Feronica menjalani sesi kelasnya sebagaimana mestinya, ia berusaha untuk menangkap apa yang dijelaskan oleh gurunya, mencatat kembali dan memikirkannya kembali.
Sebuah usaha yang kini tak hanya dilakukannya, melainkan oleh semua siswa-siswi tingkat akhir juga di Akademi Sihir Wolfden ini.
Sekilas info, pembelajaran di sekolah sihir terutama di Akademi Sihir mencakup beberapa hal, yakni para murid harus menguasai sihir tingkat awal dan setidaknya satu sihir tingkat menengah, dan dengan begitu maka lulusan Akademi Sihir siap untuk meninggalkan sekolahnya.
Mengapa terdengar sederhana? Memang begitulah kenyataannya, seorang yang ingin mempelajari ilmu sihir akan memasuki babak baru ketika mereka sudah meninggalkan sekolah sihir.
Namun dalam penjelasan yang sederhana itu terkandung proses yang sama sekali tidak mudah.
Dan inilah yang menjadi dilema Feronica sebagai siswi akhir Akademi, terlepas dari begitu semangatnya ia mengejar mimpinya akan tetapi jalan yang dilaluinya tidak seperti yang ada di dalam pikirannya.
Dan waktu terus berjalan, sesi kelasnya berakhir di sore hari. Para murid segera mengemas barang-barangnya dan segera meninggalkan kelas, meninggalkan Feronica sendirian yang masih duduk di sana.
Ia merenung di sore hari ini, rasanya sebagian besar apa yang dikatakan gurunya masuk ke kuping kanan keluar dari telinga kiri.
Pada akhirnya penjelasan gurunya sama saja dengan apa yang ada di buku ajarnya, terlalu rumit dan sulit dimengerti.
Atau memang ini bukan salah buku ataupun gurunya? Lalu salah siapa sekarang dia tidak mengerti?
Ia segera mengemas peralatan belajarnya dan meninggalkan ruang kelas, tidak banyak siswa-siswi yang masih berada di sekolah saat jam belajar berakhir, kebanyakan dari mereka langsung pulang.
Namun Feronica lebih memilih untuk bersantai sejenak kali ini setelah selesai jam sekolah, rasanya ia perlu mendinginkan kepala setelah berpikir sedemikian hebatnya tadi.
Tap.
Tap.
Langkah kaki Feronica terdengar jelas di sore hari ini, seperti biasanya di lorong Akademu di lantai tiga tidak ada lagi kegaduhan seperti saat jam sekolah, ini terlihat berbeda seratus delapan puluh derajat.
Berjalan sendirian di lantai tiga dan hanya mendengar langkah kaki sendiri membuat Feronica kurang nyaman, bukannya ia merasa takut hanya saja ia merasa tidak nyaman saja.
Pada akhirnya karena dalam pikirannya berkecamuk macam-macam hal terutama saat ia ingat kembali apa yang ia dengar pagi ini, entah mengapa malah ia makin tidak nyaman saja.
Klek.
Feronica terhenti, barusan ia mendengar suara bunyi pintu ruang kelas yang terbuka padahal seharusnya tidak ada yang membuka pintu sekarang, pasalnya tidak ada orang lain selain dirinya dan pula semua pintu kelas cukup berat ketika di buka.
Apa itu hanya angin? Patut diragukan juga karena seperti yang telah dikatakan pintu menuju ruang kelas berat untuk dibuka, maka sedikit angin tidak akan bisa menggeser pintu ini, dan lagi memang sedang tidak ada angin berhembus di sini.
"Hiii...." Feronica semakin mempercepat langkah kakinya, pada akhirnya ia mulai berlari karena pikirannya mulai aneh-aneh sekarang.
TAP
TAP
TAP....
BRUK!
"Adududuh...." Sedang enak-enaknya berlari namun Feronica tersandung, tubuhnya mendarat dengan mulus pada ubin keramik keras di ruangan lantai tiga ini.
"Apa tadi?" Feronica perlahan berusaha bangkit kembali, cara jatuh ke depan sunggulah menyakitkan baik secara fisik maupun mental (maksudnya rasa amarah langsung naik ke ubun-ubun).
Padahal ia yakin tidak ada halangan apapun ketika ia berlari, namun lantas mengapa bisa tersandung.
"Mph...." Tiba-tiba terdengar suara tepat di samping tembok tangga yang menuju lantai dua, seperti suara yang sedang menahan tertawa.
Dan beberapa saat kemudian ada dua siswi lain yang menghampiri Feronica, mereka berdua memiliki penampilan yang sama, dengan rambut pirang dan perhiasan yang terlihat di leher dan pergelangan tangan mereka.
