Bab 15

Arman mengacak-acak rambutnya frustasi jika hutang yang di sebabkan untuk memenuhi kebutuhan Rima semakin menambah beban di dalam pikiran, bahkan dia sudah berusaha untuk mencari pinjaman namun tak ada yang memberikannya pinjaman. 

Teringat akan perhiasan emas yang di berikan Rima sebelum drama itu di mulai, mungkin bisa menebus setengahnya. 

Langkah gontai saat pulang bekerja, duduk di depan teras rumah seraya melonggarkan dasi yang terasa mencekik. Sulastri sedari tadi memperhatikan Arman yang tampak kusut seperti seorang yang banyak beban pikiran. 

"Mas baru pulang?" tanya Sulastri yang ikut duduk, beruntung rumah di tempatinya mempunyai pagar tinggi jadi tak ada tetangga yang curiga dengan keberadaannya. 

"Iya nih, buatin aku kopi dong." Pintanya menoleh. 

"Minta Rima yang membuatnya, aku masih capek." Cetus Sulastri yang tidak mau menjadi pembantu melayani pria yang masih berstatus sebagai calon suaminya. 

Arman berdecak kesal mendengar penolakan Sulastri yang selalu saja mempunyai alasan ketika dia menyuruhnya ini dan itu, melimpahkan hanya kepada sang istri. "Rima…Rima." Panggilnya setengah berteriak.

"Gak usah berteriak Mas, aku gak tuli." Ketus Rima yang berdiri di depan pintu. 

"Buatin aku kopi." 

"Aku juga dong." Sambung Sulastri seraya mengibas wajahnya menggunakan tangan. 

"Enak aja main suruh-suruh, kalau mau ya buat sendiri." Rima sangat enggan melayani Arman karena Sulastri masih ada di rumah mereka, dan berlagak seperti ratu berkuasa. 

"Kurang ajar banget istri kamu, Mas." Celoteh Sulastri kesal. 

Arman masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan perkataan kekasihnya, sebelum urusan semakin panjang tak berujung. "Sudahlah, aku capek!"

Niat Sulastri menjadi ratu di tempat itu perlahan kandas melihat sifat dan sikap Rima yang juga tak mengalah, sedikit sangat sulit. "Bagaimana caraku menyingkirkan dia, tidak terjadi apapun padanya, pekerjaan mak Itam tidak becus." Gumamnya di dalam hati. 

Seharian Rima hanya bermain ponsel tanpa beberes rumah dan tidak ada makanan tersedia, memasak ala kadarnya untuk dirinya sendiri. 

Dia melirik Arman yang menghela nafas berat saat tumpukan baju bersih yang belum di setrika menggunung, pura-pura tidak tahu apapun dan mengalihkan perhatiannya ke layar ponsel. 

"Di rumah kamu ngapain aja sih? Gak ada yang beres satupun. Baju-baju aku gak kamu setrika, rumah berantakan, dan makanan di atas meja gak ada." Keluh Arman. 

"Aku bukan pembantumu, suruh aja Sulastri. Lagipula aku lagi hamil ya gak mungkin ngerjain semuanya sendiri, cari pacar itu yang berguna dan rajin Mas." 

"Jangan memulai." Bentak Arman. "Sini semua perhiasan kamu, aku perlu membayar hutang yang kamu ciptakan." Pintanya seraya menadahkan sebelah tangannya, tetapan muak dan benci selalu terarah pada Rima. 

Rima sangat kesal dan terpaksa mengambil sebagian perhiasannya, dia menganggap jika itu haknya dan juga calon anak mereka yang belum lahir. Hatinya juga tidak rela kalau Arman tidak melakukan hal yang sama, sungguh perlakuan yang sangat berbeda. 

"Kenapa perhiasannya cuma segini, mana yang lain?" 

"Gak usah drama Mas, minta aja perhiasan Sulastri. Apa kamu kira aku bodoh, diam-diam kamu membelikan perhiasan untuknya tanpa sepengetahuanku." Beruntung Rima memiliki Darma yang tahu rahasia suami dan juga sang pelakor, ada rasa sesak di hati mengingat kecurangan suaminya itu tak bisa lagi di toleransi. 

Deg

Arman sangat terkejut jika Rima mengetahui hal yang di tutupinya. "Jangan ngawur kamu."

"Tapi itu kenyataannya Mas." 

Arman mencoba untuk merebut perhiasan itu dan membongkar isi lemari dengan paksa, Rima berusaha untuk menghentikannya demi tabungan masa depan buah hati mereka. 

"Jangan ambil perhiasanku, ini demi anak yang ada di dalam kandunganku." 

"Bukan urusanku." Arman terus menggeledahnya dan menemukan kain merah penutup perhiasan emas, menyikut perut Rima hingga wanita malang itu merasakan kesakitan luar biasa. 

"Mas, bantu aku!" lirih Rima yang tak diacuhkan Arman, tanpa peduli darah yang mengalir di kaki. 

Rima keluar dari rumah untuk mencari bantuan, hingga beberapa orang yang lewat di sana segera membawanya pergi ke rumah sakit untuk melakukan pertolongan pertama. 

"Dok, tolong selamatkan janinku." Pinta Rima yang tak sanggup menahan rasa perih seperti terbakar di perutnya, berharap jika calon anaknya tidak kenapa-kenapa. 

"Tenanglah." 

Rima merasakan sakit luar biasa, menatap sekeliling ruangan dan tak sengaja melihat Darma di sudut ruangan tengah memperhatikannya, pandangannya kian mengabur di saat dokter mulai melakukan tindakan pertolongan. 

Kejadian yang dialami Rima membuat Darma sangat sedih, dia tidak bisa datang tepat waktu di saat sekutu mak Itam menyerangnya. Kini dirinya di liputi rasa dendam penuh kemarahan, membalaskan apa yang di rasakan oleh istri manusianya dengan membunuh Arman dan juga Sulastri. 

"Akan aku bunuh siapapun yang menyakiti istriku." Gumam Darma yang menjalankan tekadnya, mengepalkan kedua tangan serta rahang yang mengeras. 

Sementara disisi lain, Arman dan Sulastri tengah memadu kasih tanpa peduli apapun lagi, bahkan mereka tidak tahu kemana Sulastri pergi. Keduanya sibuk dalam penyatuan kenikmatan, rutinitas yang memacu kecepatan jantung menggunakan irama dan tempo semakin cepat. 

Bugh!

Pintu terbuka dengan sangat keras mengejutkan keduanya yang tengah bercinta, Arman terpaksa menghentikan untuk sementara sembari menutupi bagian tubuh polosnya menggunakan handuk. Dia memeriksa di luar ruangan dan tidak menemukan apapun, dan kembali masuk ke dalam kamar mengingat dirinya yang masih berhasrat. 

"Tadi itu apa?" 

"Bukan apa-apa, jangan di perdulikan." Arman yang di selimuti gairah bercinta tak bisa lagi membendungnya dan melakukan penyatuan itu. 

Beberapa saat kemudian, jendela terbuka lebar dan cermin rias di dalam kamar kaca. Tubuh Arman di hantam dengan sangat keras hingga terjatuh dari ranjang, celingukan mencari dalang di balik semua itu. 

"Siapapun kamu keluarlah!" ucap Arman yang menantang. 

Terdengar suara tertawa yang sangat menyeramkan memenuhi isi ruangan, Sulastri sangat ketakutan dan berlari memeluk Arman tanpa menggunakan busana, tubuh yang polos tidak lagi di pedulikan. 

"Dasar manusia kejam, karena kalian istriku terluka." 

"Aku tidak pernah mengusik istrimu." Pekik Arman yang berusaha menjauhkan tubuh Sulastri darinya, sedikit merasakan risih. 

"Rima. Dia istriku." 

"Rima?" Sulastri dan Arman saling berkontak mata beberapa saat kemudian kembali celingukan mencari asal suara. 

"Ya, menyakitinya sama saja kalian tak menyayangi nyawa." 

"Jangan macam-macam, tunjukkan dirimu. Aku tidak takut!" 

Darma menampakkan dirinya seraya mencekik Arman yang tersudut oleh tembok, sengaja memperlihatkan wujud mengerikannya untuk menakuti pasangan terlarang itu. 

"Kau harus mati." 

Arman berusaha terbebas dari cekikan makhluk yang sangat mengerikan itu, namun dirinya tak bisa melakukan apapun. Sementara Sulastri tak bisa berkutik di tahan oleh kekuatan yang dimiliki Darma. 

"Kau wanita yang sangat licik, aku mempersembahkan mu pada Braja." Tatapan tajam Darma tertuju pada Sulastri, dia sangat jijik melihat sifat dan sikap manusia yang bahkan melebihinya dan iblis. 

Terpopuler

Comments

Ray

Ray

Manusia berperilaku seperti iblis yg sudah dibutakan dan bersekutu dengan setan😱

2023-01-18

0

Mir_rim22

Mir_rim22

hiii ngeri...

2022-12-16

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!