Bab 2: Jati Diri Sebenarnya

- Satu hari sebelumnya-

- Kota Frost\, malam hari\, berawan-

Terlihat seorang pemuda dengan setelan jubah hitam, sedang berjalan-jalan seperti biasa, di malam yang tenang di sebuah area perkotaan yang cukup luas.

Tidak lain tidak bukan ia adalah Stephen, berjalan seorang diri di tengah kota besar dengan tujuan yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.

Suasana malam hari yang tidak ramai, hanya terlihat orang yang sesekali lewat, tidak biasanya seperti ini.

Stephen berjalan dengan tenang sembari memerhatikan sekitar, suasana tenang ini membuatnya bisa rileks, sebuah perasaan yang ingin selalu dirasakannya.

Kehadirannya di kota besar seperti ini dengan penampilan yang tertutup seharusnya membuat dirinya dicurigai oleh pihak keamanan, namun entah bagaimana ceritanya ia bisa berkeliaran dengan bebas di kota ini.

"Apa yang harus kulakukan?" Pemuda itu bergumam, seolah beban pikiran masih saja ada dalam benaknya, yang mengganggu ketenangannya saat ini.

Stephen sedikit mengangkat tangan kanannya, di sana ada bekas luka kering yang cukup besar, mirip seperti luka bakar.

"Tanda ini ... apa bisa dihilangkan?" Lagi-lagi Stephen merenung, raut wajahnya tidak terlihat begitu baik sekarang ini.

Sebuah tanda yang akan selalu ada, kapanpun dan dimanapun, setiap kali melihatnya Stephen merasa tidak baik-baik saja.

Beberapa saat kemudian setelah melalui area utama kota, ia pun sampai di area perumahan dimana begitu banyak rumah yang ada.

Langkah kaki pemuda itu terhenti ketika ia melihat sebuah rumah besar, begitu indah dan mewah, dari bentuk dan strukturnya tentulah ini bukan rumah orang biasa.

Dikelilingi gerbang yang juga besar, rumah ini seakan memiliki ciri khasnya sendiri dan itulah yang membuat Stephen berhenti untuk memandanginya sejenak.

Stephen memerhatikan dengan seksama rumah besar ini, tidak seperti kebanyakan rumah yang ia lihat sebelumnya, ia merasa tertarik dengan rumah yang satu ini.

"Keluarga Reiss." Stephen melihat ada papan nama pemilik rumah ini di depan gerbang, di sampingnya ada tanda bulan dan kedua pedang.

"Tanda itu...." Stephen terdiam, ia merasa tidak enak ketika melihat tanda aneh seperti itu, apalagi ada gambar bulan di sana.

Mata Stephen masih terpaku ke arah lambang bulan dan kedua pedang di sampingnya, rasa penasarannya memuncak ingin tahu apa maksud dari lambang itu.

Dan pula tidak hanya lambang itu yang dipikirkannya, Stephen merasa ia pernah mendengar sesuatu tentang Keluarga Reiss.

"Sepertinya nama itu tidak asing.... Di mana aku pernah mendengarnya ya?"

Mengesampingkan nama keluarga sekaligus simbol asing itu, Stephen berusaha untuk tidak berasumsi berlebihan selagi ia mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.

Dan kemudian setelah Stephen berjalan-jalan lagi sejenak, ia mendengar ada dua orang perempuan sedang berbicara satu sama lain di dekat rumah yang lain.

"Hei kau tahu tidak? Keluarga Reiss hendak menyekolahkan anaknya di Akademi Sihir yang jauh di kota ini," ucap salah satu wanita berambut panjang.

"Keluarga Reiss Ahli Sihir? Mengapa mereka menyekolahkan anak mereka di luar kota? Bukankah di sini juga banyak sekolah sihir yang bagus?" komentar perempuan berambut pendek.

"Sepertinya mereka punya alasan sendiri, kalau tidak salah nama sekolahnya adalah 'Akademi Sihir Wolfden'", tutur wanita berambut panjang.

"Ah, aku pernah mendengar nama sekolah itu, memang sih sekolahnya terkenal dengan banyak-nya ahli sihir yang tercetak di sana," sahut wanita berambut pendek.

Stephen tidak sengaja mendengar dua wanita itu mengobrol, dan pada akhirnya ia jadi tahu keluarga Reiss memang keluarga yang tersohor adanya.

Dan lagi ia bisa berasumsi lambang asing yang tadi dilihatnya bisa saja adalah sebuah simbol untuk keluarga atau siapapun yang sudah menjadi ahli sihir.

"Ah benar juga, Keluarga Reiss," gumam Stephen, ia kemudian melanjutkan perjalanannya meninggalkan kedua wanita yang masih mengobrol di sana, dengan perasaan was-was yang perlahan mendatanginya.

Stephen menjadi tidak setenang tadi, pada akhirnya ia tahu kedatangannya ke kota besar bukanlah ide yang bagus, malahan sangat beresiko baginya.

Mencari ketenangan bagi dirinya sendiri, namun usahanya itu tidak semudah yang dibayangkan.

Bertemu dengan ahli sihir di sini? Itu adalah hal yang paling ingin dihindari oleh Stephen, setidaknya untuk itulah ia berkunjung ke kota ini.

"Aku tidak mau berurusan dengan siapapun di sini," gumam Stephen sembari mempercepat langkah kakinya menuju ke area lain dari Kota Frost.

Ia hanya memandang ke depan mengabaikan beberapa orang yang berpapasan yang menatapnya dengan tatapan tajam, pada akhirnya Stephen sebisa mungkin menghindari kontak dengan siapapun setelah tahu ternyata ada ahli sihir di tempat ini.

Setelah beberapa lama berlalu, ia meninggalkan area perumahan kota, ia sampai di area pepohonan yang rindang di mana area yang sangat sepi, bahkan terkesan tidak ada orang di sini.

Stephen melayangkan pandangannya ke area itu dan kemudian memandang langit malan yang berawan, tidak ada cahaya bulan sama sekali, bahkan bintang-bintang pun enggan menampakkan dirinya.

Bibirnya sedikit naik, ia merasa lebih tenang dan nyaman dengan suasana seperti ini, perlahan namun pasti ia mulai bisa menikmati suasana ketenangan yang sekarang ini dirasakannya.

Ia menutup matanya sejenak menikmati suana pohon yang begitu rindang.

"Andai saja setiap hari seperti ini...."

Stephen berjalan pelan sembari menutup matanya, menikmati setiap suasana tenang dan damai yang sekarang dirasakannya itu.

Srak.

Tanpa disadarinya, sebuah ranting tajam dari salah satu pohon mengenai pipi kanannya ketika ia berjalan sembari menutup matanya, darah segar perlahan mengalir tak terbendung.

"Huh?" Untuk beberapa saat kemudian Stephen sadar, darah keluar dari pipinya itu tak sengaja mengenai mulutnya.

"Apa ini?" Dan tak sengaja pula ia menelan darahnya sendiri, ia merasa heran akan rasa aneh pada mulutnya secara tiba-tiba.

Stephen segera mengelap pipi dengan tangannya, matanya terbelalak melihat apa yang ada di tangannya, begitu merah bahkan ia bisa melihat sekelebat bayangan matanya sendiri.

"HAH!" Stephen segera menggunakan jubah hitamnya untuk membersihkan pipi dari lukanya itu.

"Sial, aku tidak melihat keadaan sekitar...." Stephen tidak bisa menyebunyikan kepanikannya.

Perlahan namun pasti bola mata pemuda itu mengalami perubahan, menjadi agak kekuningan dengan bentuk lancip, sama sekali tidak terlihat seperti manusia pada umumnya.

