Bab 20: Hal Yang Ditunggu

Surat yang datang setiap beberapa waktu sekali itu membuat dada Rossa sesak, padahal gadis itu sebelumnya sangat menantikan surat ini.

Namun seiring berjalannya waktu, hanya surat itu dan itu saja yang datang setiap kali kepada mereka berdua dan itu membuat Rossa tidak lagi senang seperti biasanya, malahan sebaliknya ia mulai muak dengan semua ini.

Surat yang datang beberapa waktu sekali itu memanglah sangat dinantikan oleh keduanya, namun seiring dengan berjalannya waktu, surat itu tidak lagi membuat Rossa merasa lebih baik, malahan ia kini tidak mau lagi membaca surat yang dikirimkan secara berkala itu.

Berbeda dengan adiknya Fredirica, yang memang sama menginginkan sesuatu yang lebih dibandingkan surat, namun pada akhirnya ia mencoba menerima apa adanya dan berusaha untuk tidak terlalu terbawa emosi yang ada dalam dirinya itu.

Fredirica masih menganggap surat tersebut adalah sarananya untuk melihat kabar bagaimana orang tuanya saat ini, namun pada akhirnya dalam hatinya pun masih terasa kosong dan kurang lebih sama pula dengan perasaan saudaranya.

Ini semua tentang bagaimana pegendalian emosi dari masing-masing kedua gadis ini saja, Rossa yang mengetahui kenyataan yang sebenarnya pada akhirnya terbawa emosi dan ia berontak, sedangkan Fredirica masih bisa mengendalikan emosinya meskipun pada akhirnya perasaannya tidak jauh berbeda dengan saudaranya.

Ketidakberadaan sosok orang tua yang mereka cintai dan andalkan membuat semua ini bisa terjadi. Kehidupan mereka yang sebagian besar terlihat sempurna itu pada akhirnya terasa hampa. Dan itulah hal yang tidak diketahui oleh orang banyak.

Fredirica hanya bisa melihat secarik surat itu perlahan namun pasti dilalap api perapian, dan tidak ada yang bisa mencegah hal itu terjadi.

Sudah terlambat,atau bisa dibilang tidak ada kesempatan baginya agar surat itu bisa diselamatkan.

Zrrr....

Api perapian langsung melahap surat yang penuh tulisan itu, Fredirica terdiam dan tidak lagi berkata apapun, semua rasa penasaran dan harapan yang ada padanya hilang perlahan namun pasti.

"Untuk apa bersedih karena surat itu Adik?! Melihat hal yang sama terus menerus tidakkah membuatmu muak?!" Rossa tidak berhenti frustasi, seakan apa yang ada dalam hatinya ia keluarkan sekaligus.

Seolah cara lama sudah tidak bisa dipakai kembali, sekilas kembali ke beberapa tahun sebelumnya, Rossa kecil dan Fredirica kecil yang sudah mulai beradaptasi untuk hidup di Desa Wolfden. Ketika surat dari orang tua mereka datang mereka riang gembira saat itu juga.

Para pelayan rumah dengan senang hati membacakan surat tersebut dan itulah yang membuat Rossa kecil dan Fredirica kecil kembali bersemangat akan mengejar mimpinya itu.

Namun waktu terus bergulir, Rossa dan Fredirica bertambah dewasa, pikiran mereka pun demikian dan akhirnya mereka sadar akan kenyataan dan masa kecil mereka hanya ditemani oleh surat-surat yang notabene hanyalah secarik kertas yang mereka tunggu setiap saat.

Apakah ada yang salah di sana? Bukankah wajar kalau memang kedua orang tua mereka sering mengirim surat dari luar kota demi mengabari dan menuliskan apa yang ada dalam hati?

Setidaknya itulah yang Rossa dan Fredirica rasakan ketika kecil, mereka kira hanya dengan secarik surat mereka bisa bertemu dan merasakan pengalaman langsung bertemu dengan kedua orang tua mereka.

Namun kenyataan berkata lain, Rossa dan Fredirica mulai sadar dan akhirnya mulai pula tidak terima akan cara yang sama yang selama ini mereka terima.

Tidak salah bagi Rossa untuk mencurahkan isi hatinya yang terdalam, toh memang itu adalah hak-nya sendiri dan tidak ada yang bisa melarangnya.

Perasaan sebenarnya yang keluar dari hatinya adalah hal yang tidak bisa ditutupi lagi, seberapa keras pun ia berusaha.

Fredirica terdiam tidak menanggapi perkataan kakaknya, dada nya terasa sesak dan ia hanya bisa berusaha menerima memang itulah perasaannya yang sebenarnya, sama seperti kakaknya.

