Impian

Tanda tato di belakang leher Shui bersinar, pertanda nyawanya ada dalam bahaya, kala Azra membawa Shui ke atap gedung.

Mata Kara sekelebat menampakan sinar keunguan. Berjalan dengan cepat, perasaan aneh yang menjalar. Perjanjian yang telah mengikat.

"Sial! Kenapa aku harus membuat perjanjian dengan Shui Murren!" gerutunya, berlari menaiki gedung melalui tangga darurat. Tubuhnya merespon secara otomatis, melindungi seseorang yang membuat perjanjian dengannya.

Hingga kala dirinya menatap ke arah jendela kaca besar tangga darurat. Sesuatu yang jatuh dari atap terlihat.

Kara menatap wajahnya, penglihatan yang lebih baik dari manusia biasa.

Mendobrak kaca hingga pecah, entah kenapa, mungkin karena nalurinya terpancing. Sayap itu terbuka, dirinya berusaha mendekap tubuh Shui sebelum menggapai tanah.

Memeluknya erat, pemuda yang terlihat gemetaran kali ini."Bodoh, kamu hampir saja mati," ucapnya pada wanita yang perlahan memejamkan mata.

Seperempat kota tertutup kegelapan. Tidak ada yang menyadari apa yang melintas di atas mereka. Kara terdiam entah kenapa, memeluk erat Shui. Seakan tidak ingin kehilangannya. Hampir saja, hampir saja, mungkin hanya itulah yang ada di benaknya saat ini.

Hingga sampai di balkon kamar mereka. Sepasang sayapnya menghilang. Sayap yang hanya muncul karena instingnya saja. Menyisakan robekan pada punggung pakaiannya.

Perlahan meletakkan tubuh Shui, ikut merebahkan dirinya. Memeluk wanita itu erat, tidak mengerti dengan jalan fikirannya sendiri. Namun, hanya ingin memeluknya, beberapa sentimeter lagi, kala tubuh rapuh ini menyentuh tanah, maka tidak akan ada yang tersisa. Mendekapnya, hampir kehilangan wanita ini.

*

Sementara itu, suara sirine mobil polisi terdengar. Azra tengah berada di samping wanita penghibur dan bartender yang dibayarnya untuk menjadi alibi nantinya.

Sudah diduga olehnya mungkin mayat Shui sudah hancur, benar-benar remuk. Surat wasiat yang meniru tulisan Shui Murren juga sudah diletakkannya di atap.

Apa saja isi surat tersebut? Berisikan kekecewaannya pada suaminya Kara yang berselingkuh dengan Sonya. Hingga warisan berupa aset bergeraknya tidak akan ditinggalkannya pada keluarga, melainkan Azra orang kepercayaannya.

Rencana yang sempurna bukan? Seorang petugas kepolisian memberi hormat."Maaf, kami melakukan pemeriksaan saat listrik sedang padam. Ini surat perintah penggeledahan," ucap sang petugas, menunjukkan selembar surat.

"Silahkan," Azra memberikan jalan, mungkin mayat Shui sudah di evakuasi saat ini. Dan polisi sedang mencari bukti penyebab kematian. Pada akhirnya surat wasiat palsu akan ditemukan dan dirinya mendapatkan aset senilai ratusan miliar rupiah.

Wajahnya benar-benar tersenyum saat ini. Hanya perlu menangis saat pemakaman Shui Murren nanti. Berpura-pura menunjukkan duka citanya. Apa perlu berpura-pura pingsan? Mungkin iya, dirinya bahkan harus berpura-pura emosional dan menghajar Kara, selaku penyebab Shui bunuh diri.

Beberapa saat ditunggunya. Pemuda itu mengenyitkan keningnya. Lima orang tidak dikenal diborgol petugas kepolisian. Beserta seorang pemuda yang tersenyum.

Sang petugas kepolisian bahkan menepuk bahu Herlan."Kamu belajar beladiri dari mana sampai bisa mengalahkan lima orang pengedar?"

"Biasa pak, saya juara pancak silat se-Indonesia. Ditambah lagi pemegang sabuk hitam karate. Pernah menjadi suka relawan di daerah konflik bersenjata," dustanya, dengan mulut lancar bagaikan pencernaan setelah meminum, minuman dengan jutaan bakteri baik di dalamnya. Benar-benar baik untuk usus.

"Wah! Hebat! Besok mungkin akan ada wartawan yang meliput. Mungkin kamu akan dituliskan sebagai Superman di dunia nyata. Nanti kamu mungkin juga akan mendapatkan penghargaan sebagai warga teladan," ucap sang polisi tersenyum padanya.

Semuanya ada dalam bayangan Herlan. Superman yang kaya, banyak wanita mendekat, ditambah dirinya dapat membayar hutang bakso. Jika beruntung dapat juga mentraktir kekasihnya di warung masakan padang.

"Terimakasih pak! Jika ada masalah lagi tidak perlu sungkan biar saya yang tangani tinggal. Bug! Plak! Dhuar! Semua orang jahat tewas." Ucap Herlan penuh rasa percaya diri.

"Maaf pak, ada apa ya?" tanya Azra berpura-pura tersenyum. Berfikir apa tubuh Shui Murren belum ditemukan.

"Begini, orang ini menghubungi kami setelah mengalahkan pengedar obat-obatan terlarang seorang diri," jawab sang petugas.

Azra mengenyitkan keningnya. Polisi ternyata belum berhasil menemukan mayat Shui Murren. Hingga satu strategi disusunnya.

"Pak, sebenarnya tadi terdengar suara benda jatuh dari bagian samping gedung. Apa jangan-jangan itu salah satu pengedar narkotika..." ucap Azra, kembali berdusta agar sesuai harapannya mayat Shui Murren ditemukan.

Dan benar saja, sang petugas mulai bergerak diikuti oleh Azra. Hanya onggokan kursi roda yang tidak berbentuk terlihat setelah pintu samping gedung terbuka.

Senter diarahkan ke segala sisi termasuk pohon, bahkan semak-semak. Azra tetap berusaha mencarinya, tapi mayat yang mungkin hancur remuk itu tidak terlihat sama sekali.

"Mungkin sudah bersembunyi, atau melarikan diri. Kami akan mengerahkan mobil patroli untuk memeriksa area sekitar," Jawaban sang petugas.

Rasa kecewa menderanya tidak mungkin mayat seseorang dapat menghilang. Matanya menelisik mengamati Herlan yang diantarkan pulang oleh petugas menggunakan mobil patroli.

"Lain kali aku harus mengikuti Kara menghajar penjahat. Siapa tahu kalau dikumpulkan bisa untuk membangun rumah," batinnya tersenyum kini berjalan-jalan pulang sebagai pahlawan menggunakan mobil polisi.

Tangan Azra mengepal, memukul dinding di hadapannya. Kemudian kembali berusaha mencari mayat Shui Murren. Tidak akan berhenti sebelum ditemukannya.

*

Sedangkan di tempat lain, mata Kara kembali berwarna keunguan, sama dengan mata Shui saat ini. Mulut pemuda itu terbuka, berdiri di dalam kamar yang gelap, Kara memasukan lidahnya ke dalam bibir Shui. Benar-benar terlihat bagaikan sesuatu yang intim.

Apa yang terjadi? Obat penenang dan sedikit alkohol yang ada dalam tubuh Shui diserap oleh Kara. Berusaha membuat perut wanita itu bergejolak, mengendalikan cairan dalam lambung.

Huek!

Cairan keluar dari mulut Shui membasahi pakaiannya dan Kara. Wanita dengan bola mata kembali berwarna hitam, tertutup tidak sadarkan diri. Ciuman tadi? Semuanya dikendalikan Kara, untuk mengeluarkan racun. Metode yang cukup merepotkan baginya. Tapi sudahlah, Shui juga tidak akan mengingat tubuhnya sempat dikendalikan.

Sedikit? Cairan yang dimuntahkan cukup banyak hingga membuat pakaian mereka kotor. Dari atas sampai bawah, bahkan pakaian dalam.

Kara terlalu lelah hari ini, merobek pakaian Shui, tidak ingin wanita itu tidur dengan pakaian basah, tidak lupa dengan pakaian dalam wanita itu semuanya tanggal.

Tubuh istrinya diletakkan di atas tempat tidur. Membuka pakaiannya sendiri yang juga kotor, sama-sama tidak mengenakan sehelai benangpun. Hanya berusaha tidur dalam selimut putih tebal. Mengendalikan napsunya? Usia Junichi sudah mencapai ribuan tahun. Sulit untuk menggodanya hanya dengan melihat wanita tanpa pakaian.

Kita anggap saja sesepuh tua, berwajah muda. Itulah Junichi, siluman berambut hitam panjang yang tidak pernah menua.

Tidur satu selimut tanpa menyentuh Shui sama sekali.

Mata Shui perlahan terbuka, menatap ke arah sekiranya. Dirinya masih hidup? Itulah yang ada dalam otaknya saat ini. Namun menyadari ada hal yang aneh, tubuhnya hanya berbalut selimut. Matanya menelisik, suaminya juga ada di sampingnya, mungkin sama sepertinya. Sedikit diintip olehnya sesuatu yang berada di balik selimut. Benda berbahaya yang dapat membuat wanita menjerit.

Dan benar saja benda itu terlihat, apa dirinya melakukannya dengan Kara? Tidak mungkin tidak! Pasti iya, bagaimana jika dirinya hamil?

Shui menghela napas kasar, tidak dapat bergerak dari tempat tidur seperti wanita dalam film atau novel. Ketika kehilangan kehormatannya akan merasa jijik dan mandi sambil menangis. Bagaimana Shui melakukannya? Sedangkan dirinya sendiri lumpuh?

Satu keputusan diambilnya, berpura-pura tidur. Memejamkan matanya, apapun yang terjadi.

Namun tiba-tiba Kara mendekatkan tubuhnya, memeluknya bagaikan bantal guling. Tubuh pria dan wanita tanpa pembatas yang bersentuhan.

"Ini gila!" batin Shui berpura-pura tidur, menahan rasa kesal dan canggungnya, merasakan kulit putih halus dan otot-otot suaminya yang dapat dikatakan proporsional, walaupun tidak begitu besar. Sungguh ini impian kebanyakan wanita, tapi tidak bagi Shui Murren.

Terpopuler

Comments

Triani

Triani

kadaluarsa...he he he

2023-08-17

1

Triani

Triani

iiklan mode on

2023-08-17

0

Lovesekebon

Lovesekebon

Hmm.. mungkin ujian iman 🤭

2023-02-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!