"U... Uh...." Perlahan namun pasti kini Stephen mulai merasa tidak enak, ia memegang  kepalanya, merasa ada sesuatu yang berbeda terjadi dalam dirinya.

Kepalanya terasa berat, dan apa yang tidak ingin ia pikirkan bermunculan semua di dalam kepalanya.

"Mengapa ini bisa terjadi? Sial! ... Aku hanya ingin tenang di sini!" Stephen berusaha untuk mengendalikan dirinya sendiri, namun apa daya bukannya ia jadi tenang malahan ia meronta-ronta dan tidak tahan dengan apa yang terjadi pada dirinya.

Sebenarnya apa yang terjadi pada Stephen? Tidak ada yang tahu pasti kecuali dirinya sendiri, namun meskipun begitu bisa ditarik kesimpulan Stephen sekarang merasa tidak baik-baik saja.

"Ha ..."

"... Ha  ... us...." Seluruh tubuh Stephen gemetar hebat, air liurnya perlahan menetes tak terbendung.

Hasrat yang begitu kuat dan dalam muncul seketika dalam diri Stephen, sebuah perasaan yang selama ini ingin dihindarinya kini malah terjadi lagi padanya.

"Haus! Grrr...."

Blugh.

Stephen tersungkur sambil memegang tenggorokannya, rasa dahaga yang tak tertahankan melanda dirinya, benar-benar perasaan yang tidak bisa diantisipasi.

"Ukh... Ukh...." Stephen mengerang-ngerang menahan rasa haus yang ada, namun setelah beberapa saat berlalu perasaannya itu tidak kunjung reda, malahan semakin menguat adanya.

"A... Apa yang harus kulakukan?"

***

Sementara itu di area yang sama, tak jauh dari Stephen, ada dua anak kecil perempuan sedang bermain bersama.

Mereka berdua punya penampilan yang mirip, berambut pirang dan wajah yang cantik, mereka berdua tertawa dan bercanda satu dengan yang lainnya.

"Ahahah ...."

"Huahaha ...."

Kedua anak perempuan itu terus bermain dan sesekali tertawa, menikmati waktu yang sekarang ini mereka jalani.

Di dekat mereka ada pula kedua orang tuanya, seorang pria dan wanita dewasa menemani kedua anaknya yang tengah bermain.

Bisa dibilang ada satu keluarga yang tengah menghabiskan waktu di luar menikmati malam yang indah ini, tak jauh dari keberadaan Stephen di area yang sama.

"Ayah, bukankah ini saatnya kita pulang ke rumah?" Sang ibu muda memiliki wajah cantik dan rambut hitam panjang berkata pada suaminya.

Memang sudah beberapa lama keluarga ini menghabiskan waktu di luar, jika saja mereka tidak segera pulang mungkin saja kedua putrinya itu bisa kedinginan karena malam yang semakin larut ini.

"Ahaha, sudah waktunya ya? Baiklah kalau begitu mari kita pulang ke rumah." Sang Ayah dengan cepat menyetujuinya, penampilannya tampan dengan kumis dan janggut tipis, terlihat berwibawa dan penuh keramahan.

"Ah!" Tiba-tiba sang ibu menjerit kesakitan, memegang perutnya yang besar, yang ternyata ia tengah mengandung anak-nya yang ketiga.

"Cylene?! Ada apa~?" Tentulah sang ayah terkejut dengan keadaan istrinya, dan mendekatinya perlahan melihat keadaannya.

Wajah cemas menghiasi pria itu, pasalnya ia khawatir dengan keadaan istrinya yang tengah mengandung itu.

"Apa yang terjadi?" tanyanya sekali lagi untuk kedua kalinya setelah beberapa saat istrinya merasa kesakitan.

"Sepertinya tidak lama lagi akan ada keluarga baru yang bergabung," tutur ibu muda yang bernama Cylene itu, guratan senyum manis terukir tanda kebahagiaan menghiasai hatinya sekarang ini.

Sang ayah tertegun dan merasa bangga, rasa syukur dan perasaan rindu akan kehadiran calon keluarganya itu menguat dan ia merasa sama senangnya dengan istrinya.

Dalam keadaan bahagia itu mereka berdua tidak sadar, kedua putrinya yang masih berumur satu tahun tidak ada lagi di dekat mereka.

"Rossa, Fredirica mari pu-" Ucapan sang ayah terhenti ketika melihat kedua putrinya tidak ada lagi di dekat mereka.

"Anak-anak?!" Cylene terkejut melihat hal yang sama, hanya karena teralihkan perhatian sebentar, kedua putrinya tiba-tiba tidak ada bersamanya.

"Cylene kamu bisa pulang ke rumah sendiri?" tanya sang ayah pada istrinya dengan berat hati, pasalnya ia merasa tidak enak meninggalkan istrinya yang tengah mengandung itu.

Namun apa daya, ia harus segera menemukan kedua putrinya, dan tidak mungkin istrinya harus terus menunggu di luar di malam yang semakin larut ini.

"Tentu, tolong temukan anak kita!" Cylene memegang tangan suaminya, setelah beberapa saat ia segera meninggalkan area hutan itu, sementara suaminya berjalan keliling mencari kedua putrinya.

"Rossa! Fredirica!"

