Bab 16

Seorang wanita tengah terbaring lemah di brankar rumah sakit, tidak ada keluarga maupun sanak saudara yang menjenguknya saat ini. Di dalam ruangan yang tidak ada seorangpun datang berkunjung, Rima mulai membuka matanya dengan perlahan dan melihat ke sekeliling ruangan tanpa terlewatkan.

"Aku ada di mana?" lirihnya, belum sadar dan tidak mengingat kejadian yang teramat menyakitkan itu. 

Beberapa saat kemudian, Rima tersadar apa yang dia lalui, memegang perut yang rata dan masih mengingat jika dirinya pendarahan cukup hebat. "A-anakku, aku sangat yakin jika janinku baik-baik saja." Monolognya sangat takut kehilangan. 

Rima berteriak histeris seeprti seorang kesetanan, menarik perhatian doktek, suster, dan juga pengunjung di sana. Terlihat beberapa orang berpakaian putih berlari masuk ke dalam ruangan, tentu saja untuk menenangkan dirinya yang tidak terkendali. 

"Apa janinku baik-baik saja, Dok?" desak Rima yang sangat takut. 

Sang dokter menundukkan kepala, sangat berat mengatakan hal itu pada pasien yang mengalami keguguran.

"Suster, bagaimana dengan calon anakku?" tanya Rima yang mengalihkan pandangannya, tetap saja dia tak mendapatkan jawaban. "Mengapa kalian hanya diam saja, hah? Aku berhak tahu dengan kondisi anakku!" teriaknya seraya uraian air mata mulai membanjiri kedua pipinya. 

"Maaf, janin anda tidak bisa kami selamatkan." Ucap sang dokter menghela nafas, merasa gagal menyelamatkan nyawa yang belum lahir.

Deg

Waktu seakan terhenti, perkataan dokter benar-benar membuat dunia Rima merasa hancur, sehancur-hancurnya. Bagai tersambar petir di siang bolong, kabar yang begitu menusuk di hati atas kehilangan anak yang belum lahir. 

"Tidak, kalian pasti berbohong." Rima tersenyum seperti tak terjadi apapun, mengelus perutnya yang masih rata dengan sangat lembut. 

"Sadarlah, janin anda tidak tertolong." Dokter berusaha untuk mengingatkan fakta sebenarnya, berlalu pergi dari tempat itu setelah meminta salah satu suster untuk menenangkan Rima. 

Tes

Tes

Air mata menetes dengan sangat deras, bibir yang tak sanggup berucap dan lidah seakan keluh. "Bayiku sudah meninggal Sus?" Rima menatap suster dengan tatapan polos yang tersimpan guratan kesedihan mendalam yang langsung menghantam hati hingga terluka jauh di lubuk hatinya terdalam.

"Tenangkan diri anda, ini semua sudah takdir sang kuasa. Kami sudah semaksimal mungkin menyelamatkan kalian berdua, tapi Tuhan berkehendak lain." Ujar suster ikut prihatin, menenangkan pasien agar tidak stres. 

Air mata mulai mengering, Rima terbujur selayaknya mayat. Bulir bening yang menjadi temannya, tidak ada cahaya di dalam hidup dan terasa sangat hampa. Dia tidak bersemangat melakukan apapun, bahkan nasi di atas nakas tak tersentuh olehnya yang sedari tadi belum makan apapun. 

"Apa hidupku hanya bisa merasakan sakit hati saja? Lalu untuk apa aku di ciptakan jika penderitaan saja yang aku terima." Lirihnya di dalam hati, menangis dengan nasib malangnya yang kurang beruntung. 

Rima sedikit terkejut merasakan tangan kekar yang membelai rambutnya lembut, segera dia menoleh ke belakang. 

"Darma?" 

"Jangan bersedih Dinda." 

Sentuhan kehangatan dan perhatian yang di berikan Darma tidak pernah di dapatkan dari suaminya, terbuai dengan perkataan yang selalu menghargainya dan menyanjungnya. 

"Aku tidak memanggilmu, kenapa kamu bisa di sini?" tanya Rima penasaran. 

"Sttt, diamlah. Aku kesini ingin memberikan kabar untukmu." 

"Apa kabar itu lebih penting daripada kehilangan calon anakku?" Rima menatap Darma yang sepertinya juga tak mengerti betapa rapuh hatinya saat ini. 

"Aku tahu Dinda masih berduka, begitupun aku juga merasakannya. Aku ingin mengatakan kalau balas dendammu sudah aku laksanakan." Darma tersenyum seraya membingkai wajah cantik Rima yang di klaim sebagai istrinya. 

