Rima melihat sekeliling kamar dengan lampu yang tiba-tiba mati, ketakutan yang sangat besar. Keringat dingin yang menjalar di seluruh tubuh, ritme jantung yang berpacu dengan cepat, ketakutan tanpa landasan jelas. Kini dirinya terduduk di sudut ranjang sembari menutupi tubuhnya dengan selimut, rasa takut saat dirinya di teror sesuatu.
"Mas Arman…mas!" pekik Rima yang meminta bantuan, tak ada sahutan semakin membuatnya gelisah dan tampak kacau. "Mas…lampunya mati, aku takut." Wajah yang sudah pucat pasi, tubuh yang terus gemetaran tak bisa di kontrol olehnya.
Bugh!
Kepala Rima seperti dihantam sesuatu yang bahkan tidak diketahuinya, hanya meringis sebagai bentuk refleks rasa sakit yang dialami. Dia merasakan sepasang tangan besar mencekik lehernya, berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman dari makhluk tak jelas terlihat di pandangan mata.
"Ma–mas Arman." Lirih Rima dengan suara yang parau, leher yang tercekik semakin membuatnya tak bisa bernafas, terus memanggil sang suami yang tak menyahut sedari tadi membuatnya hampir putus asa.
Betapa terkejutnya Rima saat melihat makhluk yang sangat besar berwarna hitam, bulu kuduknya meremang saat bertatapan mata yang berwarna merah menyala, juga memiliki gigi yang tajam. Namun perlahan cengkraman di lehernya terlepas, dirinya menghirup oksigen sedalam mungkin.
Rima terbatuk-batuk seraya melihat maklum yang sangat mengerikan masih menatapnya tajam, perlahan dia beringsut dari ranjang dan ingin keluar dari kamar. Namun sayang, pintu tiba-tiba terkunci kembali menguji adrenalinnya saat ini.
"Si-siapa kamu!" pekik Rima yang sangat ketakutan, tidak ada sahutan dan jawaban dari mahluk besar hitam legam yang terus mendekatinya. "Jangan sakiti aku, aku tidak ada urusan denganmu."
Rima menangis di dalam ketakutan, tidak bisa di bayangkan bagaimana dirinya berhadapan pada makhluk halus dan kali pertama merasakannya. Seluruh tubuh dan kedua tungkai kaki lemas, saat hanya berjarak satu jengkal dari makhluk hitam legam yang tiba-tiba menyerangnya.
Tidak ada pilihan lain, Rima memejamkan kedua mata dengan ketakutan yang luar biasa. Terdengar suara ketukan pintu membuatnya terlonjak kaget dan melihat lampu yang sudah menyala, segera keluar dari sana dan berlari ke asal suara.
"Mas Arman." Rima memeluk suaminya yang ada di depan pintu dengan sangat erat, seakan ketakutannya bertukar menjadi kelegaan di hati.
"Kamu kenapa?" Arman melihat wajah istrinya yang ketakutan setengah mati, wajah pucat dan tubuh gemetaran dapat terasa olehnya. Dia segera membopong dan membawanya duduk di kursi, menuangkan segelas air mineral dan menyerahkannya. "Minumlah agar kamu terlihat baik."
Rima melirik kiri dan kanan dengan ketakutan, tangan gemetar saat memegang gelas yang berisi air minum dan meneguknya hingga habis.
"Cerita sama ku, kamu kenapa? Wajahmu sangat pucat dan seperti di kejar hantu." Arman menatap wajah Rima yang penuh keringat, mengelapnya dengan tisu yang ada di meja mudah di jangkau olehnya.
"I-itu Mas, aku tadi melihat hantu." Ucap Rima yang berusaha mengontrol rasa takut, dan teringat sesuatu. "Bukannya Mas ada di rumah, kok bisa di luar?" tanyanya sembari menelan saliva.
"Ngawur kamu, aku baru saja pulang dan melihat wajah ketakutanmu."
"Kalau mas Arman baru pulang, jadi tadi siapa?" batin Rima yang kembali diterjang rasa ketakutan mendalam.
"Sudahlah, gak usah di pikirin. Mungkin kamu lelah, sebaiknya kita istirahat saja." Arman membawa sang istri masuk ke dalam kamar, dan berpikir jika itu hanyalah halusinasi saja.
Rima menatap langit-langit kamar beberapa lamanya, memikirkan kejadian yang tak masuk di akal baru saja dia lewati. "Makhluk apa tadi yang mencekik ku? Wajahnya sangat menyeramkan, apa yang sebenarnya terjadi?" pikirnya seraya menoleh ke samping, menatap wajah sang suami yang belum tertidur. "Aku takut Mas."
"Itu hanya halusinasi kamu saja, gak usah di pikirkan." Arman memeluk tubuh Rima dan satu selimut, memberikan kasih sayang pada wanita yang pernah dia siksa.
Rima merasa nyaman dengan pelukan Arman, kali pertama dia mendapat perlakuan yang membuatnya tergoyah. Menatap wajah tampan sang suami yang sangat dia cintai, merasa sendu dengan perhatian kecil itu.
"Aku ada di sini, tidurlah." Ucap Arman dengan lembut, memberi kecupan di dahi sang istri penuh cinta.
Rima yang terbuai perlahan menepis perasaan itu, dimana sikap sang suami yang berubah akibat nasi kangkang yang selalu dia suguhkan.
"Ini hanya fatamorgana saja Rima, mas Arman melakukan mu dengan spesial akibat pelet yang diberikan mak Itam. Ingat bagaimana dia yang selalu ringan tangan, memukul, menampar, dan juga menbentakmu dengan begitu rendahnya. Dia masih orang yang sama, dan tidak pantas untuk kamu bersikap baik padanya, lelaki pengkhianat tidak seharusnya diperlakukan baik." Batin Rima yang terus bergejolak berperang dengan sikap yang diberikan pria di sebelahnya.
Keesokan harinya, Rima memastikan Arman untuk sarapan pagi dengan nasi kangkang yang sudah tersamarkan setelah mengucapkan ajian yang diajarkan mak Itam. "Habiskan nasinya Mas, khusus buat kamu." Tersenyum indah, tentu saja melihat lahapnya sang suami makan.
"Tapi kenapa kamu tidak pernah ikut makan denganku?" Arman penasaran, diam-diam dia memperhatikan sang istri.
Rima gelagapan dengan pertanyaan suaminya, namun tetap tenang agar tidak di curigai. "Aku masak khusus buat Mas, dan tadi sudah makan."
"Ooh begitu." Arman manggut-manggut kan kepala. "Kamu sudah tidak apa-apa kan?" tanyanya yang memastikan.
"Aku baik Mas."
"Syukurlah kalau begitu."
Seperti biasa Rima memastikan suaminya telah berangkat ke kantor, kejadian semalam membuatnya tak bisa memikirkan semua itu.
"Aku harus memastikan semuanya, apa yang terjadi semalam tidaklah main-main."
Sesampainya di rumah mak Itam, Rima datang dengan penuh harap, ingin memecahkan seluruh pertanyaan yang ada di dalam benaknya.
"Mak, ada yang ingin aku tanyakan mengenai kejadian semalam."
Wanita tua rentah yang tengah menyirih cengengesan dengan kedatangan Rima yang mulai ketergantungan dengannya. Tertawa menyeramkan membuat bulu kuduk merinding, rela menahan rasa takut yang diam-diam menyentuhnya.
"Tanyakan saja, ada apa?" ucap mak Itam yang sepertinya sudah tahu dengan tujuan kedatangan Rima.
"Semalam aku di serang makhluk halus, tubuhnya besar, tinggi, warna kulit hitam legam, wajah menyeramkan dan kedua mata merah persis seperti api menyala. Makhluk itu mencekik leher dan juga sekelebat bayangan hitam yang mendorong tubuhku Mak, apa maksudnya itu Mak?" jelas Rima yang bulu kuduknya meremang.
"Itu serangan yang memang di tujukan untuk menerormu."
"Tapi siapa yang menerorku, Mak?" tanya Rima penasaran.
"Kamu pasti tahu orangnya, dia paling membencimu dan aku sudah mengatakan ini sebelumnya."
Sontak Rima mengetahui dan mulai menyimpulkan jika itu pekerjaan Sulastri yang batal menikah dengan suaminya, Arman.
"Apa dia Sulastri Mak?"
Dengan cepat mak Itam mengangguk pelan sembari tersenyum tipis.
"Mak, bantu aku untuk menyerang Sulastri. Buat wanita gatal itu menderita dan di jauhi oleh orang lain, juga mendapatkan kebencian semua orang."
"Itu mudah, tapi kamu harus setuju dengan syaratnya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Ray
Mak Itam mulai memainkan perannya🤔
2023-01-18
0