Bab 7 - Santet balasan

Rima mengangguk setuju dengan persyaratan yang akan di beritahu oleh wanita tua renta di hadapannya, tidak peduli seberapa usaha dari rival yang pasti harus membalaskan dendam. 

"Apa persyaratannya Mak?" celetuk Rima yang kembali mengulang pertanyaan. 

"Di malam jumat kliwon, kamu harus menyiapkan bunga kembang tujuh rupa dan menyediakan dupa di ruangan tertutup. Jangan biarkan cahaya masuk ke dalam ruangan itu atau kamu akan celaka." 

Rima diam beberapa saat mengingat persyaratannya, hati kecilnya begitu ragu tapi balas dendam yang menggerogoti seluruh tubuh berhasil menguasainya. "Aku harus melakukannya, itu persyaratan yang mudah. Demi membalas teror yang di berikan Sulastri, tidak lama lagi dia akan di benci dan menjadi jelek." Ucapnya di dalam hari. 

Mak Itam melirik pandangan ke arah lain, menyunggingkan senyuman penuh arti saat dirinya bisa melihat mahkluk tak kasat mata. "Apa kamu setuju? Hanya malam jumat Kliwon." 

"Lalu, apa yang harus aku lakukan setelah itu Mak?" 

"Tidurlah di kamar itu tanpa menggunakan sehelai benangpun, dalam artian tanpa busana." 

"Baiklah Mak." 

"Hem. Pulanglah, besok kamu akan melihat sang rival menderita dan di jauhi oleh semua orang." 

Rima mengangguk, berlalu pergi meninggalkan ruangan gelap yang minim cahaya. Sedangkan mak Itam mengkode sesuatu agar mendekatinya.

"Wanita itu yang akan menjadi istrimu." 

"Baik Mak." Balas suara laki-laki yang tak terlihat bentuknya, menyukai Rima sejak lama namun tak memiliki peluang apapun. Tapi sekarang dia memiliki secercah harapan, mencintai wanita yang baru saja keluar dari tempat ini seraya tertawa mengerikan. "Apa raga dan jiwanya bisa aku miliki?" 

"Kamu hanya bisa mendekatinya di malam jumat kliwon, tapi sebelum itu kamu harus menjalankan tugas." 

"Baiklah, apapun demi wanita itu." 

Di sepanjang perjalanan, Rima tersenyum mulai memikirkan apa yang terjadi esok. "Rasakan kamu Sulastri, itu akibatnya jika berani meneror ku." Gumamnya. 

Rima mempercepat langkah kakinya agar sampai ke rumah, tentu saja dia hendak menanak nasi hangat yang dimantrai dengan ajian mak Itam dalam memikat sang suami. 

Setibanya di rumah, sepasang mata menatapnya dengan penuh tanda tanya. Menelan saliva seakan tersangkut di tenggorokan, pemandangan nyata ada di hadapannya melihat kedatangan sang suami. 

"Mas Arman pulang cepat hari ini?" tanya Rima gugup. 

"Darimana saja kamu, Rima?" 

"Aku habis belanja di warung."

"Mana belanjaannya? Aku tidak lihat. Jangan berbohong kamu!" tegas Arman sambil celingukan, terlihat jelas wajah gugup sang istri. 

Rima menerobos masuk ke dalam dan menyenggol lengan sang suami, menggunakan jurus pamungkasnya yaitu merajuk. 

"Kamu kenapa sih? Aku tanya malah ngambek." Ujar Arman mengikuti istrinya. 

"Lagian aku capek Mas di rumah terus, suntuk." Jawab Rima yang meninggikan suaranya. 

"Oke, aku terima alasanmu. Tapi aku melihatmu keluar dari rumah mak Itam si dukun hitam itu. Apa yang kamu lakukan disana?" 

Rima melempar gelas yang sudah kosong ke atas lantai, memelotot sebagai bentuk ketahanan jika dirinya sudah muak dengan pertanyaan Arman. Perlakuan sang suami yang dulu selalu ringan tangan kembali membawa semangat baru untuk melawan, tidak ada rasa takut di hatinya. 

"Berhenti mengintrogasiku Mas, kamu gak ada hak nanya aku ini dan itu. Kemana aku pergi yang terpenting tidak selingkuh, bukan sepertimu yang pergi bekerja malah diam-diam mencintai wanita lain. Kalau kamu masih seperti ini? Sebaiknya pergi dari rumah ini, aku sudah muak denganmu." Ucapan dengan intonasi tinggi membuat Arman terdiam, air mata yang menetes.tak sanggup di lihatnya. 

Arman langsung mendekap tubuh istrinya dan memeluknya dengan sangat erat. "Maafkan aku yang dulu, aku tidak ingin kehilanganmu." Ucapnya pelan dan lembut. 

Rima menyeka air mata dan merasakan hangatnya pelukan sang suami, keinginan yang akhirnya terwujudkan karena selama pernikahan selalu saja siksaan juga bentakan yang diterima olehnya. "Andai waktu bisa berhenti, aku ingin sekali berlama-lama. Semua bentuk perhatian ini hanyalah ilusi belaka, ini tidaklah nyata." Batinnya yang begitu sedih, menggunakan jalan penuh kesesatan demi mendapatkan cinta yang di inginkan olehnya. 

"Aku ingin seperti ini." Lirih Rima yang terdengar oleh Arman. 

"Maka kamu akan mendapatkannya." Arman semakin bersikap romantis dan membuat Rima hampir terbuai. 

Arman memang tidak membahas apapun mengenai Rima yang datang mengunjungi dukun ilmu hitam, tapi hati kecilnya masih saja terbesit keraguan dan keingintahuan mengenai perkataan dari Surip dan juga Diman di malam itu.

 "Apa mungkin perkataan Diman dan Surip benar? Tidak mungkin Rima mengendalikanku dan memelet ku. Ahh sudahlah, aku sangat mencintai istriku dan itu yang terpenting." Gumamnya di dalam hati. 

Keesokan harinya, Rima yang berada di pasar tengah memilah dan memilih sayuran segar, mendengar sebuah bisikan dari ibu-ibu sebelah dan segera pasang telinga. 

"Eh, kamu tahu gak bagaimana nasib si pelakor Sulastri itu?" 

"Gak tahu tuh, memangnya kenapa dengan dia?" balas ibu-ibu yang lainnya. 

"Aku dengar kalau wajahnya yang cantik itu berubah menjadi buruk rupa, kulit terkelupas dan bernanah juga mengeluarkan bau yang sangat busuk." 

"Astaghfirullah hal adzim, kok bisa begitu?" 

"Namanya juga karma, itu balasan yang setimpal untuk wanita perebut suami orang." 

"Eh, bukannya itu Rima ya? Istri Arman  yang kemarin batal menikah dengan Sulastri."

"Iya, kita samperin yuk." Para ibu-ibu berbondong-bondong mendekati Rima dan mencari wajah. 

"Eh, Neng Rima." Sapa ibu-ibu kompak. 

"Iya Buk, datang rame-rame begini ada apa ya?" Rima berpura-pura tidak tahu apapun, lain di hati yang sangat puas dengan pekerjaan mak Itam yang sungguh luar biasa baginya. 

"Neng pasti tahu Sulastri." 

"Ya, dia merebut suamiku." Balas Rima tertunduk sedih. 

"Dia mendapat karma loh Neng." 

"Karma bagaimana maksudnya?" 

"Wajahnya sekarang hancur dan juga menjijikkan, tidak ada yang berani mendekatinya." 

"Ya ampun, kok bisa begitu ya?" Rima berpura-pura simpati untuk mendapat perhatian para ibu-ibu agar mendukungnya. 

"Doa istri tersakiti memang lebih cepat terkabul oleh gusti Allah, Neng." 

Rima segera membayar sayuran yang baru dipilihnya dan berpamitan dengan para ibu-ibu, dia sudah tidak sabar untuk mengecek sendiri bagaimana kondisi Sulastri yang pernah mengkhianatinya. 

"Wah…wah, kenapa wajahnya di tutup?" tanya Rima meledek. 

Sulastri sangat kesal kedatangan Rima ke rumahnya, tahu maksud dan tujuan dari istri sah calon suaminya yang tiba-tiba membatalkan pernikahan dengannya. "Mau apa kamu kesini? Pergi!" usirnya kasar. 

"Dimana wajahmu yang sok kecantikan itu?" 

"Ini pasti karena ulahmu kan Rima? Yang membenciku cuma satu yaitu kamu." Tekan Sulastri.

Rima tertawa sambil bertepuk tangan, ingat benar malam saat dirinya di teror. "Itulah balasan untuk pelakor gatal yang suka merebut suami orang, sungguh karma yang nyata." 

Terpopuler

Comments

Siti Ss

Siti Ss

/Facepalm/

2024-11-13

0

Ganuwa Gunawan

Ganuwa Gunawan

apa iya Sulastri udah nyantet s Rima thor...??
kok aku ga d kasih tau ya...

2023-01-18

0

Ray

Ray

Semakin seru ceritanya Outhor👍Semangat dan sehat selalu untuk Outhor🙏😘

2023-01-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!