Bab 8: Sedikit Bantuan

William sedikit terpaku mendengar pertanyaan pria itu, pasalnya ia memang belum menyusun jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan sang pria paruh baya ini.

Alasan apapun yang masuk akal sedang dipikirkan William sekarang, sebagai seorang ahli sihir ia seharusnya mengatakan hal yang jujur, namun dalam kasus seperti ini ia harus mengesampingkan kewajibannya itu.

Mengingat ia tidak bisa menyembunyikan peti besar coklat yang menyegel Stephen itu dengan menguburnya di tanah, karena jika ia melakukan itu kemampuan pelacakannya akan hilang dan tidak akan ada yang bisa mengawasi segel yang telah di buatnya itu.

Peti besar coklat di tengah area bukit pekuburan tentulah bukan hal yang biasa untuk dilihat, dan memiliki kemungkinan menarik rasa penasaran orang-orang.

Dan William tidak mengantisipasi pula akan ada orang datang ke tempat ini di waktu yang seperti ini, jadi sebaiknya apa yang dia katakan?

"Setahu saya, memang peti ini berisi orang penting tapi sepertinya peti ini akan tetap berada di sini untuk waktu yang lama," jawab William seadanya, pada akhirnya ia tidak bisa mengatakan hal yang berlebihan ataupula mengurangi kebenaran yang ada di sini.

Pria paruh baya itu kemudian mengangguk tanda mengerti, seolah ia menerima jawaban dari William ini dan untuk beberapa saat selanjutnya dia mengobrol dengan William untuk beberapa saat.

Obrolan yang ringan yang membuat suasana jadi tidak sehening dan segelap ini, pada akhirnya mereka berdua ini mengetahui nama mereka masing-masing.

"Ah begitukah? Tuan sedang ada urusan penting di sini?"

Pada akhirnya setelah beberapa saat William mengobrol dengan pria paruh baya itu, ia bisa menilai dengan baik bahwa pria ini bisa dipercaya agar tujuannya ini bisa lebih baik.

Maksudnya apa? William tahu ternyata pria paruh baya yang ditemuinya itu adalah orang baik, dan sepertinya rencananya ini akan berjalan sebagaimana yang ia harapkan di sini.

William akhirnya menceritakan garis kecil mengenai peti mati coklat dengan ukuran besar ini, yang sebelumnya ia berniat untuk menyembunyikannya dari khalayak umum.

Namun rencananya ini tidak bisa berjalan dengan baik bilamana semuanya ia lakukan sendiri, pada akhirnya setidaknya ia butuh satu orang luar yang akan membuat tujuannya itu menjadi lengkap.

William menarik nafasnya dan kemudian berkata pelan, "Tuan Jack, apakah saya bisa mempercayakan informasi ini pada Tuan?"

Pria paruh baya bertopi itu terdiam sejenak seolah ia belum bisa percaya akan apa yang didengarnya itu, akan kebenaran yang telah diceritakan William padanya.

Bagaimana mungkin ada makhluk berbahaya di sana? Pria paruh baya bertopi bernama Jack itu memikirkan hal ini.

Ia adalah seorang yang tidak bisa menelan bulat-bulat perkataan orang lain seketika itu juga, namun ia sendiri tahu William bukanlah orang biasa bahkan dari penampilan dan auranya pun sudah jelas sekali.

Dan pula bagaimana penjelasannya yang singkat dan padat itu terdengar tidak mengada-ngada dan apa adanya, Jack merasa bahwa memercayainya di waktu singkat bukanlah hal yang salah.

Lagipula melihat peti besar coklat di area bukit pekuburan Wolfden sudah aneh, apa yang lebih aneh lagi dari itu? Selain memang penjelasan yang telah ia dengar sebelumnya?

Jack sedikit menundukkan kepalanya tanda ia sedang berpikir, dan beberapa saat kemudian ia memutuskan bagaimana pandangannya soal apa yang dikatakan William padanya.

"Tuan, sejujurnya ini adalah kali pertama saya melihat peti yang begitu besar itu, dan pula Tuan yang sedang punya urusan di tempat ini. Jadi bilamana peti tersebut memang benar seperti apa yang telah dikatakan, maka saya juga harus memberitahu yang lain soal ini."

Jack akhirnya mengutarakan pendapatnya itu, mengingat keberadaan William dan peti coklat besar itu berhubungan satu sama lain, maka bukan tidak mungkin hal yang dikatakan William adalah kebenaran adanya.

William sedikit lega mendengar pendapat dari Jack, analisanya terhadap pria bertopi ini ternyata benar adanya, ia adalah seorang pria yang ramah dan bahkan mau memercayainya di saat yang singkat seperti ini.

"Terima kasih Tuan Jack, urusan saya sudah selesai, jaga diri dan tolong jangan biarkan siapapun mendekati peti coklat besar ini."

William sedikit membungkukkan diri sebagai tanda hormat pada Jack sebelum berpisah dengannya, bahkan ia yang adalah seorang ahli sihir hebat dan tersohor tidak segan untuk menjunjung tinggi rasa hormatnya pada orang lain.

Beberapa saat kemudian, Jack hanya bisa melihat William yang berjalan semakin menjauh dan meninggalkan area bukit pekuburan Wolfden, dan ketika ia selesai memerhatikan William, ia melihat dengan seksama pada peti besar coklat yang tadi sudah ia dengar kebenarannya.

Memang benar, apa yang dirasakannya saat ini adalah ketakutan yang selama ini tidak pernah ia rasakan ketika berkunjung ke area bukit pekuburan Wolfden, keanehan ini membuktikan bahwa memang keberadaan peti tersebut tidaklah mengundang hal baik di sini.

Jack juga bisa melihat sekilas bagaimana ada sekelebat cahaya yang bersinar sewaktu-waktu, seperti ada cahaya panjang tipis kecil berwarna merah keemasan, namun untuk bisa disadari butuh waktu dan perhatian lebih. Jika tidak, maka peti tersebut hanya akan terlihat seperti peti mati coklat besar biasa saja.

Hal ini juga yang membuat Jack sadar, ternyata banyak hal yang mendukung akan informasi yang telah didengarnya sebelumnya, dan itu juga membuat ia harus melakukan apa yang telah dijanjikannya pada William.

"Aku harus memperingatkan banyak orang di desa Wolfden, terutama di Akademi Sihir Wolfden, merekalah yang punya ilmu dan pengetahuan akan hal ini. Meminta bantuan mereka akan membuat seluruh warga desa sadar dan akan menjauhi peti besar coklat itu."

Jack mengangguk kecil, ini adalah tugas yang harus diembannya, bilamana ada orang yang secara tidak sengaja datang ke area bukit pekuburan ini, maka risiko keselamatannya menjadi tinggi seperti yang telah dikatakan William sebelumnya.

Dari penjelasan yang telah didengarnya itu, Jack memang tahu makhluk berbahaya yang ada di dalam peti itu sudah di aman-kan oleh William sebelumnya, namun William tidak bisa menjamin akan seperti itu ke depannya.

Bisa saja akan terjadi hal yang diluar perkiraannya, karena hal itulah William mempercayai-nya untuk tugas ini.

Lagipula jika memang orang banyak sudah tahu akan berbahayanya peti besar coklat ini, mereka tentu tidak punya alasan untuk mendekatinya bukan? Coba dipikir lagi, mana ada orang yang mau pergi ke area berbahaya?

Jika dilihat sekali lagi, area pekuburan ini kondisinya agak berantakan namun tidak sepenuhnya hancur.

Banyak area kuburan yang sekiranya harus dibersihkan dari tanah yang saling menggunduk ini, dengan begitu setiap area pekuburan ini akan bisa kembali seperti semula.

Dan Jack berinisiatif untuk menghabiskan waktu di sana membereskan area yang perlu dibersihkan, karena di setiap area pekuburan ternyata ada sekop yang bisa digunakan kapanpun.

Jack menyimpan dahulu bunga hias-nya dan bergegas bekerja membereskan tempat itu, meskipun akhirnya payung tidak digunakannya, dan ia harus bermandikan air hujan ketika bekerja.

Setelah beberapa saat, kondisi nya jadi lebih baik, setidaknya begitu jika dibandingkan awal tadi, Jack segera mengembalikan peralatan kerjanya itu dan mengambil payung kembali serta bunga hias yang ia simpan.

Ia berjalan melewati peti mati besar itu, terlepas akan auranya yang begitu mencekam di malam yang larut ini, Jack berusaha untuk tetap tenang.

Setelah berjalan beberapa saat, Pria paruh baya bertopi itu berhenti di salah satu makam di sana, sedikit berjongkok dan menaruh bunganya di sana.

"Maaf aku terlambat, George."

