Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang

Feronica tidak sadar akan api kecil yang tiba-tiba muncul di area sekitaran mata kanannya, seperti sebuah api yang menyala-nyala dan kemudian mirip seperti lava.

Tanda tersebut menjalar ke sebagian besar area wajahnya, bagi yang melihatnya secara langsung mungkin akan terkejut, namun pada kenyataannya begitulah yang terjadi.

Feronica tidak merasakan apapun yang aneh, dan tanpa disadarinya pula peti besar coklat itu mengeluarkan tanda yang sama, seperti api kecil dan kemudian mirip seperti lava menjalar keseluruh bagian peti itu.

Tanda yang sama terjadi pada kedua hal yang berbeda, apa sebenarnya artinya? Tidak ada yang tahu, hanya waktu sendiri yang bisa menjawabnya.

"Apa?" Feronica merasakan akan adanya atmosfer yang berbeda dibanding beberapa saat yang lalu, di saat ia yang tadinya merasa kedinginan yang hebat namun beberapa saat berselang, tubuhnya jadi terasa hangat dan tentu pula ia menyadarinya sekarang.

Feronica mengulurkan tangan kanan dan memegang wajahnya sendiri, memanglah terasa hangat. Ia merasa aneh dengan hal ini.

Mungkin saja rasa hangat ini adalah umpan balik yang diterima oleh tubuhnya demi menghadapi kedinginan yang hebat ini? Maksudnya adalah mungkin saja kehangatan yang ia rasakan saat ini hanyalah reaksi alami tubuhnya dalam kondisi seperti alam seperti ini?

Mungkin memang bisa terjadi seperti itu, dan jika boleh jujur perasaan hangat yang dirasakannya saat ini memang terasa nyaman, rasanya ia memiliki kekuatan baru untuk tidak tumbang di area pekuburan ini.

Memang sepertinya sebagian besar dari kita tidak mau tidak sadarkan diri secara tiba-tiba bukan? Feronica adalah salah satunya, ia memang merasa lemas dari tadi dan hampir kewalahan menanganinya, namun kini entah karena satu atau dua hal kekuatannya pulih kembali.

Feronica tidak mengerti, namun ia masih saja tidak menyadari kalau di belakang teryata terjadi sesuatu yang sulit dipercaya.

Klek....

"?" Suara barusan dari belakang terdengar sangat jelas seperti sebuah benda yang telah dibuka, Feronica bisa mendengar dengan jelas meskipun gemuruh hujan dan kilatan cahaya tetap menghiasi malam ini.

Mungkin saja itu hanya halusinasinya karena terlalu lama di area pekuburan ini? Pasalnya memang tadi pun peti besar coklat itu tertutup rapat dan ia memang tidak melihat akan adanya tanda-tanda peti terbuka tadi.

Feronica berusaha mengabaikan apa yang terjadi, pada akhirnya kenyataan yang telah ia peroleh memanglah benar adanya.

Tidak ada makhluk misterius, berbahaya dan pula jenis lainnya. Yang ada hanyalah peti besar coklat di area pekuburan Wolfden yang dirumorkan itu.

Demi memastikan hal itu Feronica tergerak untuk melihat kembali peti coklat besar itu dan seketika itu pula tanda api yang menjalar di sebagian area mata kanannya hilang dengan cepat, begitu pula dengan tanda yang ada di peti tersebut.

"Hmmm...." Feronica masih melihat hal yang sama, tidak jauh berbeda dari apa ia lihat sebelumnya.

Mungkinkah memang benar itu hanya halusinasinya saja Kalau begitu memang urusannya sudah selesai di sini.

Dan dalam waktu yang begitu singkat itu pula Feronica kembali merasakan sesuatu yang berbeda. Hawa dingin yang tadi dirasakannya perlahan kembali dan kehangatan yang ia rasakan yadi menghilang sedikit demi sedikit.

Feronica menyadari akan hal ini, dan berpikiran cepat mungkin memang reaksi alami tubuhnya seperti ini. Harapannya agar tetap merasakan hangat pada akhirnya tidak terwujud juga.

Perlahan ia berbalik kembali untuk benar-benar pulang kali ini, mengingat ia tidak bisa lagi berlama-lama karena kesadarannya sudah tidak bisa di kompromi lagi.

Feronica melihat ke bawah karena memang ia mulai merasa tanah di sekitaran area pekuburan ini terasa licin karena air hujan yang terus berjatuhan

Jika salah langkah saja ia bisa tergelincir dengan mudah, dan jika itu terjadi tentulah ia akan merasakan sakit kembali. Sakit karena jatuh di sekolah pun masih dirasakannya kali ini, dan Feronica tidak berminat untuk menambah rasa sakitnya itu.

Begitu gadis itu melangkahkan kakinya, ia malah melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat di tempat ini.

"Ah...."

Maksudnya apa? Feronica melihat ada sepasang kaki yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.

Padahal ia yakin sebelumnya tidak ada orang selain dirinya yang berada di area puncak pekuburan Wolfden ini, namun mengapa sekarang malah ada sepasang kaki yang berdiri di sana?

Beberapa saat sebelumnya pun Feronica memang tidak menyadari hawa kehadiran seseorang di sini, jikalau ia merasakannya harusnya memang ia sudah sadar sebelumnya bukan?

Feronica heran, baru kali ini ia tidak merasakan hawa kehadiran seseorang padahal memang seharusnya setiap makhluk hidup memilikinya.

Seorang yang belajar sihir tentulah punya dasarnya bukan? Nah satu dari banyak hal dasar itu adalah 'merasakan hawa kehadiran'. Makhluk yang hidup tentulah memiliki hawa kehadirannya bukan? Baik itu binatang ataupun manusia, mereka memiliki hawa kehadiran.

Orang-orang yang belajar sihir tentunya di asah berbagai macam inderanya, termasuk pendengaran dan penglihatan, semakin tajam maka semakin bagus.

Dengan begitu seorang yang punya kemampuan sihir akan memiliki indera yang lebih peka dibandingkan dengan yang tidak.

Bukan hal yang terlalu sulit bagi Feronica untuk merasakan hawa kehadiran makhluk hidup, karena memang seperti yang telah dijelaskan sebelumnya panca indera orang yang belajar sihir lebih baik dibanding dengan yang tidak.

Lantas mengapa ia tidak bisa merasakan kehadiran orang ini? Demi menjawab hal itu Feronica harus tahu dulu kaki siapa yang berdiri tak jauh darinya saat ini.

Mungkin saja itu orang yang ia kenal bukan?

Perlahan namun pasti Feronica melihat ke depan, demi mengetahui siapa sebenarnya orang yang ada di tempat dan di waktu yang sama dengannya.

Ada seorang pria muda dengan tinggi yang ideal sekitaran 170 cm sedang menatapnya di sini. Berpenampilan rapi dengan baju hitam dan juga celana hitam yang rapi juga.

Rambutnya pula rapi, sosok yang sempurna untuk menjadi aktor karena kharisma yang terpancar darinya sungguhlah tinggi. Mungkin itu adalah sebagian besar impresi awal orang terhadap pemuda ini.

Wajahnya cukup tampan dan pemuda itu sepertinya hanya satu atau dua tahun lebih tua darinya saat ini.

Feronica belum pernah melihat orang ini sebelumnya, bahkan dari sekian banyak orang yang ia tahu di desa ataupun di Akademi, ia tidak pernah melihatnya di manapun.

Meskipun Feronica memang bukan tipe orang yang banyak bersosialiasi namun jangan meragukan kemampuannya untuk mengamati orang lain, setidaknya ia banyak melihat orang dan tahu bagaimana karakteristik wajah dan mungkin sedikit gerak gerik mereka?

Tapi meskipun Feronica berusaha menganalisis siapa sebenarnya yang berdiri tak jauh darinya itu, ia tetap tidak menemukan jawaban dan itu artinya memang ia baru pertama kali bertemu dengannya saat ini.

"Uh...." Feronica bingung apa yang harus diucapkannya saat ini, ia sendiri sudah tidak berminat untuk mengobrol dengan seseorang meskipun ia kagum dengan betapa tampannya wajah pemuda itu, namun yang ia inginkan saat ini hanyalah pulang dan berisirahat untuk mempersiapkan diri menjalani Tes Kemampuan Sihir besok.

Acara besok sangatlah penting dan berpengaruh pada nilai keseluruhan akademi selama ia belajar tiga tahun terakhir, jadi mengapa ia tetap berada di sini setelah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya? Hanya dengan tiba-tiba melihat seorang asing di tempat ini tidak akan membuat kenyataan yang telah ia tahu berubah bukan?

Dan lagi jika ia terus-terusan menerima hawa dingin seperti ini tentulah akan ada saat di mana ia mencapai batasannya bukan? Jadi Feronica harus mencegah sebelum hal itu terjadi.

Jadi untuk apa ia menghabiskan waktu di tempat ini? Feronica lelah menjalani hari ini... ia hanya ingin pulang ke rumah dan istirahat, itu saja.

Meskipun masih ada pertanyaan yang belum terjawab yaitu bagaimana mungkin pemuda yang jelas-jelas berada tak jauh darinya tidak memiliki hawa kehadiran? Feronica memang penasaran, namun rasa penasarannya dikalahkan oleh kelelahan yang sekarang dialaminya ini.

Pemuda yang terlihat di sana melihat Feronica yang terlihat kelelahan sekali, pandangannya penuh arti seolah ia telah menyadari sesuatu....

Episodes
1 Bab 1: Tempat Pelarian
2 Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3 Bab 3: Kehausan
4 Bab 4: Berhenti, Kumohon
5 Bab 5: Aku Mengerti
6 Bab 6: Keputusan Mutlak
7 Bab 7: Tujuan Awal
8 Bab 8: Sedikit Bantuan
9 Bab 9: Awal Rumor
10 Bab 10: Sedikit Rumor
11 Bab 11: Kedua Teman
12 Bab 12: Hal Hangat
13 Bab 13: Break The Rules
14 Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15 Bab 15: Pembuktian
16 Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17 Bab 17: Bebas
18 Bab 18: Mencari Kebenaran
19 Bab 19: Rossa dan Fredirica
20 Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21 Bab 21: Menerima
22 Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23 Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24 Bab 24: Melawan
25 Bab 25: Rasa Penasaran
26 Bab 26: Dilema
27 Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28 Bab 28: Masih Jauh
29 Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30 Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31 Bab 31: Rencana Baru
32 Bab 32: Apa Yang Terjadi
33 Bab 33: Kehangatan
34 Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35 Bab 35: Waktunya Beraksi
36 Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37 Bab 37: Berbeda
38 Bab 38: Akhir
39 Bab 39: Berusaha
40 Bab 40: Tepat Waktu
41 Bab 41: Memulai Kembali
42 Bab 42: Yelena
43 Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44 Bab 44: Sebuah Alasan
45 Bab 45: Sebuah Alasan
46 Bab 46: Tumbang
47 Bab 47: Bangga
48 Bab 48: Diskusi
49 Bab 49: Dampak
50 Bab 50: Sembuh
51 Bab 51: Hasil
52 Bab 52: Pulang
53 Bab 53: Perjuangan
54 Bab 54: Konsekuensi
55 Bab 55: Kalian Mengganggu
56 Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57 Bab 57: Mencoba Mengerti
58 Bab 58: Menerima Perasaan
59 Bab 59: Menerima Kenyataan
60 Bab 60: Sadar Dan Menerima
61 Bab 61: Menghadapi Tekanan
62 Bab 62: Kabar Dari Jauh
63 Bab 63: Sedikit Berubah
64 Bab 64: Keluar
65 Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66 Bab 66: Membela
67 Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68 Bab 68: Inilah Kekuatanku
69 Bab 69: Melawan Juga
70 Bab 70: Tak Sadar
71 Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72 Bab 72: Lebih Kuat
73 Bab 73: Masih Mau?
74 Bab 74: Kesempatan Emas
75 Bab 75: Tenang
76 Bab 76: Alasan Sebenarnya
77 Bab 77: Memilih
78 Bab 78: Diriku
79 Bab 79: Sebuah Kenyataan
80 Bab 80: Sunguh Nyata
81 Bab 81: Kabar
82 Bab 82: Berdamai
83 Bab 83: Heran
84 Bab 84: Penampilan Baru
85 Bab 85: Insting
86 Bab 86: Tamu
87 Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88 Bab 88: Pertemuan
89 Bab 89: Saudara
90 Bab 90: Alasan Berubah
91 Bab 91: Memanas
92 Bab 92: Makin Panas
93 Bab 93: Menjauh
94 Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95 Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96 Bab 96: Sudah Habis
97 Bab 97: Perbedaan
98 Bab 98: Curiga
99 Bab 99: Menunjukkan Tekad
100 Bab 100: Ragu
101 Bab 101: Percaya
102 Bab 102: Tidak Terduga
103 Bab 103: Tanda
104 Bab 104: Terdesak
105 Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106 Bab 106: Keputusan
107 Bab 107: Undangan
108 Bab 108: Berjalan
109 Bab 109: Dingin
110 Bab 110: Pertanyaan Lagi
111 Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112 Bab 112: Balas Budi
113 Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114 Bab 114: Sadar
115 Bab 115: Bertemu
116 Bab 116: Terdampar
117 Bab 117: Panggilan Alami
118 Bab 118: Jalan-jalan
119 Bab 119: Jadi Kenyataan
120 Bab 120: Membuka
121 Bab 121: Tertangkap
122 Bab 122: Bersinggah
123 Bab 123: Bertemu... lagi
124 Bab 124: Perasaan
125 Bab 125: Rasakanlah
126 Bab 126: Usaha
127 Bab 127: Perlawanan
128 Bab 128: Kena Mental
129 Bab 129: Sosok Misterius
130 Bab 130: Mengincar
131 Bab 131: Heran
132 Bab 132: Rasakanlah!
133 Bab 133: Yang Kupercayai
134 Bab 134: Penasaran
135 Bab 135: Sadar
136 Bab 136: Jahat
137 Bab 137: Berbalik
138 Bab 138: Belum Selesai
139 Bab 139: Kerinduan
140 Bab 140: Pulang
141 Bab 141: Kunjungan
142 Bab 142: Menyebalkan
143 Bab 143: Mengingatkan
144 Bab 144: Nostalgia
145 Bab 145: Mana Keadilan?
146 Bab 146: Menyelesaikan
147 Bab 147: Fakta
148 Bab 148: Tak Sabar
149 Bab 149: Mengerti
150 Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Bab 1: Tempat Pelarian
2
Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3
Bab 3: Kehausan
4
Bab 4: Berhenti, Kumohon
5
Bab 5: Aku Mengerti
6
Bab 6: Keputusan Mutlak
7
Bab 7: Tujuan Awal
8
Bab 8: Sedikit Bantuan
9
Bab 9: Awal Rumor
10
Bab 10: Sedikit Rumor
11
Bab 11: Kedua Teman
12
Bab 12: Hal Hangat
13
Bab 13: Break The Rules
14
Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15
Bab 15: Pembuktian
16
Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17
Bab 17: Bebas
18
Bab 18: Mencari Kebenaran
19
Bab 19: Rossa dan Fredirica
20
Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21
Bab 21: Menerima
22
Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23
Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24
Bab 24: Melawan
25
Bab 25: Rasa Penasaran
26
Bab 26: Dilema
27
Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28
Bab 28: Masih Jauh
29
Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30
Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31
Bab 31: Rencana Baru
32
Bab 32: Apa Yang Terjadi
33
Bab 33: Kehangatan
34
Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35
Bab 35: Waktunya Beraksi
36
Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37
Bab 37: Berbeda
38
Bab 38: Akhir
39
Bab 39: Berusaha
40
Bab 40: Tepat Waktu
41
Bab 41: Memulai Kembali
42
Bab 42: Yelena
43
Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44
Bab 44: Sebuah Alasan
45
Bab 45: Sebuah Alasan
46
Bab 46: Tumbang
47
Bab 47: Bangga
48
Bab 48: Diskusi
49
Bab 49: Dampak
50
Bab 50: Sembuh
51
Bab 51: Hasil
52
Bab 52: Pulang
53
Bab 53: Perjuangan
54
Bab 54: Konsekuensi
55
Bab 55: Kalian Mengganggu
56
Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57
Bab 57: Mencoba Mengerti
58
Bab 58: Menerima Perasaan
59
Bab 59: Menerima Kenyataan
60
Bab 60: Sadar Dan Menerima
61
Bab 61: Menghadapi Tekanan
62
Bab 62: Kabar Dari Jauh
63
Bab 63: Sedikit Berubah
64
Bab 64: Keluar
65
Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66
Bab 66: Membela
67
Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68
Bab 68: Inilah Kekuatanku
69
Bab 69: Melawan Juga
70
Bab 70: Tak Sadar
71
Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72
Bab 72: Lebih Kuat
73
Bab 73: Masih Mau?
74
Bab 74: Kesempatan Emas
75
Bab 75: Tenang
76
Bab 76: Alasan Sebenarnya
77
Bab 77: Memilih
78
Bab 78: Diriku
79
Bab 79: Sebuah Kenyataan
80
Bab 80: Sunguh Nyata
81
Bab 81: Kabar
82
Bab 82: Berdamai
83
Bab 83: Heran
84
Bab 84: Penampilan Baru
85
Bab 85: Insting
86
Bab 86: Tamu
87
Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88
Bab 88: Pertemuan
89
Bab 89: Saudara
90
Bab 90: Alasan Berubah
91
Bab 91: Memanas
92
Bab 92: Makin Panas
93
Bab 93: Menjauh
94
Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95
Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96
Bab 96: Sudah Habis
97
Bab 97: Perbedaan
98
Bab 98: Curiga
99
Bab 99: Menunjukkan Tekad
100
Bab 100: Ragu
101
Bab 101: Percaya
102
Bab 102: Tidak Terduga
103
Bab 103: Tanda
104
Bab 104: Terdesak
105
Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106
Bab 106: Keputusan
107
Bab 107: Undangan
108
Bab 108: Berjalan
109
Bab 109: Dingin
110
Bab 110: Pertanyaan Lagi
111
Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112
Bab 112: Balas Budi
113
Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114
Bab 114: Sadar
115
Bab 115: Bertemu
116
Bab 116: Terdampar
117
Bab 117: Panggilan Alami
118
Bab 118: Jalan-jalan
119
Bab 119: Jadi Kenyataan
120
Bab 120: Membuka
121
Bab 121: Tertangkap
122
Bab 122: Bersinggah
123
Bab 123: Bertemu... lagi
124
Bab 124: Perasaan
125
Bab 125: Rasakanlah
126
Bab 126: Usaha
127
Bab 127: Perlawanan
128
Bab 128: Kena Mental
129
Bab 129: Sosok Misterius
130
Bab 130: Mengincar
131
Bab 131: Heran
132
Bab 132: Rasakanlah!
133
Bab 133: Yang Kupercayai
134
Bab 134: Penasaran
135
Bab 135: Sadar
136
Bab 136: Jahat
137
Bab 137: Berbalik
138
Bab 138: Belum Selesai
139
Bab 139: Kerinduan
140
Bab 140: Pulang
141
Bab 141: Kunjungan
142
Bab 142: Menyebalkan
143
Bab 143: Mengingatkan
144
Bab 144: Nostalgia
145
Bab 145: Mana Keadilan?
146
Bab 146: Menyelesaikan
147
Bab 147: Fakta
148
Bab 148: Tak Sabar
149
Bab 149: Mengerti
150
Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!