Aisyah meneteskan air matanya melihat kondisi Rima yang tidak menunjukkan kesadaran, berharap ada keajaiban untuk temannya itu. Al-Qur'an kembali di simpan ke dalam tas yang selalu di bawanya, mengusap lembut kepala Rima yang belum juga membuka mata.
"Rima, bangunlah! Apa yang kamu alami memang salah, seharusnya kamu berbagi denganku." Lagi-lagi bulir bening membasahi cadar Aisyah, dia sangat sedih dengan apa yang di hadapi Rima. Dia tahu bagaimana rasanya kehilangan calon anak yang belum lahir, apalagi itu karena perbuatan suami amatlah menyakitkan, menjadi beban lahir dan batin.
Aisyah tahu betul bagaimana Rima begitu ingin mempertahankan anak yang di kandung olehnya, terlihat dari kegigihan yang sangat jelas. Dia meraih tangan lembut yang lemah tak berdaya, menggenggamnya mendorong memberikan semangat.
"Kamu tidak sendiri saja Rima, ada aku disini. Kembalilah…jangan membuatku bersedih dengan kondisimu." Tutur Aisyah yang tak sengaja meneteskan bulir bening mengenai lengan wanita malang itu.
Sementara di sisi lain, Rima kembali merasa tenang karena tak mendengar suara yang membakar tubuhnya. Nafas yang tersengal dengan cepat di atur olehnya, sangat penasaran mengapa sedari tadi berteriak suara itu semakin tak tahu asal usulnya.
Tidak tahu mengapa dia bisa merasakan lengan nya yang ditetesi bulir bening, segera mendongakkan kepala mencari sumber. Tentunya dia semakin tidak paham apa yang sebenarnya terjadi padanya dan bagaimana asal suara mengaji itu terdengar jelas. "Ada orang yang membaca Al-Qur'an, dan suara itu juga tidak asing." Monolognya sembari berpikir dan baru ingat jika suara itu milik temannya yang bernama Aisyah.
"Aku tidak mungkin salah mengenali, itu suara Aisyah temanku." Perlahan ingatannya mengenai wanita bercadar itu muncul, dirinya yang terjebak di dunia lain tanpa memiliki tujuan pasti.
Wush!
Sekelebat bayangan hitam langsung menghantam tubuhnya hingga terjerembab, merasakan dorongan yang sangat kuat dan mencari sumber dengan celingukan. Rima sangat takut saat serangan kembali mengenainya hingga seteguk darah segar keluar dari rongga mulutnya.
Uhuk
"Siapa kamu? Tunjukkan dirimu kalau kamu berani." Rima sangat marah dengan apa yang di terimanya.
Perlahan sekelebat bayangan hitam mulai berwujud menjadi seorang wanita cantik dengan dua dayang di belakang sebagai antek-antek, dia termangu beberapa saat melihat wanita cantik di hadapannya memakai pakaian khas kerajaan tengah menatapnya sinis juga tajam.
"Apa kesalahanku sampai kamu menyerangku? Aku bahkan tidak mengenalimu." Rima berusaha memberikan kesan terbaik, menanyakan alasan di balik penyerangannya.
"Jauhi kang mas Darma, dia itu tunanganku."
Deg
Rima merasa ulu hatinya perih setelah mendengar perkataan dari wanita cantik yang ada di hadapannya, namun segera memulihkan ekspresi keterkejutan itu seperti semula.
"Tunangan Darma?"
"Ya, aku bernama Sekar Sari dari kerajaan selatan. Disini bukanlah tempatmu, dan kang mas Darma juga bukan suamimu. Segera pergilah dan jangan merusak pernikahan kami yang sebentar lagi di gelar, aku wanita dan kamu juga wanita jangan jadi perusak hubungan." Jelas tuan putri Sekar Sari yang mengingatkan.
"Bagaimana caranya? Aku sungguh tidak tahu bagaimana keluar dari sini." Hati Rima kembali menelan kekecewaan dan juga kesedihan mendalam merasakan hal ini yang ditujukan pada Darma, berpikir mengapa suami gaibnya itu tidak mengizinkannya keluar dari kamar.
"Eh, semudah itu kamu mundur?" Sekar Sari menautkan kedua alis penasaran mengapa Rima bisa mengalah dengan sangat mudah, kalau begitu dia juga tidak akan menyerang wanita malang itu.
