Sebuah tamparan keras melayang tetap di bagian pipi sebelah kanan, Rima meringis dan berusaha untuk menopang tubuh yang hampir tumbang. Rasa panas dan perih, meninggalkan bekas memerah juga bengkak.
"Apa kesalahanku kali ini, Mas?" tanya Rima di sertai isakan tangis, menatap ke arah Arman dengan sorot yang tajam.
"Oh, jadi selama ini kamu memata-matai aku?" Ungkap Arman yang meninggikan intonasi suaranya, sangat marah terlihat dari rahang yang mengeras serta gigi yang di gertakkan.
"A-aku tidak memata-matai mu, Mas. Untuk apa aku melakukan itu?" Elak Rima yang sangat terkejut jika sang suami telah mengetahui niatnya. Kepekaan perasaan bagi seorang istri sangatlah kental, dapat mencium niat suami yang mulai mencari hiburan di luar rumah.
"Bohong! Aku sudah tahu semuanya, jangan berbohong, Rima Lestari." Tekan Arman yang sangat marah bila menyebut nama lengkap secara langsung.
Deg
Rima diam membeku tak dapat berkutik jika berhadapan dengan suaminya yang dalam keadaan marah dan emosi, dirinya tak bisa membendung menyembunyikan kebenaran.
"Mau buktinya?" Arman mendapatkan rekaman suara sang istri dengan rekan kerjanya. "Masih mau mengelak."
Secepat kilat Rima bersimpuh di kaki suaminya, memohon dan meminta ampun dengan deraian air mata penuh penyesalan. Tak bisa di pungkiri jika dirinya masih mencintai sang suami, segala macam cara telah di tempuh dan memilih menggunakan pelet yang ternyata membutuhkan waktu.
"Maafkan aku, Mas." Lirihnya dengan kedua mata berbinar saat mendongakkan kepala.
Arman dengan teganya menghempaskan tubuh sang istri hingga terjerembab ke atas lantai, kemarahan yang luar biasa menjadikannya sebagai seorang iblis tak berperasaan.
"Maaf katamu? Setelah aku menunjukkan bukti itu?"
"Tolong maafkan aku, Mas. Aku terpaksa melakukan itu karena sangat mencintaimu dan tak ingin di tinggal dengan wanita lain." Jawab Rima jujur, walau harapan terlihat sangat kecil setidaknya ada titik celah untuk mendapatkan hati sang suami.
Hati yang membeku sudah tak bisa di tahan, Arman menyunggingkan senyuman tipis seraya manggut-manggutkan kepala. "Berdiri!" tekannya tegas.
"Tidak, sebelum Mas memaafkanku." Tolak Rima menggelengkan kepala.
"Kamu ingin aku berbuat kasar, hah? Cepat bangun!" sarkas Arman seraya menggenggam kedua bahu sang istri dengan sangat erat, tak peduli dengan erangan kesakitan. "Aku akan memaafkanku, asal–."
"Asal apa Mas?" tanya Rima yang spontan.
"Asal aku boleh menikah lagi."
Deg
Dirinya bagai tersambar petir, mendengar ucapan yang keluar dari mulut suaminya. Memaksanya untuk rela di madu, hati seorang istri mana yang tak sakit mendengar permintaan konyol itu. Dirinya bahkan sudah berusaha keras menjadi istri yang sempurna, namun pernikahan baru dua tahun belum bisa di terima Arman sepenuhnya.
Hati tersayat sebilah pisau tajam, waktu terhenti dalam waktu yang lama. Kedua tungkai kaki bergetar dan tak sanggup menopang bobot tubuh, Rima tak berdaya menghadapi permintaan dari kalimat pendek suaminya. Hal yang di takutkan dan dihindari malah membuatnya jatuh ke lubuk terdalam, cairan bening di pelupuk mata tak sanggup ditopang hingga membasahi kedua pipinya.
"Siapa calon mu, Mas?" lirih Rima yang berusaha menguatkan hati.
"Sulastri."
"A-apa? Su-Sulastri?" Rima rak percaya jika orang kepercayaannya dalam memantau sang suami malah mengkhianatinya, baru melihat dua sisi yang dimiliki oleh sahabatnya itu. "Apa rekaman itu dia yang mengirimnya padamu?"
"Siapa lagi, apa begini caramu untuk mengikatku? Pernikahan ini bukanlah kemauanku, melainkan paksaan. Sudah lama aku mencintai Sulastri dan rasa itu tak bisa di hindari lagi."
"Apa?" Rima semakin tak menyangka jika dirinya malah terjebak, menjadikan Sulastri sebagai teman baik tapi malah merebut Arman darinya. Air mata yang berderai itu segera dia seka, bangkit untuk protes dengan ketidakadilan yang di dapat. "Ya, aku memata-matai mu lewat Sulastri. Tapi, tak menyangka dia memiliki dua wajah dan topeng yang sampai aku sendiri tidak menyadarinya. Aku melakukan semua itu karena mencintaimu dengan tulus, menerima semua perlakuan burukmu yang selalu ringan tangan padaku. Terserah jika Mas tidak ingin memaafkanku, tapi satu hal yang pasti aku tak akan memberimu izin menikah."
Plak!
"Lancang kamu ya, tidak ada hak seorang istri melarang pernikahan suaminya. Nabi saja mempunyai banyak istri bahkan di dalam islam pria boleh menikah hingga empat kali tanpa meminta persetujuan. Lalu, siapa kamu yang mencoba untuk melarangku?" jelas Arman yang segera berlalu pergi dari tempat itu, menutup pintu dengan sangat keras membuat Rima terlonjak kaget mengenai aksi kemarahannya.
"Dasar pengkhianatan, jadi Sulastri menikam ku dari belakang, diam-diam mas Arman dariku." Rima menyeka kering air mata di kedua pipi, mata yang sembab tak di hiraukan lagi. Terlihat kobaran api balas dendam, mengenai dirinya yang menjadi korban.
Keesokan harinya, Rima tak sengaja melihat Sulastri yang tengah berbelanja kebutuhan di warung kecil. Bergegas menemuinya dengan kemarahan yang sebentar lagi meluap.
"Dasar lont*...pel*cur, aku menganggapmu sahabat tapi kamu malah menusukku dari belakang." Rima menjambak rambut Sulastri dengan sangat erat, keduanya saling tarik menarik rambut membuat para ibu-ibu datang berkunjung melihat aksi heboh ke duanya.
"Wanita gila, lepaskan aku!" pekik Sulastri memukul tangan Rima, namun tarikan di rambutnya semakin erat membuatnya meringis kesakitan.
"Terimalah pelajaran dariku, wanita busuk." Rima semakin bersemangat menarik rambut panjang Sulastri, apalagi melihat helaian demi helaian rambut yang rontok di tangannya.
Para ibu-ibu komplek mulai berdatangan, bukannya melerai mereka malah mem videokan aksi nekat keduanya dengan memberi caption melabak sang pelakor.
Berita yang tersebar di jejaringan sosial, Arman sangat terkejut melihat tingkah Rima yang sudah kelewat batas.
"Aku tidak bersalah, salahkan suamimu sendiri yang menyimpan perasaan juga menggodaku di kantor." Celetuk Sulastri yang sombong bisa merebut suami Rima dengan pesonanya.
"Pelakor gatal, kamu pikir aku diam saja dengan pengkhianatan ini?"
Bugh!
Rima tersenyum puas berhasil meninju perut Sulastri dengan sangat kuat, memberikan pelajaran yang tak terlupakan seumur hidup oleh sang pelakor.
"Rima!" terdengar suara yang tak jauh dari kerumunan, sangat familiar.
Rima yang mendengar namanya dipanggil oleh seseorang yang tak lain adalah Arman, sangat terkejut dan segera menoleh ke sumber suara. terlihat raut wajah yang tidak bersahabat penuh dengan kemarahan, tanpa disadari sang rival telah menjauh darinya.
"Rasakan kamu, Rima." Ucap pelan Sulastri tersenyum puas saat melihat sang penyelamat datang membalaskan rasa sakit di seluruh tubuh.
"Mas Arman."
"Brengsek, berani kamu menyakiti calon istriku!" Arman yang gelap mata tanpa berpikir panjang menampar sang istri di hadapan umum, sekaligus memberi pelajaran untuk tidak berbuat seenaknya.
"Mas, lihat tuh istri kamu. Rambut aku rontok, dan tubuhku penuh lebam juga cakarannya." Sulastri datang mendekat memegang kedua tangan Arman manja, sengaja memanas-manasi istri sah tanpa peduli jika orang yang berada di sana menganggapnya pelakor.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
dasar Sulastri..
musang berbulu ketek..
bisa bisa nya dia embat suami teman sendiri..
2023-01-18
1
Ray
Musang berbulu domba si Sulastri 😡
2023-01-18
0