Seorang pria yang mengenakan baju koko berwarna krim masuk ke dalam ruang yang di dalamnya terlihat kakak sepupunya, berjalan dengan tergesa-gesa.
"Maaf Teh, aku terlambat soalnya di tengah perjalanan macet."
"Iya gak apa-apa."
Pria itu memperhatikan wajah seorang wanita yang terbaring lemah di atas brankar, merasakan ada yang aneh. "Dia siapa Teh?"
"Teteh pernah cerita sama kamu, namanya Rima, dan ini orangnya." Jawab Aisyah yang menunjuk wanita itu.
Sementara Fahri mengangguk sambil ber "oh" ria saja, memperhatikan wanita itu sekali lagi. "Jadi aku harus gimana Teh?"
"Aku juga tidak tahu, menurut dokter seharusnya Rima sudah sadar."
"Namanya dokter juga bisa salah Teh, kan dokter juga manusia."
"Teteh berpikir Rima itu terjebak di suatu tempat dan tidak menemukan jalan pulang."
"Iya sih Teh, nanti aku akan coba kasih tahu mengenai masalah ini dan juga abi. Mungkin abi bisa membantu."
"Iya, semoga yang Teteh perkirakan itu tidak benar, kasian Rima yang tidak punya keluarga lagi."
"Suaminya kemana Teh?" Fahri mengerutkan kening menatap Aisyah sekilas.
"Sudah meninggal dunia, waktu Teteh hendak berkunjung malah menemukan rumahnya ada garis polisi dan para salah satu warga mengatakan suami dan seorang wanita sudah tiada secara mengenaskan."
"Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ụn." Ucap Fahri sambil mengusap dadanya pelan, sedikit terkejut dengan jalan yang kehidupan Rima yang begitu mengenaskan.
*
*
Sementara di tempat lain, Rima menangis dengan tersedu-sedu penyesalan yang selalu datang di akhir begitu sangat menyayat hati, dirinya tidak ingin berada di alam gaib dan ingin melanjutkan hidup tanpa merusak maupun merugikan orang lain.
Berusaha keras menggedor pintu besar yang berukir dengan emas, berharap jika seseorang yang ada di luar membukakan pintu.
"Siapapun yang di luar, tolong bantu aku! Aku tidak ingin berada di sini dan ingin pulang." Pekiknya seraya menggedor pintu dengan sangat keras.
Rima terjebak dalam sangkar emas yang tidak dapat jalan keluar, bahkan jendela juga di pagar oleh Darma agar dirinya tidak bisa kabur.
"Apa kamu tidak melihat bagaimana wanita itu berteriak ingin dipulangkan?" ucap seorang pria tengah menatap putranya yang masih terobsesi dengan wanita dari kalangan manusia.
"Biarkan saja, dia akan capek dengan sendirinya. Romo tidak perlu khawatir karena itu akan menjadi urusanku." Keukeuh Darma.
"Berhentilah dengan sikap obsesimu itu, dia manusia sedangkan kau bunian Alam kalian berbeda dan tidak akan pernah bersatu, kembalikan dia ke tempat asalnya dan segera menikah dengan tuan putri dari kerajaan selatan." Jelas Prabu selaku raja.
"Mohon ampun kepada Romo Gusti Prabu, tapi saya tidak bisa mengembalikan Rima karena begitu mencintainya." Darma segera keluar dari ruangan itu dan pergi menuju suatu tempat.
Hamparan danau hijau yang begitu asri, Darma menatap lurus sembari memikirkan perkataan ayahnya, tidak ada yang menyukai hubungannya dengan manusia membuat hatinya begitu jengkel dan juga marah. "Mengapa tidak ada yang mengerti apa yang aku inginkan, selalu saja Romo mengatur hal pribadiku."
Darma segera kembali untuk menemui istri manusianya, dia tak sengaja melihat sekelebat bayangan yang menuju ke ruangan tempat Rima berada.
"Siapa itu?"
Terjadilah aksi pertarungan antara bayangan hitam dan juga Darma, tentu saja mempertahankan Rima untuk berada di alamnya. "Siapa kau dan apa tujuanmu?"
Bayangan hitam berubah menjadi sosok pria dengan wajah yang begitu sangar menatap Darma dengan penuh dendam. "Kau sembunyikan di mana manusia itu?"
"Itu tidak ada urusannya denganmu, aku sudah memberikan wanita itu padamu dan jangan berpikir untuk merebut istriku dariku."
