Bab 5: Aku Mengerti

- Malam hari\, hujan deras\, di area bukit pekuburan desa Wolfden\, di waktu yang sama.-

"Jadi itu sebabnya kau mengikutiku sampai sini? Hanya untuk membela anak-anakmu?" Stephen memulai kembali pembicaraannya dengan pria berjubah merah itu.

Sesaat setelah ia telah mengingat dengan jelas alasan mengapa ia dikejar oleh pria ini.

Stephen perlahan membuka tudung jubahnya dan seketika itu juga terlihat raut wajah tegas namun memesona, sungguhlah pemuda yang penuh dengan kharisma.

Kini Stephen tahu ternyata pria yang ada di depannya adalah pria yang sama yang ditemuinya sehari sebelumnya. Tepat ketika ia kehilangan kesadaran di Kota Frost.

Seharusnya ia ingat kejadian kemarin malam, pasalnya ia sadar tepat sebelum melancarkan aksinya, dan ingatan ketika ia sadar seharusnya masih ada.

Namun karena tenaga yang dikeluarkannya untuk melarikan diri sejauh mungkin, yang membawanya sampai di desa Wolfden ini, membuatnya kembali melupakan kejadian kemarin malam.

Bahkan ketika ia sempat berinteraksi sejenak dengan pria yang memiliki luka di bagian mata kanannya ini, Stephen dengan mudah melupakannya karena kelelahan.

Dan pula tidak pernah terbesit sedikitpun dalam benaknya akan kembali bertemu dengan pria yang kemarin malam.

Meskipun telah lari sangat jauh, namun pada akhirnya ia tetap bisa diikuti entah bagaimana caranya.

Stephen tidak menyangka ia harus berurusan langsung dengan seorang dari Keluarga Reiss, sebuah ketidaksengajaan yang berbuah kejadian yang saat ini ia hadapi.

Mau menyalahkan dirinya pun sia-sia saja, Stephen sudah tahu akan hal itu, lagipula ia tidak bisa mengubah apa yang menjadi bagian dalam dirinya.

Apa mungkin ia bisa 'membuat orang lain percaya pada kita terlepas dari keberadaannya?' sebuah konsep sederhana di mana kita bisa mengerti satu sama lain. Namun konsep yang kedengarannya indah dan mudah dilakukan pada kenyataannya berbanding terbalik.

Apa ia benar-benar tidak bisa membuat orang lain percaya padanya?

"Aku tidak berniat melakukan hal itu!" Stephen berkata dengan keras, mencoba membicarakan hal ini dengan baik-baik, setelah sebelumnya ia bertindak gegabah dengan menyerang pria Reiss itu.

Inilah perkataan dari lubuk hati terdalamnya, tidak ada penipuan sama sekali.

Pria tersebut terdiam, seolah tidak mau mendengar apa yang dikatakan oleh Stephen, dan pula tidak peduli apapun yang dikeluarkan dari mulutnya.

Stephen yang emosinya naik turun karena kondisinya sedang lelah itu sama terdiamnya, ia bahkan kehilangan minat drastis ketika tahu lawan bicaranya sama sekali tidak mau mendengar apa yang dikatakannya.

Dan malah pria itu menatap Stephen dengan tatapan penuh rasa marah, seperti seorang yang sudah menaruh dendam yang sangat lama pada seseorang. Kini tak ada lagi halangan apapun baginya untuk membalas perbuatan pemuda itu kemarin malam.

"Aku tidak peduli apa pembelaanmu, masa lalumu adalah alasanku di sini...." Pria berjubah merah yang memiliki tanda luka bakar di area dekat mata kanannya itu menyingkapkan tudung jubahnya merahnya. Kini mereka berdua sama-sama memerlihatkan wajahnya masing-masing.

Srrrrrrr..

Hujan menjadi semakin deras di tengah malam yang semakin larut, seolah tak ada tanda-tanda untuk berhenti sebaliknya hanya ada beragam guntur dan kilatan cahaya yang menghiasi area bukit pekuburan Wolfden ini.

Stephen terdiam mendengar perkataan pria berjubah merah itu, perkataan yang tak asing di telinganya.

Pada akhirnya semua usaha yang dilakukannya berakhir dengan serupa, tak ada yang berbeda....

Mata tajam dan penuh amarah yang mengarah padanya sudah berbicara dengan jelas, Stephen kini tahu pasti apa yang akan terjadi setelah ini.

Meyakinkan orang lain terasa mustahil baginya.

Semakin ia mencoba mencegah hal ini terjadi semakin besar pula kemungkinan hal yang ingin dihindari terjadi.

Ia tidak mengerti, namun Stephen tidak memiliki waktu seharian untuk memikirkannya, sebaliknya ia hanya punya sedikit waktu untuk memikirkannya.

Dan hanya satu hal yang ia pikirkan....

Tidak ada jalan lain lagi... bicara pun sudah tidak ada gunanya....

Dengan begitu, Stephen bersiap memakai langkah terakhir, berat untuk melakukannya dan berisiko sekali membuatnya terlihat lebih jahat dari sebelumnya.

Namun memang sudah tidak ada jalan lain lagi....

"Kau tidak tahu apapun...." Stephen perlahan tertunduk wajahnya muram, perlahan namun pasti emosi yang selama ini ia pendam pada akhirnya meluap.

Pria berjubah merah masih menatap dengan tajam, tidak peduli dengan apa yang dipikirkan lawannya, yang ia pikirkan hanyalah begitu kejamnya perbuatan yang dilakukan pemuda ini, ia tidak bisa membiarkan kejadian yang sama terjadi lagi ... jangan sampai.

Jangan sampai ada orang yang harus kehilangan orang tercinta karena perbuatan seseorang, itulah yang dipikirkan oleh pria berjubah merah ini, seorang dari keluarga Reiss yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Sebagai salah seorang dari Keluarga Reiss yang sudah tahu seluk beluk ilmu sihir dan juga pemahaman ilmu, ia akan menuntaskan tujuannya apapun yang terjadi.

"Jangan pernah berlagak tahu masa laluku!" Stephen melesat cepat melancarkan beberapa tinjuan dan tendangan, gerakannya sangat cepat membuat air hujan sekitarnya membentuk seperti aliran air yang halus.

DAG!

DUG!

KRAK!

Stephen dan pria berjubah merah saling bertukar tinju satu sama lain, pertarungan mereka benar-benar cepat sampai-sampai tidak bisa dilihat mata telanjang.

Masing-masing dari mereka mengeluarkan apa yang mereka bisa, pertarungan tangan kosong yang sungguh cepat dan kuat, bahkan area bukit pekuburan wolfden ini sampai dibuat bergetar karena pertarungan mereka.

Untuk beberapa saat ke depan mereka saling bertukar tinju dan tak lupa melancarkan beberapa teknik tendangan yang memukau, bahkan setelah beberapa waktu tidak ada tanda-tanda ada yang mengalah di sini.

Dan tentunya mengalah bukanlah tujuan mereka saat ini, masing-masing dari mereka punya tujuan masing-masing yang harus mereka capai apapun yang terjadi.

SHHHH!

DRAK!

Stephen dan Pria berjubah merah saling terpental ke belakang setelah adu pukul tanpa henti, masing-masing dari mereka tidak tampak kelelahan sama sekali, sebaliknya terpancar raut wajah penuh dengan ambisi terlihat dari mereka berdua.

"Aku tidak seperti yang kau pikirkan!" Stephen mencoba lagi membujuk pria berjubah merah, terus-terusan usaha tersebut ia lakukan di tengah pertarungan yang tak bisa dihindari ini

"Sihir Terang: Penjara Energi Suci!" Pria berjubah merah mengangkat kedua tangannya, seketika itu juga muncullah lingkaran sihir bersinar terang, berbentuk seperti penjara kotak yang terbuka lebar siap untuk menahan siapapun yang ada di depannya, langsung mengarah pada Stephen yang tertegun di sana.

"Sial!"

Stephen mengarahkan pula tangannya ke depan, dari kedua tangannya muncul lingkaran energi sihir berwarna gelap pekat.

"Sihir Kegelapan: Perisai Gelap!"

Dengan seketika itu juga munculah kekuatan energi gelap, lebih pekat dari kegelapan malam berbentuk perisai tepat saat serangan pria berjubah merah itu mengenainya.

BUM!

Energi kekuatan yang bertubrukan tidak bisa dihindari, gelombang kejut yang lebih besar muncul di sana, membuat cahaya yang menyilaukan kembali terjadi di area pekuburan ini.

Serangan energi suci pria berjubah merah terus menerus berusaha mengikis perisai hitam milik Stephen, aura kekuatan yang luar biasa berbentuk ruang penjara yang siap membuat siapapun terkurung ke dalamnya.

"Ukh...."

Perlahan namun pasti, Stephen yang masih berusaha untuk menahan kekuatan suci dari pria berjubah merah itu mulai kewalahan, kakinya mulai terasa lemas dan gemetaran.

Efek kekuatan suci yang hebat, jarang sekali Stephen menghadapi seseorang dengan kekuatan seperti ini yang bisa membuatnya terpojok seperti ini.

"Aura kekuatan yang hebat, ketenaran Keluarga Reiss memang ternyata benar adanya," gumam Stephen, ia tidak menyangka harus bertarung dengan orang sekuat ini.

Stephen yang tadinya meremehkan pria berjubah merah pada akhirnya harus dibuat terpojok. Ia mulai merasa kekuatannya keluar drastis, dalam keadaan bertahan ini membalikkan keadaan adalah hal yang sulit.

Sssrrrr...

Energi kekuatan suci mulai melahap perisai gelap Stephen sedikit demi sedikit, perlahan namun pasti pertahanan Stephen akan segera hancur.

'Aku harus melakukan sesuatu!' batin Stephen dalam hatinya... tidak mungkin ia terus bertahan dan kalah di sini, apapun yang terjadi ia harus membuktikan dirinya sendiri pada pria berjubah merah itu.

Apapun yang terjadi, ia tahu ia tidak seperti yang orang lain pikirkan tentangnya... namun pertanyaannya bagaimana caranya agar orang lain mengerti tentang dirinya?

Bagaimana cara meyakinkan orang yang sama sekali tidak mau mengerti dirinya? Pertanyaan tersebut selalu terngiang-ngiang di benak pemuda ini.

Kenyataan yang sesungguhnya tentang dirinya adalah titik mutlak, namun adakah sesuatu yang bisa mengubah hal itu?

Stephen termenung, pada akhirnya ia hanya ingin hidup bebas sama seperti orang lain. Menikmati hari demi hari dan menghabiskan waktu dengan tenang.

Namun keinginannya itu tidak pernah bisa terwujud karena kenyataan tentang dirinya tidak bisa diubah.

Ia terus menjalani takdirnya sebagai pemuda yang tidak bisa bebas dan tidak bisa seperti orang lain kebanyakan.

Namun apakah salah jika berharap? Setidaknya itu tidak dipermasalahkan, Stephen selalu punya pikiran bahwa mungkin saja suatu hari ia akan bertemu seseorang yang mengerti dirinya.

Seorang yang mampu menerima dirinya apa adanya dan dalam keadaan apapun, menghancurkan titik mutlak yang mengikatnya selama ini.

Pada akhirnya ia tahu harapan itu tidak pernah salah dan dengan berharap maka akan muncul segenap kekuatan yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan.

"Ah...." Stephen termenung, ia tidak lagi memfokuskan tenaganya untuk bertahan melainkan ia melihat ke sekeliling area pekuburan Wolfden.

Dan pemuda itu pun tersenyum ketika melihat keadaan sekitar, perlahan raut wajahnya yang penuh ambisi berubah menjadi raut wajah ketulusan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Perubahan emosi yang drastis kembali terjadi pada diri pemuda ini, namun mengarah pada hal yang lebih baik.

Untuk selanjutnya, beginilah isi hati pemuda yang bernama Stephen ini.

'Aku mengerti ... selama ini yang kulakukan untuk mencapai harapan dan tujuanku hanyalah dengan melarikan diri, kupikir dengan begitu aku bisa mencapai keinginanku. Namun pada kenyataannya bukannya semakin terwujud malah hal itu semakin jauh.'

'Sekarang kupikir aku sudah punya tempat peristirahatanku di sini, damai dan tenang seperti yang selama ini kuharapkan.... Jadi kenapa aku harus melarikan diri lagi?'

Episodes
1 Bab 1: Tempat Pelarian
2 Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3 Bab 3: Kehausan
4 Bab 4: Berhenti, Kumohon
5 Bab 5: Aku Mengerti
6 Bab 6: Keputusan Mutlak
7 Bab 7: Tujuan Awal
8 Bab 8: Sedikit Bantuan
9 Bab 9: Awal Rumor
10 Bab 10: Sedikit Rumor
11 Bab 11: Kedua Teman
12 Bab 12: Hal Hangat
13 Bab 13: Break The Rules
14 Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15 Bab 15: Pembuktian
16 Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17 Bab 17: Bebas
18 Bab 18: Mencari Kebenaran
19 Bab 19: Rossa dan Fredirica
20 Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21 Bab 21: Menerima
22 Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23 Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24 Bab 24: Melawan
25 Bab 25: Rasa Penasaran
26 Bab 26: Dilema
27 Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28 Bab 28: Masih Jauh
29 Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30 Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31 Bab 31: Rencana Baru
32 Bab 32: Apa Yang Terjadi
33 Bab 33: Kehangatan
34 Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35 Bab 35: Waktunya Beraksi
36 Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37 Bab 37: Berbeda
38 Bab 38: Akhir
39 Bab 39: Berusaha
40 Bab 40: Tepat Waktu
41 Bab 41: Memulai Kembali
42 Bab 42: Yelena
43 Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44 Bab 44: Sebuah Alasan
45 Bab 45: Sebuah Alasan
46 Bab 46: Tumbang
47 Bab 47: Bangga
48 Bab 48: Diskusi
49 Bab 49: Dampak
50 Bab 50: Sembuh
51 Bab 51: Hasil
52 Bab 52: Pulang
53 Bab 53: Perjuangan
54 Bab 54: Konsekuensi
55 Bab 55: Kalian Mengganggu
56 Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57 Bab 57: Mencoba Mengerti
58 Bab 58: Menerima Perasaan
59 Bab 59: Menerima Kenyataan
60 Bab 60: Sadar Dan Menerima
61 Bab 61: Menghadapi Tekanan
62 Bab 62: Kabar Dari Jauh
63 Bab 63: Sedikit Berubah
64 Bab 64: Keluar
65 Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66 Bab 66: Membela
67 Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68 Bab 68: Inilah Kekuatanku
69 Bab 69: Melawan Juga
70 Bab 70: Tak Sadar
71 Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72 Bab 72: Lebih Kuat
73 Bab 73: Masih Mau?
74 Bab 74: Kesempatan Emas
75 Bab 75: Tenang
76 Bab 76: Alasan Sebenarnya
77 Bab 77: Memilih
78 Bab 78: Diriku
79 Bab 79: Sebuah Kenyataan
80 Bab 80: Sunguh Nyata
81 Bab 81: Kabar
82 Bab 82: Berdamai
83 Bab 83: Heran
84 Bab 84: Penampilan Baru
85 Bab 85: Insting
86 Bab 86: Tamu
87 Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88 Bab 88: Pertemuan
89 Bab 89: Saudara
90 Bab 90: Alasan Berubah
91 Bab 91: Memanas
92 Bab 92: Makin Panas
93 Bab 93: Menjauh
94 Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95 Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96 Bab 96: Sudah Habis
97 Bab 97: Perbedaan
98 Bab 98: Curiga
99 Bab 99: Menunjukkan Tekad
100 Bab 100: Ragu
101 Bab 101: Percaya
102 Bab 102: Tidak Terduga
103 Bab 103: Tanda
104 Bab 104: Terdesak
105 Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106 Bab 106: Keputusan
107 Bab 107: Undangan
108 Bab 108: Berjalan
109 Bab 109: Dingin
110 Bab 110: Pertanyaan Lagi
111 Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112 Bab 112: Balas Budi
113 Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114 Bab 114: Sadar
115 Bab 115: Bertemu
116 Bab 116: Terdampar
117 Bab 117: Panggilan Alami
118 Bab 118: Jalan-jalan
119 Bab 119: Jadi Kenyataan
120 Bab 120: Membuka
121 Bab 121: Tertangkap
122 Bab 122: Bersinggah
123 Bab 123: Bertemu... lagi
124 Bab 124: Perasaan
125 Bab 125: Rasakanlah
126 Bab 126: Usaha
127 Bab 127: Perlawanan
128 Bab 128: Kena Mental
129 Bab 129: Sosok Misterius
130 Bab 130: Mengincar
131 Bab 131: Heran
132 Bab 132: Rasakanlah!
133 Bab 133: Yang Kupercayai
134 Bab 134: Penasaran
135 Bab 135: Sadar
136 Bab 136: Jahat
137 Bab 137: Berbalik
138 Bab 138: Belum Selesai
139 Bab 139: Kerinduan
140 Bab 140: Pulang
141 Bab 141: Kunjungan
142 Bab 142: Menyebalkan
143 Bab 143: Mengingatkan
144 Bab 144: Nostalgia
145 Bab 145: Mana Keadilan?
146 Bab 146: Menyelesaikan
147 Bab 147: Fakta
148 Bab 148: Tak Sabar
149 Bab 149: Mengerti
150 Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Bab 1: Tempat Pelarian
2
Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3
Bab 3: Kehausan
4
Bab 4: Berhenti, Kumohon
5
Bab 5: Aku Mengerti
6
Bab 6: Keputusan Mutlak
7
Bab 7: Tujuan Awal
8
Bab 8: Sedikit Bantuan
9
Bab 9: Awal Rumor
10
Bab 10: Sedikit Rumor
11
Bab 11: Kedua Teman
12
Bab 12: Hal Hangat
13
Bab 13: Break The Rules
14
Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15
Bab 15: Pembuktian
16
Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17
Bab 17: Bebas
18
Bab 18: Mencari Kebenaran
19
Bab 19: Rossa dan Fredirica
20
Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21
Bab 21: Menerima
22
Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23
Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24
Bab 24: Melawan
25
Bab 25: Rasa Penasaran
26
Bab 26: Dilema
27
Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28
Bab 28: Masih Jauh
29
Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30
Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31
Bab 31: Rencana Baru
32
Bab 32: Apa Yang Terjadi
33
Bab 33: Kehangatan
34
Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35
Bab 35: Waktunya Beraksi
36
Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37
Bab 37: Berbeda
38
Bab 38: Akhir
39
Bab 39: Berusaha
40
Bab 40: Tepat Waktu
41
Bab 41: Memulai Kembali
42
Bab 42: Yelena
43
Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44
Bab 44: Sebuah Alasan
45
Bab 45: Sebuah Alasan
46
Bab 46: Tumbang
47
Bab 47: Bangga
48
Bab 48: Diskusi
49
Bab 49: Dampak
50
Bab 50: Sembuh
51
Bab 51: Hasil
52
Bab 52: Pulang
53
Bab 53: Perjuangan
54
Bab 54: Konsekuensi
55
Bab 55: Kalian Mengganggu
56
Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57
Bab 57: Mencoba Mengerti
58
Bab 58: Menerima Perasaan
59
Bab 59: Menerima Kenyataan
60
Bab 60: Sadar Dan Menerima
61
Bab 61: Menghadapi Tekanan
62
Bab 62: Kabar Dari Jauh
63
Bab 63: Sedikit Berubah
64
Bab 64: Keluar
65
Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66
Bab 66: Membela
67
Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68
Bab 68: Inilah Kekuatanku
69
Bab 69: Melawan Juga
70
Bab 70: Tak Sadar
71
Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72
Bab 72: Lebih Kuat
73
Bab 73: Masih Mau?
74
Bab 74: Kesempatan Emas
75
Bab 75: Tenang
76
Bab 76: Alasan Sebenarnya
77
Bab 77: Memilih
78
Bab 78: Diriku
79
Bab 79: Sebuah Kenyataan
80
Bab 80: Sunguh Nyata
81
Bab 81: Kabar
82
Bab 82: Berdamai
83
Bab 83: Heran
84
Bab 84: Penampilan Baru
85
Bab 85: Insting
86
Bab 86: Tamu
87
Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88
Bab 88: Pertemuan
89
Bab 89: Saudara
90
Bab 90: Alasan Berubah
91
Bab 91: Memanas
92
Bab 92: Makin Panas
93
Bab 93: Menjauh
94
Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95
Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96
Bab 96: Sudah Habis
97
Bab 97: Perbedaan
98
Bab 98: Curiga
99
Bab 99: Menunjukkan Tekad
100
Bab 100: Ragu
101
Bab 101: Percaya
102
Bab 102: Tidak Terduga
103
Bab 103: Tanda
104
Bab 104: Terdesak
105
Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106
Bab 106: Keputusan
107
Bab 107: Undangan
108
Bab 108: Berjalan
109
Bab 109: Dingin
110
Bab 110: Pertanyaan Lagi
111
Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112
Bab 112: Balas Budi
113
Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114
Bab 114: Sadar
115
Bab 115: Bertemu
116
Bab 116: Terdampar
117
Bab 117: Panggilan Alami
118
Bab 118: Jalan-jalan
119
Bab 119: Jadi Kenyataan
120
Bab 120: Membuka
121
Bab 121: Tertangkap
122
Bab 122: Bersinggah
123
Bab 123: Bertemu... lagi
124
Bab 124: Perasaan
125
Bab 125: Rasakanlah
126
Bab 126: Usaha
127
Bab 127: Perlawanan
128
Bab 128: Kena Mental
129
Bab 129: Sosok Misterius
130
Bab 130: Mengincar
131
Bab 131: Heran
132
Bab 132: Rasakanlah!
133
Bab 133: Yang Kupercayai
134
Bab 134: Penasaran
135
Bab 135: Sadar
136
Bab 136: Jahat
137
Bab 137: Berbalik
138
Bab 138: Belum Selesai
139
Bab 139: Kerinduan
140
Bab 140: Pulang
141
Bab 141: Kunjungan
142
Bab 142: Menyebalkan
143
Bab 143: Mengingatkan
144
Bab 144: Nostalgia
145
Bab 145: Mana Keadilan?
146
Bab 146: Menyelesaikan
147
Bab 147: Fakta
148
Bab 148: Tak Sabar
149
Bab 149: Mengerti
150
Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!