Bab 4 - Kemenangan istri sah

Sulastri terkejut mendengar suara yang membentak dirinya, kali pertama melihat kemarahan Arman yang selalu mengejar cintanya, sedangkan Rima tersenyum puas melihat pembelaan sang suami di hadapan pelakor. 

"Wah, ternyata khasiat dari mak Itam sangat mujarab. Mas Arman yang dulunya terlihat membenciku sekarang malah membela ku daripada pelakor gatal itu." Gumamnya di dalam hati, melihat aksi perdebatan calon mempelai.

"Mas, kita sudah menyiapkan acara ini dan besok adalah pernikahan kita." Ucap Sulastri meninggikan intonasi tak terima mendapatkan perlakuan ketidakadilan terjadi padanya. 

"Aku tidak ingin menikahimu, isrtiku Rima jauh lebih cantik dan mempunyai keahlian." Bela Arman. 

"Heh, perempuan licik. Kamu pasti menggoda calon suamiku dan meracuni pikirannya," sarkas Sulastri mendorong tubuh Rima yang hampir terhuyung ke belakang. 

Beruntung Rima tidak jatuh, dia berlari mendekati Sulastri dan membalasnya, mendorong tubuh sang pelakor hingga terjerembab ke atas tanah. "Harusnya kamu sadar diri dong, dia itu suamiku dan pantas membelaku yang istri sahnya. Bukan sepertimu yang bermodal wajah cantik, tapi tidak bisa apapun. Pelakor gatal terkena azab, jadi rasakan itu." Ucapnya dengan senyuman mengejek, menyukai permainan ini hingga bisa membalikkan keadaan.

"Kamu pasti memelet mas Arman, mana mungkin tiba-tiba dia mencintaimu." Sulastri tetap keukeuh pada pendapatnya, walaupun itu benar Rima juga tak akan memberi tahunya. 

"Cukup Sulastri!" bentak Arman seraya melayangkan tamparan di pipi wanita itu, perdebatan yang sangat disukai Rima. 

Para tetangga mulai berdatangan, mereka semua sangat penasaran apa yang terjadi dan datang mengelilingi tempat itu secara berbondong-bondong. Para ibu-ibu komplek yang julid mulai tersenyum dan mendukung apa yang dilakukan Arman pada Sulastri, mereka juga tak menyukai wanita yang merebut suami orang. 

"Huh, rasakan itu. Pelakor menang pantas dipermalukan, aku lebih mendukung posisi istri sah." Ungkap salah satu ibu-ibu yang mengangkat sebelah sudut bibir seraya tatapan tajam mengarah pada objek yang di lihatnya. 

"Iya, aku juga mendukung istri sah, kalau nonton begini kan lebih seru." 

Rima memainkan matanya menangkap banyaknya orang yang mendengar pembicaraan itu, dirinya tersenyum puas mendengarnya. "Hari kehancuranmu telah di mulai Sulastri." Gumamnya yang diam-diam tersenyum. 

"Gak bisa gitu Mas, aku akan tetap menikah denganmu. Apa ini balasan yang aku terima setelah memberikan semuanya padamu, hah?" Sulastri meninggikan suara seraya menyeka air mata yang terus mengalir deras melewati pipi. 

"Udah ya Mas, aku malas mendengar perdebatan kalian. Kalau kamu masih mencintainya, aku juga tidak memaksa." Rima memutuskan untuk pergi dari tempat itu. 

"Mas, kamu jangan tinggalin aku!" Sulastri berusaha menahan kepergian Arman, tapi keberuntungan tak berpihak lagi padanya disaat calon suami memutuskan mengejar istri sah. 

"Mas Arman, kamu gak bisa memperlakukanku seperti ini, Mas!" pekik Sulastri yang menangis dengan terisak, semua pernikahan telah selesai. 

Beberapa tetangga mencibir seraya mengejek nasib sial yang dialami Sulastri, semua orang sudah tahu jika dia merebut suami orang. 

"Karma tuh, makanya jadi orang jangan suka rebut hak orang lain." Cibir salah satu ibu-ibu julid yang beranjak pergi, usainya drama yang tadinya sangat menyenangkan. 

Sulastri terduduk di atas tanah dengan tangisan yang menemaninya, tak terima jika Arman membatalkan pernikahan mereka. Digenggamnya rumput dengan erat hingga tercabut, seperti itulah hatinya yang retak di permainkan seseorang. 

Hingga tangisannya berhenti di saat mengingat permintaan Rima yang menginginkan Arman untuk pulang menyantap masakan, manggut-manggut kan kepala seraya menyeka air mata. 

"Oh, aku mengerti. Pasti wanita licik itu memelet mas Arman, aku harus mencari tahu." Gumamnya dengan penuh tekad seraya menggenggam kedua tangan dan memukul tanah. 

Sulastri menatap dekorasi yang sudah seratus persen, namun pernikahannya harus gagal karena Rima menggunakan cara licik. Dekorasi indah terpaksa di tanggalkan dan di rusak, melampiaskan seluruh kemarahannya. Satu persatu dekorasi di kamar pengantin jatuh ke atas lantai, terlihat sangat berantakan. Begitu banyak kerugian yang di alaminya, dan berniat untuk membalaskan dendam. 

"Kamu tidak akan tenang, Rima." Mata di balas mata, dirinya akan membawa kasus ini ke dukun dan menyantet sang rival yang mencoba-coba, bermain dengannya. 

Arman terus membujuk Rima agar tidak marah padanya, mengingat dirinya sudah berkorban dan bahkan rela batal menikahi Sulastri. 

"Aku sudah memilihmu dan memutuskan hubungan dengan Sulastri, aku menginginkan hakku sebagai suami." Arman jelas menuntut hak yang dia inginkan, apalagi sampai rela memutuskan hubungan dengan wanita lain. 

Rima tersenyum puas, melipat kedua tangan di depan dadanya seraya menatap Arman yang terus memohon padanya, sangat menyenangkan karena sudah menguasai sepenuhnya. 

"Akan aku penuhi, asal__." Bisik Rima di telingan Arman semakin membuat pria itu bergairah. 

"Asal apa?" desak Arman yang sudah tak sanggup membendung rasa itu. 

"Asal kamu menuruti semua kemauanku." 

"Apapun itu." 

****

Rima kembali membawa sekantung jeruk dan menyerahkan kepada seorang wanita tua yang telah membantunya menaklukkan sang suami. "Ini Mak, aku bawakan oleh-oleh." 

"Kamu tahu saja aku menginginkan jeruk." Mak Itam tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang memerah akibat menginang atau menyirih. 

"Dan ini ada sedikit uang untuk Mak, tolong di terima." Rima mengeluarkan amplop yang berisi uang beberapa lembar uang kertas warna merah, tentunya langsung di terima mak Itam. 

"Sepertinya cara yang kamu gunakan sudah mulai bekerja." 

"Iya Mak, mas Arman sudah memutuskan hubungan dengan wanita lain dan lebih memilik ku."

"Itu bagus." 

"Apa nasi kangkang masih di perlukan Mak?" 

"Masih di perlukan kalau kamu memang menginginkan suami yang patuh, apapun yang kamu katakan atau perintahkan. Aku melihat ada seseorang yang akan membalaskan dendamnya padamu, kamu harus berhati-hati." 

"Belas dendam, tapi siapa Mak?" 

"Seorang wanita yang merasa sakit hati padamu." Mak Itam terus mengunyah sirih seraya tersenyum ke arah Rima. 

"Ini pasti Sulastri." 

"Ya, kamu harus berhati-hati padanya."

"Aku akan bayar berapapun asal Mak mau membalikkan serangannya." 

"Itu pekerjaan yang sangat mudah."

"Aku pamit pulang dulu Mak."

"Hem." 

Mak Itam tersenyum mengerikan di saat melihat kepergian Rima yang menghilang di balik pintu, rumahnya panggung yang di tempati sangat gelap menandakan aura negatif mengelilingi tempat itu. 

"Sabarlah sebentar lagi, mangsa sudah ada di depan." Lirihnya manggut-manggutkan kepala, tentu saja dia berbicara pada sekutu yang selama ini membantunya dalam pengobatan ilmu hitam. 

Rima pulang setelah berbelanja cukup banyak, mulai dari baju dan tas yang selama ini di incarnya. 

"Mas Arman, buka pintunya!" pekik Rima tak sabaran terus mengetuk pintu dengan kasar. 

"Eh, istriku sudah pulang." Sambut Arman seakan mereka bertukar peran.

"Nih, bawain belanjaan aku. Sekalian ambilkan aku minum!" sentak Rima yang membalas semua perlakuan sang suami selama ini terus menindasnya. 

Arman meraih beberapa paper bag dan mengambilkan segelas air mineral, tak luma memijat kedua kaki Rima. 

"Gak kerasa pijatannya Mas, yang kuat dong!" sentak Rima. 

"Iya…iya." 

Terpopuler

Comments

Ganuwa Gunawan

Ganuwa Gunawan

dosa Rim dosa..
allah pasti murka liat kelakuan kmu..
siap siap ge kamu d caplok ma dedemit nya emak emak yg gigi nya pda item jigong mulu

2023-01-18

0

Ray

Ray

Sudah berhasil tapi semakin menjadi ingin balas dendam🤔🙏

2023-01-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!