- Delapan Belas Tahun Kemudian\, Desa Wolfden\, pagi hari yang indah-
Begitulah cerita mengenai rumor makhluk berbahaya yang selama ini dimulai karena adanya peti coklat besar misterius di sana.
Kejadian delapan belas tahun lalu memulai semua rumor itu hingga kini bahkan hampir seluruh warga desa Wolfden sudah tahu rumor ini, dan mereka selalu melarang keras siapapun yang tak berkepentingan untuk datang ke area terlarang berdasarkan rumor yang telah mereka ketahui itu.
Semuanya memang menuruti untuk menjauhi area terlarang itu, dan itulah yang memang diharapkan oleh William yang kini ada di kota asalnya.
Suasana desa di pagi hari begitu indah dan cerah, banyak orang sedang melakukan aktivitasnya masing-masing, dan di sini ada ibu sedang menjemur pakaian.
"Feronica! Jangan lupa hari ini kamu ada kelas tambahan!"
Terdengar suara seorang ibu yang sudah lanjut usia memanggil anaknya dari dalam rumah, suasana hari itu memang pagi hari yang indah dan cerah, sangat cocok bagi orang yang akan memulai harinya dengan penuh semangat. Namun si gadis ini malah terlihat agak malas di sini.
"Iya Ibu!" Gadis bernama Feronica itu keluar rumah dengan seragam sekolahnya yang berwarna putih dan coklat, dan di baju pergelangan tangan kirinya tertulis nama sekolahnya saat ini.
'Akademi Sihir Wolfden' itulah nama sekolahnya, Feronica sudah tahun ketiga dan tidak lama lagi ia studinya akan berakhir.
Ibu lanjut usia ini bernama Elisabeth, ibu dari Feronica, penampilannya sederhana dengan baju hijau dan celana coklat, ia yang mengurus Feronica dari sejak kecil.
"Mengapa penampilanmu begitu?" Elisabeth melihat putrinya dengan seksama, rambutnya masih sedikit acak-acakan dan ia sedang menggosok-gosok matanya saat ini.
"Hah?" Feronica heran dengan apa yang dikatakan ibunya itu, dan pada akhirnya ibunya pun langsung merapikan rambut dan baju putrinya.
"Nah, begini'kan lebih cantik jadinya," ujar Elisabeth sembari tersenyum, dengan sedikit aksi darinya penampilan putrinya itu sudah meningkat drastis.
"Ahaha...." Feronica tertawa kecil, setelahnya ia memutuskan untuk pergi ke Akademi Sihir Wolfden, tempatnya mengemban ilmu sihir demi mewujudkan cita-citanya saat ini.
"Hati-hati di jalan," ujar ibunya dengan ramah.
"Eh tasku kelupaan...." Feronica balik badan dan segera masuk kembali ke dalam rumah mengambil tasnya yang masih tersimpan dekat kasurnya.
Begitu Feronica kembali akan berangkat ke sekolah, ibunya bertanya lagi, "Masih ada yang tertinggal?"
"Hehe tidak ada bu, aku berangkat dulu bu!" Feronica bergegas benar-benar berangkat kali ini, ia setengah berlari dengan penuh semangat.
Ibunya memandanginya dari kejauhan dan tersenyum kecil. "Ibu bosan juga bilamana harus terus mengantarkan tasmu ke Tuan Jack Feronica."
Setelah berkata begitu Elisabeth melanjutnya menjemur pakaiannya dan bergegas masuk ke dalam rumah untuk melakukan pekerjaan yang lain.
***
Setelah beberapa saat berlalu, Feronica sampai di Akademi, tidak banyak siswa yang ada di sekolah. Ia masuk lewat gerbang seperti biasa dan bertemu dengan penjaga sekolah bertopi yang sedang serius menyapu halaman dekat gerbang.
"Tuan Jack hari yang indah!" sapa Feronica dengan suaranya yang keras, penjaga sekolah yang memakai topi itu kaget karena tiba-tiba ada yang berbicara keras di belakangnya.
"Ah, Feronica hari yang indah, ada kelas tambahan hari ini?" tanya pria paruh baya bertopi dengan wajah yang ramah, yang tak lain tak bukan adalah Jack.
"Uh-hum, jadi siswa tingkat akhir benar-benar merepotkan ya ampun," keluh Feronica, Jack hanya tersenyum kecil tanpa berkata apapun.
"Tapi jangan khawatir Tuan! Ini bukan apa-apa!" Dan beberapa detik setelahnya semangat Feronica meningkat drastis setelah ia mengeluh sebentar. Feronica tahu terus mengeluh tidak akan mengubah apapun.
"Yah, kamu pasti bisa, Ayo masuk ke dalam jangan sampai telat lho." Jack mengingatkan Feronica, dan dengan segera pula Feronica mengangguk dan masuk ke area dalam sekolahnya.
Akademi Sihir Wolfden, sekolah yang cukup besar yang terletak di desa kecil, aneh? Tidak juga, malahan banyak siswa luar yang tertarik untuk mengemban ilmu di sini ketimbang warga aslinya sendiri.
Feronica adalah salah satu dari banyak murid di sini yang sudah sampai di tingkat akhir, perjalanannya untuk menjadi ahli sihir tidak berakhir di sini, melainkan baru saja di mulai.
Kelas Feronica berada di lantai tiga, butuh waktu beberapa lama sampai ia sampai di sana, sepanjang perjalanan ia melihat banyak siswa lain yang sedang berlalu lalang juga, tidak banyak siswa tingkat satu dan dua mengingat kelas tambahan di hari libur ini memang khusus untuk siswa tingkat akhir alias kelas tiga saja.
Feronica berjalan sendiri sembari memerhatikan murid lain, kebanyakan dari mereka punya perhiasan dan aksesoris yang cantik, penampilan yang super rapi dan menarik, memang standar yang cukup tinggi bagi para siswa di sekolah ini.
Mengingat ini bukanlah kali pertama Feronica melihat hal seperti ini, selama tiga tahun terakhir yang ia lihat adalah hal yang sama, namun entah mengapa setiap kali melihat murid lain Feronica merasa kepercayaan dirinya malah agak merosot.
Apa alasannya? Sederhana saja, Feronica adalah siswa biasa dari latar belakang biasa, sedangkan siswa lain dan mayoritas yang mengemban ilmu di Akademi Sihir Wolfden adalah siswa yang berasal dari luar dan memiliki status keluarga yang tinggi.
Itulah alasan singkatnya Feronica mengalami kurang percaya diri setiap kali ia melihat orang lain, namun pada akhirnya ia yang sudah hampir lulus ini sudah melihat lebih banyak dari yang ia lihat saat ini. Jadi mengapa di tahun terakhirnya ini ia harus pusing dengan hal ini?
Lagipula pendapat ataupula pandangan orang lain tidak serta merta langsung menentukan jalan hidup seseorang, Feronica tahu akan hal ini.
"Aku bisa," Feronica bergumam, menyemangati dirinya sendiri, ia tidak perlu hilang percaya diri karena melihat orang lain, lebih baik baginya untuk berpikir lebih baik dan mengembangkan dirinya.
"Aku pasti bisa," Feronica terus mengatakan motivasi yang sama seiring ia berjalan menuju kelasnya sendiri, tak jarang ia dilihat dengan tatapan sinis dan tak mengenakkan dari para siswa lain.
Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, hampir setiap hari selalu seperti ini, sesuatu hal yang membuat tidak nyaman, namun Feronica mengaplikasikan sikap 'bodo amat' terhadap semua pandangan dan terkadang perkataan yang menjatuhkannya.
Dengan begitu ia pada akhirnya bisa bertahan dengan mental yang teruji, ia tidak hilang semangat dan pada akhirnya bisa mencapai tahun terakhir di Akademi Sihir Wolfden. Ia yang hanyalah warga biasa yang tidak punya status tinggi ataupun kemampuan yang super hebat, masih bisa mengemban ilmu di sekolah yang bergengsi seperti ini.
Setelah beberapa saat berlalu, Feronica sampai di ruang kelasnya, ia dengan segera menyimpan tasnya dan duduk di kursinya, kursinya terletak paling belakang di pinggir dan di dekat jendela pula.
Sesi belajarnya masih belum dimulai, ia melihat beberapa murid di kelasnya masih saling mengobrol satu sama lain.
"Hei apa kau tahu rumor tentang peti misterius di area pekuburan itu?" tanya salah seorang siswi berambut pendek di kelas itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments