Bab 9 - Berkata jujur

Rima meneteskan air mata karena tak sanggup dengan beban hidupnya yang di pikul seorang diri, dengan terang-terangan dia menceritakan jalan hidupnya secara detail. Menatap wanita yang mengenakan cadar membuatnya sangat nyaman dan percaya. Tidak ada yang di tutupi, suasana semakin haru dan wanita itupun juga ikut menangis. 

Wanita bercadar dulunya menganggap dirinya sangatlah tidak beruntung, tapi ada orang lain yang jalan hidupnya lebih tragis lagi. 

"Aku selalu mendapatkan perlakuan buruk dari suamiku, tapi aku masih mencintainya. Aku bertemu mak Itam dan menyarankanku untuk menyuguhkan nasi kangkang, bertujuan memelet mas Arman agar menuruti semua ucapanku." Jelas Rima sambil sesegukan, di hati kecilnya merasa sangat menyesal melakukan kesesatan yang di murkai Allah dengan alasan keterpaksaan keadaan. 

"Astagfirullahaladzim, apa yang kamu lakukan itu tidaklah benar dan sangat dimurkai Allah." Ucap wanita merasa bersimpati dengan jalan hidup Rima.

"Ya, aku tahu itu." Lirih Rima menundukkan kepala.

"Lalu, apa yang kamu rasakan?" 

"Aku tidak tahu, hatiku tidak tentram dengan apa yang pernah kulakukan. Memang suamiku memberikan cintanya, tapi itu hanya semu belaka, pengkhianatan yang ditorehkan di dalam hatiku masih terasa." 

Wanita bercadar itu mengelus punggung Rima dengan sangat lembut. "Sebaiknya kamu tinggalkan semua ritual sesat itu dan lebih dekati diri ke sang kuasa." 

"Bagaimana? Aku sudah lama tidak melakukan perintah sebagai seorang muslim." 

"Aku bisa membantumu." 

Rima sangat terharu dan memeluk wanita itu, menyeka air mata seakan mendapatkan secercah harapan. "Maaf, aku sudah bercerita panjang tapi belum sempat berkenalan denganmu."

"Aisyah, itu namaku."

"Aku Rima." 

Semenjak pertemuan dengan Aisyah, Rima sudah benar-benar meninggalkan ritual dan menjalankan semua kewajiban sebagai wanita muslimah. Hati yang semula tak berujung memberikannya sebuah jalan lurus yang harus di tempuh. 

Rima sudah mantap berhijrah, perlahan tapi pasti berubah menjadi kepribadian yang baik. Menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, berharap dirinya sanggup dengan semua konsekuensi hasil apa yang sebelumnya di tanam. 

Perubahan itu juga di rasakan Arman, perlahan pelet nasi kangkang luruh bersamaan dengan taubatnya Rima. Kecintaan di dalam hati kembali hilang dan yang mencuat hanyalah kebencian. Mereka memang tinggal seatap dan tidur satu kamar, tapi hanya menjadi orang asing tanpa saling bertegur sapa. 

Arman sangat kelaparan dan seperti biasa dia menghampiri Rima karena belum memasak makanan apapun, tentu saja untuk memarahinya. Saat menuju ke kamar, dia melihat seorang wanita dengan penampilan yang sangat berbeda, seorang wanita cantik dan terlihat sangat anggun juga membuat sejuk mata memandang. 

"Rima? Kenapa dia tiba-tiba alim begitu?" pikir Arman dengan cepat bersembunyi dan mengintip di balik pintu, tapi dia sangat takjub melihat penampilan baru istrinya yang sebelumnya diabaikan, terkesima dengan pakaian gamis dan hijab syar'i. Merasakan sebuah getaran yang tidak tahu apa itu, namun perasaan mulai di tepis. Dia segera keluar sembari memegang perut yang keroncongan, menatap sang istri tajam. 

"Berdandan saja yang bisa kamu lakukan, masakkan sesuatu. Aku lapar!" Titah Arman yang langsung berbalik arah. 

"Baik Mas." Rima menuruti perkataan dari suaminya dengan menyuguhkan makanan seperti biasanya, tapi kali ini tanpa ritual apapun dan bersih. 

Beberapa menit kemudian, dia menyajikan makanan dengan masakan simple saja, menata rapi dan melayani sang suami dengan sepenuh hati. Rasa menyesal masih menghantuinya bagai momok yang menakutkan, mencari waktu yang pas untuk meminta maaf. 

"Ini Mas." 

Arman makan dengan sangat lahap, apapun yang di masak Rima selalu habis. Diakui olehnya, jika masakan istrinya itulah yang terbaik dan paling enak. 

Selesai makan, Arman duduk di ruang tamu sambil merokok, terlihat kepulan asap di sekitar. Rima menyuguhkan segelas kopi, bermaksud untuk mengungkapkan perbuatannya. 

"Kenapa kamu duduk di situ? Pergi sana!" usir Arman. 

"Ada hal yang ingin aku bicarakan Mas." 

"Ya, katakan cepat." Ujar Arman yang menghembuskan asap rokok ke atas, sebelah kaki yang di angkat menjadi sandarannya. 

Rima awalnya ragu, tapi dia harus mengakui kecurangannya dalam mendapatkan cinta sang suami. Bersimpuh di kaki seraya meneteskan air mata, tangisannya mulai pecah berharap Arman memaafkan kesalahannya. 

"Eh, apa yang kamu lakukan?" Arman sangat terkejut, menaikkan sebelah alis menatap sikap sang istri yang tiba-tiba bersimpuh di kakinya. 

"Sebulan kamu memutuskan menikahi Sulastri, aku datang menemui mak Itam dan menyuguhkan nasi kangkang." 

"APA?" Arman sangat shock dan berdiri dari duduknya, menatap Rima tajam ingin sekali membunuh wanita itu. "Jadi selama ini kamu memelet ku? Kejam sekali kamu menyuguh nasi kotor demi keegoisan mu." Bentaknya meninggikan suara. 

Rima menangis meminta pengampunan suaminya. "Maafkan aku Mas, aku terpaksa melakukan itu karena aku mencintaimu. Namun tidak ada hasil yang aku terima, cinta semu yang sebelumnya kamu berikan semakin membuatku tersiksa. Terserah jika kamu ingin menceraikan aku, aku ikhlas." Jelasnya dengan menangis tersedu-sedu. 

Arman terdiam seraya berlalu pergi meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah katapun, sementara Rima hanya pasrah akan nasibnya dan juga bahtera rumah tangga. 

"Maafkan aku…maafkan aku mas Arman," lirihnya sembari menyeka air mata yang mengalir deras di kedua pipi. 

"Kesalahanku cukup fatal, sebaiknya aku pergi meninggalkan tempat ini." Putusnya. 

Rima berjalan menuju kamar, mengambil koper dan menyingkap lemari. Satu persatu pakaian di ambil dan dimasukkan ke dalam koper, membawa semua barang-barang yang hanya miliknya. Meletakkan semua perhiasan di atas tempat tidur, kecurangan yang di lakukan hanya menimbulkan kerugian besar dan bahkan Arman terlilit hutang olehnya. 

Sementara Arman sangat marah mengetahuinya, merenungi diri dan semakin membenci Rima. "Kurang ajar, harusnya aku membunuhnya saja. Jadi selama ini aku makan makanan kotor, dasar egois." Monolognya seraya melemparkan batu di permukaan air danau. 

Seorang wanita dengan wajah buruk rupa datang menemui Arman, dia tahu apa yang terjadi karena mendengarnya. "Aku sudah mengatakannya kalau Rima main dukun, wajahku hancur juga karena ulahnya." 

Arman menoleh ke asal suara, merasa jijik melihat wajah Sulastri yang hancur penuh nanah. 

"Aku tahu Mas pasti jijik melihat wajahku, tapi inilah kenyataannya dan semua akar permasalahan kita sama yaitu Rima." Sulastri terus saja menjelekkan orang lain demi mencapai tujuannya. "Apa aku bilang, kalau dia pakai dukun dan memelet mu. Dia iri pada kita yang akan menikah dan nekat." 

"Kamu bisa diam gak? Aku pusing." Arman sangat marah dengan perbuatan Rima, namun hal ini juga karena dirinya yang berlaku tidak adil padanya. "Pergi kamu!" usirnya. 

"Biarkan aku menemanimu, Mas." Tutur Sulastri penuh harap. 

"Gak, aku jijik lihat wajah kamu." 

Sulastri terpaksa pergi dari sana dalam keadaan marah. "Jika cara lain tak mempan, terpaksa cara kasar di mainkan." 

Terpopuler

Comments

Ganuwa Gunawan

Ganuwa Gunawan

tuh jdi ga ritual malem jumat kliwon nya thor...???

2023-01-18

0

Ray

Ray

Semakin seru ceritanya Outhor👍
Konflik rumah tangga yang sering terjadi dalam kehidupan sehari hari, dalam cerita Outhor banyak segi positif yg bisa kita ambil dan segi negatif untuk pelajaran dan manfaat bagi kita 👍

2023-01-18

0

Erni Cahaya Nst

Erni Cahaya Nst

seruuuuu lanjuut

2022-12-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!