Akan lebih baik apabila orang tua mereka datang langsung ketimbang hanya mengirimkan surat dengan rutin, dengan begitu semuanya akan berbalik seperti semula dan tidak ada lagi yang merasa 'kurang'.

Tetapi mengapa orang tua mereka tidak melakukan hal itu? Itulah yang menjadi pertanyaan Rossa dan Fredirica selama ini, mengapa hanya surat yang dikirim rutin seperti ini yang mereka dapatkan?

Apakah terlalu sulit bagi kedua orang tua mereka untuk menyempatkan waktu, atau mungkin hanya sedikit waktu saja untuk mengunjungi dan menghabiskan waktu bersama mereka?

Apakah bertatap muka adalah hal yang begitu sulit untuk dilakukan? Kalau begitu mengapa?

Apa yang menjadi alasan kedua orang tua mereka tidak mengunjungi mereka secara langsung? Banyak sekali faktor yang bisa terjadi hingga akhirnya mereka berdua tidak bisa berkunjung.

Pekerjaan? Tentulah bagi keluarga tersohor dan penuh pengaruh, kesibukan adalah hal yang paling umum yang bisa terjadi.

Orang-orang hebat menggunakan waktunya sebaik mungkin dan tentunya waktu adalah hal yang berharga bagi mereka untuk digunakan dengan tepat.

Terkadang dua puluh empat jam terasa terlalu sebentar sementara banyak hal yang harus mereka kerjakan dan lakukan, maka dari itu kesibukan adalah hal yang paling mungkin terjadi hingga pada akhirnya tidak semua hal bisa dilakukan secara bersamaan.

Dan seabreg alasan lain yang bisa dipikirkan, rasanya terlalu banyak alasan dibanding dengan kenyataan yang terjadi di sana.

Namun bagi Rossa dan Fredirica alasan apapun yang bisa terjadi tidak bisa mengubahkan kenyataan bahwa memang orang tuanya terlalu mementingkan hal lain dibanding dengan kedua putrinya sendiri.

Pada akhirnya surat yang datang di waktu tertentu pun tidak bisa serta merta membuat semuanya jadi lebih baik, pada akhirnya sebuah surat tidak bisa menggantikan peranan penting orang tua secara langsung.

Fredirica berpikir dalam diam, berusaha mengerti memanglah wajar adanya kakaknya terbawa emosi seperti itu, pada akhirnya kenyataan memang berdampak berbeda pada dirinya dan kakaknya itu.

Berusaha untuk meredakan amarah dan pembelaan akan surat yang tadi dibuang kakaknya, Fredirica mengurungkan niatnya untuk melalukan hal itu.

Fredirica sempat merasakan sepercik amarah dalam dadanya, hampir saja ia keluarkan namun pada akhirnya diam adalah cara yang terbaik untuk mematikan perasaannya itu.

Dengan saling berargumen pada akhirnya hanya akan membuat situasi jadi tidak bagus, Fredirica berusaha menerima apa kakaknya perbuat itu.

Lagipula memang pendapat kakaknya adalah benar adanya, sulit diterima namun begitulah kenyataannya.

Rossa akhirnya terlihat lebih tenang dan tanpa berlama-lama lagi ia meninggalkan Fredirica yang masih berdiri di dekat perapian dan pada akhirnya duduk kembali untuk beberapa saat, demi menenangkan perasannya.

Fredirica terus-terusan menatap perapian itu, memanglah terasa hangat namun sekarang ia tidak bisa menikmati rasa hangat itu.

Api peralian perlahan namun pasti mulai padam, Fredirica tidak berniat menyalakan kembali, ia memang terlalu banyak menghabiskan waktu sampai lupa kalau ia juga perlu tidur.

Dengan segera Fredirica merapikan perapian itu, memastikan tidak ada bara yang bisa menyala kembali.

"Apa ini?" Fredirica melihat ada sercarik kertas utuh di antara tumpukan debu perapian yang masih hangat itu.

Episodes
1 Bab 1: Tempat Pelarian
2 Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3 Bab 3: Kehausan
4 Bab 4: Berhenti, Kumohon
5 Bab 5: Aku Mengerti
6 Bab 6: Keputusan Mutlak
7 Bab 7: Tujuan Awal
8 Bab 8: Sedikit Bantuan
9 Bab 9: Awal Rumor
10 Bab 10: Sedikit Rumor
11 Bab 11: Kedua Teman
12 Bab 12: Hal Hangat
13 Bab 13: Break The Rules
14 Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15 Bab 15: Pembuktian
16 Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17 Bab 17: Bebas
18 Bab 18: Mencari Kebenaran
19 Bab 19: Rossa dan Fredirica
20 Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21 Bab 21: Menerima
22 Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23 Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24 Bab 24: Melawan
25 Bab 25: Rasa Penasaran
26 Bab 26: Dilema
27 Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28 Bab 28: Masih Jauh
29 Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30 Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31 Bab 31: Rencana Baru
32 Bab 32: Apa Yang Terjadi
33 Bab 33: Kehangatan
34 Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35 Bab 35: Waktunya Beraksi
36 Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37 Bab 37: Berbeda
38 Bab 38: Akhir
39 Bab 39: Berusaha
40 Bab 40: Tepat Waktu
41 Bab 41: Memulai Kembali
42 Bab 42: Yelena
43 Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44 Bab 44: Sebuah Alasan
45 Bab 45: Sebuah Alasan
46 Bab 46: Tumbang
47 Bab 47: Bangga
48 Bab 48: Diskusi
49 Bab 49: Dampak
50 Bab 50: Sembuh
51 Bab 51: Hasil
52 Bab 52: Pulang
53 Bab 53: Perjuangan
54 Bab 54: Konsekuensi
55 Bab 55: Kalian Mengganggu
56 Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57 Bab 57: Mencoba Mengerti
58 Bab 58: Menerima Perasaan
59 Bab 59: Menerima Kenyataan
60 Bab 60: Sadar Dan Menerima
61 Bab 61: Menghadapi Tekanan
62 Bab 62: Kabar Dari Jauh
63 Bab 63: Sedikit Berubah
64 Bab 64: Keluar
65 Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66 Bab 66: Membela
67 Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68 Bab 68: Inilah Kekuatanku
69 Bab 69: Melawan Juga
70 Bab 70: Tak Sadar
71 Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72 Bab 72: Lebih Kuat
73 Bab 73: Masih Mau?
74 Bab 74: Kesempatan Emas
75 Bab 75: Tenang
76 Bab 76: Alasan Sebenarnya
77 Bab 77: Memilih
78 Bab 78: Diriku
79 Bab 79: Sebuah Kenyataan
80 Bab 80: Sunguh Nyata
81 Bab 81: Kabar
82 Bab 82: Berdamai
83 Bab 83: Heran
84 Bab 84: Penampilan Baru
85 Bab 85: Insting
86 Bab 86: Tamu
87 Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88 Bab 88: Pertemuan
89 Bab 89: Saudara
90 Bab 90: Alasan Berubah
91 Bab 91: Memanas
92 Bab 92: Makin Panas
93 Bab 93: Menjauh
94 Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95 Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96 Bab 96: Sudah Habis
97 Bab 97: Perbedaan
98 Bab 98: Curiga
99 Bab 99: Menunjukkan Tekad
100 Bab 100: Ragu
101 Bab 101: Percaya
102 Bab 102: Tidak Terduga
103 Bab 103: Tanda
104 Bab 104: Terdesak
105 Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106 Bab 106: Keputusan
107 Bab 107: Undangan
108 Bab 108: Berjalan
109 Bab 109: Dingin
110 Bab 110: Pertanyaan Lagi
111 Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112 Bab 112: Balas Budi
113 Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114 Bab 114: Sadar
115 Bab 115: Bertemu
116 Bab 116: Terdampar
117 Bab 117: Panggilan Alami
118 Bab 118: Jalan-jalan
119 Bab 119: Jadi Kenyataan
120 Bab 120: Membuka
121 Bab 121: Tertangkap
122 Bab 122: Bersinggah
123 Bab 123: Bertemu... lagi
124 Bab 124: Perasaan
125 Bab 125: Rasakanlah
126 Bab 126: Usaha
127 Bab 127: Perlawanan
128 Bab 128: Kena Mental
129 Bab 129: Sosok Misterius
130 Bab 130: Mengincar
131 Bab 131: Heran
132 Bab 132: Rasakanlah!
133 Bab 133: Yang Kupercayai
134 Bab 134: Penasaran
135 Bab 135: Sadar
136 Bab 136: Jahat
137 Bab 137: Berbalik
138 Bab 138: Belum Selesai
139 Bab 139: Kerinduan
140 Bab 140: Pulang
141 Bab 141: Kunjungan
142 Bab 142: Menyebalkan
143 Bab 143: Mengingatkan
144 Bab 144: Nostalgia
145 Bab 145: Mana Keadilan?
146 Bab 146: Menyelesaikan
147 Bab 147: Fakta
148 Bab 148: Tak Sabar
149 Bab 149: Mengerti
150 Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Bab 1: Tempat Pelarian
2
Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3
Bab 3: Kehausan
4
Bab 4: Berhenti, Kumohon
5
Bab 5: Aku Mengerti
6
Bab 6: Keputusan Mutlak
7
Bab 7: Tujuan Awal
8
Bab 8: Sedikit Bantuan
9
Bab 9: Awal Rumor
10
Bab 10: Sedikit Rumor
11
Bab 11: Kedua Teman
12
Bab 12: Hal Hangat
13
Bab 13: Break The Rules
14
Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15
Bab 15: Pembuktian
16
Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17
Bab 17: Bebas
18
Bab 18: Mencari Kebenaran
19
Bab 19: Rossa dan Fredirica
20
Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21
Bab 21: Menerima
22
Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23
Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24
Bab 24: Melawan
25
Bab 25: Rasa Penasaran
26
Bab 26: Dilema
27
Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28
Bab 28: Masih Jauh
29
Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30
Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31
Bab 31: Rencana Baru
32
Bab 32: Apa Yang Terjadi
33
Bab 33: Kehangatan
34
Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35
Bab 35: Waktunya Beraksi
36
Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37
Bab 37: Berbeda
38
Bab 38: Akhir
39
Bab 39: Berusaha
40
Bab 40: Tepat Waktu
41
Bab 41: Memulai Kembali
42
Bab 42: Yelena
43
Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44
Bab 44: Sebuah Alasan
45
Bab 45: Sebuah Alasan
46
Bab 46: Tumbang
47
Bab 47: Bangga
48
Bab 48: Diskusi
49
Bab 49: Dampak
50
Bab 50: Sembuh
51
Bab 51: Hasil
52
Bab 52: Pulang
53
Bab 53: Perjuangan
54
Bab 54: Konsekuensi
55
Bab 55: Kalian Mengganggu
56
Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57
Bab 57: Mencoba Mengerti
58
Bab 58: Menerima Perasaan
59
Bab 59: Menerima Kenyataan
60
Bab 60: Sadar Dan Menerima
61
Bab 61: Menghadapi Tekanan
62
Bab 62: Kabar Dari Jauh
63
Bab 63: Sedikit Berubah
64
Bab 64: Keluar
65
Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66
Bab 66: Membela
67
Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68
Bab 68: Inilah Kekuatanku
69
Bab 69: Melawan Juga
70
Bab 70: Tak Sadar
71
Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72
Bab 72: Lebih Kuat
73
Bab 73: Masih Mau?
74
Bab 74: Kesempatan Emas
75
Bab 75: Tenang
76
Bab 76: Alasan Sebenarnya
77
Bab 77: Memilih
78
Bab 78: Diriku
79
Bab 79: Sebuah Kenyataan
80
Bab 80: Sunguh Nyata
81
Bab 81: Kabar
82
Bab 82: Berdamai
83
Bab 83: Heran
84
Bab 84: Penampilan Baru
85
Bab 85: Insting
86
Bab 86: Tamu
87
Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88
Bab 88: Pertemuan
89
Bab 89: Saudara
90
Bab 90: Alasan Berubah
91
Bab 91: Memanas
92
Bab 92: Makin Panas
93
Bab 93: Menjauh
94
Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95
Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96
Bab 96: Sudah Habis
97
Bab 97: Perbedaan
98
Bab 98: Curiga
99
Bab 99: Menunjukkan Tekad
100
Bab 100: Ragu
101
Bab 101: Percaya
102
Bab 102: Tidak Terduga
103
Bab 103: Tanda
104
Bab 104: Terdesak
105
Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106
Bab 106: Keputusan
107
Bab 107: Undangan
108
Bab 108: Berjalan
109
Bab 109: Dingin
110
Bab 110: Pertanyaan Lagi
111
Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112
Bab 112: Balas Budi
113
Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114
Bab 114: Sadar
115
Bab 115: Bertemu
116
Bab 116: Terdampar
117
Bab 117: Panggilan Alami
118
Bab 118: Jalan-jalan
119
Bab 119: Jadi Kenyataan
120
Bab 120: Membuka
121
Bab 121: Tertangkap
122
Bab 122: Bersinggah
123
Bab 123: Bertemu... lagi
124
Bab 124: Perasaan
125
Bab 125: Rasakanlah
126
Bab 126: Usaha
127
Bab 127: Perlawanan
128
Bab 128: Kena Mental
129
Bab 129: Sosok Misterius
130
Bab 130: Mengincar
131
Bab 131: Heran
132
Bab 132: Rasakanlah!
133
Bab 133: Yang Kupercayai
134
Bab 134: Penasaran
135
Bab 135: Sadar
136
Bab 136: Jahat
137
Bab 137: Berbalik
138
Bab 138: Belum Selesai
139
Bab 139: Kerinduan
140
Bab 140: Pulang
141
Bab 141: Kunjungan
142
Bab 142: Menyebalkan
143
Bab 143: Mengingatkan
144
Bab 144: Nostalgia
145
Bab 145: Mana Keadilan?
146
Bab 146: Menyelesaikan
147
Bab 147: Fakta
148
Bab 148: Tak Sabar
149
Bab 149: Mengerti
150
Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!