Tentulah mereka bukan orang biasa bukan? Lantas siapa sebenarnya dua siswi lain yang tiba-tiba muncul ini? Mengapa mereka belum pulang seperti yang lain? Dan terlebih lagi mengapa mereka menahan tertawa sekarang?
Feronica tidak henti-hentinya memikirkan hal yang tak jauh dari itu, pada akhirnya ia memang mengenal mereka mengingat kedua siswi tersebut setingkat beda kelas dengannya, bisa dibilang temannya dari kelas satu.
Loh, bukankah sudah dijelaskan sebelumnya tidak ada yang benar-benar berurusan dengan Feronica selama ia menuntut ilmu di sini? Mengingat akan alasan kesenjangan sosial yang ada di sekolah ini?
Tidak sepenuhnya benar juga, lagipula Feronica memang memandang mereka berdua ini adalah temannya, karena memang tidak ada kata lain yang bisa menjelaskan hubungan apa sebenarnya dia dan kedua siswi ini.
Mungkin kalian bertanya-tanya, siapa dua siswi berambut panjang pirang yang memiliki penampilan mirip ini?
Perkenalkan, mereka berdua adalah Rossa Reiss dan Fredirica Reiss, mereka berdua adalah kakak beradik dari kalangan keluarga tersohor, Rossa sebagai yang pertama dan Fredirica adalah adiknya.
Penampilan mereka tidak seperti siswa pada umumnya, mengingat mereka berdua menonjolkan bagaimana 'keberadaan' mereka dengan perhiasan dan aksesoris cantik yang Feronica sendiri tidak ingat akan peraturan yang membolehkan itu semua.
Tapi semua kembali lagi ke bagaimana pengaruh mereka di sekolah ini. Mereka adalah anak seorang yang terpandang otomatis orang lain akan menghormati mereka juga bukan?
"Rossa, Fredirica kalian masih belum pulang?" tanya Feronica sembari agak menundukkan wajah, sakit akibat terjatuh tadi masih terasa namun pada akhirnya ia berusaha mengabaikannya juga.
Rossa dan Fredirica adalah teman Feronica dari sejak mereka kelas satu, setidaknya begitulah Feronica memandang mereka berdua.
"Mau kemana?" tanya Rossa dengan santai, ia tersenyum kecil namun Feronica sama sekali tidak merasa senang dengan senyumannya itu.
Feronica terdiam sejenak, nampaknya ia tahu alasan mengapa ia terjatuh tadi, tepat ketika akan melewati tembok dekat tangga menuju lantai dua ada seseorang yang menyenggol kakinya, dan jika tidak ada orang lain lagi selain mereka berdua maka siapa lagi?
"Ah, ini jam pulang, aku mau pulang ke rumah," jawab Feronica pendek, ia tak lagi melihat kedua temannya itu dan ingin segera turun dan pulang ke rumah.
Tap.
"Eh?!" Feronica tertarik ke belakang, Fredirica, saudara Rossa menarik tasnya dengan kasar dan membuatnya hampir terjatuh dua kali.
"Kita belum selesai di sini...." Fredirica tersenyum juga, tidak jauh berbeda dengan Rossa. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh mereka berdua?
Feronica bingung, di tengah kebingungan akan kerumitan pelajaran sihir kini di tambah ia harus berurusan dengan kedua temannya ini, hal apa lagi yang bisa terjadi dalam satu hari ini?
Feronica mencoba bertanya baik-baik dan meminta penjelasan akan mengapa mereka berdua mendatanginya di sini, ada angin apa lagi mereka menjunpainya?
"Kau tahu kami sama sekali tidak mengerti akan apa yang dijelaskan di buku, jadi daripada kamu menghabiskan waktu di rumah, lebih baik mengerjakan tugas kami saja ya?" ujar Rossa menjelaskan maksudnya, sungguhlah penjelasan yang singkat, padat, jelas.
"Ah aku juga tidak begitu paham, kerjakan masing-masing saja ya," tolak Feronica dengan halus, dan setelah ia berkata begitu raut wajah kedua temannya jadi muram dengan cepat.
Perubahan suasana terjadi saat itu juga, Feronica yang sudah tahu akan sifat dan kelakuan kedua temannya ini berusaha untuk tetap tenang.
"Kau harus mengerjakan tugas kami sekarang!" Fredirica menyerahkan tasnya dan tas saudaranya dengan kasar pada Feronica.
BDUK!
Dan kini Feronica benar-benar terjatuh untuk kedua kalinya, lebih keras dan menyakitkan dari yang pertama tadi tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments