Bab 9: Awal Rumor

- Delapan Belas Tahun Kemudian\, Desa Wolfden\, pagi hari yang indah-

Begitulah cerita mengenai rumor makhluk berbahaya yang selama ini dimulai karena adanya peti coklat besar misterius di sana.

Kejadian delapan belas tahun lalu memulai semua rumor itu hingga kini bahkan hampir seluruh warga desa Wolfden sudah tahu rumor ini, dan mereka selalu melarang keras siapapun yang tak berkepentingan untuk datang ke area terlarang berdasarkan rumor yang telah mereka ketahui itu.

Semuanya memang menuruti untuk menjauhi area terlarang itu, dan itulah yang memang diharapkan oleh William yang kini ada di kota asalnya.

Suasana desa di pagi hari begitu indah dan cerah, banyak orang sedang melakukan aktivitasnya masing-masing, dan di sini ada ibu sedang menjemur pakaian.

"Feronica! Jangan lupa hari ini kamu ada kelas tambahan!"

Terdengar suara seorang ibu yang sudah lanjut usia memanggil anaknya dari dalam rumah, suasana hari itu memang pagi hari yang indah dan cerah, sangat cocok bagi orang yang akan memulai harinya dengan penuh semangat. Namun si gadis ini malah terlihat agak malas di sini.

"Iya Ibu!" Gadis bernama Feronica itu keluar rumah dengan seragam sekolahnya yang berwarna putih dan coklat, dan di baju pergelangan tangan kirinya tertulis nama sekolahnya saat ini.

'Akademi Sihir Wolfden' itulah nama sekolahnya, Feronica sudah tahun ketiga dan tidak lama lagi ia studinya akan berakhir.

Ibu lanjut usia ini bernama Elisabeth, ibu dari Feronica, penampilannya sederhana dengan baju hijau dan celana coklat, ia yang mengurus Feronica dari sejak kecil.

"Mengapa penampilanmu begitu?" Elisabeth melihat putrinya dengan seksama, rambutnya masih sedikit acak-acakan dan ia sedang menggosok-gosok matanya saat ini.

"Hah?" Feronica heran dengan apa yang dikatakan ibunya itu, dan pada akhirnya ibunya pun langsung merapikan rambut dan baju putrinya.

"Nah, begini'kan lebih cantik jadinya," ujar Elisabeth sembari tersenyum, dengan sedikit aksi darinya penampilan putrinya itu sudah meningkat drastis.

"Ahaha...." Feronica tertawa kecil, setelahnya ia memutuskan untuk pergi ke Akademi Sihir Wolfden, tempatnya mengemban ilmu sihir demi mewujudkan cita-citanya saat ini.

"Hati-hati di jalan," ujar ibunya dengan ramah.

"Eh tasku kelupaan...." Feronica balik badan dan segera masuk kembali ke dalam rumah mengambil tasnya yang masih tersimpan dekat kasurnya.

Begitu Feronica kembali akan berangkat ke sekolah, ibunya bertanya lagi, "Masih ada yang tertinggal?"

"Hehe tidak ada bu, aku berangkat dulu bu!" Feronica bergegas benar-benar berangkat kali ini, ia setengah berlari dengan penuh semangat.

Ibunya memandanginya dari kejauhan dan tersenyum kecil. "Ibu bosan juga bilamana harus terus mengantarkan tasmu ke Tuan Jack Feronica."

Setelah berkata begitu Elisabeth melanjutnya menjemur pakaiannya dan bergegas masuk ke dalam rumah untuk melakukan pekerjaan yang lain.

***

Setelah beberapa saat berlalu, Feronica sampai di Akademi, tidak banyak siswa yang ada di sekolah. Ia masuk lewat gerbang seperti biasa dan bertemu dengan penjaga sekolah bertopi yang sedang serius menyapu halaman dekat gerbang.

"Tuan Jack hari yang indah!" sapa Feronica dengan suaranya yang keras, penjaga sekolah yang memakai topi itu kaget karena tiba-tiba ada yang berbicara keras di belakangnya.

"Ah, Feronica hari yang indah, ada kelas tambahan hari ini?" tanya pria paruh baya bertopi dengan wajah yang ramah, yang tak lain tak bukan adalah Jack.

"Uh-hum, jadi siswa tingkat akhir benar-benar merepotkan ya ampun," keluh Feronica, Jack hanya tersenyum kecil tanpa berkata apapun.

"Tapi jangan khawatir Tuan! Ini bukan apa-apa!" Dan beberapa detik setelahnya semangat Feronica meningkat drastis setelah ia mengeluh sebentar. Feronica tahu terus mengeluh tidak akan mengubah apapun.

"Yah, kamu pasti bisa, Ayo masuk ke dalam jangan sampai telat lho." Jack mengingatkan Feronica, dan dengan segera pula Feronica mengangguk dan masuk ke area dalam sekolahnya.

Akademi Sihir Wolfden, sekolah yang cukup besar yang terletak di desa kecil, aneh? Tidak juga, malahan banyak siswa luar yang tertarik untuk mengemban ilmu di sini ketimbang warga aslinya sendiri.

Feronica adalah salah satu dari banyak murid di sini yang sudah sampai di tingkat akhir, perjalanannya untuk menjadi ahli sihir tidak berakhir di sini, melainkan baru saja di mulai.

Kelas Feronica berada di lantai tiga, butuh waktu beberapa lama sampai ia sampai di sana, sepanjang perjalanan ia melihat banyak siswa lain yang sedang berlalu lalang juga, tidak banyak siswa tingkat satu dan dua mengingat kelas tambahan di hari libur ini memang khusus untuk siswa tingkat akhir alias kelas tiga saja.

Feronica berjalan sendiri sembari memerhatikan murid lain, kebanyakan dari mereka punya perhiasan dan aksesoris yang cantik, penampilan yang super rapi dan menarik, memang standar yang cukup tinggi bagi para siswa di sekolah ini.

Mengingat ini bukanlah kali pertama Feronica melihat hal seperti ini, selama tiga tahun terakhir yang ia lihat adalah hal yang sama, namun entah mengapa setiap kali melihat murid lain Feronica merasa kepercayaan dirinya malah agak merosot.

Apa alasannya? Sederhana saja, Feronica adalah siswa biasa dari latar belakang biasa, sedangkan siswa lain dan mayoritas yang mengemban ilmu di Akademi Sihir Wolfden adalah siswa yang berasal dari luar dan memiliki status keluarga yang tinggi.

Itulah alasan singkatnya Feronica mengalami kurang percaya diri setiap kali ia melihat orang lain, namun pada akhirnya ia yang sudah hampir lulus ini sudah melihat lebih banyak dari yang ia lihat saat ini. Jadi mengapa di tahun terakhirnya ini ia harus pusing dengan hal ini?

Lagipula pendapat ataupula pandangan orang lain tidak serta merta langsung menentukan jalan hidup seseorang, Feronica tahu akan hal ini.

"Aku bisa," Feronica bergumam, menyemangati dirinya sendiri, ia tidak perlu hilang percaya diri karena melihat orang lain, lebih baik baginya untuk berpikir lebih baik dan mengembangkan dirinya.

"Aku pasti bisa," Feronica terus mengatakan motivasi yang sama seiring ia berjalan menuju kelasnya sendiri, tak jarang ia dilihat dengan tatapan sinis dan tak mengenakkan dari para siswa lain.

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, hampir setiap hari selalu seperti ini, sesuatu hal yang membuat tidak nyaman, namun Feronica mengaplikasikan sikap 'bodo amat' terhadap semua pandangan dan terkadang perkataan yang menjatuhkannya.

Dengan begitu ia pada akhirnya bisa bertahan dengan mental yang teruji, ia tidak hilang semangat dan pada akhirnya bisa mencapai tahun terakhir di Akademi Sihir Wolfden. Ia yang hanyalah warga biasa yang tidak punya status tinggi ataupun kemampuan yang super hebat, masih bisa mengemban ilmu di sekolah yang bergengsi seperti ini.

Setelah beberapa saat berlalu, Feronica sampai di ruang kelasnya, ia dengan segera menyimpan tasnya dan duduk di kursinya, kursinya terletak paling belakang di pinggir dan di dekat jendela pula.

Sesi belajarnya masih belum dimulai, ia melihat beberapa murid di kelasnya masih saling mengobrol satu sama lain.

"Hei apa kau tahu rumor tentang peti misterius di area pekuburan itu?" tanya salah seorang siswi berambut pendek di kelas itu.

