminum minuman di atas meja. Diikuti oleh Fahira dan supir yang minum dengan canggung.

"Hanya ingin saja. Sesekali..." senyuman menyungging di wajah Azra, segalanya sudah disiapkan olehnya untuk hari ini.

Hidup yang begitu sempurna? Tidak ada celah sedikitpun bagi Shui Murren untuk bunuh diri. Lumpuh? Itu juga tidak masuk akal, mengingat Shui telah mengalami kelumpuhan sejak sekolah menengah pertama.

Namun, memiliki suami seorang Kara? Azra telah menyelidiki segalanya, termasuk hubungan Sonya Murren dengan Kara sebelum pernikahan.

Mengetahui hubungan antara adik dan suaminya dapat dijadikan alasan masuk akal untuk mabuk dan bunuh diri. Surat wasiat yang meniru tulisan tangan Shui bahkan sudah dibuatnya. Membuat kematian senatural mungkin, tidak akan ada yang tahu ini sebuah pembunuhan.

Hanya sedikit, alkohol ada dalam sirup ke tiga orang itu. Kecuali Shui, dalam gelasnya juga terdapat semacam bubuk obat penenang.

Perlahan sang supir dan sekretaris yang tidak terbiasa meminum alkohol mulai mabuk. Saat itulah Azra bangkit dari tempat duduknya, meraih pegangan kursi roda, hendak meninggalkan ruangan VVIP yang mereka sewa.

CCTV? Semua tidak menghalanginya.

"Ric, nyalakan petasannya sekarang," perintah Azra, menghubungi seseorang melalui earphone.

Seorang pria yang tengah berada di dekat gardu, tempat yang benar-benar sepi, jauh dari pemukiman. Muulai menyalakan petasan, memasukkannya ke dalam gardu setelah memotong beberapa kabel.

Dan benar saja, ledakan terjadi, memadamkan seluruh aliran listrik di seperempat wilayah kota. Tubuh Shui masih tidak sadarkan diri diangkatnya bersama dengan seorang temannya, melalui tangga darurat. Hingga ke atap gedung.

Kursi roda kembali dibuka, seolah-olah Shui Murren naik ke atap melalui lift sebelum listrik padam. Perencanaan yang matang.

Apa sebenarnya tujuan Azra? Memiliki semua milik Shui Murren, aset-aset pribadi yang selama ini dikelolanya, dirinya menginginkan segalanya.

Wajahnya tersenyum, mendorong kursi roda dari belakang. Kursi roda yang terus bergerak ke arah pembatas bangunan. Bersamaan dengan kesadaran Shui yang sedikit kembali."Tolong," gumamnya dengan suara kecil tidak dapat bergerak.

Angin menerpa tubuhnya yang mulai terjatuh.

*

Tepat di gedung yang sama, Kara tersenyum. Seorang pemuda yang dikepung, memergoki seorang pengedar narkoba. Siluman yang mengetahui dari bau narkotika, mungkin sejenis tanaman yang dapat membuat kecanduan.

Ada sekitar 5 orang yang ingin menghabisi Kara dan Herlan yang memergoki mereka.

"Kara! Kita kemari untuk melihat surga dunia. Bukan untuk masuk neraka," gumam Herlan hampir menangis.

"Aku tidak akan mati sebelum menjadi kaisar," Kara tersenyum, mengambil balok kayu.

Pemuda yang berjalan, tersenyum, tatapannya nampak kosong. Semakin mendekat bergerak cepat, berusaha tidak memukul sekencang mungkin.

Bug!

Punggung salah seorang yang ingin menyerang dipukulnya. Bergerak bagaikan mengayunkan pedangnya 500 tahun lalu.

Plak!

Gigi pria yang mendekat lepas, setelah dipukul oleh Kira. Beruntung senjata yang digunakannya adalah balok kayu, jika adalah pedang maka mereka akan benar-benar mati terpotong-potong.

