Bab 6: Keputusan Mutlak

Stephen tidak melakukan apapun untuk mempertahankan kondisinya saat ini, bahkan ia sama sekali tidak memberikan perlawanan balik pada pria dengan jubah merah ini.

BUM!

Energi kekuatan suci berhasil mengalahkan pertahanan gelap Stephen, seketika itu juga energi suci membentuk sebuah penjara yang bersinar langsung memenjarakan Stephen.

Pria berjubah merah berhasil memojokkan dan bahkan mengalahkan pemuda itu, ia tidak menyangka akan semudah ini.

Padahal ia sebelumnya yakin, seharusnya pemuda itu bisa memberikan perlawanan lebih dari ini, namun ternyata perkiraannya itu salah.

Atau mungkin memang pemuda itu mengalah padanya? Banyak spekulasi yang tergambar dalam pikiran pria berjubah merah ini, namun terlepas dari semuanya itu ia sama sekali tidak peduli, asalkan tujuannya sudah tercapai maka itu sudah lebih dari cukup.

"Tidak sia-sia aku mendalami berbagai macam ilmu dan pengetahuan sihir... termasuk tentang berbagai macam makhluk yang ada di dunia ini." Pria berjubah merah itu menatap rembulan yang sama sekali tidak bisa bersinar karena terhalang awan yang tebal.

"Apa yang salah dengan dunia ini? Mengapa harus ada makhluk sepertinya?"

Lagi-lagi pria berjubah merah mengomentari keadaan sekarang ini, kenyataan yang begitu pahit yang selama ini tidak ia ketahui pada akhirnya terbuka dengan jelas.

Pria berjubah merah itu menatap Stephen yang sudah tidak berdaya karena terpencara oleh energi kekuatan suci, yang memang musuh utama dari kekuatan gelap.

"Ternyata keberadaan mereka memang nyata adanya," lanjut pria berjubah merah itu, ia yang tadinya hanya menganggap setiap ilmu, bacaan serta pengetahuan tentang apa yang ada di dunia ini tidak akan terlalu berpengaruh, namun kini ia tahu kebenaran yang sesungguhnya.

Bukan kebetulan seorang dari Keluarga Reiss yang notabene adalah ahli sihir yang tersohor bertemu dengan makhluk seperti ini, yang tidak diketahui sama sekali oleh orang banyak.

Memiliki pengetahuan dan keterampilan yang di atas rata-rata, keluarga Reiss sudah mendalami berbagai macam hal, mulai dari ilmu sihir maupun pengetahuan lainnya.

Pria berjubah merah ini memandangi Stephen dengan wajah yang sama, raut wajah yang penuh amarah dan kekosongan.

Pria berjubah merah ini tahu benar apa yang sebenarnya seorang yang bernama Stephen ini lakukan, sungguhlah informasi yang tidak mau diketahui oleh orang banyak.

Aura kegelapan yang benar-benar kuat terasa tepat ketika Stephen terkurung ke dalam penjara kekuatan suci, dalam keadaan itu kini Stephen tidak bisa menyembunyikan 'jati dirinya' yang sebenarnya.

Kekuatan suci seperti membuka setiap apa yang berusaha Stephen tutupi, kenyataan yang selama ini terjadi, semuanya terbuka dengan jelas, dan itu membuat pria berjubah merah semakin tidak percaya akan hal ini.

Meskipun dalam ketidak-percayaannya itu, pria berjubah merah tidak menyangkali kenyataan akan adanya makhluk seperti Stephen... yang tidak bisa ia tolelir adalah perbuatannya yang sungguhlah rusak.

"Sudah berapa banyak korbanmu?" Pria berjubah merah mendekati Stephen yang tertunduk lemas tak berdaya dalam penjara kekuatan suci yang menyedot kekuatan gelapnya secara drastis.

Meski samar-samat Stephen masih bisa mendengar apa yang dikatakan pria itu, kalau saja punya kekuatan untuk bicara, ia pasti sudah melakukannya sekarang.

"...."

Dalam keadaannya yang tak berdaya Stephen sudah tidak berminat lagi membela dirinya, pada akhirnya semakin ia melakukannya semakin dekat pula ia dengan masalah yang selalu ingin ia hindari.

Kedua pandangan yang tidak bisa saling mengerti, bahkan dilihat dari sisi tengah pun keduanya akan mengakui tujuan dan maksud mereka masing-masing adalah benar adanya.

Dan kini pria berjubah merah hampir berhasil merealisasikan tujuannya, hanya tinggal langkah terakhir yang harus ia ambil untuk benar-benar menyelesaikan tujuan awalnya itu.

Di sisi lain Stephen tidak menyesal tidak melarikan diri, ia telah belajar dari masa lalu dan tidak mau lagi mengulangi kesalahan yang sama.

Ada di mana saatnya kita melakukan sesuatu yang kita pikir benar, namun pada kenyataannya memang salah adanya, Stephen sudah memaknai hal ini dan memantapkan keputusannya itu.

Pria berjubah merah terdiam, pandangannya kosong dan tajam tertuju pada pemuda itu, layaknya seorang yang sudah tidak peduli lagi akan apapun dan akan melakukan apapun yang menurutnya benar.

Hujan tidak berhenti, malah semakin deras adanya, kilatan cahaya dan deru gemuruh terus-terusan menghiasi malam larut yang terasa cepat berlali.

Pria berjubah merah berdiri tepat dekat Stephen yang tertunduk, ia memikirkan kembali apa yang Stephen lakukan sebelumnya, kenyataan bahwa ternyata pemuda ini bukanlah manusia memang mengejutkan, namun ada yang lebih mengejutkan dari hal itu.

Yaitu bagaimana Stephen bisa menyerah semudah ini, bahkan pria berjubah merah berekspektasi ia harus mempertaruhkan nyawanya dalam pertarungan melawan makhluk yang bukan manusia, namun pada kenyataannya ia melihat hal yang berbeda adanya.

Stephen yang bersikeras membela dirinya sendiri memang bukanlah hal yang aneh, semua orang punya mekanisme pertahanan di mana mereka akan membela diri sendiri ketika diperlukan. Apalagi menyangkut apa yang dipercayainya.

Namun dalam kasus Stephen, pembelaan dirinya ini dilakukan dengan tegas dan penuh perasaan, tidak hanya perkataan kosong yang tak bermakna.

Hal itulah yang membuat pria berjubah merah menahan dirinya sampai saat ini... ia bisa saja mengakhiri hidup pemuda ini kapan saja, namun ia memutuskan untuk tetap tenang dan berpikir jernih.

"Huhhh...." Pria berjubah merah mengambil nafas dalam dan mencoba tenang di tengah emosinya yang naik karena muak dengan kekuatan gelap yang sekarang ini muncul leluasa dari pemuda ini.

Tanpa perlu banyak bicara pun, sudah terlalu banyak kesalahan yang dibuat pemuda ini, aura kegelapan sudah berbicara dengan jelas, bahkan lebih jelas daripada bicara langsung.

Seolah berkomunikasi dengan energi kekuatan gelap, pria berjubah merah memang sudah mencapai tingkat dimana tingkat kepekaannya terhadap jenis kekuatan apapun meningkat drastis.

Pada akhirnya tanpa perlu membuat lawannya bicara banyak, pria berjubah merah sudah tahu lebih banyak daripada apa yang mungkin pemuda ini bisa katakan.

Dan pula itulah yang membuat dilema bagi pria berjubah merah ini, di satu sisi ia merasa terganggu dengan pembelaan pemuda ini, dan di sisi lain ia tidak bisa mengabaikan fakta yang sudah ia ketahui dari begitu kuatnya energi gelap milik Stephen.

Entah kenapa pembelaan pemuda ini benar-benar terdengar meyakinkan.

Apa yang sebenarnya ia ingin putuskan sekarang? Mengapa di saat yang krusial ini ia kebingungan memilih jalan yang harus ditempuh?

Begitulah pertanyaan yang mengiringi tujuan pria berjubah merah ini, pada awalnya tekadnya begitu kuat untuk menghentikan tindakan pemuda ini.

"Menghentikan...." Pria berjubah merah seperti menyadari sesuatu, sebuah hal yang seharusnya ia sadari dari awal.

"Tujuanku hanyalah ... menghentikannya...." Pria itu kembali bergumam, sadar akan tujuannya yang sebenarnya yang ia sempat lupakan karena amarahnya pada Stephen ketika ia bertemu dengannya.

Untuk menghentikannya? Dengan cara bagaimana? Pria berjubah merah masih belum punya gambaran yang jelas mengenai hal itu, yang pasti ia ingat akan tujuannya semula, namun detil selengkapnya masih belum terlihat jrlas.

"Menghentikannya, apakah itu jalan terbaik?" Lagi-lagi pria ini merenung, ini adalah satu-satunya kesempatan langka baginya bertemu dengan Stephen di tempat yang terpencil dan jauh dari keramaian kota, setelah kesempatan ini berlalu ia tidak tahu lagi harus bagaimana bilamana Stephen melakukan sesuatu yang jauh lebih mengerikan lagi.

Masih ada perdebatan dalam hati pria berjubah merah ini, namun setelah beberapa saatnmenimbang banyak hal, ia tahu ia tidak bisa mengambil keputusan yang gegabah, dan pada akhirnya ia membulatkan apa yang akan dilakukannya.

Stephen sudah hampir kehilangan kesadarannya, sebagian besar kekuatannya sudah tersedot habis oleh kekuatan suci, namun di sisi lain ia sebenarnya masih bisa menggunakan 'kartu as' nya untuk keluar dari momen mendesak ini.

Namun keputusannya sudah bulat, pada akhirnya Stephen benar-benar tidak melarikan diri kali ini, ia sadar betul ini adalah jalan yang selama ini seharusnya ia ambil, bukan dengan terus menerus hidup dalam pelarian.

Jika memang hidupnya harus berakhir di sini, Stehen tak keberatan, karena memang ia sendiri tidak menyadari begitu banyaknya kejahatan yang dibuatnya, yang sebagian besarnya menghasilkan aura kekuatan gelap yang menjadi sumber kekuatannya selama ini.

Stephen sudah kehilangan sebagian besar ingatannya karena 'jati dirinya' memanglah kekuatan gelap itu sendiri, pada akhirnya seberapa keras ia berusaha merubah dirinya semakin cepat pula ia kembali ke dirinya yang sebenarnya.

Stephen bertarung dengan cukup puas tadi karena kekuatan yang dipakainya adalah kekuatannya sendiri, tanpa campur tangan dari kekuatan 'jati dirinya' yamg sebenarnya, meskipun tidak sepenuhnya benar karena Stephen bisa memakai kekuatan 'jati dirinya' itu setengahnya ataupula sepenuhnya.

Tapi setidaknya Stephen tidak menyerahkan dirinya lagi pada 'jati dirinya' yang sebenarnya yang bisa jadi modal untuk melarikan diri dari masalah ini. Namun ia tidak melakukannya dan ia bangga.

Tidak pernah terpikirkan olehnya ia akan membuat begitu banyak masalah, dan bahkan karena satu atau dua hal semuanya bisa menjadi runyam seketika bahkan saat ia tidak menyadarinya (berkaca dari insiden tertusuk ranting sebelumnya).

Stephen akhirnya tahu, pria berjubah merah adalah seorang ahli sihir dari Keluarga Reiss.

Ia sudah kalah dan hidupnya berakhir di sini, padahal ia masih ingin menikmati hari, namun pada akhirnya ia harus menanggung apa yang selama ini diperbuatnya.

Pria berjubah merah itu mendekati Stephen, dan kemudian memegang energi penjara suci yang dan seketika itu pula muncullah cahaya terang yang menyilaukan mata, seketika itu juga bekas luka pria berjubah merah bersinar pula, seperti efek lava.

"Sihir Segel Suci: Peti Mati!"

Seketika itu juga energi sihir penjara suci berubah menjadi peti yang pula memiliki kekuatan sihir, berukuran besar dan membuat siapapun yang melihatnya terheran-heran dan penasaran akan isinya.

Stephen terkurung dalam peti itu dengan kondisi hampir kehilangan kesadarannya, ia tidak mengira pria dari keluarga Reiss ini memilih untuk menyegelnya dibanding dengan mengakhirinya untuk alasan yang baik, mengapa begitu? Stephen tidak bisa lagi menemukan jawabannya kali ini.

Sinar suci dari peti mati tersebut perlahan menghilang, dan berubah menjadi peti kayu coklat yang besar dan kokoh tepat di area perbukitan Wolfden.

Dengan segel yang telah dipasang, membuat siapapun dari luar tidak bisa mengganggu peti ini, membukanya atau apapun, dan itu berlaku pada Stephen yang kini sudah berada di dalam peti ini.

Pria berjubah merah itu telah mengambil keputusannya, ia berbalik badan meninggalkan peti besar nan kokoh di area bukit pekuburan Wolfden.

"Aku tidak bisa membenarkanmu atas semua perbuatanmu...."

"Tapi aku terkesan bagaimana kau berusaha untuk meyakinkanku...."

"Kupikir kau berhak untuk mengetahui identitasku... sampai kita bertemu kembali .... panggil aku William."

Terpopuler

Comments

Trishna Listiantini

Trishna Listiantini

akhirnya Nemu novel genre ini...

2022-12-28

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Tempat Pelarian
2 Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3 Bab 3: Kehausan
4 Bab 4: Berhenti, Kumohon
5 Bab 5: Aku Mengerti
6 Bab 6: Keputusan Mutlak
7 Bab 7: Tujuan Awal
8 Bab 8: Sedikit Bantuan
9 Bab 9: Awal Rumor
10 Bab 10: Sedikit Rumor
11 Bab 11: Kedua Teman
12 Bab 12: Hal Hangat
13 Bab 13: Break The Rules
14 Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15 Bab 15: Pembuktian
16 Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17 Bab 17: Bebas
18 Bab 18: Mencari Kebenaran
19 Bab 19: Rossa dan Fredirica
20 Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21 Bab 21: Menerima
22 Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23 Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24 Bab 24: Melawan
25 Bab 25: Rasa Penasaran
26 Bab 26: Dilema
27 Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28 Bab 28: Masih Jauh
29 Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30 Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31 Bab 31: Rencana Baru
32 Bab 32: Apa Yang Terjadi
33 Bab 33: Kehangatan
34 Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35 Bab 35: Waktunya Beraksi
36 Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37 Bab 37: Berbeda
38 Bab 38: Akhir
39 Bab 39: Berusaha
40 Bab 40: Tepat Waktu
41 Bab 41: Memulai Kembali
42 Bab 42: Yelena
43 Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44 Bab 44: Sebuah Alasan
45 Bab 45: Sebuah Alasan
46 Bab 46: Tumbang
47 Bab 47: Bangga
48 Bab 48: Diskusi
49 Bab 49: Dampak
50 Bab 50: Sembuh
51 Bab 51: Hasil
52 Bab 52: Pulang
53 Bab 53: Perjuangan
54 Bab 54: Konsekuensi
55 Bab 55: Kalian Mengganggu
56 Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57 Bab 57: Mencoba Mengerti
58 Bab 58: Menerima Perasaan
59 Bab 59: Menerima Kenyataan
60 Bab 60: Sadar Dan Menerima
61 Bab 61: Menghadapi Tekanan
62 Bab 62: Kabar Dari Jauh
63 Bab 63: Sedikit Berubah
64 Bab 64: Keluar
65 Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66 Bab 66: Membela
67 Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68 Bab 68: Inilah Kekuatanku
69 Bab 69: Melawan Juga
70 Bab 70: Tak Sadar
71 Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72 Bab 72: Lebih Kuat
73 Bab 73: Masih Mau?
74 Bab 74: Kesempatan Emas
75 Bab 75: Tenang
76 Bab 76: Alasan Sebenarnya
77 Bab 77: Memilih
78 Bab 78: Diriku
79 Bab 79: Sebuah Kenyataan
80 Bab 80: Sunguh Nyata
81 Bab 81: Kabar
82 Bab 82: Berdamai
83 Bab 83: Heran
84 Bab 84: Penampilan Baru
85 Bab 85: Insting
86 Bab 86: Tamu
87 Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88 Bab 88: Pertemuan
89 Bab 89: Saudara
90 Bab 90: Alasan Berubah
91 Bab 91: Memanas
92 Bab 92: Makin Panas
93 Bab 93: Menjauh
94 Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95 Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96 Bab 96: Sudah Habis
97 Bab 97: Perbedaan
98 Bab 98: Curiga
99 Bab 99: Menunjukkan Tekad
100 Bab 100: Ragu
101 Bab 101: Percaya
102 Bab 102: Tidak Terduga
103 Bab 103: Tanda
104 Bab 104: Terdesak
105 Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106 Bab 106: Keputusan
107 Bab 107: Undangan
108 Bab 108: Berjalan
109 Bab 109: Dingin
110 Bab 110: Pertanyaan Lagi
111 Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112 Bab 112: Balas Budi
113 Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114 Bab 114: Sadar
115 Bab 115: Bertemu
116 Bab 116: Terdampar
117 Bab 117: Panggilan Alami
118 Bab 118: Jalan-jalan
119 Bab 119: Jadi Kenyataan
120 Bab 120: Membuka
121 Bab 121: Tertangkap
122 Bab 122: Bersinggah
123 Bab 123: Bertemu... lagi
124 Bab 124: Perasaan
125 Bab 125: Rasakanlah
126 Bab 126: Usaha
127 Bab 127: Perlawanan
128 Bab 128: Kena Mental
129 Bab 129: Sosok Misterius
130 Bab 130: Mengincar
131 Bab 131: Heran
132 Bab 132: Rasakanlah!
133 Bab 133: Yang Kupercayai
134 Bab 134: Penasaran
135 Bab 135: Sadar
136 Bab 136: Jahat
137 Bab 137: Berbalik
138 Bab 138: Belum Selesai
139 Bab 139: Kerinduan
140 Bab 140: Pulang
141 Bab 141: Kunjungan
142 Bab 142: Menyebalkan
143 Bab 143: Mengingatkan
144 Bab 144: Nostalgia
145 Bab 145: Mana Keadilan?
146 Bab 146: Menyelesaikan
147 Bab 147: Fakta
148 Bab 148: Tak Sabar
149 Bab 149: Mengerti
150 Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Bab 1: Tempat Pelarian
2
Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3
Bab 3: Kehausan
4
Bab 4: Berhenti, Kumohon
5
Bab 5: Aku Mengerti
6
Bab 6: Keputusan Mutlak
7
Bab 7: Tujuan Awal
8
Bab 8: Sedikit Bantuan
9
Bab 9: Awal Rumor
10
Bab 10: Sedikit Rumor
11
Bab 11: Kedua Teman
12
Bab 12: Hal Hangat
13
Bab 13: Break The Rules
14
Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15
Bab 15: Pembuktian
16
Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17
Bab 17: Bebas
18
Bab 18: Mencari Kebenaran
19
Bab 19: Rossa dan Fredirica
20
Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21
Bab 21: Menerima
22
Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23
Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24
Bab 24: Melawan
25
Bab 25: Rasa Penasaran
26
Bab 26: Dilema
27
Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28
Bab 28: Masih Jauh
29
Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30
Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31
Bab 31: Rencana Baru
32
Bab 32: Apa Yang Terjadi
33
Bab 33: Kehangatan
34
Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35
Bab 35: Waktunya Beraksi
36
Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37
Bab 37: Berbeda
38
Bab 38: Akhir
39
Bab 39: Berusaha
40
Bab 40: Tepat Waktu
41
Bab 41: Memulai Kembali
42
Bab 42: Yelena
43
Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44
Bab 44: Sebuah Alasan
45
Bab 45: Sebuah Alasan
46
Bab 46: Tumbang
47
Bab 47: Bangga
48
Bab 48: Diskusi
49
Bab 49: Dampak
50
Bab 50: Sembuh
51
Bab 51: Hasil
52
Bab 52: Pulang
53
Bab 53: Perjuangan
54
Bab 54: Konsekuensi
55
Bab 55: Kalian Mengganggu
56
Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57
Bab 57: Mencoba Mengerti
58
Bab 58: Menerima Perasaan
59
Bab 59: Menerima Kenyataan
60
Bab 60: Sadar Dan Menerima
61
Bab 61: Menghadapi Tekanan
62
Bab 62: Kabar Dari Jauh
63
Bab 63: Sedikit Berubah
64
Bab 64: Keluar
65
Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66
Bab 66: Membela
67
Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68
Bab 68: Inilah Kekuatanku
69
Bab 69: Melawan Juga
70
Bab 70: Tak Sadar
71
Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72
Bab 72: Lebih Kuat
73
Bab 73: Masih Mau?
74
Bab 74: Kesempatan Emas
75
Bab 75: Tenang
76
Bab 76: Alasan Sebenarnya
77
Bab 77: Memilih
78
Bab 78: Diriku
79
Bab 79: Sebuah Kenyataan
80
Bab 80: Sunguh Nyata
81
Bab 81: Kabar
82
Bab 82: Berdamai
83
Bab 83: Heran
84
Bab 84: Penampilan Baru
85
Bab 85: Insting
86
Bab 86: Tamu
87
Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88
Bab 88: Pertemuan
89
Bab 89: Saudara
90
Bab 90: Alasan Berubah
91
Bab 91: Memanas
92
Bab 92: Makin Panas
93
Bab 93: Menjauh
94
Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95
Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96
Bab 96: Sudah Habis
97
Bab 97: Perbedaan
98
Bab 98: Curiga
99
Bab 99: Menunjukkan Tekad
100
Bab 100: Ragu
101
Bab 101: Percaya
102
Bab 102: Tidak Terduga
103
Bab 103: Tanda
104
Bab 104: Terdesak
105
Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106
Bab 106: Keputusan
107
Bab 107: Undangan
108
Bab 108: Berjalan
109
Bab 109: Dingin
110
Bab 110: Pertanyaan Lagi
111
Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112
Bab 112: Balas Budi
113
Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114
Bab 114: Sadar
115
Bab 115: Bertemu
116
Bab 116: Terdampar
117
Bab 117: Panggilan Alami
118
Bab 118: Jalan-jalan
119
Bab 119: Jadi Kenyataan
120
Bab 120: Membuka
121
Bab 121: Tertangkap
122
Bab 122: Bersinggah
123
Bab 123: Bertemu... lagi
124
Bab 124: Perasaan
125
Bab 125: Rasakanlah
126
Bab 126: Usaha
127
Bab 127: Perlawanan
128
Bab 128: Kena Mental
129
Bab 129: Sosok Misterius
130
Bab 130: Mengincar
131
Bab 131: Heran
132
Bab 132: Rasakanlah!
133
Bab 133: Yang Kupercayai
134
Bab 134: Penasaran
135
Bab 135: Sadar
136
Bab 136: Jahat
137
Bab 137: Berbalik
138
Bab 138: Belum Selesai
139
Bab 139: Kerinduan
140
Bab 140: Pulang
141
Bab 141: Kunjungan
142
Bab 142: Menyebalkan
143
Bab 143: Mengingatkan
144
Bab 144: Nostalgia
145
Bab 145: Mana Keadilan?
146
Bab 146: Menyelesaikan
147
Bab 147: Fakta
148
Bab 148: Tak Sabar
149
Bab 149: Mengerti
150
Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!