Rima tersenyum getir. "Kamu membunuhnya?" 

"Ya, aku membunuh suamimu yang brengsek itu juga menyerahkan sukma kekasih suamimu pada Braja." Ungkao Darma. 

"Walaupun mereka sudah mati, tetap saja tidak mengembalikan calon anakku." Hati Rima membeku, tidak ada simpati maupun empati kepedulian pada Arman dan juga Sulastri. 

"Ikutlah ke alamku." Darma tersenyum seraya mengulurkan tangannya, meyakinkan wanita itu untuk ikut bersamanya setelah apa yang di lakukan tidaklah gratis.

Tanpa ragu Rima meraih tangan Darma yang terasa dingin seperti es batu, namun masih dalam tingkat normal. 

Alasan kedua, dia tak memiliki tujuan hidup dan bahkan berniat untuk mengakhiri hidupnya. Alasan ketiga, pria yang mengaku suami gaibnya lebih baik dari Arman, memberikannya perhatian dan cinta yang selama ini tidak di dapat. 

"Pejamkan matamu, Dinda." 

Perlahan tapi pasti, Rima mulai menutup mata dan membukanya setelah Darma memperbolehkannya membuka mata. 

"Sekarang Dinda boleh membuka mata."

Rima membuka matanya dengan perlahan, pandangannya menyusuri tempat yang terasa sangat asing baginya. Terlihat bangunan kerajaan kuno yang setiap aksesoris dan dinding di lapisi emas yang menyilaukan mata, dekorasi kuno tampak seperti istana zaman dahulu. 

"Kemana kamu membawaku?" Rima menatap kagum sekeliling ruangan mewah. 

"Ini kamar kita." Bisik Darma yang mengelus lengan Rima seraya mengecup tengkuk leher. 

Rima ingin sekali menolak, apalagi dirinya baru selesai berkabung atas kematian calon anaknya. Tapi tatapan Darma yang menghipnotis dirinya yang pasrah menerima perlakuan dari suami gaibnya. 

Keduanya kembali melakukan hubungan terlarang, namun bedanya mereka ada di dunia gaib. Darma menjanjikan kasih sayang sebagai seorang istri dan sangat menginginkan keturunan dari kalangan manusia. Suasana yang sangat panas di lewati oleh keduanya tanpa gangguan, entah berapa kali Rima mencapai puncak kenikmatan tiada tara. 

Setelah ritual yang di jalani, Rima merasakan sakit juga nyeri di bagian sensitifnya. Tersenyum bahagia mendapatkan keinginan yang selama ini tidak di dapat, apalagi gagahnya sang suami saat di atas ranjang hingga dirinya terkulai tak berdaya. 

Rima mengelus sprei lembut namun tidak merasakan adanya sosok Darma, dia sangat kebingungan dan segera menggunakan pakaiannya. 

"Ya ampun, bagaimana ini? Aku tidak tahu di mana dia dan aku juga tidak mengenal tempat ini." Rima memberanikan dirinya keluar dari kamar setelah membersihkan dirinya terlebih dahulu, berharap dirinya bertemu suami gaibnya. 

Rima merasa aneh di tempat yang sangat luas itu, beberapa makhluk bunian yang lewat menatapnya dengan pandangan kosong, dan malah terlihat sangat mengerikan. 

"Kenapa kamu keluar dari kamar?" ucap suara yang sangat dikenal Rima. 

"Aku…aku merasa bosan di sana dan berniat berjalan-jalan." Jawab Rima cengengesan, menutupi alasan sebenarnya. 

"Di sini tidak aman, aku akan mengantarkanmu kembali ke kamar." 

Rima sangat penasaran mengapa Darma terlihat khawatir. "Tapi mengapa?" 

"Aku sedikit mempunyai urusan yang harus diselesaikan, jangan kemana pun ataupun keluar dari kamar. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu." 

Dengan terpaksa Rima mematuhi perkataan dari suami gaibnya, walau bagaimana pun dia tak menjamin hidupnya di sana aman. 

"Di sini sangat aneh."

Terpopuler

Comments

Ganuwa Gunawan

Ganuwa Gunawan

aduh ini s Rima ..
jadi kga puguh karuh hidup nya..

2023-01-18

0

Ray

Ray

Ruma tidak tahu kalo bahaya bisa saja mengancam keselamatan hidupnya berasa di alam ghoib makhluk Bunian itu😱🤔🙏

2023-01-18

0

Mir_rim22

Mir_rim22

hiii ngeri kak... udh masuk dunia gaib pula

2022-12-17

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!