Pemuda yang melangkah cepat, jemari tangannya mengepal. Tidak dapat menerima pernikahannya dengan sang wanita cacat.
Hingga pada akhirnya melangkah menuju kamarnya, mengunci pintu dari dalam."Agghh!" teriak sang anak bungsu yang terbiasa di manjakan, menangis terisak.
Yang dicintainya adalah Sonya, bukan Shui yang cacat. Bahkan dirinya untuk pertama kalinya berhubungan dengan wanita, melakukan hubungan layaknya suami-istri hanya dengan kekasihnya Sonya.
Kekecewaan? Segalanya berkumpul menjadi satu. Tetap tinggal di kamar, walaupun ayahnya mengetuk pintu dengan kencang terdengar murka. Kakak-kakaknya yang sempurna, mungkin karena itulah ayahnya mengorbankan dirinya hanya demi bisnis.
Shui, berusia 25 tahun, merupakan Direktur Utama Murren Group. Wanita yang tegas, tidak ada yang berani mendekatinya. Wanita dengan reputasi buruk di dunia bisnis. Cacat, keras kepala, itulah Shui Murren. Sangat berbeda dengan Sonya Murren, adik beda ibunya.
Pernikahan dimana dirinya akan tinggal di rumah Shui Murren. Masuk ke dalam keluarga wanita."Agghh! Br*ngsek! Sialan!" semua tidak dapat diterima oleh Kara.
Hingga sebuah pesan masuk ke handphonenya. Sebuah pesan dari Sonya.
'Aku mencintaimu. Jika kamu benar-benar ingin bersamaku. Kita bunuh diri bersama malam ini. Tunjukan jika perasaan kita nyata,'
Pemuda yang tertunduk diam, membaca isi pesan dari kekasihnya. Air matanya mengalir, mengepalkan tangannya, mengambil keputusan.
Pemuda yang melangkah menuju kamar mandi mengambil cairan pemutih pakaian. Pembuktian cinta, itulah yang akan dilakukannya saat ini.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar tengah malam."Kara! Kamu harus mengerti Shui wanita yang baik. Kamu hanya harus melayaninya, menikah dengannya besok. Ini demi keluarga kita, saham perusahaan kita menurun drastis. Kapal kargo yang mengangkut produk elektronik tenggelam. Kita sudah habis!" ucap sang ayah.
Kara mengepalkan tangannya, cairan pemutih pakaian masih ada di tangannya, berbicara dengan ayahnya di balik pintu kamar."Lalu kenapa harus aku yang menikahi wanita cacat? Masih ada Defan dan Kerrel! Aku harus menghabiskan hidupku pura-pura tersenyum di hadapannya. Melayani wanita cacat buang air besar! Aku juga harus membersihkan kotorannya!"
"Karena mereka lebih berguna, kakak-kakakmu tidak pernah mengecewakan ayah. Tapi kamu? Tidak pintar sama sekali, tidak tekun, dan mudah dikelabui. Kelebihanmu hanya wajah yang diwariskan dari ibumu. Persiapkan dirimu, besok mau tidak mau kamu akan menikah dengan Shui," Kata-kata dari Farhan meninggalkan pintu kamar putranya yang masih tertutup rapat.
"Sudah aku duga," gumam Kara dalam kamarnya yang gelap. Wajahnya tersenyum, mulai meminum cairan pemutih pakaian.
Cara mati yang benar-benar menyakitkan. Perutnya terasa terbakar, tubuh lemah yang sulit dikendalikan. Setelah ini dirinya dapat bersama Sonya, walaupun di alam lain. Seorang pemuda yang benar-benar naif.
Tapi apa benar? Sonya saat ini tersenyum menunggu balasan dari Kara. Dalam sebuah apartemen yang terlihat mewah.
"Kamu benar-benar mengirimkannya?" tanya Defan (kakak pertama Kara) pada kekasihnya, yang tengah berbaring tanpa sehelai benangpun di sampingnya. Sepasang tubuh yang hanya tertutup selimut putih tebal.
Sonya tertawa kecil, kemudian mengangguk."Jika kakakku Shui menikah dan memiliki keturunan, aku tidak akan mendapatkan warisan apapun. Karena itulah aku mendekati Kara adikmu, saat satu bulan lalu mendengar rencana perjodohan mereka dari ayahmu dan ayahku."
"Pacarku yang pintar, di keluarga kami Kara hanya benalu. Aku berharap dia benar-benar mengikuti saranmu untuk bunuh diri." Devan tersenyum, kembali mendekap tubuh Sonya.
Seorang wanita bodoh yang tidak mengetahui sama sekali, pria yang telah menjadi kekasihnya 6 bulan ini tidak normal sama sekali. Dengan mudah menginginkan kematian adiknya, manipulatif, wajah yang tersenyum, sekali lagi menginginkan tubuh Sonya.
Seorang wanita lugu, yang tidak mengetahui pacarnya yang pandai memasak meletakkan panci di rak paling bawah. Panci yang cukup besar berisikan zat kimia, melarutkan tubuh seseorang yang tidak berarti baginya.
Rupawan, dan pandai menyembunyikan segalanya. Pria yang memiliki napsu yang tinggi. Psiko yang menyembunyikan kepribadian aslinya, hanya tersenyum dan terlihat penyayang.
*
Dan benar saja, malam itu Kara menemui jalan buntu. Akhir dari hidupnya, tepat pukul 00.15 sang ayah kembali mengetuk pintu meyakinkan putra bungsunya. Tapi kali ini tidak ada jawaban sama sekali.
Pelayan menyerahkan kunci cadangan pada tuannya. Perlahan pintu dibuka, bau cairan pemutih pakaian menyengat menusuk hidung.
Tangan Farhan gemetar, menatap tubuh putra bungsunya yang mengeluarkan busa. Tubuh yang sudah hampir kaku.
"Kara! Bangun! Kara!" ucapnya mengguncang tubuh putra bungsunya. Namun tidak ada jawaban. Napas yang diperiksanya telah tidak berhembus lagi.
"Tuan, saya akan menghubungi ambulance!" ucap sang pelayan.
"Tidak! Jangan! Hubungi kakak Shim! Suruh dia kemari secepatnya! Dan tutup mulutmu, tentang kejadian yang kamu lihat hari ini!" perintahnya, masih mendekap tubuh putranya. Mengetahui Kara sudah tidak dapat diselamatkan lagi.
Namun Atmaja Murren akan murka jika mengetahui Shui putri kebanggaannya dipermalukan. Pria yang bunuh diri akibat dipaksa menikah? Rumor akan tersebar dengan cepat. Atmaja Murren benar-bebar akan meratakan keluarganya dengan tanah.
Hingga tepat pukul 2 dini hari, mobil milik Shim berhenti. Pria tua yang berjalan dibantu dengan seorang perawat, membawa tongkat yang terbuat dari kayu mahoni.
Seorang pria tua yang meneteskan air matanya, baru mengetahui tentang kematian keponakannya. Matanya menelisik menatap ke arah adik sepupunya Farhan yang tengah berada di balkon kamar Kara.
Pria tua yang mengerti tentang keserakahan manusia. Cenayang yang membawa bungkusan berisikan kotak jati tua. Entah apa yang ada di dalamnya.
*
Beberapa lilin, wadah dupa aroma tertentu menyebar di seluruh penjuru ruangan. Sesuai keinginan Farhan, menghidupkan putranya kembali bagaimana pun caranya. Itulah tujuannya memanggil Shim. Sepupu sekaligus, cenayang yang memiliki kemampuan tinggi.
Namun malam itu berbeda, seekor burung gagak bertengger di dahan pohon bagaikan mengamati segalanya, mencium aroma bangkai yang menyengat.
Burung gagak yang terbang tinggi tiba-tiba menghilang ditelan sinar kebiruan.
Kara mulai melangkah, menuju tempat pengadilan tentang salah dan benar. Hukuman yang diterima, kelahiran dan kematian. Segalanya berpusat di satu tempat.
Tanah berwarna hitam pekat, melangkah pelan tanpa menggunakan alas kaki. Suara kepakan sayap burung gagak terdengar. Burung yang hinggap pada tangan seorang pemuda rupawan kemudian menghilang.
Pemuda yang tersenyum menatap roh yang berjalan menuju tempat penghukuman.
"Kamu Kara?" tanyanya dari atas cabang pohon yang terlihat sudah terbakar habis, menyisakan cabang pohon yang kehitaman.
Roh Kara mengangguk.
Wajah pemuda rupawan dengan mata berwarna biru itu tersenyum."Apa kamu mau hidup lagi? Orang tuamu sedang memanggil cenayang agar kamu hidup lagi."
"Dengar! Walaupun aku tidak tahu, tapi kehidupan manusia dari tahun ke tahun begitu berat. Ada yang namanya kenaikan harga, bahkan yang aku dengar-dengar jika buang air kecil di dunia manusia harus membayar!" Komat-kamit mulut siluman yang memiliki rantai di lehernya itu berucap.
Kara terdiam, menghela napasnya. Menatap betapa cerewetnya pria yang ada di tempat penyebrangan roh.
"Begini, sebaiknya kamu jangan kembali. Aku mencium bau kematian darimu, karena itu aku mengirim burung gagak kesayanganku untuk mengikutimu. Sangat disayangkan, kekasih yang mengkhianatimu, tidur dengan saudaramu, bahkan merencanakan kematianmu," ucap Junichi, siluman dengan rambut hitam panjang, kuku-kuku beracun kehitaman. Benar-benar siluman gagak yang cerewet.
Kara terdiam sejenak."Sonya membohongiku? Dia tidak mati bersamaku? Aku akan mencabik-cabiknya," ucapnya dengan air mata yang mengalir.
"Tidak! Tidak! Tidak! Roh sepertimu harus tenang di alam baka. Dengar! Jika kamu bangun sekarang, cairan pemutih pakaian akan benar-benar terasa menyakitkan. Kamu ingat detik-detik kematianmu?" tanya Junichi.
Dengan cepat Kara mengangguk, tertunduk mengingat bagaimana menyakitkannya detik-detik sebelum kematiannya.
"Aku akan berbaik hati, aku akan menggantikanmu membalas perbuatan pacarmu. Aku akan mengorbankan hari-hariku dalam kesakitan, mungkin menggantikanmu terbaring di ranjang pasien seumur hidup," lanjut Junichi berpura-pura menangis.
"Kenapa kamu begitu baik?" tanya Kara yang memang memiliki karakter begitu polos.
"Karena aku adalah Junichi, seseorang yang akan menjadi kaisar. Kamu harus mengingat namaku walaupun sudah terlahir kembali. Jika ingin aku menggantikanmu kembali hidup kita harus memiliki perjanjian. Apa yang kamu inginkan?" Junichi kini terlihat lebih serius mendengarkan.
"Aku ingin ayahku kagum padaku." Jawaban dari Kara penuh senyuman. Seorang pemuda yang dimanjakan, namun terlihat benar-benar masih polos.
"Teteskan darahmu pada rantai yang terhubung dengan pohon. Maka aku akan bebas, menggantikanmu untuk hidup di tubuhmu. Aku akan membantumu, bahkan untuk menyingkirkan satu persatu pengacau," bisik Junichi mendekat, memberikan ruang untuk Kara, meneteskan darahnya. Dalam hal ini cairan roh berwarna biru tua.
Rantai yang menjeratnya selama 500 tahun menghilang. Seekor siluman yang tersenyum pada Kara.
"Bereinkarnasilah! Terima hukuman yang harus kamu jalani. Ini kesalahanmu karena menyia-nyiakan hidup..." gumamnya, menatap roh Kara yang berjalan menuju gerbang besar. Sedangkan dirinya perlahan lenyap ditelan sinar kebiruan."Fu...apa kamu sudah terlahir kembali?" gumam sang siluman yang masih merindukan kekasihnya.
*
Perlahan matanya terbuka, memuntahkan gumpalan darah segar. Benar-benar menyakitkan, berada di altar dalam ruangan yang cukup luas. Buku mantra kuno masih dibacakan seng cenayang, sedangkan Farhan tetap diam di samping sepupunya.
"Kalian mau aku hukum penggal?! Cepat bawa aku ke tabib! Dasar budak sialan!" suara memekik dari Junichi yang baru saja terbangun di tubuh Kara.
Karakter yang berbeda, pemuda cerewet yang akan membuat Farhan kehabisan kata-kata. Apa ini efek samping dari dihidupkan kembali setelah ritual aneh?
Awalnya dirinya tidak percaya, tapi mayat itu benar-benar kembali bernapas. Bahkan mengoceh walaupun terus-menerus mengalami muntah darah.
"Bawa aku ke tabib!" teriak Junichi lagi, menyadarkan lamunan tiga orang yang ada di ruangan itu. Dengan cepat membawa tubuh Kara yang seharusnya sudah mati ke tabib. Maaf salah, rumah sakit terdekat mungkin untuk melakukan CT Scan. Apa ada kerusakan otak?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Triani
nama lengkap junichi...
junichi juliana agustin ..wk wk wk
2023-08-16
1
Triani
udah bacanya ngeri ngeri sedap dan menyeramkan...jadi ngakakkk
2023-08-16
0
Lovesekebon
Menarik 😐🥰👍💯💯💯
2023-02-21
0