Tidak tahu lagi kemana kaki akan melangkah, sangat berat cobaan yang dia hadapi, bertahan sakit melepaskan juga sakit. Rasa takutnya mengenai tingkah sang pelakor yang merebut suaminya lebih besar dibandingkan serangan dari makhluk gaib, tidak ada tempat yang di tuju memutuskan untuk kembali pulang tanpa menghiraukan apapun. Dia hanya pasrah kepada sang Pencipta, berharap anaknya di lindungi.
Lagi dan lagi Rima menangisi nasibnya yang begitu malang, pengakuannya waktu itu malah memberikan jarak yang cukup lebar antara dirinya juga Arman. Hatinya sangat sakit, apapun yang di lakukan tidak pernah benar di mata sang suami yang berniat untuk menceraikannya setelah melahirkan anak mereka.
Rima menutup pintu dan menguncinya, tubuh yang beringsut dan memeluk tubuhnya sendiri. Dia menangis melepaskan semua beban yang ada di hati, perubahannya tidak membuahkan hasil apapun.
"Apa gunanya aku berubah? Tidak ada yang aku dapatkan dan semuanya sama saja. Aku benci pada mereka yang mengkhianatiku…aku sangat benci." Rima yang begitu terluka membuka hijab yang beberapa waktu lalu di pakai atas pertemuannya dengan seorang wanita bercadar, dirinya tak bisa berhijrah dengan Istiqomah menjadikan tobat sementara berubah kembali pada dirinya yang dulu.
"Aku benci mereka…aku sangat benci!" pekik Rima yang mengepalkan kedua tangan dengan tatapan penuh kebencian.
Rima yang lemah imannya dengan begitu mudah berubah seperti semua, dia tidak ingin melakukan apapun untuk mempertahankan rumah tangganya, yang tersisa di hati pembalasan dendam kepada Arman dan Sulastri.
"Kepada siapa aku harus meminta tolong?" lirih Rima memikirkan ajang pembalasan dendam, tidak mungkin dia menemui mak Itam yang sekarang membantu rivalnya. Hingga dia teringat pada sosok pria tampan yang mengakuinya sebagai istri dari makhluk gaib.
Rima tidak tahu bagaimana cara memanggil makhluk itu, namun beberapa saat yang dipikirkan muncul di hadapannya berwujud seorang pria tampan.
"Kamu merindukanku, Dinda?" ucap Darma mengulas senyum.
Rima takjub melihat ketampanan Darma yang melebihi suaminya Arman, namun tetap saja sosok tinggi besar dan menakutkan terus terngiang melihat pria yang ada di hadapannya. Tersenyum getir mendengar ucapan pria yang berdiri di hadapannya, berusaha mengendalikan dirinya mengontrol ketakutan.
"Bagaimana bisa kamu ada di hadapanku?"
"Karena kamu memikirkan aku, sebagai sinyal antara kita. Kenapa kamu memikirkan aku, Dinda?"
"Aku ingin bantuanmu."
"Katakan saja."
"Aku ingin kamu menghabisi mengerjai Arman juga Sulastri."
"Itu mudah, cuma tidaklah gratis. Ada syarat dan konsekuensi yang kamu terima."
"Asal bukan janinku, aku setuju."
Darma tersenyum puas mendengar perkataan Rima, istri yang pernah dia setubuhi lewat ritual malam jumat kliwon. "Aku tidak ingin bayimu, jadi tidak perlu khawatirkan itu."
"Lalu, apa yang kamu inginkan?"
"Kamu."
Rima berpikir panjang, apalagi dia tidak mempunyai keluarga lagi yang bisa diandalkan, hidup yang hancur dan tidak terarah kembali membuatnya terjun bebas ke dalam lubang kesesatan. "Aku tidak mempunyai siapapun lagi selain janin ini, aku pasrah."
"Jangan berputus asa Dinda, aku selalu ada untukmu dan akan membawamu ke alamku setelah balas dendammu terpenuhi. Di sana kita akan bahagia, aku menjaminnya."
Rima tersenyum getir, janji yang diucapkan makhluk yang sangat berbeda darinya begitu manis hingga dirinya merasa sangat malang dicintai Darma. "Terserah, aku tidak peduli apapun lagi. Kalau perlu kamu habisi saja Sulastri dan Arman, aku sudah muak melihat mereka berkhianat." Ucapnya dengan memerintah.
"Baiklah Dinda." Darma meraih tangan kanan Rima dan mengecupnya dengan lembut, makhluk bunian yang hidup ratusan tahun begitu lihai mengumbar sebuah janji yang memabukkan targetnya.
Rima melihat tubuh Darma yang menghilang menjadi kepulan asap hitam yang keluar melewati lubang kunci pintu, dirinya tersenyum puas dan menunggu hasil dari suami gaibnya.
Sementara di sisi lain, Sulastri di usir oleh para tetangganya yang sangat membenci sang pelakor. Demi mengamankan wilayah komplek, mereka bergotong royong mengusir wanita itu dari sana penuh paksaan.
Arman yang di butakan akan cintanya membawa Sulastri ke rumahnya dan tinggal satu atap, tidak ada pilihan lain dan kekuatan untuk melawan warga yang tidak rela sang kekasih tinggal di sana.
"Gimana ini Mas?" tanya Sulastri yang menangis melihat rumahnya di acak-acak warga sekitar, dan mengusirnya setelah puas memaki dan menghina dengan sumpah serapah.
"Ini semua terjadi karena Rima, dia yang bertanggung jawab mengenai hal ini." Arman mengepal kedua tangannya dengan kemarahan yang menggebu, berniat untuk memberikan sang istri pelajaran yang tidak akan pernah di lupakan sepanjang hidup.
"Kamu tinggal di rumahku saja untuk sementara waktu." Putusnya yakin.
"Baik Mas." Sulastri mengangguk seraya tersenyum puas, dengan tinggal satu atap dengan Rima berarti dia bisa lebih leluasa membalaskan dendam.
****
Darma yang berusaha menyerang Sulastri dan Arman saat perjalanan keduanya menuju ke tempat Rima, aksinya malah di halangi oleh makhluk yang sama dengannya.
"Kamu lagi…kamu lagi, jangan halangi aku!" sentak Darma yang kembali ke wujud mengerikannya.
"Mereka aku lindungi, kamu tidak akan pernah bisa menyentuh keduanya terutama wanita itu."
"Oho, kamu juga jatuh cinta pada Sulastri?" tanya Darma yang tersenyum tipis.
"Aku bukanlah kau yang bodoh." Cetus Braja yang tertawa mengerikan, dia berniat untuk merebut sukmanya.
Kedua makhluk bunian itu saling bertarung mengerahkan kekuatan mereka, dua kubu yang berbeda.
"Dasar pengkhianat, hanya demi manusia itu kamu rela mengkhianati mak Itam."
"Dan aku tidak peduli." Jawab Darma tegas, cintanya yang buta akan membawa Rima pergi ke alamnya dan hidup bersama.
Betapa terkejutnya Rima saat pintu di buka dengan kasar, melihat raut wajah Arman yang tampak mengerikan di selimuti kemarahan berapi-api.
Plak!
Satu tamparan keras berhasil lolos mengenai pipi Rima, Arman gelap mata terus menganiaya istrinya atas apa yang terjadi pada Sulastri.
"Itu balasannya karena sudah main-main denganku." Ucap Sulastri pelan, menyunggingkan senyum puas seraya melipat kedua tangan di depan dadanya.
"Aku peringatkan sekali lagi, berhenti membuat ulah atau kamu dan bayimu itu aku bunuh!" tekan Arman menatap Rima melotot dan bahkan hampir keluar dari tempatnya, dia sangat muak dan semakin membenci istrinya itu.
Rima menangis sembari memegang pipi dan tubuh yang memerah akibat Arman yang melakukan kekerasan di fisik, dia meringis karena selalu saja di salahkan. Namun matanya tertuju pada dua koper besar tak jauh dari Sulastri.
"Aku akan tinggal disini." Jelas Sulastri yang menjawab kebingungan Rima. "Kamu itu istri yang tidak becus menjaga suami, mulai sekarang kamu fokus mengurus kehamilanmu dan aku akan mengurus mas Arman, setuju?" dia tertawa puas melihat posisinya yang lebih tinggi, tidak peduli jika dicap sebagai perebut suami orang karena kebahagiaan menurutnya adalah dengan merampas milik wanita lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
ini yg oon siapa sih...?
Rima Rima...kok kmu jdi menderita kembali...ngpain ke dukun..klu ahir nya babak belur lgi mh
2023-01-18
2
Ray
Dan mulai balas dendam serta bersekutu kembali dengan setan😱
Semakin seru baca cerita Outhor👍😘
2023-01-18
0
Mir_rim22
wadidaw kembali ke jalan ses4t.....
2022-12-15
2