Sontak hal itu menjadi bahan tertawaan dari pria sangar, tentu saja dia tidak puas dengan apa yang diberikan dharma dan ingin meminta lebih. "Wanita itu tidak menarik, bahkan sukmanya. Wanita manusia yang kau simpan sangatlah wangi dan aku ingin membawanya pergi."
"Berpikir dulu sebelum bertindak, Braja." Darma sangat kesal jika pria itu masih saja menginginkan istrinya.
Tangisan Rima terhenti saat mendengar suara perkelahian di luar ruangan, dia mencoba untuk mendekatkan telinga mendengar apa yang terjadi. "Itu suara Darma tapi dengan siapa dia bertarung?"
Cukup lama Rima mendengar suara kegaduhan di luar, namun yang paling dikejutkan pintu terbuka dengan sangat keras dan terlihat Darma menarik tangannya dan membawanya pergi dari tempat itu.
"Ke mana kamu akan membawaku?" tanya Rima penasaran.
"Ke suatu tempat yang aman untuk kita."
"Tapi aku tidak ingin ikut denganmu." Tolak Rima seraya melepaskan cengkraman dari tangan pria itu.
"Jika kamu terus memberontak, maka jangan salahkan aku mengunci anggota tubuhmu. Kamu tidak tahu bagaimana Braja ingin mendapatkanmu, sebaiknya kamu diam dan ikuti semua perkataanku."
Rima hanya pasrah dibawa oleh beliau itu seluruh tubuhnya dikunci. "Bagaimana caraku untuk keluar dari alam ini?" ucapnya di dalam hati, meneteskan air mata.
Darma masih saja memegang dan mengunci seluruh tubuhnya, hingga dirinya tidak bisa berkutik. Namun hatinya masih dapat berbicara, dia segera ingat apa yang dipelajari saat bersama Aisyah, sedapat mungkin dia menyebut nama Allah dan membacakan surah-surah pendek di dalam Al-Qur'an.
"Panas." Darma melepaskan cengkramannya seraya mengibas tangan yang terbakar, menatap Rima dengan ekspresi tajam.
Rima membutuhkan langkah kakinya, tubuh bergetar hebat saat pria yang selalu menampakkan wajah penuh dengan cinta berubah menjadi mengerikan.
"Darma, lepaskan aku!" Rima berusaha melepaskan cengkraman di lehernya, meneteskan air mata dan memohon agar dirinya dilepaskan.
"Kau adalah istriku dan harus bersamaku sampai akhir hidupmu!"
"Darma, hentikan!"
Perlahan cengkraman di leher Rima mengendur saat mendengar suara yang sangat di kenali, Darma menoleh dan melihat beberapa orang datang untuk menghentikannya.
"Jangan kau sakiti manusia itu atau membahayakan hidupmu sendiri." Tegas raja Prabu.
"Apa maksud kamu berkata seperti itu?"
"Sebaiknya kamu lepaskan dia. Seseorang akan menjemputnya dan segera beri sukma wanita itu sebelum dirimu musnah." Ucap raja Prabu tak main-main, karena dirinya sudah mendapatkan peringatan untuk berhati-hati jika masih bersikeras menyandera sukma manusia.
"Ck, aku tidak peduli apa yang Romo katakan dan pasti melawan orang itu juga membunuhnya di sini."
"Jangan sombong anakku, karena orang itu bukanlah tandinganmu. Berhentilah dengan obsesimu itu dan kembalikan sukmanya!"
"Tidak akan."
Rima sedikit mendapatkan celah setelah mendengar penjelasan, berharap jika seseorang yang sangat kuat dapat membantunya keluar dari alam gaib.
Darma yang masih bersikeras, dia mendapat serangan dengan kilatan putih mengenai dadanya. Tangan yang menggenggam Rima terlepas, dan mencari sang penghalang kali ini.
"Siapa kamu?" tutur Darma meninggikan suaranya.
"Lepaskan wanita itu!"
"Tidak akan."
"Kalau begitu kau berhadapan denganku."
"Aku tidak peduli." Pekik Darma yang masih mempertahankan Rima di sisinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Ray
Semakin seru dan tegang pastinya cerita Outhor👍 Semangat Up dan sehat selalu untuk Outhor 💪👍
2023-01-19
0
Ganuwa Gunawan
yang dateng pasti pak kiyai..
ayo pak kiyai tolong Rima
2023-01-19
1
Mir_rim22
lanjut up kak.... seru banget
2022-12-20
2