Bab 12

Usai menjalankan kewajiban sebagai umat islam, Rima merasakan hatinya lega setelah mengadu kepada sang Rabb, dimana dirinya yang tidak sanggup diperlakukan tidak adil oleh sang suami yang kembali beralih pada wanita lain. 

Nasib Rima dan pernikahannya berada di ujung tanduk, janin yang tumbuh di rahim membuatnya sangat sedih mengingat dirinya akan diceraikan Arman setelah bayi itu lahir ke dunia. 

Dia membuka mukenanya, namun dirinya tiba-tiba terpental mengenai dinding. 

Rima merasakan kesakitan di bagian punggung, tubuhnya seperti di seret sesuatu yang tidak bisa di lihat olehnya. Lehernya di cekik dengan sangat keras, merasakan panas di tenggorokan. Dua berusaha meminta tolong, tetesan air mata mengingat dirinya yang mungkin tidak bisa bertahan lagi.

Rima tahu kalau serangan itu dari seseorang yang membencinya, Sulastri. Air matanya luruh dan ingin berteriak meminta tolong, cengkraman di lehernya kian mengerat. 

Sesaat kemudian, Rima menarik semua oksigen sebanyak mungkin. Terlepas dari cekikan dari makhluk yang berwujud kepulan asap hitam, segera keluar dari kamar terbirit-birit karena sangat takut jika kembali mendapatkan serangan berikutnya. 

Bayangan yang semula hanya kepulan asap berubah wujud menjadi dua makhluk gaib yang sangat mengerikan, kesendiriannya yang ada di rumah apalagi Arman pergi entah kemana membuatnya sangat ketakutan. 

"Jangan kau mengganggu Rima lagi." 

"Kau siapa yang berani ikut campur dalam urusanku?" 

"Darma, suaminya." 

Sontak makhluk yang berwujud mengerikan itu tertawa saat melihat Darma yang mengaku menjadi suami dari sasaran objeknya. "Siapapun kau aku tidak peduli, yang terpenting dia mangsaku." 

"Sekali saja kau menyentuhnya maka aku akan membunuhmu, Braja." 

"Coba saja."

Kedua makhluk yang sangat mengerikan saling bertarung, sementara mak Itam yang tengah merapalkan mantra merasakan sesuatu yang tidak biasa, dimana salah satu sekutunya membangkang dengan perintahnya.

"Darma sialan, dia masih saja mengakui Rima sebagai istrinya." Mak Itam meletakkan sesuatu ke dalam cawan dan membuat asap memenuhi ruangan. 

Rima bersembunyi dan melihat pertarungan itu dari kejauhan, ada rasa takut juga penasaran apalagi salah satu makhluk mengerikan itu mengakuinya sebagai istri. "Bagaimana aku bisa terlepas dari semua ini?" dia terdiam memikirkan jalan keluar, akibat ritual itu dirinya malah di hadapkan dengan makhluk gaib dan mengakuinya sebagai seorang istri. 

Darma tertawa puas saat berhasil memenangkan pertarungan itu dan menyebabkan mak Itam, Braja terkena imbasnya. Dia menoleh ke arah Rima yang bersembunyi dan tersenyum, merubah penampilannya seperti seorang pangeran dari keraton. 

"Jangan mendekat." Rima sangat ketakutan, mengangkat sebelah tangannya untuk menghentikan langkah pria tampan itu.

"Apa kamu takut melihat suamimu sendiri?" terlihat guratan sedih juga kecewa di mata Darma.

"Aku hanya memiliki satu suami dan manusia." 

"Kamu sendirilah yang menerima syarat mak Itam dan menjalankan ritual malam jumat kliwon, kita bahkan sudah bersatu." Jelas Darma.

Rima ingat benar bagaimana dia menjalankan ritual jumat kliwon tanpa busana, ternyata itu mengikatnya dengan pria tampan di hadapannya. "Aku tidak ingin berurusan denganmu, pergilah!" 

"Jangan mengusirku Dinda, aku sudah menunggumu. Ikutlah denganku dan kamu tidak akan sedih mengenai kesunyian yang selama ini di rasakan." Darma mengulurkan sebelah tangannya dengan tatapan penuh cinta, tidak peduli jika dunia mereka sangatlah berbeda dan melawan hukum alam. 

Rima tidak setuju, memundurkan langkah kakinya dalam ketakutan mendalam terlihat dari keringat membasahi tubuh. "Jangan ganggu aku, pergilah!" 

"Apa yang kamu cari disini? Arman sedang bersama dengan Sulastri, wanita yang ingin menyantet mu lewat Braja dan mak Itam. Kamu akan aman jika bersamaku, dan membawamu ke alamku." 