Episodes
1 Bab 1: Tempat Pelarian
2 Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3 Bab 3: Kehausan
4 Bab 4: Berhenti, Kumohon
5 Bab 5: Aku Mengerti
6 Bab 6: Keputusan Mutlak
7 Bab 7: Tujuan Awal
8 Bab 8: Sedikit Bantuan
9 Bab 9: Awal Rumor
10 Bab 10: Sedikit Rumor
11 Bab 11: Kedua Teman
12 Bab 12: Hal Hangat
13 Bab 13: Break The Rules
14 Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15 Bab 15: Pembuktian
16 Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17 Bab 17: Bebas
18 Bab 18: Mencari Kebenaran
19 Bab 19: Rossa dan Fredirica
20 Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21 Bab 21: Menerima
22 Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23 Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24 Bab 24: Melawan
25 Bab 25: Rasa Penasaran
26 Bab 26: Dilema
27 Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28 Bab 28: Masih Jauh
29 Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30 Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31 Bab 31: Rencana Baru
32 Bab 32: Apa Yang Terjadi
33 Bab 33: Kehangatan
34 Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35 Bab 35: Waktunya Beraksi
36 Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37 Bab 37: Berbeda
38 Bab 38: Akhir
39 Bab 39: Berusaha
40 Bab 40: Tepat Waktu
41 Bab 41: Memulai Kembali
42 Bab 42: Yelena
43 Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44 Bab 44: Sebuah Alasan
45 Bab 45: Sebuah Alasan
46 Bab 46: Tumbang
47 Bab 47: Bangga
48 Bab 48: Diskusi
49 Bab 49: Dampak
50 Bab 50: Sembuh
51 Bab 51: Hasil
52 Bab 52: Pulang
53 Bab 53: Perjuangan
54 Bab 54: Konsekuensi
55 Bab 55: Kalian Mengganggu
56 Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57 Bab 57: Mencoba Mengerti
58 Bab 58: Menerima Perasaan
59 Bab 59: Menerima Kenyataan
60 Bab 60: Sadar Dan Menerima
61 Bab 61: Menghadapi Tekanan
62 Bab 62: Kabar Dari Jauh
63 Bab 63: Sedikit Berubah
64 Bab 64: Keluar
65 Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66 Bab 66: Membela
67 Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68 Bab 68: Inilah Kekuatanku
69 Bab 69: Melawan Juga
70 Bab 70: Tak Sadar
71 Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72 Bab 72: Lebih Kuat
73 Bab 73: Masih Mau?
74 Bab 74: Kesempatan Emas
75 Bab 75: Tenang
76 Bab 76: Alasan Sebenarnya
77 Bab 77: Memilih
78 Bab 78: Diriku
79 Bab 79: Sebuah Kenyataan
80 Bab 80: Sunguh Nyata
81 Bab 81: Kabar
82 Bab 82: Berdamai
83 Bab 83: Heran
84 Bab 84: Penampilan Baru
85 Bab 85: Insting
86 Bab 86: Tamu
87 Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88 Bab 88: Pertemuan
89 Bab 89: Saudara
90 Bab 90: Alasan Berubah
91 Bab 91: Memanas
92 Bab 92: Makin Panas
93 Bab 93: Menjauh
94 Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95 Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96 Bab 96: Sudah Habis
97 Bab 97: Perbedaan
98 Bab 98: Curiga
99 Bab 99: Menunjukkan Tekad
100 Bab 100: Ragu
101 Bab 101: Percaya
102 Bab 102: Tidak Terduga
103 Bab 103: Tanda
104 Bab 104: Terdesak
105 Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106 Bab 106: Keputusan
107 Bab 107: Undangan
108 Bab 108: Berjalan
109 Bab 109: Dingin
110 Bab 110: Pertanyaan Lagi
111 Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112 Bab 112: Balas Budi
113 Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114 Bab 114: Sadar
115 Bab 115: Bertemu
116 Bab 116: Terdampar
117 Bab 117: Panggilan Alami
118 Bab 118: Jalan-jalan
119 Bab 119: Jadi Kenyataan
120 Bab 120: Membuka
121 Bab 121: Tertangkap
122 Bab 122: Bersinggah
123 Bab 123: Bertemu... lagi
124 Bab 124: Perasaan
125 Bab 125: Rasakanlah
126 Bab 126: Usaha
127 Bab 127: Perlawanan
128 Bab 128: Kena Mental
129 Bab 129: Sosok Misterius
130 Bab 130: Mengincar
131 Bab 131: Heran
132 Bab 132: Rasakanlah!
133 Bab 133: Yang Kupercayai
134 Bab 134: Penasaran
135 Bab 135: Sadar
136 Bab 136: Jahat
137 Bab 137: Berbalik
138 Bab 138: Belum Selesai
139 Bab 139: Kerinduan
140 Bab 140: Pulang
141 Bab 141: Kunjungan
142 Bab 142: Menyebalkan
143 Bab 143: Mengingatkan
144 Bab 144: Nostalgia
145 Bab 145: Mana Keadilan?
146 Bab 146: Menyelesaikan
147 Bab 147: Fakta
148 Bab 148: Tak Sabar
149 Bab 149: Mengerti
150 Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Bab 1: Tempat Pelarian
2
Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3
Bab 3: Kehausan
4
Bab 4: Berhenti, Kumohon
5
Bab 5: Aku Mengerti
6
Bab 6: Keputusan Mutlak
7
Bab 7: Tujuan Awal
8
Bab 8: Sedikit Bantuan
9
Bab 9: Awal Rumor
10
Bab 10: Sedikit Rumor
11
Bab 11: Kedua Teman
12
Bab 12: Hal Hangat
13
Bab 13: Break The Rules
14
Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15
Bab 15: Pembuktian
16
Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17
Bab 17: Bebas
18
Bab 18: Mencari Kebenaran
19
Bab 19: Rossa dan Fredirica
20
Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21
Bab 21: Menerima
22
Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23
Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24
Bab 24: Melawan
25
Bab 25: Rasa Penasaran
26
Bab 26: Dilema
27
Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28
Bab 28: Masih Jauh
29
Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30
Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31
Bab 31: Rencana Baru
32
Bab 32: Apa Yang Terjadi
33
Bab 33: Kehangatan
34
Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35
Bab 35: Waktunya Beraksi
36
Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37
Bab 37: Berbeda
38
Bab 38: Akhir
39
Bab 39: Berusaha
40
Bab 40: Tepat Waktu
41
Bab 41: Memulai Kembali
42
Bab 42: Yelena
43
Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44
Bab 44: Sebuah Alasan
45
Bab 45: Sebuah Alasan
46
Bab 46: Tumbang
47
Bab 47: Bangga
48
Bab 48: Diskusi
49
Bab 49: Dampak
50
Bab 50: Sembuh
51
Bab 51: Hasil
52
Bab 52: Pulang
53
Bab 53: Perjuangan
54
Bab 54: Konsekuensi
55
Bab 55: Kalian Mengganggu
56
Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57
Bab 57: Mencoba Mengerti
58
Bab 58: Menerima Perasaan
59
Bab 59: Menerima Kenyataan
60
Bab 60: Sadar Dan Menerima
61
Bab 61: Menghadapi Tekanan
62
Bab 62: Kabar Dari Jauh
63
Bab 63: Sedikit Berubah
64
Bab 64: Keluar
65
Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66
Bab 66: Membela
67
Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68
Bab 68: Inilah Kekuatanku
69
Bab 69: Melawan Juga
70
Bab 70: Tak Sadar
71
Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72
Bab 72: Lebih Kuat
73
Bab 73: Masih Mau?
74
Bab 74: Kesempatan Emas
75
Bab 75: Tenang
76
Bab 76: Alasan Sebenarnya
77
Bab 77: Memilih
78
Bab 78: Diriku
79
Bab 79: Sebuah Kenyataan
80
Bab 80: Sunguh Nyata
81
Bab 81: Kabar
82
Bab 82: Berdamai
83
Bab 83: Heran
84
Bab 84: Penampilan Baru
85
Bab 85: Insting
86
Bab 86: Tamu
87
Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88
Bab 88: Pertemuan
89
Bab 89: Saudara
90
Bab 90: Alasan Berubah
91
Bab 91: Memanas
92
Bab 92: Makin Panas
93
Bab 93: Menjauh
94
Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95
Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96
Bab 96: Sudah Habis
97
Bab 97: Perbedaan
98
Bab 98: Curiga
99
Bab 99: Menunjukkan Tekad
100
Bab 100: Ragu
101
Bab 101: Percaya
102
Bab 102: Tidak Terduga
103
Bab 103: Tanda
104
Bab 104: Terdesak
105
Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106
Bab 106: Keputusan
107
Bab 107: Undangan
108
Bab 108: Berjalan
109
Bab 109: Dingin
110
Bab 110: Pertanyaan Lagi
111
Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112
Bab 112: Balas Budi
113
Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114
Bab 114: Sadar
115
Bab 115: Bertemu
116
Bab 116: Terdampar
117
Bab 117: Panggilan Alami
118
Bab 118: Jalan-jalan
119
Bab 119: Jadi Kenyataan
120
Bab 120: Membuka
121
Bab 121: Tertangkap
122
Bab 122: Bersinggah
123
Bab 123: Bertemu... lagi
124
Bab 124: Perasaan
125
Bab 125: Rasakanlah
126
Bab 126: Usaha
127
Bab 127: Perlawanan
128
Bab 128: Kena Mental
129
Bab 129: Sosok Misterius
130
Bab 130: Mengincar
131
Bab 131: Heran
132
Bab 132: Rasakanlah!
133
Bab 133: Yang Kupercayai
134
Bab 134: Penasaran
135
Bab 135: Sadar
136
Bab 136: Jahat
137
Bab 137: Berbalik
138
Bab 138: Belum Selesai
139
Bab 139: Kerinduan
140
Bab 140: Pulang
141
Bab 141: Kunjungan
142
Bab 142: Menyebalkan
143
Bab 143: Mengingatkan
144
Bab 144: Nostalgia
145
Bab 145: Mana Keadilan?
146
Bab 146: Menyelesaikan
147
Bab 147: Fakta
148
Bab 148: Tak Sabar
149
Bab 149: Mengerti
150
Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!