Stephen tidak melakukan apapun untuk mempertahankan kondisinya saat ini, bahkan ia sama sekali tidak memberikan perlawanan balik pada pria dengan jubah merah ini.
BUM!
Energi kekuatan suci berhasil mengalahkan pertahanan gelap Stephen, seketika itu juga energi suci membentuk sebuah penjara yang bersinar langsung memenjarakan Stephen.
Pria berjubah merah berhasil memojokkan dan bahkan mengalahkan pemuda itu, ia tidak menyangka akan semudah ini.
Padahal ia sebelumnya yakin, seharusnya pemuda itu bisa memberikan perlawanan lebih dari ini, namun ternyata perkiraannya itu salah.
Atau mungkin memang pemuda itu mengalah padanya? Banyak spekulasi yang tergambar dalam pikiran pria berjubah merah ini, namun terlepas dari semuanya itu ia sama sekali tidak peduli, asalkan tujuannya sudah tercapai maka itu sudah lebih dari cukup.
"Tidak sia-sia aku mendalami berbagai macam ilmu dan pengetahuan sihir... termasuk tentang berbagai macam makhluk yang ada di dunia ini." Pria berjubah merah itu menatap rembulan yang sama sekali tidak bisa bersinar karena terhalang awan yang tebal.
"Apa yang salah dengan dunia ini? Mengapa harus ada makhluk sepertinya?"
Lagi-lagi pria berjubah merah mengomentari keadaan sekarang ini, kenyataan yang begitu pahit yang selama ini tidak ia ketahui pada akhirnya terbuka dengan jelas.
Pria berjubah merah itu menatap Stephen yang sudah tidak berdaya karena terpencara oleh energi kekuatan suci, yang memang musuh utama dari kekuatan gelap.
"Ternyata keberadaan mereka memang nyata adanya," lanjut pria berjubah merah itu, ia yang tadinya hanya menganggap setiap ilmu, bacaan serta pengetahuan tentang apa yang ada di dunia ini tidak akan terlalu berpengaruh, namun kini ia tahu kebenaran yang sesungguhnya.
Bukan kebetulan seorang dari Keluarga Reiss yang notabene adalah ahli sihir yang tersohor bertemu dengan makhluk seperti ini, yang tidak diketahui sama sekali oleh orang banyak.
Memiliki pengetahuan dan keterampilan yang di atas rata-rata, keluarga Reiss sudah mendalami berbagai macam hal, mulai dari ilmu sihir maupun pengetahuan lainnya.
Pria berjubah merah ini memandangi Stephen dengan wajah yang sama, raut wajah yang penuh amarah dan kekosongan.
Pria berjubah merah ini tahu benar apa yang sebenarnya seorang yang bernama Stephen ini lakukan, sungguhlah informasi yang tidak mau diketahui oleh orang banyak.
Aura kegelapan yang benar-benar kuat terasa tepat ketika Stephen terkurung ke dalam penjara kekuatan suci, dalam keadaan itu kini Stephen tidak bisa menyembunyikan 'jati dirinya' yang sebenarnya.
Kekuatan suci seperti membuka setiap apa yang berusaha Stephen tutupi, kenyataan yang selama ini terjadi, semuanya terbuka dengan jelas, dan itu membuat pria berjubah merah semakin tidak percaya akan hal ini.
Meskipun dalam ketidak-percayaannya itu, pria berjubah merah tidak menyangkali kenyataan akan adanya makhluk seperti Stephen... yang tidak bisa ia tolelir adalah perbuatannya yang sungguhlah rusak.
"Sudah berapa banyak korbanmu?" Pria berjubah merah mendekati Stephen yang tertunduk lemas tak berdaya dalam penjara kekuatan suci yang menyedot kekuatan gelapnya secara drastis.
Meski samar-samat Stephen masih bisa mendengar apa yang dikatakan pria itu, kalau saja punya kekuatan untuk bicara, ia pasti sudah melakukannya sekarang.
"...."
Dalam keadaannya yang tak berdaya Stephen sudah tidak berminat lagi membela dirinya, pada akhirnya semakin ia melakukannya semakin dekat pula ia dengan masalah yang selalu ingin ia hindari.
Kedua pandangan yang tidak bisa saling mengerti, bahkan dilihat dari sisi tengah pun keduanya akan mengakui tujuan dan maksud mereka masing-masing adalah benar adanya.
Dan kini pria berjubah merah hampir berhasil merealisasikan tujuannya, hanya tinggal langkah terakhir yang harus ia ambil untuk benar-benar menyelesaikan tujuan awalnya itu.
Di sisi lain Stephen tidak menyesal tidak melarikan diri, ia telah belajar dari masa lalu dan tidak mau lagi mengulangi kesalahan yang sama.
Ada di mana saatnya kita melakukan sesuatu yang kita pikir benar, namun pada kenyataannya memang salah adanya, Stephen sudah memaknai hal ini dan memantapkan keputusannya itu.
Pria berjubah merah terdiam, pandangannya kosong dan tajam tertuju pada pemuda itu, layaknya seorang yang sudah tidak peduli lagi akan apapun dan akan melakukan apapun yang menurutnya benar.
Hujan tidak berhenti, malah semakin deras adanya, kilatan cahaya dan deru gemuruh terus-terusan menghiasi malam larut yang terasa cepat berlali.
Pria berjubah merah berdiri tepat dekat Stephen yang tertunduk, ia memikirkan kembali apa yang Stephen lakukan sebelumnya, kenyataan bahwa ternyata pemuda ini bukanlah manusia memang mengejutkan, namun ada yang lebih mengejutkan dari hal itu.
Yaitu bagaimana Stephen bisa menyerah semudah ini, bahkan pria berjubah merah berekspektasi ia harus mempertaruhkan nyawanya dalam pertarungan melawan makhluk yang bukan manusia, namun pada kenyataannya ia melihat hal yang berbeda adanya.
Stephen yang bersikeras membela dirinya sendiri memang bukanlah hal yang aneh, semua orang punya mekanisme pertahanan di mana mereka akan membela diri sendiri ketika diperlukan. Apalagi menyangkut apa yang dipercayainya.
Namun dalam kasus Stephen, pembelaan dirinya ini dilakukan dengan tegas dan penuh perasaan, tidak hanya perkataan kosong yang tak bermakna.
Hal itulah yang membuat pria berjubah merah menahan dirinya sampai saat ini... ia bisa saja mengakhiri hidup pemuda ini kapan saja, namun ia memutuskan untuk tetap tenang dan berpikir jernih.
"Huhhh...." Pria berjubah merah mengambil nafas dalam dan mencoba tenang di tengah emosinya yang naik karena muak dengan kekuatan gelap yang sekarang ini muncul leluasa dari pemuda ini.
Tanpa perlu banyak bicara pun, sudah terlalu banyak kesalahan yang dibuat pemuda ini, aura kegelapan sudah berbicara dengan jelas, bahkan lebih jelas daripada bicara langsung.
Seolah berkomunikasi dengan energi kekuatan gelap, pria berjubah merah memang sudah mencapai tingkat dimana tingkat kepekaannya terhadap jenis kekuatan apapun meningkat drastis.
Pada akhirnya tanpa perlu membuat lawannya bicara banyak, pria berjubah merah sudah tahu lebih banyak daripada apa yang mungkin pemuda ini bisa katakan.
Dan pula itulah yang membuat dilema bagi pria berjubah merah ini, di satu sisi ia merasa terganggu dengan pembelaan pemuda ini, dan di sisi lain ia tidak bisa mengabaikan fakta yang sudah ia ketahui dari begitu kuatnya energi gelap milik Stephen.
Entah kenapa pembelaan pemuda ini benar-benar terdengar meyakinkan.
Apa yang sebenarnya ia ingin putuskan sekarang? Mengapa di saat yang krusial ini ia kebingungan memilih jalan yang harus ditempuh?
Begitulah pertanyaan yang mengiringi tujuan pria berjubah merah ini, pada awalnya tekadnya begitu kuat untuk menghentikan tindakan pemuda ini.
"Menghentikan...." Pria berjubah merah seperti menyadari sesuatu, sebuah hal yang seharusnya ia sadari dari awal.
"Tujuanku hanyalah ... menghentikannya...." Pria itu kembali bergumam, sadar akan tujuannya yang sebenarnya yang ia sempat lupakan karena amarahnya pada Stephen ketika ia bertemu dengannya.
Untuk menghentikannya? Dengan cara bagaimana? Pria berjubah merah masih belum punya gambaran yang jelas mengenai hal itu, yang pasti ia ingat akan tujuannya semula, namun detil selengkapnya masih belum terlihat jrlas.
"Menghentikannya, apakah itu jalan terbaik?" Lagi-lagi pria ini merenung, ini adalah satu-satunya kesempatan langka baginya bertemu dengan Stephen di tempat yang terpencil dan jauh dari keramaian kota, setelah kesempatan ini berlalu ia tidak tahu lagi harus bagaimana bilamana Stephen melakukan sesuatu yang jauh lebih mengerikan lagi.
Masih ada perdebatan dalam hati pria berjubah merah ini, namun setelah beberapa saatnmenimbang banyak hal, ia tahu ia tidak bisa mengambil keputusan yang gegabah, dan pada akhirnya ia membulatkan apa yang akan dilakukannya.
Stephen sudah hampir kehilangan kesadarannya, sebagian besar kekuatannya sudah tersedot habis oleh kekuatan suci, namun di sisi lain ia sebenarnya masih bisa menggunakan 'kartu as' nya untuk keluar dari momen mendesak ini.
Namun keputusannya sudah bulat, pada akhirnya Stephen benar-benar tidak melarikan diri kali ini, ia sadar betul ini adalah jalan yang selama ini seharusnya ia ambil, bukan dengan terus menerus hidup dalam pelarian.
Jika memang hidupnya harus berakhir di sini, Stehen tak keberatan, karena memang ia sendiri tidak menyadari begitu banyaknya kejahatan yang dibuatnya, yang sebagian besarnya menghasilkan aura kekuatan gelap yang menjadi sumber kekuatannya selama ini.
Stephen sudah kehilangan sebagian besar ingatannya karena 'jati dirinya' memanglah kekuatan gelap itu sendiri, pada akhirnya seberapa keras ia berusaha merubah dirinya semakin cepat pula ia kembali ke dirinya yang sebenarnya.
Stephen bertarung dengan cukup puas tadi karena kekuatan yang dipakainya adalah kekuatannya sendiri, tanpa campur tangan dari kekuatan 'jati dirinya' yamg sebenarnya, meskipun tidak sepenuhnya benar karena Stephen bisa memakai kekuatan 'jati dirinya' itu setengahnya ataupula sepenuhnya.
Tapi setidaknya Stephen tidak menyerahkan dirinya lagi pada 'jati dirinya' yang sebenarnya yang bisa jadi modal untuk melarikan diri dari masalah ini. Namun ia tidak melakukannya dan ia bangga.
Tidak pernah terpikirkan olehnya ia akan membuat begitu banyak masalah, dan bahkan karena satu atau dua hal semuanya bisa menjadi runyam seketika bahkan saat ia tidak menyadarinya (berkaca dari insiden tertusuk ranting sebelumnya).
Stephen akhirnya tahu, pria berjubah merah adalah seorang ahli sihir dari Keluarga Reiss.
Ia sudah kalah dan hidupnya berakhir di sini, padahal ia masih ingin menikmati hari, namun pada akhirnya ia harus menanggung apa yang selama ini diperbuatnya.
Pria berjubah merah itu mendekati Stephen, dan kemudian memegang energi penjara suci yang dan seketika itu pula muncullah cahaya terang yang menyilaukan mata, seketika itu juga bekas luka pria berjubah merah bersinar pula, seperti efek lava.
"Sihir Segel Suci: Peti Mati!"
Seketika itu juga energi sihir penjara suci berubah menjadi peti yang pula memiliki kekuatan sihir, berukuran besar dan membuat siapapun yang melihatnya terheran-heran dan penasaran akan isinya.
Stephen terkurung dalam peti itu dengan kondisi hampir kehilangan kesadarannya, ia tidak mengira pria dari keluarga Reiss ini memilih untuk menyegelnya dibanding dengan mengakhirinya untuk alasan yang baik, mengapa begitu? Stephen tidak bisa lagi menemukan jawabannya kali ini.
Sinar suci dari peti mati tersebut perlahan menghilang, dan berubah menjadi peti kayu coklat yang besar dan kokoh tepat di area perbukitan Wolfden.
Dengan segel yang telah dipasang, membuat siapapun dari luar tidak bisa mengganggu peti ini, membukanya atau apapun, dan itu berlaku pada Stephen yang kini sudah berada di dalam peti ini.
Pria berjubah merah itu telah mengambil keputusannya, ia berbalik badan meninggalkan peti besar nan kokoh di area bukit pekuburan Wolfden.
"Aku tidak bisa membenarkanmu atas semua perbuatanmu...."
"Tapi aku terkesan bagaimana kau berusaha untuk meyakinkanku...."
"Kupikir kau berhak untuk mengetahui identitasku... sampai kita bertemu kembali .... panggil aku William."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Trishna Listiantini
akhirnya Nemu novel genre ini...
2022-12-28
1