Episodes
1 Bab 1: Tempat Pelarian
2 Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3 Bab 3: Kehausan
4 Bab 4: Berhenti, Kumohon
5 Bab 5: Aku Mengerti
6 Bab 6: Keputusan Mutlak
7 Bab 7: Tujuan Awal
8 Bab 8: Sedikit Bantuan
9 Bab 9: Awal Rumor
10 Bab 10: Sedikit Rumor
11 Bab 11: Kedua Teman
12 Bab 12: Hal Hangat
13 Bab 13: Break The Rules
14 Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15 Bab 15: Pembuktian
16 Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17 Bab 17: Bebas
18 Bab 18: Mencari Kebenaran
19 Bab 19: Rossa dan Fredirica
20 Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21 Bab 21: Menerima
22 Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23 Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24 Bab 24: Melawan
25 Bab 25: Rasa Penasaran
26 Bab 26: Dilema
27 Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28 Bab 28: Masih Jauh
29 Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30 Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31 Bab 31: Rencana Baru
32 Bab 32: Apa Yang Terjadi
33 Bab 33: Kehangatan
34 Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35 Bab 35: Waktunya Beraksi
36 Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37 Bab 37: Berbeda
38 Bab 38: Akhir
39 Bab 39: Berusaha
40 Bab 40: Tepat Waktu
41 Bab 41: Memulai Kembali
42 Bab 42: Yelena
43 Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44 Bab 44: Sebuah Alasan
45 Bab 45: Sebuah Alasan
46 Bab 46: Tumbang
47 Bab 47: Bangga
48 Bab 48: Diskusi
49 Bab 49: Dampak
50 Bab 50: Sembuh
51 Bab 51: Hasil
52 Bab 52: Pulang
53 Bab 53: Perjuangan
54 Bab 54: Konsekuensi
55 Bab 55: Kalian Mengganggu
56 Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57 Bab 57: Mencoba Mengerti
58 Bab 58: Menerima Perasaan
59 Bab 59: Menerima Kenyataan
60 Bab 60: Sadar Dan Menerima
61 Bab 61: Menghadapi Tekanan
62 Bab 62: Kabar Dari Jauh
63 Bab 63: Sedikit Berubah
64 Bab 64: Keluar
65 Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66 Bab 66: Membela
67 Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68 Bab 68: Inilah Kekuatanku
69 Bab 69: Melawan Juga
70 Bab 70: Tak Sadar
71 Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72 Bab 72: Lebih Kuat
73 Bab 73: Masih Mau?
74 Bab 74: Kesempatan Emas
75 Bab 75: Tenang
76 Bab 76: Alasan Sebenarnya
77 Bab 77: Memilih
78 Bab 78: Diriku
79 Bab 79: Sebuah Kenyataan
80 Bab 80: Sunguh Nyata
81 Bab 81: Kabar
82 Bab 82: Berdamai
83 Bab 83: Heran
84 Bab 84: Penampilan Baru
85 Bab 85: Insting
86 Bab 86: Tamu
87 Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88 Bab 88: Pertemuan
89 Bab 89: Saudara
90 Bab 90: Alasan Berubah
91 Bab 91: Memanas
92 Bab 92: Makin Panas
93 Bab 93: Menjauh
94 Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95 Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96 Bab 96: Sudah Habis
97 Bab 97: Perbedaan
98 Bab 98: Curiga
99 Bab 99: Menunjukkan Tekad
100 Bab 100: Ragu
101 Bab 101: Percaya
102 Bab 102: Tidak Terduga
103 Bab 103: Tanda
104 Bab 104: Terdesak
105 Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106 Bab 106: Keputusan
107 Bab 107: Undangan
108 Bab 108: Berjalan
109 Bab 109: Dingin
110 Bab 110: Pertanyaan Lagi
111 Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112 Bab 112: Balas Budi
113 Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114 Bab 114: Sadar
115 Bab 115: Bertemu
116 Bab 116: Terdampar
117 Bab 117: Panggilan Alami
118 Bab 118: Jalan-jalan
119 Bab 119: Jadi Kenyataan
120 Bab 120: Membuka
121 Bab 121: Tertangkap
122 Bab 122: Bersinggah
123 Bab 123: Bertemu... lagi
124 Bab 124: Perasaan
125 Bab 125: Rasakanlah
126 Bab 126: Usaha
127 Bab 127: Perlawanan
128 Bab 128: Kena Mental
129 Bab 129: Sosok Misterius
130 Bab 130: Mengincar
131 Bab 131: Heran
132 Bab 132: Rasakanlah!
133 Bab 133: Yang Kupercayai
134 Bab 134: Penasaran
135 Bab 135: Sadar
136 Bab 136: Jahat
137 Bab 137: Berbalik
138 Bab 138: Belum Selesai
139 Bab 139: Kerinduan
140 Bab 140: Pulang
141 Bab 141: Kunjungan
142 Bab 142: Menyebalkan
143 Bab 143: Mengingatkan
144 Bab 144: Nostalgia
145 Bab 145: Mana Keadilan?
146 Bab 146: Menyelesaikan
147 Bab 147: Fakta
148 Bab 148: Tak Sabar
149 Bab 149: Mengerti
150 Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Bab 1: Tempat Pelarian
2
Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3
Bab 3: Kehausan
4
Bab 4: Berhenti, Kumohon
5
Bab 5: Aku Mengerti
6
Bab 6: Keputusan Mutlak
7
Bab 7: Tujuan Awal
8
Bab 8: Sedikit Bantuan
9
Bab 9: Awal Rumor
10
Bab 10: Sedikit Rumor
11
Bab 11: Kedua Teman
12
Bab 12: Hal Hangat
13
Bab 13: Break The Rules
14
Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15
Bab 15: Pembuktian
16
Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17
Bab 17: Bebas
18
Bab 18: Mencari Kebenaran
19
Bab 19: Rossa dan Fredirica
20
Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21
Bab 21: Menerima
22
Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23
Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24
Bab 24: Melawan
25
Bab 25: Rasa Penasaran
26
Bab 26: Dilema
27
Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28
Bab 28: Masih Jauh
29
Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30
Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31
Bab 31: Rencana Baru
32
Bab 32: Apa Yang Terjadi
33
Bab 33: Kehangatan
34
Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35
Bab 35: Waktunya Beraksi
36
Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37
Bab 37: Berbeda
38
Bab 38: Akhir
39
Bab 39: Berusaha
40
Bab 40: Tepat Waktu
41
Bab 41: Memulai Kembali
42
Bab 42: Yelena
43
Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44
Bab 44: Sebuah Alasan
45
Bab 45: Sebuah Alasan
46
Bab 46: Tumbang
47
Bab 47: Bangga
48
Bab 48: Diskusi
49
Bab 49: Dampak
50
Bab 50: Sembuh
51
Bab 51: Hasil
52
Bab 52: Pulang
53
Bab 53: Perjuangan
54
Bab 54: Konsekuensi
55
Bab 55: Kalian Mengganggu
56
Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57
Bab 57: Mencoba Mengerti
58
Bab 58: Menerima Perasaan
59
Bab 59: Menerima Kenyataan
60
Bab 60: Sadar Dan Menerima
61
Bab 61: Menghadapi Tekanan
62
Bab 62: Kabar Dari Jauh
63
Bab 63: Sedikit Berubah
64
Bab 64: Keluar
65
Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66
Bab 66: Membela
67
Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68
Bab 68: Inilah Kekuatanku
69
Bab 69: Melawan Juga
70
Bab 70: Tak Sadar
71
Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72
Bab 72: Lebih Kuat
73
Bab 73: Masih Mau?
74
Bab 74: Kesempatan Emas
75
Bab 75: Tenang
76
Bab 76: Alasan Sebenarnya
77
Bab 77: Memilih
78
Bab 78: Diriku
79
Bab 79: Sebuah Kenyataan
80
Bab 80: Sunguh Nyata
81
Bab 81: Kabar
82
Bab 82: Berdamai
83
Bab 83: Heran
84
Bab 84: Penampilan Baru
85
Bab 85: Insting
86
Bab 86: Tamu
87
Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88
Bab 88: Pertemuan
89
Bab 89: Saudara
90
Bab 90: Alasan Berubah
91
Bab 91: Memanas
92
Bab 92: Makin Panas
93
Bab 93: Menjauh
94
Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95
Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96
Bab 96: Sudah Habis
97
Bab 97: Perbedaan
98
Bab 98: Curiga
99
Bab 99: Menunjukkan Tekad
100
Bab 100: Ragu
101
Bab 101: Percaya
102
Bab 102: Tidak Terduga
103
Bab 103: Tanda
104
Bab 104: Terdesak
105
Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106
Bab 106: Keputusan
107
Bab 107: Undangan
108
Bab 108: Berjalan
109
Bab 109: Dingin
110
Bab 110: Pertanyaan Lagi
111
Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112
Bab 112: Balas Budi
113
Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114
Bab 114: Sadar
115
Bab 115: Bertemu
116
Bab 116: Terdampar
117
Bab 117: Panggilan Alami
118
Bab 118: Jalan-jalan
119
Bab 119: Jadi Kenyataan
120
Bab 120: Membuka
121
Bab 121: Tertangkap
122
Bab 122: Bersinggah
123
Bab 123: Bertemu... lagi
124
Bab 124: Perasaan
125
Bab 125: Rasakanlah
126
Bab 126: Usaha
127
Bab 127: Perlawanan
128
Bab 128: Kena Mental
129
Bab 129: Sosok Misterius
130
Bab 130: Mengincar
131
Bab 131: Heran
132
Bab 132: Rasakanlah!
133
Bab 133: Yang Kupercayai
134
Bab 134: Penasaran
135
Bab 135: Sadar
136
Bab 136: Jahat
137
Bab 137: Berbalik
138
Bab 138: Belum Selesai
139
Bab 139: Kerinduan
140
Bab 140: Pulang
141
Bab 141: Kunjungan
142
Bab 142: Menyebalkan
143
Bab 143: Mengingatkan
144
Bab 144: Nostalgia
145
Bab 145: Mana Keadilan?
146
Bab 146: Menyelesaikan
147
Bab 147: Fakta
148
Bab 148: Tak Sabar
149
Bab 149: Mengerti
150
Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!