-Di malam yang sama, di rumah mewah Keluarga Rossa Reiss dan Fredirica Reiss-
Untuk sementara kita tinggalkan dahulu cerita tentang Stephen dan Feronica yang telah kita ketahui sebelumnya.
Di saat yang sama kita akan melihat bagaimana Rossa Reiss dan Fredirica Reiss sedang bercanda tawa di ruang tengah keluarga di rumah mewahnya. Sedang menikmati waktu dan menghangatkan diri di dekat perapian tengah.
Mereka berdua sedang duduk menatap perapian dan menikmati kehangatan di malam ini, sementara para pelayan yang ada di rumahnya sibuk melakukan tugasnya, seperti bersih-bersih di rumah yang besar dan amat luas itu.
"Kak, apa Feronica menuruti perintah kita?" Fredirica bertanya dengan nada keraguan pada saudaranya.
Rossa menjawabnya dengan santai. "Tenang saja, pasti dia menuruti kita, lagipula kapan dia tidak nurut sama kita kan?"
Memanglah benar, semenjak dari kelas satu pun perlakuan Rossa dan Fredirica memanglah selalu seperti itu, seenak mereka saja.
Jadi mengapa khawatir akan hal seperti itu? Fredirica jadi menyadarinya sekarang.
Fredirica mengangguk, memang ia penasaran akan bagaimana rumor yang sejak lama beredar di desa ini, dan menyuruh Feronica untuk membuktikannya adalah jalan termudah bagi mereka berdua untuk mengetahui kebenaran yang ada.
Beberapa saat kemudian saat kedua gadis ini masih mengobrol ada salah seorang pelayan perempuan yang melayani mereka, menyajikan berbagai makanan ringan dan minuman yang enak untuk mereka nikmati.
Berbagai macam makanan tersedia dan dibuat semenarik mungkin agar siapapun yang melihatnya pastinya tergiur untuk memakannya.
Cemilan mewah ketika malam dan api yang menghangatkanmu ketika udara di luar dingin? Siapa yang tidak mau hal itu?
Kehidupan berkecukupan dari Rossa Reiss dan Fredirica Reiss memanglah membuat siapapun yang melihat hidup mereka menjadi iri atau dalam bahasa sederhananya, kehidupan mereka adalah sesuatu didambakan oleh orang banyak.
Jadi sebenarnya apa yang kurang dari kehidupan keluarga ini? Bukankah dengan semua ketenaran dan harta yang melimpah itu semuanya sudah sempurna dan baik-baik saja?
Itulah yang dipikirkan orang banyak, namun pada kenyataannya kehidupan Rossa dan Fredirica tidak bisa dinilai hanya dari satu sisi saja.
Memanglah benar mereka sebagai anggota keluarga yang terhormat bisa melakukan atau mendapatkan apapun yang mereka inginkan, namun tidak semua hal yang mereka inginkan selalu ada bagi mereka.
Di antara hidangan itu ada amplop yang cukup besar yang ikut ada di wadah hidangan yang beragam itu.
Rossa mengeryitkan dahinya, pandangannya mengartikan ia tidak terlalu senang melihat secarik kertas di sana. Fredirica memandang saudaranya dengan tatapan khawatir dan penuh pertanyaan.
"Ada apa kak?" Fredirica tidak sekali dua kali melihat kakaknya seperti ini, setiap kali kakaknya melihat amplop di ruang keluarga ini reaksinya tidak jauh berbeda dengan yang sekarang terjadi.
Rossa menggelengkan kepalanya. "Tidak apa, aku hanya malas melihat benda itu di sini...."
Rossa kemudian mengalihkan pandangannya tepat ketika ia menyadari ada amplop besar di sana.
Fredirica hanya terdiam, ia memang mengerti apa yang dirasakan oleh saudaranya itu, namun sebenarnya ia tidak bisa menolak perasaan lain yang ada di dalam dirinya itu.
Apa maksud dari semua ini? Mari kita bedah lebih dalam lagi.
Ingat bukan bahwa Rossa Reiss dan Fredirica Reiss adalah anggota keluarga yang tersohor adanya? Mengapa mereka tidak tinggal di kota besar seperti Kota Frost?
Semua itu ada alasannya, Rossa dan Fredirica memang dahulu tinggal di Kota Frost bersama dengan kedua orang tuanya, namun tidak lama mereka berpindah ke Desa Wolfden tepat ketika mereka masih kecil.
Alasannya sederhana, orang tua mereka adalah orang yang sibuk bahkan terlalu sibuk hingga akhirnya mereka berdua jarang menghabiskan waktu bersama orang tua mereka.
Demi mengejar mimpinya menjadi ahli sihir, akhirnya Rossa dan Fredirica berpisah dari orang tuanya tepat ketika mereka berumur sepuluh tahun.
Tinggal sebagai anggota keluarga yang terhomat di Desa Wolfden, kehidupan mereka sejak saat itu tidak jauh berbeda, dengan rumah yang besar dan mewah dan para pelayan yang siap memenuhi kebutuhan mereka.
Semuanya memang terlihat sama, namun yang berbeda hanyalah kali ini Rossa dan Fredirica tidak bisa bertemu dengan kedua orang tuanya secara langsung.
