Terdengar suara desah*n di kamar sebelah, air mata terus bergulir dan lolos melewati kedua pipi, rasa sakit di hati yang mendera membuat rasa sesak yang tak bisa di hindari lagi. Dengan sengaja menutup kedua telinga dan memejamkan matanya, hancur yang di rasakan olehnya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Dirinya telah berusaha keras, namun suara yang membuat hatinya kian memanas hingga tak sanggup lagi menahannya. Sebuah tangan yang menyentuh dan membelai rambutnya, Rima terkejut dan langsung duduk menatap sang pelaku yang tak lain Darma dalam wujud pria tampan berpakaian kerajaan kuno.
"Jangan bersedih Dinda, aku selalu ada untukmu." Ucap Darma berkata dengan sangat lembut, memberikan kenyamanan yang tidak pernah di rasakan Rima.
Rima terhenyu dengan belaian dan perhatian dari Darma, namun terlintas di bayangan rupa mengerikan dari pria tampan itu. "Kamu disini?"
"Ya, aku tahu kamu sedih dan datang untuk menghiburmu." Ucap Darma.
"Baiklah, bisa kamu jelaskan siapa dirimu yang sebenarnya?" Rima penasaran mengenai asal dari pria itu, menyeka air mata yang sedari tadi mengalir dan mendudukkan dirinya sedikit menjauh.
"Namaku Darma Adi Purnomo Wijaya, pangeran dari kalangan bunian di suatu wilayah timur."
"Pa-pangeran?" Rima menautkan kedua alisnya bingung dan penasaran.
"Ya, ini wujud asliku di alamku. Jangan takut pada suamimu sendiri, aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu lagi, Dinda." Tatapan teduh Darma mampu menghipnotis Rima, apalagi wajah yang rupawan tidak pernah di lihat sebelumnya.
"Lalu mengapa kamu mau bersekutu dengan mak Itam dan menyerangku?" Rima tak serta merta percaya, menyelidiki dan mengintrogasi semua keraguan di dalam benaknya.
"Kamu alasanku melakukan itu, wanita tua yang serakah bernama mak Itam menjadi salah satu perantara kita. Aku sudah lama memperhatikanmu, tapi tidak ada celah untuk itu." Ujar Darma.
Rima terdiam, pria tampan yang mengaku sebagai pangeran begitu mengaguminya. "Tapi apa yang membuatmu tertarik padaku?"
"Itu karena kamu selalu kesepian setelah menikah, melamun setiap senja tak sengaja aku lihat." Darma mengungkapkan alasan di balik menyukai Rima yang hobi melamun, rasa kasihan dan empatinya menumbuhkan kecintaannya. Selalu mencari cara dengan kembali bersekutu.
"Hem." Perlahan Rima mulai nyaman bercerita keluh kesahnya pada Darma dan melupakan desah*n yang berasal dari kamar sebelah. Mulai hanyut dalam perkataan dan perlakuan manis dari Darma yang ternyata mendapatkan kenyamanan yang sesungguhnya.
"Percayalah, aku akan selalu melindungimu. Dinda bisa memanggilku kapan saja, aku tidak keberatan." Darma menyunggingkan senyum tipis saat Rima mulai nyaman dengan perhatian dan ucapan manisnya.
Rima mulai merencanakan hal buruk untuk membalaskan dendam, memberikan apapun yang dia miliki dan menyerahkannya pada Darma sebagai kesepakatan. Satu keinginan dari makhluk gaib itu yaitu melakukan hubungan terlarang yang bertentangan hukum alam.
Di pagi hari, Rima melirik Sulastri selesai mandi dan lilitan handuk kecil di atas kepala menandakan selesai keramas, berjalan ke arahnya dengan raut wajah sombong tersenyum kemenangan.
"Buatin mas Arman teh ya, badan aku pegal nih." Perintah Sulastri.
"Bukannya kamu sendiri yang mau melayani mas Arman? Kenapa menyuruhku, buat saja sendiri." Tolak Rima yang tidak takut karena dirinya mempunyai suami dari alam lain yang bisa membantunya.
"Heh, kamu itu istrinya dan sudah tugasmu untuk melakukan itu. Gitu aja masa gak ngerti." Sulastri bertolak pinggang, moodnya di pagi hari sudah rusak.
"Kamu sendiri yang memintaku fokus dengan kandunganku, dan kamu fokus melayani mas Arman. Jangan menjilat ludah sendiri!"
"Aku aduin ini sama mas Arman."
Rima tertawa saat sang pelakor mencoba untuk menjadi ratu di tempat itu. "Terserah, aku tidak takut. Jangan lupakan statusmu di sini yang cuma pel*cur suamiku, dan mengadukanmu pada warga agar di usir."
Sulastri menunjuk wajah Rima tampak kesal jika dirinya mendapatkan ancaman, berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Bisa saja Rima mengadu dan mengusir Sulastri dari rumah suaminya, tapi dia tidak ingin itu terjadi karena permainan baru saja di mulai, kekuatan yang di dapat setelah Darma meyakinkannya. "Mulai saat ini, aku akan membuatmu menderita, kemudian mas Arman menjadi target ku berikutnya. Ucapnya di dalam hati.
Arman sangat marah melihat meja makan tampak kosong, melempar tudung saji ke lantai. "Rima…Rima!" pekiknya yang berteriak, suara menggema di seluruh ruangan.
"Iya, ada apa?" Rima berjalan dengan santai, tidak peduli apa yang akan dikatakan oleh Arman.
"Ini waktunya sarapan, mana sarapanku?" bentaknya meninggikan suara, sedangkan Rima hanya tersenyum tak peduli di tambah kedatangan Sulastri yang semakin membuat suasana panas.
"Suruh aja pel*cur kamu yang masak, apa kamu gak takut nanti aku pelet nasi kangkang?"
"Masak sekarang, aku mau ke kantor." Arman sangat marah karena tidak ada pekerjaan Rima yang beres satupun, biasanya rumah tampak bersih dan makanan selalu tersedia.
"Suruh Sulastri sana, hitung-hitung dia belajar menjadi istrimu." Rima berlalu pergi masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu, tak lupa headset di telinga memutar lagu favoritnya.
"Mas, aku lapar. Buatin nasi goreng dong," Sulastri memegang lengan Arman dengan manja, perut yang keroncongan sangat menyiksanya.
"Benar kata Rima, kamu harus belajar menjadi istriku bukan tahu nya main di ranjang aja." Cetus Arman.
"Iih Mas Arman kok gitu sih."
"Udahlah ahh." Arman berlalu pergi dan hendak bersiap-siap berangkat ke kantor, namun penampilannya sangat berantakan. Ingin sekali dia memanggil Rima, tapi gengsi dan ego kembali menguasainya. Perut yang sangat lapar terpaksa ditahan dan akan diisi setelah jam makan siang.
Di kantor, Arman tidak bisa fokus bekerja karena tidak sarapan. Beberapa temannya di kantor merasakan perubahannya, mulai dari pakaiannya yang kusut tidak di setrika di tambah raut wajah yang sedikit pucat.
"Kamu kenapa, sakit?" seseorang menepuk pundaknya.
"Aku belum sarapan Yo." Jawab Arman jujur.
"Emang istrimu kemana? Tumben Rima gak kasih kamu makan, apalagi kali pertama kamu memakai pakaian kusut." Tutur Aryo yang merasa prihatin.
Arman memijit pelipisnya seraya mengeluarkan nafas berat. "Dia lagi sakit." Bohongnya yang tidak ingin teman sekantor tahu jika dia dan Sulastri tinggal satu atap yang akan berimbas pada pekerjaan keduanya yang di pertaruhkan.
"Arman, kamu di panggil pak bos tuh." Celetuk seseorang yang menghampiri meja kerja sang empunya nama.
"Ada apa?" tanya Arman penasaran.
"Gak tahu."
Arman menganggukkan kepala, beranjak dari kursinya dan berjalan menuju ruang atasan. Dia mengetuk pintu dan duduk setelah di persilahkan, jantungnya berpacu dengan cepat di kala ekspresi dari sang atasan yang tidak diketahui maknanya.
"Maaf, kenapa Bapak memanggil saya?"
"Begini. Hutang yang kamu miliki sudah sangat menumpuk, aku harap kamu membayarnya atau dipecat dari perusahan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Ray
Terancam dipecat dari kerjaan 😱🤔
Dan apakah Sulastri tetap bertahan ?
2023-01-18
0
Mir_rim22
pembalasan....
2022-12-16
2