Senyuman terlihat dari sang pemuda. Sudah lama dirinya tidak berkelahi seperti ini, sekitar lima orang menyerangnya, dua orang sudah dikumpulkan.

Sedangkan dua orang lagi mengeluarkan pisau lipat.

"Noda yang menyebalkan!" gumamnya memasang kuda-kuda mengulurkan tangannya yang memegang balok kayu panjang sejajar.

Gerakan yang benar-benar aneh, teknik beladiri Junichi 500 tahun lalu. Bagaikan bayangan sang pemuda yang memakai pakaian hitam panjang terlihat, gerakan yang serupa matanya berubah menjadi biru namun hanya sekelebat. Wajah yang benar-benar berbeda.

Kedua orang pengedar narkoba hendak menyerang. Namun Junichi mundur kebelakang, sedikit menunduk, kala tajamnya pisau akan menyerangnya.

Plak!

Plak!

Tangan kedua orang pengedar narkotika dipukul menggunakan balok kayu, hingga memiliki dua patahan. Tidak dapat memegang pisaunya lagi.

Mengalahkan mereka tanpa kemampuan? Bukan masalah baginya.

Pemimpin keempat orang pengedar narkoba itu mulai beringsut mundur. Menabrak dinding, menatap pria yang tersenyum tanpa dengan tatapan kosong.

"Ja... jangan bunuh aku!" ucapnya berusaha mengeluarkan senjata api dengan tangan gemetar. Namun senjata api direbut oleh Kara.

"Hanya ini kemampuanmu?" tanyanya pada iblis yang ada di belakang sang pengedar. Iblis yang mengendalikan keempat orang lainnya.

Hanya dapat mengendalikan tidak memiliki kemampuan bertarung, iblis yang tidak memiliki cukup banyak kemampuan menurutnya.

Tempat itu tiba-tiba gelap. Seperempat lampu kota padam. Kara, merebut jantung berwarna biru, bersinar bagaikan kristal dari sang iblis. Menghancurkannya perlahan menyerapnya bagikan asap.

"Kemampuan mengendalikan benda." Kara menghela napas kasar, bukan mengendalikan benda-benda besar. Hanya benda-benda kecil seperti garpu, sendok atau pisau, itulah kemampuan yang didapatkannya hari ini.

"Kara! Kamu dimana? Apa aku sudah mati?" tanya Herlan dalam kegelapan, perlahan menyalakan sinar phonecellnya. Namun, tiba-tiba Kara tidak ada disana. Hanya beberapa pengedar narkoba yang telah dilumpuhkan, mengerang dengan luka-luka yang cukup dalam.

*

Hembusan angin terasa menerpa seluruh tubuhnya, Shui menikmatinya. Ini mungkin hari kematiannya.

Brak!

Kursi roda yang terjatuh ke bawah gedung terdengar.

Samar-samar sayap kehitaman mengeluarkan sedikit sinar kebiruan di lihatnya.

"Junichi," entah kenapa nama yang tidak dikenalnya itu ada dalam fikirannya. Wanita yang kembali tidak sadarkan diri, dalam pelukan seorang pemuda. Kala tipisnya sinar bulan menerpa tubuh mereka.

Tidak ada yang menyadari, keberadaan mereka. Seperempat lampu kota padam, mendekap erat tubuh Shui, melayang, mengepakkan sayapnya dalam kegelapan.

"Bodoh! Kamu bisa saja mati," gerutu Kara.

Terpopuler

Comments

Inah Ilham

Inah Ilham

biarpun telat bertahun tahun.. aku tetep pingin ketawa 🤣🤣🤣🤣🤣

2025-01-05

0

Abimanyu Rara Mpuzz

Abimanyu Rara Mpuzz

typo kak

2023-08-07

1

Abimanyu Rara Mpuzz

Abimanyu Rara Mpuzz

wong gemblung diwenehi ati rogoh rempela

2023-08-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!