Rima menemui Aisyah bermaksud untuk meminta saran, dia tidak tahu apa yang akan di lakukan saat ini. Melangkah terasa berat, beban yang dipikul sendiri membuatnya sangat kesepian semenjak kecil hingga sekarang. Dia mengira pernikahan dengan Arman adalah sebuah tanda kebebasan dari rasa kesepian tapi tidak, malah terjadi sebaliknya. Setiap malam dia selalu menangis mendengar perkataan kasar juga penyiksaan, berteman dalam sepi sering membuatnya melamun.
Kesendirian dalam kesunyian nya, merasakan dirinya jatuh ke lubuk hitam terdalam hingga hal itu malah mendapatkan perhatian dari makhluk gaib atau orang setempat menyebutnya orang bunian. Darma bisa merubah wujudnya menjadi apa saja yang dikehendaki, karena memiliki kesaktian yang luar biasa.
Darma diam-diam memperhatikan Rima seorang diri, rasa simpati membuatnya ingin bersama wanita itu namun tak bisa menggapainya. Ritual yang di lakukan wanita itu telah menyatukan mereka dan menganggapnya sebagai istri.
"Jangan berputus asa, ini jawaban atas semua yang kamu lalui. Dekatkan dirimu pada sang khalik, agar hatimu tidak gelisah lagi." Tutur Aisyah.
"Rasa itu masih belum hilang, aku merasakan sepi dan sunyi."
"Untuk itulah perbanyak berdzikir juga membaca Al-Qur'an."
Setelah beberapa lama mereka mengobrol, Rima akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah, apalagi hari sudah petang. Sesampainya di rumah, dia melihat Arman menatapnya tajam dan tak lupa mengucapkan salam juga mencium tangan suaminya.
"Dari mana saja kamu?"
"Aku pergi menemui Aisyah, Mas."
"Aisyah? Siapa dia?" tanya Arman seraya menautkan kedua alisnya.
"Temanku."
"Ck, palingan kamu pergi ke rumah mak Itam dan memelet ku lagi agar tidak jadi cerai." Cibir Arman.
"Demi Allah Mas, aku gak pergi kesana."
"Alah, lagu lama." Arman berlalu pergi dari tempat itu, sudah muak melihat wajah Rima dan bertahan setelah istrinya itu melahirkan.
"Astagfirullahaladzim." Rima mengucap sambil mengelus dadanya, menggeleng pelan karena di cap buruk setelah melakukan kesalahan.
Di malam hari, Arman tersenyum saat membaca pesan lewat aplikasi berwarna hijau. Hal itu diperhatikan Rima dan curiga jika suaminya kembali bermain api, dada terasa sesak saat apa yang di lihatnya itu benar.
"Jadi mas Arman kembali pada Sulastri?" batin Rima menahan amarah, teman akrab mampu menikungnya dan tidak pernah kapok.
"Kurang ajar, jadi diam-diam kamu mengintip pesanku." Bentak Arman yang menutup ponselnya, tidak menyadari jika tabiatnya kembali terbongkar. Berdiri dari duduk dan melayangkan tamparan di wajah Rima tanpa peduli jika istrinya tengah berbadan dua.
"Auh." Rima meringis kesakitan, merasakan tamparan perih yang sudah lama tidak di lakukan Arman. Ingin sekali dia menjerit, melihat chat mesra sang suami dengan Sulastri. "Aku ini sedang mengandung Mas, tolong hargai aku sedikit saja."
"Apa kamu menghargaiku selama ini? Menyajikan makanan yang menjijikkan padaku." Bentak Arman mengeraskan suara.
"Aku melakukannya, tapi sekarang tidak lagi. Hargai aku yang tengah hamil anakmu, Mas."
"Tapi aku tidak menginginkan anak itu."
Rima tak sanggup berkata-kata, sungguh tajam perkataan itu, tidak adanya rasa tanggung jawab sebagai seorang calon ayah pada buah hati mereka. Berlari masuk ke dalam kamar dan memecahkan semua tangisannya disana, meluapkan seluruh beban di hati yang kembali lagi tersakiti. Sebelumnya dia melampiaskan hal itu pada seorang dukun dengan cara memelet, tapi sekarang dia hanya bisa pasrah kepada sang Pencipta alam semesta.
"Ya Allah, kenapa rasanya sangat sakit. Mas Arman masih tidak berubah walaupun dia sebentar lagi menjadi seorang ayah, mengapa ini terjadi padaku? Kenapa hanya aku yang merasakan rasa sakit ini." Rima menangis tersedu-sedu, tidak tahan karena dirinya tak pernah di anggap.
Suara jendela terbuka mengejutkan Rima yang langsung menghentikan tangisan, hembusan angin kuat yang masuk ke dalam kamar segera di cegah dengan menutup dan menguncinya kembali. Sekelebat bayangan hitam terlihat jelas olehnya, tiba-tiba dia merasakan bulu kuduk merinding. Sesosok makhluk halus yang pernah mendatanginya, perlahan dia memundurkan langkah hingga tak bisa mundur terhalang oleh tembok.
"Si-siapa kamu? Aku tidak mempunyai urusan ataupun mengganggumu." Ucap Rima yang sangat ketakutan.
"Jangan takut, aku tidak bermaksud buruk padamu."
"Bohong, kau pernah mencekik ku." Sarkas Rima.
"Aku di kendalikan."
"Siapapun kamu, tolong menjauh dariku." Rima sangat ketakutan dan wajahnya menjadi pucat pasi, melihat sosok menakutkan. Namun, beberapa detik kemudian, sosok mengerikan itu berubah menjadi pria tampan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Rasa ketakutan malah melupakan semua pengajaran yang di berikan Aisyah, terus menjauh dari mahluk itu.
"Jangan takut istriku." Ucap Darma yang tersenyum, pria yang mengenakan pakaian keraton berusaha menenangkan Rima.
"Mas Arman…mas." Pekik Rima histeris, tapi tak ada sahutan.
"Lelaki brengsek itu tidak akan mendengarmu."
"Apa yang kamu inginkan?"
"Kamu."
"Aku tidak mengenalmu, tapi siapapun kamu tolong menjauhlah dari ku." Pinta Rima.
Darma terdiam saat mencium aroma wangi yang berasal dari Rima, tahu kalau wanita itu tengah mengandung. "Kita sudah menjadi suami istri saat kamu melakukan ritual di malam jum'at kliwon."
Rima terhenyak dengan pikiran yang kembali, demi pembalasan dendam kepada Sulastri dia melakukan ritual yang di sarankan oleh mak Itam. Menyesalpun tiada gunanya, dirinya yang pernah jatuh ke lubang kesesatan perlahan menghantui.
"Kamu harus ikut aku!" Darma memegang pergelangan tangan Rima, tapi tidak bisa saat tubuhnya terasa terbakar.
Rima kembali mengingat sang pencipta dan melafalkan ayat kursi dan beberapa surat pendek, Darma seperti cacing kepanasan dan menghilang dari hadapannya. "Alhamdulillah, dia sudah hilang. Bagaimana kalau dia datang lagi?"
Rima menyeka keringat yang membasahi dahi, ulahnya sendiri yang melibatkannya berurusan pada sosok menakutkan yang berubah menjadi pria tampan dan mengakuinya sebagai seorang istri.
Dia segera meraih ponsel, tangan gemetaran terus saja menscroll kontak mencari nama Aisyah. Masalahnya semakin bertambah, kebodohan mendatangi dukun malah terjerat dalam permasalahan dunia lain.
"Assalamu'alaikum, Aisyah."
"Waalaikum'salam. Ada apa Rima?"
"Ada yang ingin aku katakan."
"Katakan saja, apa yang sebenarnya terjadi? Apa kamu tidak apa-apa?"
Rima mengatakan segalanya kepada Aisyah tanpa di tutupi, setidaknya permasalahan sedikit berkurang. Beruntung memiliki teman baik, berharap jika dia menemukan solusi dari permasalahannya.
****
Sulastri tersenyum saat Arman kembali dalam pelukannya, berharap jika pria itu menikahinya dan bercerai dengan Rima. Dia sangat membenci wanita itu, dan melakukan segalanya dengan bantuan mak Itam. Tentu saja menggunakan uang yang di kumpulkan untuk membayar mak Itam.
"Sekarang wajahku sudah cantik, tinggal melihat nasib Rima yang menderita." Ucapnya tersenyum di depan cermin besar, sangat puas dan terkesan dengan kesaktian mak Itam.
Kenikmatan yang hanya bertahan sesaat begitu dianggap kemenangan, membalaskan dendam tanpa menyentuh menjauhkannya dari pengejaran polisi dan lupa jika nyawanya dalam bahaya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
benar benar kga pda punya iman
kga ajaran agama kli ya
2023-01-18
0
Ray
Selalu semangat dan sehat untuk Outhor👍😘
2023-01-18
0
Mir_rim22
ceritanya bagus kak... ayo semangat Up
2022-12-13
2