Episodes
1 Bab 1: Tempat Pelarian
2 Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3 Bab 3: Kehausan
4 Bab 4: Berhenti, Kumohon
5 Bab 5: Aku Mengerti
6 Bab 6: Keputusan Mutlak
7 Bab 7: Tujuan Awal
8 Bab 8: Sedikit Bantuan
9 Bab 9: Awal Rumor
10 Bab 10: Sedikit Rumor
11 Bab 11: Kedua Teman
12 Bab 12: Hal Hangat
13 Bab 13: Break The Rules
14 Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15 Bab 15: Pembuktian
16 Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17 Bab 17: Bebas
18 Bab 18: Mencari Kebenaran
19 Bab 19: Rossa dan Fredirica
20 Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21 Bab 21: Menerima
22 Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23 Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24 Bab 24: Melawan
25 Bab 25: Rasa Penasaran
26 Bab 26: Dilema
27 Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28 Bab 28: Masih Jauh
29 Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30 Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31 Bab 31: Rencana Baru
32 Bab 32: Apa Yang Terjadi
33 Bab 33: Kehangatan
34 Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35 Bab 35: Waktunya Beraksi
36 Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37 Bab 37: Berbeda
38 Bab 38: Akhir
39 Bab 39: Berusaha
40 Bab 40: Tepat Waktu
41 Bab 41: Memulai Kembali
42 Bab 42: Yelena
43 Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44 Bab 44: Sebuah Alasan
45 Bab 45: Sebuah Alasan
46 Bab 46: Tumbang
47 Bab 47: Bangga
48 Bab 48: Diskusi
49 Bab 49: Dampak
50 Bab 50: Sembuh
51 Bab 51: Hasil
52 Bab 52: Pulang
53 Bab 53: Perjuangan
54 Bab 54: Konsekuensi
55 Bab 55: Kalian Mengganggu
56 Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57 Bab 57: Mencoba Mengerti
58 Bab 58: Menerima Perasaan
59 Bab 59: Menerima Kenyataan
60 Bab 60: Sadar Dan Menerima
61 Bab 61: Menghadapi Tekanan
62 Bab 62: Kabar Dari Jauh
63 Bab 63: Sedikit Berubah
64 Bab 64: Keluar
65 Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66 Bab 66: Membela
67 Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68 Bab 68: Inilah Kekuatanku
69 Bab 69: Melawan Juga
70 Bab 70: Tak Sadar
71 Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72 Bab 72: Lebih Kuat
73 Bab 73: Masih Mau?
74 Bab 74: Kesempatan Emas
75 Bab 75: Tenang
76 Bab 76: Alasan Sebenarnya
77 Bab 77: Memilih
78 Bab 78: Diriku
79 Bab 79: Sebuah Kenyataan
80 Bab 80: Sunguh Nyata
81 Bab 81: Kabar
82 Bab 82: Berdamai
83 Bab 83: Heran
84 Bab 84: Penampilan Baru
85 Bab 85: Insting
86 Bab 86: Tamu
87 Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88 Bab 88: Pertemuan
89 Bab 89: Saudara
90 Bab 90: Alasan Berubah
91 Bab 91: Memanas
92 Bab 92: Makin Panas
93 Bab 93: Menjauh
94 Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95 Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96 Bab 96: Sudah Habis
97 Bab 97: Perbedaan
98 Bab 98: Curiga
99 Bab 99: Menunjukkan Tekad
100 Bab 100: Ragu
101 Bab 101: Percaya
102 Bab 102: Tidak Terduga
103 Bab 103: Tanda
104 Bab 104: Terdesak
105 Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106 Bab 106: Keputusan
107 Bab 107: Undangan
108 Bab 108: Berjalan
109 Bab 109: Dingin
110 Bab 110: Pertanyaan Lagi
111 Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112 Bab 112: Balas Budi
113 Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114 Bab 114: Sadar
115 Bab 115: Bertemu
116 Bab 116: Terdampar
117 Bab 117: Panggilan Alami
118 Bab 118: Jalan-jalan
119 Bab 119: Jadi Kenyataan
120 Bab 120: Membuka
121 Bab 121: Tertangkap
122 Bab 122: Bersinggah
123 Bab 123: Bertemu... lagi
124 Bab 124: Perasaan
125 Bab 125: Rasakanlah
126 Bab 126: Usaha
127 Bab 127: Perlawanan
128 Bab 128: Kena Mental
129 Bab 129: Sosok Misterius
130 Bab 130: Mengincar
131 Bab 131: Heran
132 Bab 132: Rasakanlah!
133 Bab 133: Yang Kupercayai
134 Bab 134: Penasaran
135 Bab 135: Sadar
136 Bab 136: Jahat
137 Bab 137: Berbalik
138 Bab 138: Belum Selesai
139 Bab 139: Kerinduan
140 Bab 140: Pulang
141 Bab 141: Kunjungan
142 Bab 142: Menyebalkan
143 Bab 143: Mengingatkan
144 Bab 144: Nostalgia
145 Bab 145: Mana Keadilan?
146 Bab 146: Menyelesaikan
147 Bab 147: Fakta
148 Bab 148: Tak Sabar
149 Bab 149: Mengerti
150 Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Bab 1: Tempat Pelarian
2
Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3
Bab 3: Kehausan
4
Bab 4: Berhenti, Kumohon
5
Bab 5: Aku Mengerti
6
Bab 6: Keputusan Mutlak
7
Bab 7: Tujuan Awal
8
Bab 8: Sedikit Bantuan
9
Bab 9: Awal Rumor
10
Bab 10: Sedikit Rumor
11
Bab 11: Kedua Teman
12
Bab 12: Hal Hangat
13
Bab 13: Break The Rules
14
Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15
Bab 15: Pembuktian
16
Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17
Bab 17: Bebas
18
Bab 18: Mencari Kebenaran
19
Bab 19: Rossa dan Fredirica
20
Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21
Bab 21: Menerima
22
Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23
Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24
Bab 24: Melawan
25
Bab 25: Rasa Penasaran
26
Bab 26: Dilema
27
Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28
Bab 28: Masih Jauh
29
Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30
Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31
Bab 31: Rencana Baru
32
Bab 32: Apa Yang Terjadi
33
Bab 33: Kehangatan
34
Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35
Bab 35: Waktunya Beraksi
36
Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37
Bab 37: Berbeda
38
Bab 38: Akhir
39
Bab 39: Berusaha
40
Bab 40: Tepat Waktu
41
Bab 41: Memulai Kembali
42
Bab 42: Yelena
43
Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44
Bab 44: Sebuah Alasan
45
Bab 45: Sebuah Alasan
46
Bab 46: Tumbang
47
Bab 47: Bangga
48
Bab 48: Diskusi
49
Bab 49: Dampak
50
Bab 50: Sembuh
51
Bab 51: Hasil
52
Bab 52: Pulang
53
Bab 53: Perjuangan
54
Bab 54: Konsekuensi
55
Bab 55: Kalian Mengganggu
56
Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57
Bab 57: Mencoba Mengerti
58
Bab 58: Menerima Perasaan
59
Bab 59: Menerima Kenyataan
60
Bab 60: Sadar Dan Menerima
61
Bab 61: Menghadapi Tekanan
62
Bab 62: Kabar Dari Jauh
63
Bab 63: Sedikit Berubah
64
Bab 64: Keluar
65
Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66
Bab 66: Membela
67
Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68
Bab 68: Inilah Kekuatanku
69
Bab 69: Melawan Juga
70
Bab 70: Tak Sadar
71
Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72
Bab 72: Lebih Kuat
73
Bab 73: Masih Mau?
74
Bab 74: Kesempatan Emas
75
Bab 75: Tenang
76
Bab 76: Alasan Sebenarnya
77
Bab 77: Memilih
78
Bab 78: Diriku
79
Bab 79: Sebuah Kenyataan
80
Bab 80: Sunguh Nyata
81
Bab 81: Kabar
82
Bab 82: Berdamai
83
Bab 83: Heran
84
Bab 84: Penampilan Baru
85
Bab 85: Insting
86
Bab 86: Tamu
87
Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88
Bab 88: Pertemuan
89
Bab 89: Saudara
90
Bab 90: Alasan Berubah
91
Bab 91: Memanas
92
Bab 92: Makin Panas
93
Bab 93: Menjauh
94
Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95
Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96
Bab 96: Sudah Habis
97
Bab 97: Perbedaan
98
Bab 98: Curiga
99
Bab 99: Menunjukkan Tekad
100
Bab 100: Ragu
101
Bab 101: Percaya
102
Bab 102: Tidak Terduga
103
Bab 103: Tanda
104
Bab 104: Terdesak
105
Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106
Bab 106: Keputusan
107
Bab 107: Undangan
108
Bab 108: Berjalan
109
Bab 109: Dingin
110
Bab 110: Pertanyaan Lagi
111
Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112
Bab 112: Balas Budi
113
Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114
Bab 114: Sadar
115
Bab 115: Bertemu
116
Bab 116: Terdampar
117
Bab 117: Panggilan Alami
118
Bab 118: Jalan-jalan
119
Bab 119: Jadi Kenyataan
120
Bab 120: Membuka
121
Bab 121: Tertangkap
122
Bab 122: Bersinggah
123
Bab 123: Bertemu... lagi
124
Bab 124: Perasaan
125
Bab 125: Rasakanlah
126
Bab 126: Usaha
127
Bab 127: Perlawanan
128
Bab 128: Kena Mental
129
Bab 129: Sosok Misterius
130
Bab 130: Mengincar
131
Bab 131: Heran
132
Bab 132: Rasakanlah!
133
Bab 133: Yang Kupercayai
134
Bab 134: Penasaran
135
Bab 135: Sadar
136
Bab 136: Jahat
137
Bab 137: Berbalik
138
Bab 138: Belum Selesai
139
Bab 139: Kerinduan
140
Bab 140: Pulang
141
Bab 141: Kunjungan
142
Bab 142: Menyebalkan
143
Bab 143: Mengingatkan
144
Bab 144: Nostalgia
145
Bab 145: Mana Keadilan?
146
Bab 146: Menyelesaikan
147
Bab 147: Fakta
148
Bab 148: Tak Sabar
149
Bab 149: Mengerti
150
Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!