Surat yang datang setiap beberapa waktu sekali itu membuat dada Rossa sesak, padahal gadis itu sebelumnya sangat menantikan surat ini.
Namun seiring berjalannya waktu, hanya surat itu dan itu saja yang datang setiap kali kepada mereka berdua dan itu membuat Rossa tidak lagi senang seperti biasanya, malahan sebaliknya ia mulai muak dengan semua ini.
Surat yang datang beberapa waktu sekali itu memanglah sangat dinantikan oleh keduanya, namun seiring dengan berjalannya waktu, surat itu tidak lagi membuat Rossa merasa lebih baik, malahan ia kini tidak mau lagi membaca surat yang dikirimkan secara berkala itu.
Berbeda dengan adiknya Fredirica, yang memang sama menginginkan sesuatu yang lebih dibandingkan surat, namun pada akhirnya ia mencoba menerima apa adanya dan berusaha untuk tidak terlalu terbawa emosi yang ada dalam dirinya itu.
Fredirica masih menganggap surat tersebut adalah sarananya untuk melihat kabar bagaimana orang tuanya saat ini, namun pada akhirnya dalam hatinya pun masih terasa kosong dan kurang lebih sama pula dengan perasaan saudaranya.
Ini semua tentang bagaimana pegendalian emosi dari masing-masing kedua gadis ini saja, Rossa yang mengetahui kenyataan yang sebenarnya pada akhirnya terbawa emosi dan ia berontak, sedangkan Fredirica masih bisa mengendalikan emosinya meskipun pada akhirnya perasaannya tidak jauh berbeda dengan saudaranya.
Ketidakberadaan sosok orang tua yang mereka cintai dan andalkan membuat semua ini bisa terjadi. Kehidupan mereka yang sebagian besar terlihat sempurna itu pada akhirnya terasa hampa. Dan itulah hal yang tidak diketahui oleh orang banyak.
Fredirica hanya bisa melihat secarik surat itu perlahan namun pasti dilalap api perapian, dan tidak ada yang bisa mencegah hal itu terjadi.
Sudah terlambat,atau bisa dibilang tidak ada kesempatan baginya agar surat itu bisa diselamatkan.
Zrrr....
Api perapian langsung melahap surat yang penuh tulisan itu, Fredirica terdiam dan tidak lagi berkata apapun, semua rasa penasaran dan harapan yang ada padanya hilang perlahan namun pasti.
"Untuk apa bersedih karena surat itu Adik?! Melihat hal yang sama terus menerus tidakkah membuatmu muak?!" Rossa tidak berhenti frustasi, seakan apa yang ada dalam hatinya ia keluarkan sekaligus.
Seolah cara lama sudah tidak bisa dipakai kembali, sekilas kembali ke beberapa tahun sebelumnya, Rossa kecil dan Fredirica kecil yang sudah mulai beradaptasi untuk hidup di Desa Wolfden. Ketika surat dari orang tua mereka datang mereka riang gembira saat itu juga.
Para pelayan rumah dengan senang hati membacakan surat tersebut dan itulah yang membuat Rossa kecil dan Fredirica kecil kembali bersemangat akan mengejar mimpinya itu.
Namun waktu terus bergulir, Rossa dan Fredirica bertambah dewasa, pikiran mereka pun demikian dan akhirnya mereka sadar akan kenyataan dan masa kecil mereka hanya ditemani oleh surat-surat yang notabene hanyalah secarik kertas yang mereka tunggu setiap saat.
Apakah ada yang salah di sana? Bukankah wajar kalau memang kedua orang tua mereka sering mengirim surat dari luar kota demi mengabari dan menuliskan apa yang ada dalam hati?
Setidaknya itulah yang Rossa dan Fredirica rasakan ketika kecil, mereka kira hanya dengan secarik surat mereka bisa bertemu dan merasakan pengalaman langsung bertemu dengan kedua orang tua mereka.
Namun kenyataan berkata lain, Rossa dan Fredirica mulai sadar dan akhirnya mulai pula tidak terima akan cara yang sama yang selama ini mereka terima.
Tidak salah bagi Rossa untuk mencurahkan isi hatinya yang terdalam, toh memang itu adalah hak-nya sendiri dan tidak ada yang bisa melarangnya.
Perasaan sebenarnya yang keluar dari hatinya adalah hal yang tidak bisa ditutupi lagi, seberapa keras pun ia berusaha.
Fredirica terdiam tidak menanggapi perkataan kakaknya, dada nya terasa sesak dan ia hanya bisa berusaha menerima memang itulah perasaannya yang sebenarnya, sama seperti kakaknya.
Akan lebih baik apabila orang tua mereka datang langsung ketimbang hanya mengirimkan surat dengan rutin, dengan begitu semuanya akan berbalik seperti semula dan tidak ada lagi yang merasa 'kurang'.
Tetapi mengapa orang tua mereka tidak melakukan hal itu? Itulah yang menjadi pertanyaan Rossa dan Fredirica selama ini, mengapa hanya surat yang dikirim rutin seperti ini yang mereka dapatkan?
Apakah terlalu sulit bagi kedua orang tua mereka untuk menyempatkan waktu, atau mungkin hanya sedikit waktu saja untuk mengunjungi dan menghabiskan waktu bersama mereka?
Apakah bertatap muka adalah hal yang begitu sulit untuk dilakukan? Kalau begitu mengapa?
Apa yang menjadi alasan kedua orang tua mereka tidak mengunjungi mereka secara langsung? Banyak sekali faktor yang bisa terjadi hingga akhirnya mereka berdua tidak bisa berkunjung.
Pekerjaan? Tentulah bagi keluarga tersohor dan penuh pengaruh, kesibukan adalah hal yang paling umum yang bisa terjadi.
Orang-orang hebat menggunakan waktunya sebaik mungkin dan tentunya waktu adalah hal yang berharga bagi mereka untuk digunakan dengan tepat.
Terkadang dua puluh empat jam terasa terlalu sebentar sementara banyak hal yang harus mereka kerjakan dan lakukan, maka dari itu kesibukan adalah hal yang paling mungkin terjadi hingga pada akhirnya tidak semua hal bisa dilakukan secara bersamaan.
Dan seabreg alasan lain yang bisa dipikirkan, rasanya terlalu banyak alasan dibanding dengan kenyataan yang terjadi di sana.
Namun bagi Rossa dan Fredirica alasan apapun yang bisa terjadi tidak bisa mengubahkan kenyataan bahwa memang orang tuanya terlalu mementingkan hal lain dibanding dengan kedua putrinya sendiri.
Pada akhirnya surat yang datang di waktu tertentu pun tidak bisa serta merta membuat semuanya jadi lebih baik, pada akhirnya sebuah surat tidak bisa menggantikan peranan penting orang tua secara langsung.
Fredirica berpikir dalam diam, berusaha mengerti memanglah wajar adanya kakaknya terbawa emosi seperti itu, pada akhirnya kenyataan memang berdampak berbeda pada dirinya dan kakaknya itu.
Berusaha untuk meredakan amarah dan pembelaan akan surat yang tadi dibuang kakaknya, Fredirica mengurungkan niatnya untuk melalukan hal itu.
Fredirica sempat merasakan sepercik amarah dalam dadanya, hampir saja ia keluarkan namun pada akhirnya diam adalah cara yang terbaik untuk mematikan perasaannya itu.
Dengan saling berargumen pada akhirnya hanya akan membuat situasi jadi tidak bagus, Fredirica berusaha menerima apa kakaknya perbuat itu.
Lagipula memang pendapat kakaknya adalah benar adanya, sulit diterima namun begitulah kenyataannya.
Rossa akhirnya terlihat lebih tenang dan tanpa berlama-lama lagi ia meninggalkan Fredirica yang masih berdiri di dekat perapian dan pada akhirnya duduk kembali untuk beberapa saat, demi menenangkan perasannya.
Fredirica terus-terusan menatap perapian itu, memanglah terasa hangat namun sekarang ia tidak bisa menikmati rasa hangat itu.
Api peralian perlahan namun pasti mulai padam, Fredirica tidak berniat menyalakan kembali, ia memang terlalu banyak menghabiskan waktu sampai lupa kalau ia juga perlu tidur.
Dengan segera Fredirica merapikan perapian itu, memastikan tidak ada bara yang bisa menyala kembali.
"Apa ini?" Fredirica melihat ada sercarik kertas utuh di antara tumpukan debu perapian yang masih hangat itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments