Darma sangat marah setelah dirinya mengetahui rencana Sekar Sari memulangkan istri manusianya, tangan yang mencengkram leher wanita itu terpojokkan ke dinding. Terjadilah aksi pertarungan dari keduanya, tetap saja pria yang menang dari wanita.
Sekar Sari terbatuk saat cengkraman itu melukai lehernya yang terasa seperti terbakar, menatap tunangannya yang sedang menunjukkan ekspresi kemarahan.
"Berani sekali kamu datang dan menyerang Rima."
"Sadarlah kalau dunia kalian sangat berbeda, Kang Mas tidak bisa memaksa manusia itu tinggal di alam gaib dan hubungan kalian sangat di tentang bahkan romo gusti Prabu juga memiliki keinginan yang sama denganku." Akhirnya Sekar Sari membuka suara dan mengatakan hal yang sebenarnya, dia cemburu karena tunangannya itu lebih memilih manusia yang tidak akan pernah menyatu.
"Aku tahu romo ku juga tidak setuju dengan hubungan ini dan menentangnya, tapi aku tidak percaya melihatmu bisa bersikap kasar pada Rima. Apakah yang aku lihat ini Sekar Sari? Siapa kau sebenarnya dan mengapa wajahmu mirip dengan Sekar Sari?" ucap Darma menatap wanita cantik nan anggun di hadapan mata.
Sekar Sari sedikit menundukkan kepala, jujur saja kecemburuan itu malah membuatnya tidak terkendali. "Aku hanya ingin mempertahankan calon suamiku, Kang Mas." Ucapnya pembelaan diri. "Semua rakyat sudah tahu mengenai ini, romo gusti Prabu juga menginginkan hal yang sama denganku. Nyawa Rima dalam bahaya jika terus berada di sini, kembalikan dia ke alamnya." Bujuknya dengan harapan penuh.
"Aku tidak menyangka kalau kamu juga tidak mendukung ku."
"Aku hanyalah seorang wanita yang mempertahankan hak ku."
"Sudahlah, berdebat denganmu sama saja membuang waktu." Darma menghilang secepat mungkin dari hadapan Sekar Sari.
"Kenapa kang mas Darma tidak mengerti juga? Kalau Rima tinggal di sini itu sangat berbahaya." Sekar Sari mulai berempati pada Rima, karena kesalahan terjadi ulah tunangannya yang terobsesi.
"Apa rencana Tuan putri selanjutnya?" tanya dayang menundukkan kepalanya, setia berada di sisi majikan.
"Menemui romo gusti Prabu selaku ayahnya kang mas Darma." Sudah di putuskan kalau Sekar Sari membantu Rima dan perlu berbincang karena obsesi Darma yang sudah terlewat batas.
*
*
Hari berikutnya, Aisyah kembali datang untuk menjenguk temannya yang belum sadarkan diri. "Ada apa dengannya? Kenapa Rima tidak membuka mata?" gumamnya tampak berpikir. "Apa jangan-jangan dia terjebak?" terka nya yang mulai mengingat bagaimana wanita yang tengah berbaring di atas brankar pernah memakai pelet ilmu hitam yang berkecimpungan dalam hal yang sesat.
"Ini tidak bisa di biarkan." Segera Aisyah meraih ponselnya dan menghubungi seseorang yang menurutnya dapat membantu, berharap temannya pulih dan kembali sadar.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikum'salam, ada apa teh?"
"Fahri, tolong teteh."
"Memangnya teteh kenapa? Dan apa yang harus Fahri lakukan?"
"Minta tolong sama kamu, ini menyangkut teman teteh yang belum sadar semenjak keguguran."
"Lah, apa hubungannya dengan Farhi teh?"
"Tetah gak tahu lagi mau minta bantuan sama siapa, dokter mengatakan kalau kondisi teman teteh seharusnya sudah sadar, tapi sampai saat ini belum juga membuka matanya. Kamu datang dulu deh kesini dan lihat sendiri kondisi teman teteh."
"Iya teh, kirim lokasinya."
"Terima kasih sudah mau repot sama teteh, lokasinya sudah teteh kirimkan. Terima kasih banyak Fahri."
"Alah teteh ngomongnya kayak sama siapa, sebagai adik sepupu tentu aku harus menolong teteh."
"Hem, ya sudah teteh mati kan dulu teleponnya. Assalamu'alaikum."
"Iya teh, waalaikum'salam."
Aisyah kembali menyimpan ponselnya dan menggenggam tangan Rima yang tidak menunjukkan reaksi apapun, dia kembali berinisiatif membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Di alam yang berbeda, Rima tengah tertidur terganggu dengan suara yang kembali membuat kedua telinganya panas, menutupi kedua telinga menggunakan tangan. Dia menangis saat mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an begitu merdu terdengar namun menyakitinya secara perlahan.
"Aisyah…dimanapun kamu, tolong keluarkan aku dari sini. Aku tidak ingin berada disini lagi, aku hanya ingin pulang dan bertobat." Pekik Rima menarik rambutnya kuat, menuai apa yang di tanam memanglah menyakitkan.
Lantunan ayah suci Al-Qur'an tidak terdengar lagi, Rima segera berlari keluar dari kamar karena sekarang tidak bisa mengandalkan siapapun jika dirinya tidak berusaha. Dia berlari melewati beberapa ruangan yang membingungkannya, dinding yang terbuat dari cermin membingungkannya kemana arah jalan keluar.
"Ya Tuhan…dinding di sini terbuat dari kaca, bagaimana aku bisa menemukan jalan keluarnya?" monolog Rima berlari mengikuti feeling, namun itu saja tidak cukup saat dirinya terus berlari tapi tidak menemukan jalan keluar.
"Dinda mau kemana?"
Suara yang tidak asing terdengar, Rima bergetar hebat saat ketahuan berniat kabur dari tempat itu. Mengacuhkannya dan terus berlari menjauh, tapi sekeras apapun mencoba akan kembali lagi ke posisi awal, benar-benar membingungkannya.
"Dinda tidak akan bisa kabur dalam ilusi yang aku buat."
Rima mengatur nafas yang tersengal-sengal, mendekati Darma seraya menatapnya dengan tajam. "Kenapa kamu melakukan ini, keluarkan aku dari ilusi ini!" pekiknya.
"Sabarlah Dinda, kita bisa membahasnya dengan santai. Ayo ikuti aku!" Darma mengulurkan tangan dengan perhatian penuh cinta tak berkurang sedikitpun.
"Tidak. Aku terjebak jika mengikuti mu, kembalikan aku ke duniaku!"
"Apa ini karena tekanan Sekar Sari? Jangan khawatirkan dia, dan sebaiknya Dinda beristirahat."
"Sudah cukup! Hentikan! Kenapa kamu tidak menganggap perkataanku, Darma? Aku tidak ingin berada disini dan aku juga ingin melanjutkan hidup." Rima berteriak kesal, tidak peduli apa yang di pikirkan Darma padanya.
"Apa cintaku tidak bisa membawamu ikut bersamaku, Dinda? Apa semua yang aku lakukan tidak berarti lagi?" ujar Darma dengan raut wajah yang memelas, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu.
"Ini bukan cinta, aku manusia tidak seharusnya bersamamu."
"Tapi aku mencintaimu, bahkan melawan romo ku sendiri hanya untukmu. Apa itu tidak berarti? Apa perjuanganku tak ada harganya dimata mu, Dinda?"
Ekspresi yang ditunjukkan Darma sedikit meluluhkan hati Rima, segera dia menepis perasaan itu. "Tolong kembalikan aku ke asalku, aku tidak ingin berada disini lagi." Dia menyatukan kedua tangan seraya bersimpuh di kaki pria itu di iringi tangisannya.
"Tapi Dinda tidak punya alasan untuk kembali kesana lagi."
"Waktu aku kehilangan janinku memang dunia terasa luntur dan tak menarik lagi, tapi aku berubah pikiran saat mempunyai tujuan untuk hidup. Tolong bebaskan aku dari sini dan setelah itu anggap dirimu tidak mengenalku lagi."
Darma menghela nafas berat, permintaan begitu berat saat dirinya tengah berjuang untuk hidup bersama dengan wanita pujaan hatinya. "Maaf, aku tidak bisa."
Rima melihat kepergian Darma yang berjalan dengan cepat, dia menangis penuh sesal karena percaya dengan perkataan makhluk gaib yang mengklaimnya sebagai istri. Penyesalan akan selalu datang di akhir dan itu yang kini di rasakannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
ya iya lah thor..penyesalan pasti nyamh dateng nya belakang..
nah klu yg duluan mh nama nya pendaftaran..
2023-01-19
0
Ray
Dan apakah Sekar mau menolong Rima keluar dari alam ghoib? Atau Fahri ?
2023-01-18
1
Mir_rim22
lalu apa yg harus rima lakukan selanjutnya
2022-12-20
2