Sulastri sangat marah dan mendorong tubuh Rima, namun seseorang datang bak pahlawan kesiangan. Arman langsung meraih tubuh istrinya yang hampir jatuh, menatap sang pelaku dengan tajam juga raut wajah sangat terkejut.
"Sulastri?" Arman tak bisa menutupi dari rasa terkejut melihat seseorang dengan wajah hancur penuh nanah, merasakan mual saat mencium aroma busuk.
"Mas Arman, tolong bantu aku." Sulastri mendekat seraya memegang kedua tangan kekar itu dengan manja, berusaha kembali menarik simpati.
Arman dengan keras menepisnya, wajah yang dulu begitu di kagumi sekarang hanya ada rasa jijik yang menderanya. "Jauhi aku! Wajahmu sangat menjijikkan dan membuat aku mau muntah."
"Mas, aku seperti ini karena istrimu." Bentak Sulastri yang kehilangan batas kesabaran.
"Enak aja nyalahin orang, paling kamu pakai cream yang mengandung merkuri dan menyalahkan aku? Mungkin saja itu karma." Bantah Rima seraya melipat kedua tangan di depan dada dengan kesombongan hakiki, puas jika posisinya di atas. Penindasan yang di lakukan Arman dulu dan juga pengkhianatan dari teman dekat membuatnya nekat melakukan apapun tanpa peduli konsekuensi yang akan di terimanya kelak.
"Itu karena kamu main dukun."
"Ngaco kamu. Sudahlah Mas, sebaiknya kita pulang saja. Orang stres memang suka beda, selalu nyalahin orang tanpa bukti." Rima menyeret tangan suaminya, tersenyum bahagia meraih kemenangan yang hanya bersifat sementara.
Sulastri sangat marah dan juga dendam pada Rima yang berhasil menguasai Arman sepenuhnya, menangis putus asa dengan wajahnya yang rusak. "Aku tidak akan tinggal diam, akan aku bongkar kalau kamu menggunakan pelet untuk mas Arman dan juga membuat wajahku hancur." Lirihnya dengan semangat berapi-api.
Rima merasa heran mengapa suaminya pulang lebih cepat, takut jika permainannya terbongkar. "Mas kok bisa ada disini?" tanyanya pelan dan sedikit ragu.
"Mas kangen sama kamu dan meminta izin bos." Jawab Arman sementara Rima mengangguk paham.
Sesampainya di rumah, seperti biasa Arman melakukan apapun perintah sang istri tanpa pernah mengeluh, mulai dari membersihkan rumah dan memasak makanan untuk mereka nikmati.
Rima sangat puas dengan pelayanan suaminya, cinta semu yang entah bertahan sampai kapan. Menikmati dan duduk seperti seorang ratu yang hanya memerintahkan saja.
"Lama amat sih Mas, cepetan dong. Aku lapar!" bentak Rima yang mengangkat piring sambil memegang perut yang keroncongan.
"Iya, sebentar lagi." Arman menyeka keringat di dahinya, dan menyelesaikan masakan ala kadar. Dia menyajikan makanan di atas piring Rima, sebagaimana peran mereka yang dulunya bertukar.
Rima menikmati masakan suaminya, tanpa perduli jika senggolan kakinya yang mulus ulah Arman yang berusaha untuk menggodanya. "Apa sih Mas? Ganggu aja deh." Gerutunya yang tampak kesal.
Arman tampak ragu melihat situasi yang kurang pas. "Aku ingin kamu, layani aku ya." Bujuknya dengan raut wajah berbinar, rela meminta izin pulang hanya merindukan belaian sang istri.
"Aku capek, lain kali aja." Cetus Rima menolaknya, entah mengapa dia tidak memiliki hasrat pada Arman. Ingatan sebelum dia memelet suaminya terus terngiang, di satu sisi dia mencintai suaminya dan di sisi lain dia sangat membenci pria itu. Jika bukan karena mak Itam, mungkin dia pasti mendapatkan siksaan, antara mau bertahan atau tidak.
"Sudah lama kamu tidak melayaniku." Terlihat guratan kecewa di mata Arman, ingin sekali marah karena hasrat sebagai laki-laki tak disalurkan.
"Apa? Kamu mau marah ya terserah." Balas Rima dengan kedua mata yang hampir keluar dari tempatnya.
Brak!
Rima memukul meja makan dengan sangat keras, menatap pria di sebelahnya dengan tajam bak silet yang menggores. "Cukup ya Mas, aku capek sama kamu yang selaku saja menuntut hal itu." Dia belum siap untuk mempunyai anak dengan pria yang sudah pernah menyakiti dirinya, ada rasa ketidakrelaan memberikan ruang benih di dalam rahim.
Rima berlalu pergi tanpa menghabiskan makanan di atas piring yang masih tersisa banyak, sedangkan Arman terhenyak melihat punggung sang istri yang mulai menjauh. Selera makannya menjadi hilang, saat kebutuhan biologis tidak bisa tersalurkan. Tapi anehnya dia tidak merasa marah, mencoba memahami situasi dan suasana hati Rima.
"Rima tidak pernah kasar, mengapa setelah aku membatalkan pernikahan keduaku dia malah berubah." Arman tahu dirinya bersalah pernah menorehkan luka, dan mengubah karakter sang istri.
Rima mengunci pintu kamar seraya menangis, perlahan tubuhnya beringsut ke lantai di temani deraian air mata. Hati dan pikirannya mulai berperang mengenai apa yang terjadi, antara benci dan juga cinta membuatnya hilang arah. "Ada apa denganku? Mengapa aku begitu sulit memberikan ruang pada mas Arman? Apa yang sebenarnya aku cari jika bukan karena cintanya? Setelah melakukan semua ini dan aku masih belum mendapatkan apa yang aku inginkan." Begitu banyak pertanyaan yang ada di benaknya, dilema yang hinggap dalam pikiran seakan menggerogoti hatinya.
Rima membaringkan tubuhnya di atas ranjang, menatap lurus ke arah jendela. Walau sudah melakukan upaya untuk mendapatkan keinginan hatinya tetap saja tidak bahagia dengan apa yang di raihnya.
"Pengkhianatan mereka masih saja tidak bisa aku hapus dari ingatanku." Monolognya seraya mengusap wajah dengan kasar.
Terdengar suara ketukan pintu, Rima menoleh ke asal suara dan sangat enggan membukakan pintu.
"Rima…Rima, mas minta maaf. Kalau kamu tidak mau, aku juga tidak akan memaksa. Aku janji tidak akan menuntutmu hamil, tapi jangan marah. Aku tidak bisa jauh darimu, bahkan cintaku lebih besar dibandingkan nyawa ini." Ungkap Arman yang merasa bersalah.
Rima semakin terisak, tersenyum mengejek dirinya sendiri. "Heh, dia bisa berkata seperti itu hanya efek dari pelet."
****
Hari berganti tapi keduanya seakan di batasi oleh sebuah tembok, dimana Rima yang acuh dan tidak menghiraukan suaminya lagi. Kehidupan yang kian hambar, dan dirinya juga mulai meninggalkan ritual menodai nasi hangat yang selalu di suguhkan kepada sang suami.
Rima memutuskan untuk berjalan tanpa arah, dimana dirinya hanya sendiri merenungi apa yang terjadi. Nasi kangkang pelet dari mak Itam tidak membuatnya bahagia tetapi semakin menghancurkan hatinya.
Seseorang tak sengaja menabraknya hingga terjatuh, melihat uluran tangan di hadapannya. Seorang wanita yang mengenakan pakaian syar'i tersenyum ke arahnya, terlihat dari lipatan di mata walau wanita itu mengenakan cadar.
"Maaf, aku tidak sengaja menabrakmu." Tutur wanita itu.
"Tidak, ini salahku yang melamun." Rima meraih tangan wanita itu merasa menyesal.
"Kamu terlihat gelisah, ada apa?" tanya wanita itu.
Rima sedikit ragu untuk menceritakan sebuah kesalahan fatal yang selama ini dia kerjakan hanya untuk mendapatkan cinta dan balas dendam yang tertuju pada suaminya.
"Kamu benar."
Rima yang tadinya ragu menjadi yakin menceritakan masalah hidup dan kesalahan yang pernah di perbuat, sangat menyesal karena tidak ada hasil yang di dapatkan olehnya. Bahkan semua perkataan mak Itam segala bentuk ritual mulai di tinggalkan, namun yang membuatnya aneh seluruh tubuhnya merasakan lelah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
telat Rim udah telat nyesel nya..
siap siap ge d goyang ma dedemit nya mak Itam
2023-01-18
0
Ray
Penyesalan pasti datangnya di belakang😄Kalo di depan pendaftaran namanya🙏Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali 👍😘
2023-01-18
0
Erni Cahaya Nst
blm terlambat lsnjut thor
2022-12-23
1