Bab 17

Rima tersenyum saat melihat sebuah jendela yang tak berada jauh darinya, bukan karena penampilan uniknya melainkan sangat penasaran apa yang ada di luar saja. Wanita malang itu tidak tahu apa yang tengah di alaminya, bahkan dia tidak mengingat mengapa dia berada disana dan melupakan masa lalunya.

Ya, Rima sudah melupakan jika dirinya telah kehilangan calon anaknya yang belum lahir, semua itu karena dirinya berada di alam yang berbeda dengan alam aslinya. 

Pemandangan di luar sangat nyata, bunga bermekaran indah dan di tengahnya ada air pancur di bawahnya terdapat ikan hias yang dia sendiri tidak tahu namanya. Rima sangat ingin kesana, pasti menyenangkan jika menghabiskan waktu di tempat itu. Namun yang tidak dia ketahui, beberapa pasang tengah mengintainya dengan aura pengancam. 

"Jadi dia yang bernama Rima?" ucap seorang gadis cantik menggertakkan gigi. 

"Benar Tuan putri." 

"Tapi mengapa dia bisa berada disini? Bukankah dia manusia dan tidak seharusnya tinggal di keraton ini?" 

"Pangeran Darma yang membawanya kemari Tuan putri, dan mengklaimnya sebagai seorang istri. Hamba hanya tau itu saja, kabar burung beredar lebih cepat disini." 

"Mana mungkin kang mas Darma membawa wanita itu." 

"Tapi itulah kenyataannya Tuan putri." 

Wanita cantik yang sedang mengintip dibalik semak bunga bernama Sekar Sari, tunangan dari Darma yang di jodohkan. Wanita bunian juga tuan putri dari selatan, dia sangat mencintai Darma, tunangannya. Kedatangan Rima tentu saja membuatnya sangat tidak menyukai dan berjanji akan membuat wanita yang dicap sebagai perebut tersiksa. 

"Sebaiknya kita pergi sebelum raja melihat keberadaan kita." 

"Baik Tuan putri." 

Sementara Rima menghela nafas berat, dirinya begitu bosan berada di dalam sangkar emas itu dan ingin sekali pergi ke taman yang sangat indah. 

"Apa yang membuat Dinda melamun?" ucap seseorang mengalihkan perhatian Rima yang langsung berbalik badan, terlihat seorang pria tampan memakai baju khas kerajaan. 

"Darma? Tapi bagaimana bisa?" sejujurnya Rima sangat terkejut dengan kedatangan Darma tiba-tiba, tapi segera memulihkan ekspresinya. 

Darma menarik pinggang Rima dan melingkarkan sebelah tangannya, jarak yang begitu dekat dan puas menatap netra mata indah yang begitu memabukkan keduanya.

"Apa Dinda lupa siapa aku?" Ucap Darma sembari mencium bibir Rima dengan sangat lembut, memberikam sensasi kenyamanan. Perlakuan yang semakin romantis terus saja dia berikan dan tanpa di sadari harus di bayar mahal di kemudian hari. 

"Ya, kamu adalah suamiku yang tampan." Rima mulai melupakan kehidupan di alam manusia secara perlahan, akibat dirinya yang menembus dimensi lain untuk waktu lumayan lama.

"Aku tahu itu. Jawab pertanyaanku, mengapa Dinda melamun dan melihat keluar jendela?" 

"Aku sangat bosan disini." Rima menghela nafas, tidak ada rutinitas yang membuatnya sibuk. 

"Aku berjanji akan membawa Dinda ke taman itu, tapi bukan sekarang." 

"Memangnya kenapa?" 

"Nyawa Dinda tengah di pertaruhkan." Ucap Darma menghela nafas berat, wangi yang di bawa Rima sangat khas dan menarik makhluk gaib lainnya untuk datang dan menculik istri manusianya. 

"Tapi apa kesalahanku?" 

"Dinda tidak salah apapun, di sini bukanlah alammu. Tentu saja makhluk lain tertarik untuk mendekat, dan ingin merebut Dinda dari ku." Jelas Darma. 

Rima hanya membalasnya dengan anggukan kepala pertanda dia paham, memang tidak seharusnya dia berada di alam itu. 

"Lupakan itu, kamu kemana tadi kemana saja?" tanya Rima yang begitu mudahnya termakan hipnotis dari kekuatan Darma yang membuatnya terpikat, hingga lupa masa lalunya.

"Ada urusan yang harus di selesaikan." Jawab Darma singkat dan tak ingin membahasnya. Dia terpaksa bekerja dua kali lipat memperketat keamanan Rima yang berada di alamnya, itu sebabnya meminta wanita itu agar tidak keluar dari kamar. Ada banyak pasang mata yang mengintai, aroma darah manusia masih kental terasa. 

Darma sudah berusaha keras demi penyatuannya kepada Rima yang di anggap istrinya, dia bahkan rela menerima penghinaan dari ayahnya selaku raja di tempat itu. 

Belum lagi urusannya dengan raja tetangga yang terus memaksanya untuk mengembalikan wanitanya ke alam manusia, mengingat pertunangannya dengan putri Sekar Sari akan di adakan dalam waktu dekat ini. 

"Aku merasa tidak nyaman disini, seperti ada yang mengintaiku." Tutur Rima yang sedikit takut. 

"Untuk itulah Dinda tidak di izinkan keluar dari kamar ini, banyak bahaya yang mengintai." Darma tahu kalau tuan putri Sekar Sari datang ke keranjaan untuk melihat Rima, istri manusianya. 

"Apa aku terus berada disini? Itu sangat membosankan." Keluh Rima. 

"Aku akan datang setiap kali Dinda bosan." 

Rima memeluk Darma erat, hipnotis cinta semu yang di berikan Darma terlihat sangat nyata, hubungan yang sangat di tentang alam tak akan pernah bisa bersatu walau mereka mencoba untuk memaksakan diri. 

*

*

"Bagaimana kondisinya Dokter?" ucap seseorang yang sangat khawatir dengan kondisi wanita tengah terbujur lemas di atas brankar rumah sakit. 

"Seharusnya pasien sudah sadar, mungkin sebentar lagi. Saya pamit dulu!" jawab wanita berjas putih seraya pamit keluar dari ruangan. 

Seorang wanita yang berpakaian syar'i dan mengenakan cadar itu sangat khawatir dengan wanita di atas brankar, mendapatkan kabar yang kurang mengenakan dari tetangga pasien. 

Ya, dia adalah Aisyah yang sangat ingin berkunjung ke rumah Rima, tapi rumah kediaman tampak kosong tak berpenghuni juga ada garis polisi di sekelilingnya. 

Aisyah sangat panik saat mengetahui kabar kematian suami Rima dan orang ketiga yang menjadi perusak rumah tangga temannya itu, tidak ada yang tahu pasti kronologis kematian keduanya karena polisi masih menyelidiki penyebabnya. 

Dia sangat sedih melihat Rima yang tak memiliki semangat untuk hidup, kondisi yang menurut pakar kedokteran sudah sadar namun sampai sekarang belum juga membuka kedua mata. 

"Rima, apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu bisa seperti ini?" Aisyah meneteskan air mata yang membasahi cadarnya, tidak tahu kenapa temannya itu belum sadarkan diri. 

Aisyah mulai mengambil wudhu dan membaca Al-Qur'an, berharap jika temannya itu akan sadar dan membuka mata. "Ya Allah…Ya Rabb, berikan kesembuhan untuk Rima. Aamiin." Setelah berdoa, dia membuka kitab dan membacanya dengan merdu juga fasih, lembaran demi lembaran selesai dia baca dalam beberapa menit saja. 

Rima kembali bosan di tinggalkan Darma, rasa rindu kepada makhluk yang bukan manusia mendera di hatinya. Tiba-tiba dia mendengar suara yang awalnya terdengar samar dan semakin jelas, dia tahu itu adalah ayat suci Al-Qur'an surah Al-Baqarah. 

"Suara siapa itu? Aku seperti mengenalnya." Gumam Rima di dalam hati, mencari-cari sumber suara yang tidak di temukan. "Suara siapa itu? Siapapun itu tolong tunjukkan dirimu!" pekiknya yang mulai histeris, merasakan tubuhnya sedikit kepanasan. 

Rima menutup kedua telinganya erat, berharap suara itu menghilang. 

Terpopuler

Comments

Ganuwa Gunawan

Ganuwa Gunawan

ayo Aisyah..
tolong s Rima..
kmu pasti bisa membantu nya

2023-01-18

0

Ray

Ray

Kasihan Rima, tetapi keadaan dan iman yg rapuh menyebabkan dia bersekutu dengan makhluk Bunian itu😭🙏

2023-01-18

1

Mir_rim22

Mir_rim22

semakin seru... lanjut kak....

2022-12-19

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!