Rima menganggukkan kepala sedih, perlahan ingatannya kembali setelah ayat suci Al-Qur'an terdengar olehnya. Meneteskan air mata saat mengingat dirinya yang keguguran akibat suaminya sendiri yang bernama Arman, dan bagaimana pria yang dia cintai itu membawa wanita lain masuk ke dalam rumah tangga mereka menjadi orang ketiga. Dia tidak ingin jika nasibnya yang malang juga di rasakan oleh wanita lain, dengan mengalah dan kembali pulang adalah keputusan terbaik darinya.
"Aku hanya ingin pulang dan tolong maafkan aku secara tak sengaja merebut Darma dari mu." Guratan kesedihan juga penyesalan muncul bersamaan, sedikit menundukkan wajahnya karena telah menjadi orang ketiga.
Sekar Sari mulai melunak, sebenarnya dia ingin menghabisi wanita yang sudah merebut calon suaminya itu. Tapi, pemikiran berubah setelah mendengar pengakuan penyesalan dari Rima yang sedikit membuatnya tersentuh. Dia tampak memikirkan sesuatu, mungkin saja mencarikan wanita itu jalan keluar keluar dari alam gaib.
"Baguslah kalau kamu ingin pulang, aku akan mencari cara agar kamu kembali ke alammu. Tidak seharusnya kamu berada disini, apalagi aroma tubuhmu dapat dengan mudah terdeteksi makhluk lain."
Rima bergidik ngeri, dirinya yang semula hanya menyimpan dendam dan membalaskannya lewat nasi kangkang untuk suami manusianya membuatnya terjebak sampai hal sejauh ini. "Aku tidak ingin berada disini, aku ingin pulang."
Sekar Sari yang menunjukkan kemarahan seketika berubah tersenyum cantik, dia merasa lega jika Darma nya kembali dalam pelukannya. "Tunggulah disini, dan jangan katakan apapun mengenai keberadaan ku ini."
"Baiklah, aku pasti tutup mulut."
Sekar Sari memutuskan menghilang dalam satu kedipan mata yang di ikuti dua antek-anteknya, Rima menghela nafas lega jika dia akan segera pulang.
"Ya, tindakanku sudah tepat. Ini bukanlah duniaku dan aku juga tidak sudi menjadi pelakor, sangat sakit saat menjadi korbannya." Gumamnya pelan.
Darma yang hendak masuk ke dalam kamar istri manusianya tak sengaja mencium aroma yang tertinggal dari Sekar Sari, dia segera masuk ke dalam dan memastikannya. Terlihat Rima yang tengah melamun, tersenyum saat wanita pujaannya selamat.
"Dinda!" panggil Darma dengan lembut.
Rima sedikit takut mendekat, jadi dia memilih mundur beberapa langkah saat Darma mendekatinya.
"Ada apa? Mengapa Dinda menjauhiku?"
"Aku…aku sangat lelah." Elak Rima yang tak serta merta di percaya Darma, dalam sekejap dia mulai memahami apa yang baru saja terjadi.
"Apa Sekar Sari kesini dan mengatakan sesuatu?" ucapnya tegas dan menekan kalimat sebagai kata introgasi.
"Tidak."
"Jangan berbohong, Sekar menemuimu bukan?"
"Ti-tidak, si-siapa Sekar?" Rima mulai berkeringat dingin dan berjalan mundur, tapi tidak bisa di lanjutkan saat merasakan kekuatan malah menahan dan mengunci gerakannya.
"Aku tahu kamu berbohong." Darma tak sengaja melihat tetesan darah di lantai dan juga di mulut Rima, dia mengepalkan tangan dengan tatapan penuh amarah. "Sekar menyerangmu?"
"Tidak."
"Rima, berkatalah dengan jujur." Tekan Darma yang terus mendesak istri manusianya.
Rima terdiam, harapannya untuk pulang bergantung dari tuan putri Sekar Sari, tak mungkin jika dia berkata jujur walau Darma terus memaksanya.
Darma merasa sia-sia dan tidak menemukan jawabannya, dia segera keluar dari kamar menggunakan kekuatan angin yang sangat cepat tentunya mencari keberadaan Sekar Sari, tunangannya hasil dari perjodohan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Ray
Semangat baca terus cerita Outhor👍Semakin Ok dan seru💪🙏👍
2023-01-18
0
Novi Yani
seru
2022-12-23
1
Mir_rim22
seru kak... lanjut....
2022-12-20
1