"Tidak." Pekik Rima menolak dan mengundang beberapa orang yang secara tak sengaja mendengar teriakannya. 

"Aku pasti kembali membawamu, Dinda." Darma hilang bak di telan bumi bersamaan dengan orang-orang yang datang ke sumber suara. 

Rima sangat ketakutan hingga dia tidak berani tidur di rumah sendiri, mengingat perkataan Darma jika kiriman santet itu berasal dari mak Itam dan Sulastri. Dia terus berlari sambil memegang perut yang terasa sakit, rasa sakit belum apa-apa dibandingkan sikap suaminya yang tidak berubah, cuek dan tidak perhatian padanya. 

Dia tidak percaya mengenai perkataan makhluk gaib itu dan ingin membuktikannya sendiri, pergi untuk menemui Arman di rumah Sulastri. Baru saja sampai, dia melihat sang suami tengah memadu kasih bersama wanita lain, rasa sakit kembali di terima dengan pengkhianatan yang sungguh kejam. 

"Mas Arman." Lirih Rima seraya membuka pintu dengan paksa hingga menimbulkan suara keras membuat dua orang yang mabuk asmara terlonjak kaget. "Apa ini Mas? Kamu bersama wanita ini dan membiarkan aku hampir mati." Ucapnya meninggikan suara. 

"Rima?" Arman sangat terkejut melihat kedatangan istrinya dan menghentikan perbuatan yang sangat memalukan, berbeda dengan ekspresi Sulastri yang tersenyum kemenangan dapat merebut lelaki yang dicintai dari tangan wanita lain menjadi suatu kebanggan tersendiri. 

"Sudahlah Mas, jangan menutupi apapun lagi darinya mengenai hubungan kita yang batal menikah juga karena dia. Talak saja istri kamu yang licik itu," ujar Sulastri mengomporinya. 

"Aku tidak bisa mentalak nya." 

"Kenapa?" 

"Aku hamil anak suamiku, dan tidak bisa bercerai." Entah mengapa Rima merasa dirinya tidak berguna dalam mempertahankan rumah tangga yang tidak sehat dari pertama akad nikah. 

"Dia hamil Mas?" Sulastri sangat kesal mendengarnya, Arman yang mengangguk semakin membuatnya dendam. "Janin yang ada di dalam rahim Rima lah yang menjadi akarnya, aku harus melenyapkannya." Batinnya tersenyum jahat.

"Iya, sial nya dia hamil anakku. Tapi aku pasti menceraikannya setelah anak itu lahir."

"Bisa aja dia kembali main curang dan pergi ku dukun, memelet mu seperti yang pernah dia lakukan." Sewot Sulastri.

Arman sangat kesal membayangkan kejadian itu, ingin sekali terlepas dari Rima setelah kesalahan yang tidak bisa di maafkan.

"Aku pernah melakukan itu, tapi sekarang sudah tobat." 

"Alah, paling itu hanya bualan kamu saja." 

"Diam kamu, dasar pelakor." Rima terpancing emosinya melihat Sulastri yang memanasinya. Berjalan mendekati wanita yang merebut suaminya seraya memberikan tamparan keras sebagai peringatan. Matanya yang tajam melihat sang pelakor, sudah pasrah jika dirinya harus menjadi janda setidaknya mempunyai harga diri. 

"Itu hadiah dariku." Ucapnya tegas, mengalihkan perhatian pada sang suami dengan tekad yang sudah di putuskan. 

"Aku sudah lelah, kalian sangat cocok menjadi pasangan. Aku memilih mundur dari pernikahan yang tidak sehat, pria sepertimu tidak pantas aku pertahankan. Jangan cemaskan kehamilanku, aku bisa menjaga diriku sendiri." 

"Baguslah kalau kamu sadar diri." Sela Sulastri tersenyum meremehkan. 

Rima juga ikut tersenyum miring. "Seharusnya kamu yang sadar diri, merebut suami orang dengan mencari celah." 

Keributan di dalam rumah terdengar oleh para tetangga yang sebentar saja orang-orang yang penasaran mengelilingi tempat itu. 

Terpopuler

Comments

Ganuwa Gunawan

Ganuwa Gunawan

ya begitu lah pelakor..
bangga akan status pelakor nya..
pelakor sekarang mh berani berani...
kga ada takut nya pisan..

2023-01-18

1

Ray

Ray

Bisa jadi Rima malah makin terperosok ke dalam dosa, bersekutu lagi dengan setan, apalagi makin rapuh imannya 😱🤔🙏

2023-01-18

0

Noorkhalidah Hj

Noorkhalidah Hj

cerita bagus

2022-12-24

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!