Dan tentu saja hari-harinya tidak benar-benar sama lagi seperti dahulu, meskipun sebagian besar hal seperti kebutuhan dan lainnya tercukup akan tetapi jarak antara mereka dengan kedua orang tuanya membuat perbedaan yang cukup dalam.
Hari-hari di mana mereka bisa merasakan begitu hangatnya kasih sayang orang tua seolah hilang begitu saja, memang ada banyak pelayan wanita dan pria yang siap menghibur dan menjadi teman bermain mereka setiap saat, akan tetapi... sosok orang tua tidak pernah bisa tergantikan bagi mereka.
Seberapa keras usaha yang dilakukan oleh para pelayannya demi menghibur dan mendampingi Rossa dan Fredirica tidak akan pernah bisa menyamai apa yang mereka dapatkan dari kedua orang tua mereka.
Waktu terus berjalan, masa kecil Rossa dan Fredirica dihabiskan dengan tetap menjalani kehidupan seperti biasa, dan mereka masuk ke Akademi Sihir Wolfden demi mengejar cita-cita mereka itu.
Sebuah sekolah sihir besar yang terletak di desa kecil, aneh tapi memang begitulah kenyataannya. Rossa dan Fredirica jadi salah satu murid yang paling disegani di sekolah sihir tersebut.
Mengingat tidak hanya mereka berdua yang mempunyai kehormatan dan pengaruh besar, melainkan banyak pula siswa dan siswi lain yang tidak kalah berpengaruh dan pula disegani.
Tidak terlalu susah bagi Rossa dan Fredirica menuntut ilmu di sini, dengan pengaruh besar yang mereka miliki, semuanya tidak usah terlalu dipikirkan lagi.
Nilai mereka? Aman. Kemampuan sihir mereka? Jangan diragukan, begitu mulusnya perjalanan mereka menuntut ilmu di Akademi ini.
Akan tetapi seperti kata bijak, tidak ada yang sempurna, hal ini berlaku pula bagi Rossa dan Fredirica.
Meskipun mereka berdua adalah dari keluarga tersohor dan disegani namun tidak semua hal mereka bisa lakukan dengan sempurna.
Contoh kecilnya ketika mereka meminta bantuan Feronica untuk mengerjakan tugas pada buku ajar sihir mereka. Terdiri dari berbagai pertanyaan dan evaluasi hasil belajar mereka selama tiga tahun terakhir.
Rossa dan Fredirica memang sudah mengecek buku ajarnya masing-masing sebelummya dan mereka tidak terlalu kaget juga dengan apa yang mereka lihat di sana.
Jadi pada akhirnya mereka berdua sebelum bersantai mengerjakan kembali soal dan latihan yang ada pada buku ajar mereka seolah apa yang dikerjakan oleh Feronica tidak berguna sama sekali.
Kembali di saat ini, Fredirica mengambil beberapa camilan dan kemudian mengambil amplop besar yang terletak di lantai di antara hidangan yang lainnya.
Fredirica dengan segera membuka amplop tersebut, namun Rossa dengan segera mengambil itu daripadanya.
"Kak?!" Fredirica terkejut ketika saudaranya langsung merampas amplop yang ada di tangannya itu.
"Benda ini tidak berguna! Untuk apa dibuka?!" Mata Rossa terbuka lebar, kegeraman sangat terlihat di wajahnya, apa yang sebenarnya menjadi masalahnya saat ini?
Fredirica mendekati saudarinya dan berusaha kembali mengambil amplop yang telah direbut itu. "Kembalikan Kak!"
Rossa kemudian bangkit dan amarahnya tidak kunjung reda. "Mengapa kamu peduli dengan ini? Mereka hanya peduli soal pekerjaan!"
Fredirica seketika diam ketika mendengar pernyataan kakaknya itu, pada akhirnya apa yang dikatakannya memang benar dan ia tidak bisa menyangkalnya.
".... Aku paham kak, tapi hanya melalui surat itu kota bisa tahu keadaan mereka di luar sana!"
Fredirica mengungkapkan alasannya mengapa ia ingin agar amplop besar itu kembali, ternyata isi di dalam amplop itu adalah surat yang di mana di kirim dari luar.
"Kabar mereka? Apa mereka juga peduli pada kita? Untuk apa mereka mengirimi surat sepanjang waktu padahal mereka bisa mengunjungi kita kapan saja?!" Mata Rossa mulai memerah, raut wajahnya yang geram perlahan berubah menjadi kesedihan, menyiratkan ia begitu tidak mengerti dan tidak terima dengan kenyataan yang seperti ini.
"Kita tidak butuh lagi surat seperti ini...." Rossa mengambil isi amplop itu dan ada secarik kertas penuh tulisan di sana dan segera melemparkannya ke perapian yang sedang menyala terang di sana.
"Jangan kak!" seru Fredirica melihat sepucuk surat penuh tulisan rapi yang ingin dibacanya perlahan masuk ke dalam perapian yang menyala. Surat yang selama ini ia tunggu- dan sebenarnya yang kakaknya tunggu pula, sebagai cara agar mereka berdua bisa sedikit melepaskan kerinduan yang ada di dalam dada.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments