Aditya meninggalkan mereka dengan santainya dan menghampiri Mobil Pick up.
Prok..prok..prok..!
Terdengar suara tepuk tangan yang meriah dari semua orang yang ada di pasar, mereka semua kagum dengan Aditya yang bisa membuat para Preman yang jumlahnya belasan orang itu bertekuk lutut padanya.
"Dit! I-ini serius kamu?" tanya Glembo penasaran yang baru turun dari dalam Mobil.
" Hais kamu ini! jelaslah ini aku, Aditya Nugroho!" ucapnya dengan bangga.
Glembo menghela napas " Iya aku percaya!"
Glembo sangat paham dengan sahabatnya itu, karena jika di hadapannya Aditya orang yang begitu percaya diri.
" Sudah ayo kita pulang!" seru Aditya pada Glembo.
Glembo mengangguk, dia masuk kembali kedalam Mobil, sementara Aditya naik di belakang. Bersama dengan barang-barang belanjaannya.
Aditya mengerutkan keningnya saat Mobil tidak kunjung berjalan juga, dia menegur si sopir dengan suara lantang " kenapa gak jalan-jalan! Ayo jalan!"
Sopir yang dari tadi tertegun langsung tersadar " Eh.. siap Bos!" sopir tidak berani melawan Aditya.
Mobil pun jalan meninggalkan pasar larangan, Para Preman membantu temannya yang tangannya patah dan membawa ke puskesmas terdekat.
Sementara itu di sebuah warung makan, tak jauh dari tempat Aditya di keroyok. Manajer toko emas yang kebetulan sedang membeli makan siang tersenyum-senyum sendiri.
" Ternyata bukan hanya jutawan, dia juga sangat kuat! pria yang menarik" gumamnya lirih. Dia menggelengkan kepalanya kemudian pergi dari sana dengan rasa penasaran pada Aditya.
***
Mobil sampai di Desa tempat Aditya tinggal. Aditya menyuruh sopir untuk ke rumah Glembo terlebih dahulu. karena dia memang membeli banyak keperluan untuk keluarga Glembo.
Ketika Mobil tersebut masuk Desa. Tentu saja semua orang menatap mobil itu, di tambah ada Aditya yang duduk di atas karung beras.
Aditya membusungkan dadanya dengan bangga. Dia seolah ingin mengatakan ' Inilah aku Aditya yang baru! '. Tapi sayangnya para warga mengira kalau Aditya hanya tukang bongkar barang-barang tersebut saja.
"Eh..siapa itu yang habis borong-borong?" salah satu warga bertanya-tanya.
"Paling juragan Mugimin. Siapa lagi?" jawab salah satu warga.
"Masa Aditya yang membongkar barangnya? tidak mungkinlah, juragan Mugimin sangat membenci Aditya!" timpal warga lainnya.
" Benar juga." ucap warga lainnya.
Mereka semua tentu saja tidak akan mengira kalau Aditya yang membeli itu semua. jangankan membeli itu semua, untuk makan sehari-hari saja dia kesusahan.
Mobil terus melaju ke rumah Glembo berada. tak berselang lama mereka sampai di rumah Glembo.
Rumah sederhana dengan bilik bambu yang di anyam rapi. Walaupun ada beberapa yang sudah rapuh, tapi setidaknya rumah tersebut lebih baik dari rumah Aditya.
Tentu saja orang tua Glembo terkejut saat ada Mobil membawa kebutuhan pokok, yang berhenti di depan rumah mereka.
Aditya langsung turun dan menghampiri Suryah, Ibu Glembo yang sedang ada di teras rumah, sedang duduk di kursi bambu.
"Siang Bu." Aditya langsung menyapa ibu Glembo yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.
"Ini ada apa yah Dit?" tanya Ibu Suryah penasaran.
Aditya tersenyum" Adit dan Glembo baru saja dapat rejeki. Nah.. kami langsung membeli ini semua"
"Glembo gak tahu apa-apa Bu, ini semua Adit yang membelikan untuk kita." Glembo yang sudah turun dari Mobil menyela pembicaraan mereka.
"Loh.. kamu dapat uang darimana Dit?" tanya Ibu Suryah lagi.
"Nanti aku ceritakan semuanya sama Ibu dan Bapak, kita turunkan barang-barang ini dulu." jawabnya dengan sopan.
Aditya, Glembo dan Sopir langsungenurunkan barang-barang tersebut. Para tetangga yang melihatnya ikut membantu, Walaupun mereka penasaran dari mana keluarga Glembo bisa membeli kebutuhan pokok sebanyak itu.
Warga Desa Karbal sebenarnya orang-orang yang sangat baik, hanya saja karena juragan Mugimin, yang selalu mengancamnya. Mereka semua merasa segan ketika mau membantu warga lainnya.
Semua barang milik Glembo sudah di turunkan, tiga orang warga yang membantu menurunkan barang-barang tersebut, di panggil Aditya mendekat.
"Paman terima kasih, ini buat kalian!" Aditya memberikan upah pada mereka masing-masing tiga puluh ribu perak.
"Wah..kamu lagi banyak uang Dit?" tanya salah satu orang yang membantunya itu.
"Hehehe.. kebetulan aku dapat rejeki paman, terima kasih telah membantu kami" ucap Aditya sopan.
"Jangan sungkan, Kitakan memang harus saling membantu satu sama lain" jawab orang yang bicara dengan Aditya.
Aditya tersenyum getir, karena biasanya mereka tidak mau berbicara padanya walau hanya sepatah kata saja.
Istilah uang adalah raja, mungkin ada benarnya juga, Aditya berpikir dalam hatinya. Setelah mereka yang membantu menurunkan barang-barang tersebut pergi.
Aditya berpamitan pada Ibu Suryah " Bu, aku pamit dulu yah, aku mau menurunkan barang-barang punyaku. Oh iya... jangan lupa tv-nya di pasang, biar kalian bisa menonton Tv."
Ibu Suryah meneteskan air mata " Terima kasih yah Dit, kamu memang anak yang baik. Tuhan pasti mendengarkan do'a kamu" ucapnya dengan air mata yang berlinangan.
Aditya mengangguk sambil tersenyum, dia kemudian naik Mobil dan meninggalkan tempat Glembo untuk menaruh barang-barang nya di rumah.
Selepas kepergian Aditya, Bu Suryah menarik Glembo ke dalam rumah dan bertanya "Darimana Adit dapat uang? Kalian gak nyolongkan?"
Glembo menggeleng "tidak Bu, mana mungkin Adit kaya gitu. Dia hanya sedang beruntung saja katanya menemukan Emas peninggalan kakeknya dulu!"
Glembo memang sudah di beritahu Aditya saat belanja di pasar, kalau dia menemukan emas peninggalan Kakeknya. Tentu saja Aditya berbohong pada Glembo, untuk menutupi keberadaan Java System.
"E-emas? kamu serius Glembo?!" tanya Bu Suryah terkejut.
Glembo mengangguk "Iya Bu, aku melihatnya sendiri Adit menukar Emas di toko" jawab Glembo yakin.
Bu Suryah tidak habis pikir, ternyata Tuham memang mudah sekali membolak-balikkan derajat seseorang.
Aditya yang dulunya tidak punya apa-apa, sekarang dia bisa membeli apapun yang dia mau.
***
Sementara itu Aditya sudah menurunkan barang-barang-nya dari Mobil, dia membayar seratus ribu perak pada sopir sesuai dengan perjanjian.
Aditya tersenyum melihat barang-barang yang sudah di belinya. Dia langsung membawa masuk kasur ke kamar sederhananya dan menaruh disana.
Aditya membiarkan barang-barang nya di ruang tamu yang menyatu dengan dapur, karena dia sudah ingin menikmati empuknya tidur di kasur yang selama ini tidak pernah dia rasakan.
" Ah... nyaman sekali. Andai saja aku bisa tidur di tempat empuk ini dari dulu" gumamnya sambil menitihkan air mata bahagia yang tidak bisa dia bendung lagi.
Selama dua puluh tahun dia tidak pernah merasakan kehidupan layaknya anak manusia. Ekonomi yang sangat minim membuatnya seolah hidup di atas duri.
Apa lagi ketika usianya menginjak tujuh tahun, kedua orang tuanya meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Penderitaan Aditya bertambah lagi. Untuk makan saja dia berharap belas kasihan pada tetangganya.
Pakaian dan yang lainnya, semua pemberian tetangganya yang sudah tidak di pakai lagi. Ingin membeli satu pakaian baru saja, Aditya tidak pernah bisa seumur hidupnya. Hingga kini dia mendapatkan anugrah Java System yang akan menggubah hidupnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Atuk
⭐⭐⭐⭐⭐
2025-01-03
0
Awin Sandika
karawang balat
2024-12-02
0
Sebut Saja Chikal
desa karbal lg aja. gw curiga loe orang situ thor 😅
2024-10-14
0