Bab 17: Bebas

Pemuda yang muncul tiba-tiba di area pekuburan Wolfden ini melihat ke arah peti besar coklat yang terbuka lebar. Di dekatnya ada gadis muda memakai payung sungguh terlihat pucat dan kelelahan.

Sontak pemuda itu bertanya-tanya mengapa ia sekarang berada di tempat ini?

Mengapa ia tidak bisa mengingat akan apa yang telah dilaluinya sebelumnya?

Pemuda itu mengangkat tangannya, meraba pipi sebelah kanannya dan bersamaan dengan itu ia mulai ingat kejadian yang terjadi, di malam itu ... di momen di mana ia dalam pelarian.

"Frost...." Gumam pemuda itu, menyebutkan apa yang pertama kali muncul dalam ingatannya setelah merasa tertidur untuk beberapa waktu.

Perlahan namun pasti ingatannya mulai kembali sedikit demi sedikit. Pemuda itu pada akhirnya sadar tempat di mana ia berada saat ini memanglah tempat terakhirnya ketika ia melarikan diri.

Namun selanjutnya muncul pertanyaan, mengapa dia berada di sini? Apa yang sebenarnya terjadi di kota Frost yang sebelumnya ia ingat sekilas? Kepalanya masih terasa berat untuk memikirkan semua itu.

Rasanya ia telah tertidur cukup lama, karena itulah ia merasa sebagian ingatannya agak pudar dan ia perlu waktu untuk mengingat semua yang telah terjadi sebelumnya.

Dan setelah beberapa saat berlalu, ia masih juga belum sepenuhnya ingat akan kejadian yang terjadi, yang ia ingat hanyalah bagaimana ia melarikan diri dari kota Frost karena satu dan lain hal.

Terlepas dari betapa susah ia memperoleh ingatannya, pemuda itu malahan kini penasaran juga akan gadis berambut panjang yang memakai payung di sana.

Apakah dia seorang pengunjung tempat ini? Mengapa? Padahal waktu saat ini sudah malam dan terlebih lagi sedang hujan deras di sertai guntur dan petir. Mengapa ada orang yang menyusahkan dirinya berada di tempat seperti ini?

Tidakkah lebih baik baginya untuk bersantai di rumahnya dan beristirahat menikmati waktu? Pemuda itu keheranan melihat bagaimana gadis itu berdiri saja di sana.

Nampak sedikit terkejut dengan kehadirannya, namun pandangan gadis itu sayu dan terkesan kosong tepat setelah menyadari keberadaannya.

Siapa dia? Pemuda itu tidak tahu, mungkin saja memang ia adalah pengunjung tempat ini.

"Hm." Pemuda itu memerhatikan gadis berambut agak panjang itu dengan baik-baik

Gadis itu mulai berjalan pelan dan lambat, lunglai dan sewaktu-waktu bisa terjatuh dengan mudah.

Pemuda itu masih mengamatinya, dan ketika gadis itu berada di samping hendak melewatinya dia sekilas menatapnya dan sedikit tersenyum dan kemudian terjatuh.

Blugh.

Pemuda itu menangkapnya di momen yang tepat sehingga gadis itu tidak jatuh ke tanah basah kotor yang adanya bebatuan yang bisa membahayakannya.

Pemuda itu menatap wajah gadis muda itu dengan seksama, terlihat jelas ia memang sudah tidak sadarkan diri. Raut wajahnya menandakan kelelahan yang cukup berat.

Pemuda itu terdiam, seolah dengan melihatnya saja ia tahu bagaimana kondisi gadis ini yang sebenarnya. Ia heran mengapa ada seorang gadis kelelahan di tempat seperti ini?

Memang menurutnya ada dua kemungkinan, entah ini adalah kehendaknya sendiri atau bisa pula karena hal lain, seperti kehendak orang lain yang terpaksa dilakukannya.

Kehendaknya sendiri berarti memang ia punya urusan yang penting di saat dan di tempat seperti ini yang di mana kemungkinannya sangat kecil. Mengunjungi pemakaman bisa lakukan kapanpun dan di waktu yang baik, mengapa harus memilih di saat seperti ini?

Namun bagaimana dengan jika dia berada di sini karena kehendak orang lain? Atau bahasa sederhananya karena perintah orang lain padanya? Hal tersebut lebih masuk akal bagi pemuda itu saat ini.

Pemuda itu dapat merasakan pula bagaimana dinginnya tubuh gadis itu, sepertinya dia sudah berada di sini dari tadi. Alasan mengapa ia diam di tempat ini membuat Pemuda itu termenung.

"Hm?" Mata pemuda itu agak membesar seolah ia menyadari sesuatu.

Ia melihat tanda api kecil muncul dari sekitaran area mata kanan gadis itu, perlahan menjalar ke seluruh wajahnya, bersinar seperti lava tanpa disadari gadis ini.

"I-ini?!" Pemuda itu tidak bisa menahan kekagetannya, semua ingatannya yang tadi dilupakannya mulai kembali satu per satu dengan cepat sekali.

"Haah... Haaah...." Pemuda tersebut terengah-engah dan mulai tahu akan apa yang sebenarnya terjadi di sini.

"A ... Aku seharusnya berada di peti itu...." Pemuda itu menatap peti besar coklat yang terbuka lebar, ia ingat benda itulah yang membuatnya tertidur dalam waktu yang cukup lama, sampai sekarang ini.

Dan tanda yang luka bakar seperti api namun menyala-nyala pada gadis ini membuat pemuda itu ingat siapa yang telah menghentikannya saat itu.

"Pria berjubah merah, seorang dari Keluarga Reiss." Pemuda itu menyadari adanya kesamaan antara tanda yang ia lihat dari pria berjubah merah dahulu dan gadis muda yang saat ini tengah berada di dekatnya ini.

Pemuda itu tak lain tak bukan adalah seorang yang bertarung dengan pria berjubah merah, Stephen.

Stephen termenung, tidak percaya akan apa yang terjadi saat ini. Pasalnya ia memang harusnya tetap berada di peti besar coklat itu karena efek sihir segel yang telah diterimanya dari pria berjubah merah itu.

Namun mengapa kini ia bisa keluar? Dan lagi mengapa gadis muda ini memiliki tanda yang sama dengan pria dari Keluarga Reiss? Siapa sebenarnya dia ini?

Stephen penuh dengan pertanyaan sekarang, ia tidak tahu pasti alasan mengapa ia bisa keluar dari peti coklat besar yang menyegelnya itu, dan pula tidak tahu mengapa gadis ini memiliki tanda yang sama dengan seorang dari Keluarga Reiss.

Perlahan Stephen melihat ke arah tangannya yang menyentuh gadis itu, karena memang ia menangkapnya tadi agar gadis itu tidak terjatuh, muncul beberapa garis cahaya seperti api padanya.

"Apa ini?" Stephen mulai berpikir aneh-aneh, mungkinkah ini adalah sihir pengeyegelan juga? Mengapa tanda dari gadis ini menyebar padanya?

Untuk sejenak Stephen sedikit panik, namun setelah beberapa saat berselang tanda cahaya seperti api pada tangannya sudah menghilang, begitu pula dengan tanda api seperti lava di area wajah sekitaran mata kanan gadis ini.

"Apa?" Dan Stephen menyadari pula ada tanda yang sama di peti besar coklat itu, sebuah tanda seperti api lava menyala-nyala dan perlahan menghilang seiring dengan berjalannya waktu.

Mengapa begitu? Apakah tanda ini memang ada hubungannya dengan gadis ini?

Terlalu banyak pertanyaan dalam waktu yang singkat, Stephen tahu ia telah melihat tanda yang sama pada tiga hal yang berbeda, si pria berjubah merah, gadis di area pekuburan, dan peti coklat besar tempatnya disegel terdahulu.

Tanda yang sama apakah memang itu ada artinya? Stephen tahu ada jawaban di balik semua pertanyaan ini, dan kini yang harus ia lakukan adalah mencari jawaban yang sekiranya tepat.

"Hanya ada satu hal yang bisa menjelaskan tanda api seperti lava yang menyala di bagian area mata sebelah kanan pada pria berjubah merah dan gadis ini ...."

"... dan itu adalah ...."

Episodes
1 Bab 1: Tempat Pelarian
2 Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3 Bab 3: Kehausan
4 Bab 4: Berhenti, Kumohon
5 Bab 5: Aku Mengerti
6 Bab 6: Keputusan Mutlak
7 Bab 7: Tujuan Awal
8 Bab 8: Sedikit Bantuan
9 Bab 9: Awal Rumor
10 Bab 10: Sedikit Rumor
11 Bab 11: Kedua Teman
12 Bab 12: Hal Hangat
13 Bab 13: Break The Rules
14 Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15 Bab 15: Pembuktian
16 Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17 Bab 17: Bebas
18 Bab 18: Mencari Kebenaran
19 Bab 19: Rossa dan Fredirica
20 Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21 Bab 21: Menerima
22 Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23 Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24 Bab 24: Melawan
25 Bab 25: Rasa Penasaran
26 Bab 26: Dilema
27 Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28 Bab 28: Masih Jauh
29 Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30 Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31 Bab 31: Rencana Baru
32 Bab 32: Apa Yang Terjadi
33 Bab 33: Kehangatan
34 Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35 Bab 35: Waktunya Beraksi
36 Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37 Bab 37: Berbeda
38 Bab 38: Akhir
39 Bab 39: Berusaha
40 Bab 40: Tepat Waktu
41 Bab 41: Memulai Kembali
42 Bab 42: Yelena
43 Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44 Bab 44: Sebuah Alasan
45 Bab 45: Sebuah Alasan
46 Bab 46: Tumbang
47 Bab 47: Bangga
48 Bab 48: Diskusi
49 Bab 49: Dampak
50 Bab 50: Sembuh
51 Bab 51: Hasil
52 Bab 52: Pulang
53 Bab 53: Perjuangan
54 Bab 54: Konsekuensi
55 Bab 55: Kalian Mengganggu
56 Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57 Bab 57: Mencoba Mengerti
58 Bab 58: Menerima Perasaan
59 Bab 59: Menerima Kenyataan
60 Bab 60: Sadar Dan Menerima
61 Bab 61: Menghadapi Tekanan
62 Bab 62: Kabar Dari Jauh
63 Bab 63: Sedikit Berubah
64 Bab 64: Keluar
65 Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66 Bab 66: Membela
67 Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68 Bab 68: Inilah Kekuatanku
69 Bab 69: Melawan Juga
70 Bab 70: Tak Sadar
71 Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72 Bab 72: Lebih Kuat
73 Bab 73: Masih Mau?
74 Bab 74: Kesempatan Emas
75 Bab 75: Tenang
76 Bab 76: Alasan Sebenarnya
77 Bab 77: Memilih
78 Bab 78: Diriku
79 Bab 79: Sebuah Kenyataan
80 Bab 80: Sunguh Nyata
81 Bab 81: Kabar
82 Bab 82: Berdamai
83 Bab 83: Heran
84 Bab 84: Penampilan Baru
85 Bab 85: Insting
86 Bab 86: Tamu
87 Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88 Bab 88: Pertemuan
89 Bab 89: Saudara
90 Bab 90: Alasan Berubah
91 Bab 91: Memanas
92 Bab 92: Makin Panas
93 Bab 93: Menjauh
94 Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95 Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96 Bab 96: Sudah Habis
97 Bab 97: Perbedaan
98 Bab 98: Curiga
99 Bab 99: Menunjukkan Tekad
100 Bab 100: Ragu
101 Bab 101: Percaya
102 Bab 102: Tidak Terduga
103 Bab 103: Tanda
104 Bab 104: Terdesak
105 Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106 Bab 106: Keputusan
107 Bab 107: Undangan
108 Bab 108: Berjalan
109 Bab 109: Dingin
110 Bab 110: Pertanyaan Lagi
111 Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112 Bab 112: Balas Budi
113 Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114 Bab 114: Sadar
115 Bab 115: Bertemu
116 Bab 116: Terdampar
117 Bab 117: Panggilan Alami
118 Bab 118: Jalan-jalan
119 Bab 119: Jadi Kenyataan
120 Bab 120: Membuka
121 Bab 121: Tertangkap
122 Bab 122: Bersinggah
123 Bab 123: Bertemu... lagi
124 Bab 124: Perasaan
125 Bab 125: Rasakanlah
126 Bab 126: Usaha
127 Bab 127: Perlawanan
128 Bab 128: Kena Mental
129 Bab 129: Sosok Misterius
130 Bab 130: Mengincar
131 Bab 131: Heran
132 Bab 132: Rasakanlah!
133 Bab 133: Yang Kupercayai
134 Bab 134: Penasaran
135 Bab 135: Sadar
136 Bab 136: Jahat
137 Bab 137: Berbalik
138 Bab 138: Belum Selesai
139 Bab 139: Kerinduan
140 Bab 140: Pulang
141 Bab 141: Kunjungan
142 Bab 142: Menyebalkan
143 Bab 143: Mengingatkan
144 Bab 144: Nostalgia
145 Bab 145: Mana Keadilan?
146 Bab 146: Menyelesaikan
147 Bab 147: Fakta
148 Bab 148: Tak Sabar
149 Bab 149: Mengerti
150 Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Bab 1: Tempat Pelarian
2
Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3
Bab 3: Kehausan
4
Bab 4: Berhenti, Kumohon
5
Bab 5: Aku Mengerti
6
Bab 6: Keputusan Mutlak
7
Bab 7: Tujuan Awal
8
Bab 8: Sedikit Bantuan
9
Bab 9: Awal Rumor
10
Bab 10: Sedikit Rumor
11
Bab 11: Kedua Teman
12
Bab 12: Hal Hangat
13
Bab 13: Break The Rules
14
Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15
Bab 15: Pembuktian
16
Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17
Bab 17: Bebas
18
Bab 18: Mencari Kebenaran
19
Bab 19: Rossa dan Fredirica
20
Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21
Bab 21: Menerima
22
Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23
Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24
Bab 24: Melawan
25
Bab 25: Rasa Penasaran
26
Bab 26: Dilema
27
Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28
Bab 28: Masih Jauh
29
Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30
Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31
Bab 31: Rencana Baru
32
Bab 32: Apa Yang Terjadi
33
Bab 33: Kehangatan
34
Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35
Bab 35: Waktunya Beraksi
36
Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37
Bab 37: Berbeda
38
Bab 38: Akhir
39
Bab 39: Berusaha
40
Bab 40: Tepat Waktu
41
Bab 41: Memulai Kembali
42
Bab 42: Yelena
43
Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44
Bab 44: Sebuah Alasan
45
Bab 45: Sebuah Alasan
46
Bab 46: Tumbang
47
Bab 47: Bangga
48
Bab 48: Diskusi
49
Bab 49: Dampak
50
Bab 50: Sembuh
51
Bab 51: Hasil
52
Bab 52: Pulang
53
Bab 53: Perjuangan
54
Bab 54: Konsekuensi
55
Bab 55: Kalian Mengganggu
56
Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57
Bab 57: Mencoba Mengerti
58
Bab 58: Menerima Perasaan
59
Bab 59: Menerima Kenyataan
60
Bab 60: Sadar Dan Menerima
61
Bab 61: Menghadapi Tekanan
62
Bab 62: Kabar Dari Jauh
63
Bab 63: Sedikit Berubah
64
Bab 64: Keluar
65
Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66
Bab 66: Membela
67
Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68
Bab 68: Inilah Kekuatanku
69
Bab 69: Melawan Juga
70
Bab 70: Tak Sadar
71
Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72
Bab 72: Lebih Kuat
73
Bab 73: Masih Mau?
74
Bab 74: Kesempatan Emas
75
Bab 75: Tenang
76
Bab 76: Alasan Sebenarnya
77
Bab 77: Memilih
78
Bab 78: Diriku
79
Bab 79: Sebuah Kenyataan
80
Bab 80: Sunguh Nyata
81
Bab 81: Kabar
82
Bab 82: Berdamai
83
Bab 83: Heran
84
Bab 84: Penampilan Baru
85
Bab 85: Insting
86
Bab 86: Tamu
87
Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88
Bab 88: Pertemuan
89
Bab 89: Saudara
90
Bab 90: Alasan Berubah
91
Bab 91: Memanas
92
Bab 92: Makin Panas
93
Bab 93: Menjauh
94
Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95
Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96
Bab 96: Sudah Habis
97
Bab 97: Perbedaan
98
Bab 98: Curiga
99
Bab 99: Menunjukkan Tekad
100
Bab 100: Ragu
101
Bab 101: Percaya
102
Bab 102: Tidak Terduga
103
Bab 103: Tanda
104
Bab 104: Terdesak
105
Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106
Bab 106: Keputusan
107
Bab 107: Undangan
108
Bab 108: Berjalan
109
Bab 109: Dingin
110
Bab 110: Pertanyaan Lagi
111
Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112
Bab 112: Balas Budi
113
Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114
Bab 114: Sadar
115
Bab 115: Bertemu
116
Bab 116: Terdampar
117
Bab 117: Panggilan Alami
118
Bab 118: Jalan-jalan
119
Bab 119: Jadi Kenyataan
120
Bab 120: Membuka
121
Bab 121: Tertangkap
122
Bab 122: Bersinggah
123
Bab 123: Bertemu... lagi
124
Bab 124: Perasaan
125
Bab 125: Rasakanlah
126
Bab 126: Usaha
127
Bab 127: Perlawanan
128
Bab 128: Kena Mental
129
Bab 129: Sosok Misterius
130
Bab 130: Mengincar
131
Bab 131: Heran
132
Bab 132: Rasakanlah!
133
Bab 133: Yang Kupercayai
134
Bab 134: Penasaran
135
Bab 135: Sadar
136
Bab 136: Jahat
137
Bab 137: Berbalik
138
Bab 138: Belum Selesai
139
Bab 139: Kerinduan
140
Bab 140: Pulang
141
Bab 141: Kunjungan
142
Bab 142: Menyebalkan
143
Bab 143: Mengingatkan
144
Bab 144: Nostalgia
145
Bab 145: Mana Keadilan?
146
Bab 146: Menyelesaikan
147
Bab 147: Fakta
148
Bab 148: Tak Sabar
149
Bab 149: Mengerti
150
Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!