Malam hari yang begitu sunyi, hampa terasa ditemani sepi. Tangisan saat mengingat kejadian yang tidak mengenakkan, tinggalah rasa penyesalan setelah menaruh kepercayaan kepada wanita lain yang ternyata malah menikung nya.
Rima segera menyeka air mata, dia tak ingin ketidakadilan terjadi padanya. "Sulastri, dasar wanita ular." Gumannya sembari tersenyum tipis, membalaskan dendam dengan cara yang sama.
Suara pintu yang di ketuk beberapa kali memecahkan lamunan Rima, segera berlari untuk membukakan pintu. Terlihat dua orang yang sangat di kenalnya, hati terus berkecamuk seakan di hantam palu besar. Tatapannya berapi pada seorang wanita yang ada di sebelah suaminya.
"Untung saja Sulastri tidak apa-apa, kalau tidak? Kamu aku beri ikat pinggang." Celetuk Arman yang marah pada istrinya, sedangkan Sulastri tersenyum penuh kemenangan dapat merebut suami temannya sendiri.
"Ini rumah kita, mengapa membawa wanita asing ke sini Mas?" cetus Rima menatap tajam dan tak suka.
"Aku sudah bosan denganmu, dan akan segera menikahi Sulastri bulan depan. Kamu harus memilih salah satunya, ikhlas dimadu atau bercerai." Ujar Arman lantang.
Deg
Seakan dunia terhenti, nafas yang tidak terkontrol dan bahkan bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri. Perkataan Arman menusuk hatinya dengan ribuan jarum, harapan yang selalu diperjuangkan ternyata menjadi sia-sia.
Air mata tiba-tiba saja menetes, menatap tengan tatapan kosong ke arah dua objek yang tersenyum kasmaran memperlihatkan keromantisan mereka.
"Kamu jahat, Mas."
"Ya, aku memang jahat. Kamu bisa memilih salah satunya, rela di madu atau kita bercerai saja. Aku sudah muak denganmu, lihat wajahmu yang kurang perawatan, tubuh melar dan cuma bisa menghabiskan nasi dari jerih payahku."
Lagi dan lagi Rima sakit hati mendengarnya, dia cukup bersabar selalu mendapatkan kekerasan rumah tangga dari suami yang ringan tangan. Kini, hal yang ditakutkan malah menjadi momok yang terus terlintas di dalam pikiran.
"Baiklah, aku rela di madu. Asal, selama satu bulan ini Mas banyak menghabiskan waktu denganku." Rima mulai memberikan syarat untuk menumbuhkan kembali rasa cinta di hati suaminya.
"Gak bisa gitu lah Mbak, aku juga ingin menghabiskan waktu dengan Mas Arman." Tolak Sulastri.
"Apa yang di katakan Sulastri memang benar, sumpek lihat wajahmu yang kucek itu."
Rima menarik nafas dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan, tak bisa berbuat apapun untuk sekarang ini. "Baiklah, jika Mas tidak mau aku juga tidak akan memaksa. Tapi luangkan waktu untuk melepaskan rasa lapar mu Mas, pulang di waktu makan."
Arman dan Sulastri saling melirik dan memberi kode jika mereka tidak mempermasalahkannya.
"Aku tidak masalah, lagipula aku malas masak." Ungkap Sulastri mengukir senyuman tipis di bibir Rima.
"Gimana Mas?" Rima menatap suaminya dengan senyuman mengembang.
"Aku setuju."
****
Waktu terus bergulir, Rima selalu melihat jam untuk melakukan ritualnya menundukkan sang suami agar tak jatuh dalam pelukan pelakor.
Nasi hangat sengaja diletakkan di bawah kedua kaki yang melebar, sengaja tak memakai pakaian bagian dalam dan menutupinya dengan kain sarung. Mulai membuka kertas yang berisi mantra ilmu hitam, dengan kesungguhan hati menaklukkan sang suami dengan pelet yang diberikan mak Itam padanya.
Suasana rumah yang gelap sengaja ditutup agar tidak ada yang mengetahui niat kotornya, merasakan cairan merah yang keluar di bagian sensitif dan membiarkannya mengalir juga menetes mengenai nasi hangat, terus merapalkan mantra hingga selesai.
Rima tersenyum licik dan segera mengambil nasi hangat itu dan menutupinya sebaik mungkin.
Begitu banyak lauk pauk kesukaan suami, sengaja memancing supaya Arman tidak bosan untuk makan di rumahnya. Benar saja saat mendengar suara ketukan pintu, Rima berlari untuk membukakan pintu dan melihat kedatangan suaminya yang pulang dari kantor.
"Aku lapar, siapkan aku makanan!" perintah Arman yang melempar tas kerja seraya melonggarkan dasi yang seakan mencekik lehernya.
"Baik Mas." Rima melayani Arman seperti biasa, hingga waktu yang ditentukan merubah suaminya dan takluk olehnya.
Arman makan dengan sangat bersemangat, peluh di yang mengalir di pelipis menjadi saksinya. Makanan kesukaan terbentang di atas piring yang disusun dengan sangat baik, dia akui kalau masakan Rima tak ada duanya, satu kelebihan yang enggan untuk mengatakannya.
"Nasinya di habiskan saja Mas." Eima tersenyum melihat Arman yang terus makan seperti orang kelaparan tidak makan dua hari.
"Pasti." Jawab Arman singkat.
"Bagaimana rasanya?" tanya Rima dengan penuh semangat.
"Biasa aja, aku hanya lapar saja."
"Hem."
"Setiap aku makan kesini kamu tidak pernah makan denganku, pasti kamu menaburkan racun dalam makanan ini 'kan?"
"Huss, gak boleh berburuk sangka Mas. Aku sengaja melayanimu selama satu bulan penuh dan ini hari terakhirnya, bagaimana dengan persiapan pernikahan kalian?"
"Sangat mencurigakan, kemarin kamu gak suka kalau aku nikah sama Sulastri. Tapi, ini malah kebalikannya."
"Apa salahnya aku mendukung, toh istri sah hanya aku dan dia cuma istri siri." Jawab Rima sekenanya.
Arman membasuh tangannya di dalam mangkuk kecil yang terbuat dari plastik, bersendawa menandakan jika dia menikmati hidangan yang di siapkan Rima. "Aku sudah selesai."
Rima mengangguk dan membersihkan meja makan, tersenyum tipis tanpa di ketahui Arman yang saat itu sudah beranjak dari meja makan.
Di malam hari, Arman merasakan ada yang aneh dalam dirinya. Biasanya dia membayangkan bercinta dengan Sulastri dan menjadi pusat fantasi liarnya. Entah mengapa dia merasa bayangan itu seketika lenyap dan di gantikan oleh bayangan istrinya, Rima.
Arman merasakan gejolak hasrat seorang lelaki segera menghampiri Rima yang tengah mengelap piring yang baru selesai di cuci, melingkarkan kedua tangan membuat wanita itu tersentak kaget.
"Aku sangat menyayangimu, Rima."
"Aku tidak salah dengar Mas?" ucap Rima hampir tak percaya.
"Kamu terlihat sangat seksi, habiskan waktu bersamaku malam ini saja." Bisik Arman yang terus menggoda istrinya itu.
"Kena kamu mas," batin Rima tersenyum puas, dengan kasar menghempaskan dua tangan kekar yang memeluknya dari belakang. "Besok adalah hari pernikahanmu dengan Sulastri, aku tidak ingin menjadi pengacau."
"Aku tidak ingin menikah dengannya."
"Lalu, kamu sudah mengundang beberapa orang menjadi saksi pernikahan dan uang. Apa yang di pikirkan Sulastri kalau mengetahui calon suaminya menghabiskan malam bersama dengan wanita lain?"
"Aku tidak peduli, kamu itu istriku. Seharusnya dia mengerti dan memahami situasi ku saat ini, aku menginginkanmu malam ini."
"Kamu harus memilihku atau dia, Mas."
"Tentu saja aku memilihmu."
"Buktikan dengan Mas datang kesana dan batalkan pernikahan itu, hanya itu satu-satunya cara agar aku yakin memberikan hak suami istri."
Rima sangat puas melihat ekspresi Sulastri yang sangat terkejut dengan pernyataan calon suami yang membatalkan pernikahan yang akan diadakan esok hari, tangisan pecah dan menyalahkannya sebagai dalang.
"Kamu pasti menghasutnya mas Arman!" tuduh Sulastri membentak Rima dan menyeretnya dengan kasar.
"Jangan kasar sama istriku!" ucap lantang Arman yang membela Rima, melototi Sulastri dengan penuh ancaman juga kemarahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
maksud nya tuh nasi d campur ama darah ya thor..???
darah apa itu yg netes k nasi ??
dosa Rim dosa..mendingan cerai aja dr pda babak belur tuh badan
masih ada lelaki baik dan normal otak nya
2023-01-18
2
Ray
Kadang sakit hati dan balas dendam bisa membutakan mata hati seseorang untuk bersekutu dengan setan, itu yg dilakukan Rima🤔🙏
2023-01-18
0
Erni Cahaya Nst
rima sih engga slh jlnnya yg slh lannjt thor anf smangaat❤️❤️❤️
2022-12-23
0