- Malam hari\, hujan deras\, di area bukit pekuburan desa Wolfden\, di waktu yang sama.-
"Jadi itu sebabnya kau mengikutiku sampai sini? Hanya untuk membela anak-anakmu?" Stephen memulai kembali pembicaraannya dengan pria berjubah merah itu.
Sesaat setelah ia telah mengingat dengan jelas alasan mengapa ia dikejar oleh pria ini.
Stephen perlahan membuka tudung jubahnya dan seketika itu juga terlihat raut wajah tegas namun memesona, sungguhlah pemuda yang penuh dengan kharisma.
Kini Stephen tahu ternyata pria yang ada di depannya adalah pria yang sama yang ditemuinya sehari sebelumnya. Tepat ketika ia kehilangan kesadaran di Kota Frost.
Seharusnya ia ingat kejadian kemarin malam, pasalnya ia sadar tepat sebelum melancarkan aksinya, dan ingatan ketika ia sadar seharusnya masih ada.
Namun karena tenaga yang dikeluarkannya untuk melarikan diri sejauh mungkin, yang membawanya sampai di desa Wolfden ini, membuatnya kembali melupakan kejadian kemarin malam.
Bahkan ketika ia sempat berinteraksi sejenak dengan pria yang memiliki luka di bagian mata kanannya ini, Stephen dengan mudah melupakannya karena kelelahan.
Dan pula tidak pernah terbesit sedikitpun dalam benaknya akan kembali bertemu dengan pria yang kemarin malam.
Meskipun telah lari sangat jauh, namun pada akhirnya ia tetap bisa diikuti entah bagaimana caranya.
Stephen tidak menyangka ia harus berurusan langsung dengan seorang dari Keluarga Reiss, sebuah ketidaksengajaan yang berbuah kejadian yang saat ini ia hadapi.
Mau menyalahkan dirinya pun sia-sia saja, Stephen sudah tahu akan hal itu, lagipula ia tidak bisa mengubah apa yang menjadi bagian dalam dirinya.
Apa mungkin ia bisa 'membuat orang lain percaya pada kita terlepas dari keberadaannya?' sebuah konsep sederhana di mana kita bisa mengerti satu sama lain. Namun konsep yang kedengarannya indah dan mudah dilakukan pada kenyataannya berbanding terbalik.
Apa ia benar-benar tidak bisa membuat orang lain percaya padanya?
"Aku tidak berniat melakukan hal itu!" Stephen berkata dengan keras, mencoba membicarakan hal ini dengan baik-baik, setelah sebelumnya ia bertindak gegabah dengan menyerang pria Reiss itu.
Inilah perkataan dari lubuk hati terdalamnya, tidak ada penipuan sama sekali.
Pria tersebut terdiam, seolah tidak mau mendengar apa yang dikatakan oleh Stephen, dan pula tidak peduli apapun yang dikeluarkan dari mulutnya.
Stephen yang emosinya naik turun karena kondisinya sedang lelah itu sama terdiamnya, ia bahkan kehilangan minat drastis ketika tahu lawan bicaranya sama sekali tidak mau mendengar apa yang dikatakannya.
Dan malah pria itu menatap Stephen dengan tatapan penuh rasa marah, seperti seorang yang sudah menaruh dendam yang sangat lama pada seseorang. Kini tak ada lagi halangan apapun baginya untuk membalas perbuatan pemuda itu kemarin malam.
"Aku tidak peduli apa pembelaanmu, masa lalumu adalah alasanku di sini...." Pria berjubah merah yang memiliki tanda luka bakar di area dekat mata kanannya itu menyingkapkan tudung jubahnya merahnya. Kini mereka berdua sama-sama memerlihatkan wajahnya masing-masing.
Srrrrrrr..
Hujan menjadi semakin deras di tengah malam yang semakin larut, seolah tak ada tanda-tanda untuk berhenti sebaliknya hanya ada beragam guntur dan kilatan cahaya yang menghiasi area bukit pekuburan Wolfden ini.
Stephen terdiam mendengar perkataan pria berjubah merah itu, perkataan yang tak asing di telinganya.
Pada akhirnya semua usaha yang dilakukannya berakhir dengan serupa, tak ada yang berbeda....
Mata tajam dan penuh amarah yang mengarah padanya sudah berbicara dengan jelas, Stephen kini tahu pasti apa yang akan terjadi setelah ini.
Meyakinkan orang lain terasa mustahil baginya.
Semakin ia mencoba mencegah hal ini terjadi semakin besar pula kemungkinan hal yang ingin dihindari terjadi.
Ia tidak mengerti, namun Stephen tidak memiliki waktu seharian untuk memikirkannya, sebaliknya ia hanya punya sedikit waktu untuk memikirkannya.
Dan hanya satu hal yang ia pikirkan....
Tidak ada jalan lain lagi... bicara pun sudah tidak ada gunanya....
Dengan begitu, Stephen bersiap memakai langkah terakhir, berat untuk melakukannya dan berisiko sekali membuatnya terlihat lebih jahat dari sebelumnya.
Namun memang sudah tidak ada jalan lain lagi....
"Kau tidak tahu apapun...." Stephen perlahan tertunduk wajahnya muram, perlahan namun pasti emosi yang selama ini ia pendam pada akhirnya meluap.
Pria berjubah merah masih menatap dengan tajam, tidak peduli dengan apa yang dipikirkan lawannya, yang ia pikirkan hanyalah begitu kejamnya perbuatan yang dilakukan pemuda ini, ia tidak bisa membiarkan kejadian yang sama terjadi lagi ... jangan sampai.
Jangan sampai ada orang yang harus kehilangan orang tercinta karena perbuatan seseorang, itulah yang dipikirkan oleh pria berjubah merah ini, seorang dari keluarga Reiss yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Sebagai salah seorang dari Keluarga Reiss yang sudah tahu seluk beluk ilmu sihir dan juga pemahaman ilmu, ia akan menuntaskan tujuannya apapun yang terjadi.
"Jangan pernah berlagak tahu masa laluku!" Stephen melesat cepat melancarkan beberapa tinjuan dan tendangan, gerakannya sangat cepat membuat air hujan sekitarnya membentuk seperti aliran air yang halus.
DAG!
DUG!
KRAK!
Stephen dan pria berjubah merah saling bertukar tinju satu sama lain, pertarungan mereka benar-benar cepat sampai-sampai tidak bisa dilihat mata telanjang.
Masing-masing dari mereka mengeluarkan apa yang mereka bisa, pertarungan tangan kosong yang sungguh cepat dan kuat, bahkan area bukit pekuburan wolfden ini sampai dibuat bergetar karena pertarungan mereka.
Untuk beberapa saat ke depan mereka saling bertukar tinju dan tak lupa melancarkan beberapa teknik tendangan yang memukau, bahkan setelah beberapa waktu tidak ada tanda-tanda ada yang mengalah di sini.
Dan tentunya mengalah bukanlah tujuan mereka saat ini, masing-masing dari mereka punya tujuan masing-masing yang harus mereka capai apapun yang terjadi.
SHHHH!
DRAK!
Stephen dan Pria berjubah merah saling terpental ke belakang setelah adu pukul tanpa henti, masing-masing dari mereka tidak tampak kelelahan sama sekali, sebaliknya terpancar raut wajah penuh dengan ambisi terlihat dari mereka berdua.
"Aku tidak seperti yang kau pikirkan!" Stephen mencoba lagi membujuk pria berjubah merah, terus-terusan usaha tersebut ia lakukan di tengah pertarungan yang tak bisa dihindari ini
"Sihir Terang: Penjara Energi Suci!" Pria berjubah merah mengangkat kedua tangannya, seketika itu juga muncullah lingkaran sihir bersinar terang, berbentuk seperti penjara kotak yang terbuka lebar siap untuk menahan siapapun yang ada di depannya, langsung mengarah pada Stephen yang tertegun di sana.
"Sial!"
Stephen mengarahkan pula tangannya ke depan, dari kedua tangannya muncul lingkaran energi sihir berwarna gelap pekat.
"Sihir Kegelapan: Perisai Gelap!"
Dengan seketika itu juga munculah kekuatan energi gelap, lebih pekat dari kegelapan malam berbentuk perisai tepat saat serangan pria berjubah merah itu mengenainya.
BUM!
Energi kekuatan yang bertubrukan tidak bisa dihindari, gelombang kejut yang lebih besar muncul di sana, membuat cahaya yang menyilaukan kembali terjadi di area pekuburan ini.
Serangan energi suci pria berjubah merah terus menerus berusaha mengikis perisai hitam milik Stephen, aura kekuatan yang luar biasa berbentuk ruang penjara yang siap membuat siapapun terkurung ke dalamnya.
"Ukh...."
Perlahan namun pasti, Stephen yang masih berusaha untuk menahan kekuatan suci dari pria berjubah merah itu mulai kewalahan, kakinya mulai terasa lemas dan gemetaran.
Efek kekuatan suci yang hebat, jarang sekali Stephen menghadapi seseorang dengan kekuatan seperti ini yang bisa membuatnya terpojok seperti ini.
"Aura kekuatan yang hebat, ketenaran Keluarga Reiss memang ternyata benar adanya," gumam Stephen, ia tidak menyangka harus bertarung dengan orang sekuat ini.
Stephen yang tadinya meremehkan pria berjubah merah pada akhirnya harus dibuat terpojok. Ia mulai merasa kekuatannya keluar drastis, dalam keadaan bertahan ini membalikkan keadaan adalah hal yang sulit.
Sssrrrr...
Energi kekuatan suci mulai melahap perisai gelap Stephen sedikit demi sedikit, perlahan namun pasti pertahanan Stephen akan segera hancur.
'Aku harus melakukan sesuatu!' batin Stephen dalam hatinya... tidak mungkin ia terus bertahan dan kalah di sini, apapun yang terjadi ia harus membuktikan dirinya sendiri pada pria berjubah merah itu.
Apapun yang terjadi, ia tahu ia tidak seperti yang orang lain pikirkan tentangnya... namun pertanyaannya bagaimana caranya agar orang lain mengerti tentang dirinya?
Bagaimana cara meyakinkan orang yang sama sekali tidak mau mengerti dirinya? Pertanyaan tersebut selalu terngiang-ngiang di benak pemuda ini.
Kenyataan yang sesungguhnya tentang dirinya adalah titik mutlak, namun adakah sesuatu yang bisa mengubah hal itu?
Stephen termenung, pada akhirnya ia hanya ingin hidup bebas sama seperti orang lain. Menikmati hari demi hari dan menghabiskan waktu dengan tenang.
Namun keinginannya itu tidak pernah bisa terwujud karena kenyataan tentang dirinya tidak bisa diubah.
Ia terus menjalani takdirnya sebagai pemuda yang tidak bisa bebas dan tidak bisa seperti orang lain kebanyakan.
Namun apakah salah jika berharap? Setidaknya itu tidak dipermasalahkan, Stephen selalu punya pikiran bahwa mungkin saja suatu hari ia akan bertemu seseorang yang mengerti dirinya.
Seorang yang mampu menerima dirinya apa adanya dan dalam keadaan apapun, menghancurkan titik mutlak yang mengikatnya selama ini.
Pada akhirnya ia tahu harapan itu tidak pernah salah dan dengan berharap maka akan muncul segenap kekuatan yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan.
"Ah...." Stephen termenung, ia tidak lagi memfokuskan tenaganya untuk bertahan melainkan ia melihat ke sekeliling area pekuburan Wolfden.
Dan pemuda itu pun tersenyum ketika melihat keadaan sekitar, perlahan raut wajahnya yang penuh ambisi berubah menjadi raut wajah ketulusan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Perubahan emosi yang drastis kembali terjadi pada diri pemuda ini, namun mengarah pada hal yang lebih baik.
Untuk selanjutnya, beginilah isi hati pemuda yang bernama Stephen ini.
'Aku mengerti ... selama ini yang kulakukan untuk mencapai harapan dan tujuanku hanyalah dengan melarikan diri, kupikir dengan begitu aku bisa mencapai keinginanku. Namun pada kenyataannya bukannya semakin terwujud malah hal itu semakin jauh.'
'Sekarang kupikir aku sudah punya tempat peristirahatanku di sini, damai dan tenang seperti yang selama ini kuharapkan.... Jadi kenapa aku harus melarikan diri lagi?'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments