- Satu hari sebelumnya-
- Kota Frost\, malam hari\, berawan-
Terlihat seorang pemuda dengan setelan jubah hitam, sedang berjalan-jalan seperti biasa, di malam yang tenang di sebuah area perkotaan yang cukup luas.
Tidak lain tidak bukan ia adalah Stephen, berjalan seorang diri di tengah kota besar dengan tujuan yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.
Suasana malam hari yang tidak ramai, hanya terlihat orang yang sesekali lewat, tidak biasanya seperti ini.
Stephen berjalan dengan tenang sembari memerhatikan sekitar, suasana tenang ini membuatnya bisa rileks, sebuah perasaan yang ingin selalu dirasakannya.
Kehadirannya di kota besar seperti ini dengan penampilan yang tertutup seharusnya membuat dirinya dicurigai oleh pihak keamanan, namun entah bagaimana ceritanya ia bisa berkeliaran dengan bebas di kota ini.
"Apa yang harus kulakukan?" Pemuda itu bergumam, seolah beban pikiran masih saja ada dalam benaknya, yang mengganggu ketenangannya saat ini.
Stephen sedikit mengangkat tangan kanannya, di sana ada bekas luka kering yang cukup besar, mirip seperti luka bakar.
"Tanda ini ... apa bisa dihilangkan?" Lagi-lagi Stephen merenung, raut wajahnya tidak terlihat begitu baik sekarang ini.
Sebuah tanda yang akan selalu ada, kapanpun dan dimanapun, setiap kali melihatnya Stephen merasa tidak baik-baik saja.
Beberapa saat kemudian setelah melalui area utama kota, ia pun sampai di area perumahan dimana begitu banyak rumah yang ada.
Langkah kaki pemuda itu terhenti ketika ia melihat sebuah rumah besar, begitu indah dan mewah, dari bentuk dan strukturnya tentulah ini bukan rumah orang biasa.
Dikelilingi gerbang yang juga besar, rumah ini seakan memiliki ciri khasnya sendiri dan itulah yang membuat Stephen berhenti untuk memandanginya sejenak.
Stephen memerhatikan dengan seksama rumah besar ini, tidak seperti kebanyakan rumah yang ia lihat sebelumnya, ia merasa tertarik dengan rumah yang satu ini.
"Keluarga Reiss." Stephen melihat ada papan nama pemilik rumah ini di depan gerbang, di sampingnya ada tanda bulan dan kedua pedang.
"Tanda itu...." Stephen terdiam, ia merasa tidak enak ketika melihat tanda aneh seperti itu, apalagi ada gambar bulan di sana.
Mata Stephen masih terpaku ke arah lambang bulan dan kedua pedang di sampingnya, rasa penasarannya memuncak ingin tahu apa maksud dari lambang itu.
Dan pula tidak hanya lambang itu yang dipikirkannya, Stephen merasa ia pernah mendengar sesuatu tentang Keluarga Reiss.
"Sepertinya nama itu tidak asing.... Di mana aku pernah mendengarnya ya?"
Mengesampingkan nama keluarga sekaligus simbol asing itu, Stephen berusaha untuk tidak berasumsi berlebihan selagi ia mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.
Dan kemudian setelah Stephen berjalan-jalan lagi sejenak, ia mendengar ada dua orang perempuan sedang berbicara satu sama lain di dekat rumah yang lain.
"Hei kau tahu tidak? Keluarga Reiss hendak menyekolahkan anaknya di Akademi Sihir yang jauh di kota ini," ucap salah satu wanita berambut panjang.
"Keluarga Reiss Ahli Sihir? Mengapa mereka menyekolahkan anak mereka di luar kota? Bukankah di sini juga banyak sekolah sihir yang bagus?" komentar perempuan berambut pendek.
"Sepertinya mereka punya alasan sendiri, kalau tidak salah nama sekolahnya adalah 'Akademi Sihir Wolfden'", tutur wanita berambut panjang.
"Ah, aku pernah mendengar nama sekolah itu, memang sih sekolahnya terkenal dengan banyak-nya ahli sihir yang tercetak di sana," sahut wanita berambut pendek.
Stephen tidak sengaja mendengar dua wanita itu mengobrol, dan pada akhirnya ia jadi tahu keluarga Reiss memang keluarga yang tersohor adanya.
Dan lagi ia bisa berasumsi lambang asing yang tadi dilihatnya bisa saja adalah sebuah simbol untuk keluarga atau siapapun yang sudah menjadi ahli sihir.
"Ah benar juga, Keluarga Reiss," gumam Stephen, ia kemudian melanjutkan perjalanannya meninggalkan kedua wanita yang masih mengobrol di sana, dengan perasaan was-was yang perlahan mendatanginya.
Stephen menjadi tidak setenang tadi, pada akhirnya ia tahu kedatangannya ke kota besar bukanlah ide yang bagus, malahan sangat beresiko baginya.
Mencari ketenangan bagi dirinya sendiri, namun usahanya itu tidak semudah yang dibayangkan.
Bertemu dengan ahli sihir di sini? Itu adalah hal yang paling ingin dihindari oleh Stephen, setidaknya untuk itulah ia berkunjung ke kota ini.
"Aku tidak mau berurusan dengan siapapun di sini," gumam Stephen sembari mempercepat langkah kakinya menuju ke area lain dari Kota Frost.
Ia hanya memandang ke depan mengabaikan beberapa orang yang berpapasan yang menatapnya dengan tatapan tajam, pada akhirnya Stephen sebisa mungkin menghindari kontak dengan siapapun setelah tahu ternyata ada ahli sihir di tempat ini.
Setelah beberapa lama berlalu, ia meninggalkan area perumahan kota, ia sampai di area pepohonan yang rindang di mana area yang sangat sepi, bahkan terkesan tidak ada orang di sini.
Stephen melayangkan pandangannya ke area itu dan kemudian memandang langit malan yang berawan, tidak ada cahaya bulan sama sekali, bahkan bintang-bintang pun enggan menampakkan dirinya.
Bibirnya sedikit naik, ia merasa lebih tenang dan nyaman dengan suasana seperti ini, perlahan namun pasti ia mulai bisa menikmati suasana ketenangan yang sekarang ini dirasakannya.
Ia menutup matanya sejenak menikmati suana pohon yang begitu rindang.
"Andai saja setiap hari seperti ini...."
Stephen berjalan pelan sembari menutup matanya, menikmati setiap suasana tenang dan damai yang sekarang dirasakannya itu.
Srak.
Tanpa disadarinya, sebuah ranting tajam dari salah satu pohon mengenai pipi kanannya ketika ia berjalan sembari menutup matanya, darah segar perlahan mengalir tak terbendung.
"Huh?" Untuk beberapa saat kemudian Stephen sadar, darah keluar dari pipinya itu tak sengaja mengenai mulutnya.
"Apa ini?" Dan tak sengaja pula ia menelan darahnya sendiri, ia merasa heran akan rasa aneh pada mulutnya secara tiba-tiba.
Stephen segera mengelap pipi dengan tangannya, matanya terbelalak melihat apa yang ada di tangannya, begitu merah bahkan ia bisa melihat sekelebat bayangan matanya sendiri.
"HAH!" Stephen segera menggunakan jubah hitamnya untuk membersihkan pipi dari lukanya itu.
"Sial, aku tidak melihat keadaan sekitar...." Stephen tidak bisa menyebunyikan kepanikannya.
Perlahan namun pasti bola mata pemuda itu mengalami perubahan, menjadi agak kekuningan dengan bentuk lancip, sama sekali tidak terlihat seperti manusia pada umumnya.
"U... Uh...." Perlahan namun pasti kini Stephen mulai merasa tidak enak, ia memegang kepalanya, merasa ada sesuatu yang berbeda terjadi dalam dirinya.
Kepalanya terasa berat, dan apa yang tidak ingin ia pikirkan bermunculan semua di dalam kepalanya.
"Mengapa ini bisa terjadi? Sial! ... Aku hanya ingin tenang di sini!" Stephen berusaha untuk mengendalikan dirinya sendiri, namun apa daya bukannya ia jadi tenang malahan ia meronta-ronta dan tidak tahan dengan apa yang terjadi pada dirinya.
Sebenarnya apa yang terjadi pada Stephen? Tidak ada yang tahu pasti kecuali dirinya sendiri, namun meskipun begitu bisa ditarik kesimpulan Stephen sekarang merasa tidak baik-baik saja.
"Ha ..."
"... Ha ... us...." Seluruh tubuh Stephen gemetar hebat, air liurnya perlahan menetes tak terbendung.
Hasrat yang begitu kuat dan dalam muncul seketika dalam diri Stephen, sebuah perasaan yang selama ini ingin dihindarinya kini malah terjadi lagi padanya.
"Haus! Grrr...."
Blugh.
Stephen tersungkur sambil memegang tenggorokannya, rasa dahaga yang tak tertahankan melanda dirinya, benar-benar perasaan yang tidak bisa diantisipasi.
"Ukh... Ukh...." Stephen mengerang-ngerang menahan rasa haus yang ada, namun setelah beberapa saat berlalu perasaannya itu tidak kunjung reda, malahan semakin menguat adanya.
"A... Apa yang harus kulakukan?"
***
Sementara itu di area yang sama, tak jauh dari Stephen, ada dua anak kecil perempuan sedang bermain bersama.
Mereka berdua punya penampilan yang mirip, berambut pirang dan wajah yang cantik, mereka berdua tertawa dan bercanda satu dengan yang lainnya.
"Ahahah ...."
"Huahaha ...."
Kedua anak perempuan itu terus bermain dan sesekali tertawa, menikmati waktu yang sekarang ini mereka jalani.
Di dekat mereka ada pula kedua orang tuanya, seorang pria dan wanita dewasa menemani kedua anaknya yang tengah bermain.
Bisa dibilang ada satu keluarga yang tengah menghabiskan waktu di luar menikmati malam yang indah ini, tak jauh dari keberadaan Stephen di area yang sama.
"Ayah, bukankah ini saatnya kita pulang ke rumah?" Sang ibu muda memiliki wajah cantik dan rambut hitam panjang berkata pada suaminya.
Memang sudah beberapa lama keluarga ini menghabiskan waktu di luar, jika saja mereka tidak segera pulang mungkin saja kedua putrinya itu bisa kedinginan karena malam yang semakin larut ini.
"Ahaha, sudah waktunya ya? Baiklah kalau begitu mari kita pulang ke rumah." Sang Ayah dengan cepat menyetujuinya, penampilannya tampan dengan kumis dan janggut tipis, terlihat berwibawa dan penuh keramahan.
"Ah!" Tiba-tiba sang ibu menjerit kesakitan, memegang perutnya yang besar, yang ternyata ia tengah mengandung anak-nya yang ketiga.
"Cylene?! Ada apa~?" Tentulah sang ayah terkejut dengan keadaan istrinya, dan mendekatinya perlahan melihat keadaannya.
Wajah cemas menghiasi pria itu, pasalnya ia khawatir dengan keadaan istrinya yang tengah mengandung itu.
"Apa yang terjadi?" tanyanya sekali lagi untuk kedua kalinya setelah beberapa saat istrinya merasa kesakitan.
"Sepertinya tidak lama lagi akan ada keluarga baru yang bergabung," tutur ibu muda yang bernama Cylene itu, guratan senyum manis terukir tanda kebahagiaan menghiasai hatinya sekarang ini.
Sang ayah tertegun dan merasa bangga, rasa syukur dan perasaan rindu akan kehadiran calon keluarganya itu menguat dan ia merasa sama senangnya dengan istrinya.
Dalam keadaan bahagia itu mereka berdua tidak sadar, kedua putrinya yang masih berumur satu tahun tidak ada lagi di dekat mereka.
"Rossa, Fredirica mari pu-" Ucapan sang ayah terhenti ketika melihat kedua putrinya tidak ada lagi di dekat mereka.
"Anak-anak?!" Cylene terkejut melihat hal yang sama, hanya karena teralihkan perhatian sebentar, kedua putrinya tiba-tiba tidak ada bersamanya.
"Cylene kamu bisa pulang ke rumah sendiri?" tanya sang ayah pada istrinya dengan berat hati, pasalnya ia merasa tidak enak meninggalkan istrinya yang tengah mengandung itu.
Namun apa daya, ia harus segera menemukan kedua putrinya, dan tidak mungkin istrinya harus terus menunggu di luar di malam yang semakin larut ini.
"Tentu, tolong temukan anak kita!" Cylene memegang tangan suaminya, setelah beberapa saat ia segera meninggalkan area hutan itu, sementara suaminya berjalan keliling mencari kedua putrinya.
"Rossa! Fredirica!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments