Bab 4: Berhenti, Kumohon

Pemuda itu terdiam sejenak, seakan berpikir dalam dirinya apa maksud dari pria yang tiba-tiba muncul itu.

DEG!

Stephen merasa ada sesuatu yang berbeda terjadi pada dirinya, seperti 'bagian lain' dalam dirinya mulai mereda sedikit demi sedikit.

Biasanya hal ini tidak terjadi... ketika Stephen mulai kehilangan dirinya sendiri, akan sangat sulit untuk kembali seperti semula.

Namun sulit bukan berarti tidak mungkin, buktinya kini Stephen mulai bisa mengendalikan kembali sebagian kecil pikirannya.

"Argh!" Stephen memegangi kepalanya sendiri, dalam pikirannya berkecamuk banyak hal, terutama keinginannya untuk menyelesaikan urusannya, demi mengatasi rasa haus yang begitu menyiksanya.

'Bagian lain' dalam dirinya terus berontak, ingin segera menyingkirkan pria asing yang datang tiba-tiba itu, namun Stephen berusaha mengendalikan tubuhnya.

Pemuda itu bisa merasakan aura kehidupan disertai energi sihir yang luar biasa ada pada diri pria itu, mulanya ia meremehkan orang itu namun kali ini ....

'Apa aku ketakutan?!'

'Tidak mungkin! Aku harus mengatasi rasa haus ini!'

Hasrat dan keinginan yang kuat masih saja berkecamuk dalam diri pemuda itu, keinginan yang sebenarnya terus-terusan ingin terpenuhi, namun pada akhirnya Stephen tidak lagi diambil alih oleh 'bagian dirinya yang lain'.

'Diam! Aku tidak ingin melakukan ini! Aku hanya ingin hidup bebas!'

Kedua kehendak yang saling beradu satu sama lain, pertarungan yang terjadi dalam diri pemuda ini, hanya tinggal menunggu waktu siapa yang akan memenangkannya.

Dan setelah beberapa saat kemudian, karena tekad yang dimiliki oleh pemuda itu menguat kembali. Pada akhirnya Stephen mulai bisa mengendalikan dirinya meskipun hanya sedikit sekali.

Berusaha menahan tubuhnya agar tidak bergerak mendekati pria dengan kedua anaknya, tubuh pemuda itu bergemetaran kembali.

"Aku tidak mau melibatkan kedua putriku," ujat pria itu dengan nada yang dalam dan tegas.

Pria tersebut hanya mementingkan keselamatan putrinya dibandingkan dengan apapun, melihat kejadian tadi sungguhlah membuatnya terkejut, namun dengan kesigapannya ia berhasil menghindari kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada keluarganya di malam yang seharusnya mereka nikmati ini.

"Syukurlah kedua putriku baik-baik saja ...." Dan lagi pria itu melihat kedua putrinya yang tengah dalam gendongannya itu seperti tertidur pulas, entah apa yang terjadi apabila ia tidak datang tepat waktu.

Stephen terdiam, dalam hati nuraninya yang dalam ia tidak ingin mengakui apa yang dikatakan pria itu, sebagian besar keinginan dan pikirannya hanyalah memuaskan hasrat haus yang melandanya.

Stephen tidak menyangka aksinya akan dihentikan seperti ini, dalam waktu yang begitu tepat, itu yang membuatnya frustasi sekaligus hal itulah pula yang menjadi kesempatan kecil baginya untuk bisa kembali sadar seperti sedia kala.

Perhatiannya teralihkan, namun ia masih mengumpulkan energi gelap dan setelah menghimpun energi gelap pun, pria tersebut tidak bereaksi apapun.

Biasanya siapapun yang berhadapan dengannya akan ketakutan bahkan lari tunggang langgang setelah merasakan ngerinya kekuatan gelap yang terpancar darinya.

Tapi kenapa pria asing ini diam saja, tak terpengaruh dengan kekuatan gelap yang hebat darinya ini?

Apa mungkin dia hanya berakting saja? Stephen menatap tajam, kemungkinan itu bisa saja terjadi.

Namun setelah beberapa saat berlalu, ekspresi pria asing itu tidak berubah sama sekali. Tetap serius dan misterius.

Bulan pertama kali Stephen bertemu dengan orang kuat, namun orang kuat yang berhadapan dengannya di awal sudah pasti tumbang dan kalah olehnya.

Namun pria yang ditemuinya kali ini berbeda.

Aura kekuatan yang ditunjukkannya di awal, tidak hanya untuk menggertak saja.

Tidak mungkin dia pura-pura kuat merasakan kekuatan gelap yang terpancar darinya.

Jadi kemungkinan yang bisa terjadi adalah....

Pria itu menyembunyikan sesuatu, firasat tajamnya bisa diandalkan, ia bisa merasakan kekuatan dari sorot mata tajam pria itu.

Sssshhhhh....

Tubuh Stephen mulai bereaksi terhadap energi gelap yang ia kumpulkan, sebelumnya ia menyerap seluruh energi gelap, namun sekarang karena kesadarannya mulai pulih kembali Stephen melakukan hal yang sebaliknya.

Mengembalikan energi gelap yang telah ia kumpulkan sebelumnya, kini tubuhnya mulai berhenti gemetar dan kemudian kehendak 'lain' yang ada pada dirinya itu perlahan memudar.

Kecurigaannya terhadap pria berjangggut dan kumis tipis ini menguat.

Auranya jadi begitu berbeda, bahkan bisa sampai membuatnya sadar kembali setelah kejadian tadi, Stephen mulai berasumsi soal pria yang ia temui ini.

Sang ayah yang sudah menyelamatkan kedua putrinya itu mencoba menahan dirinya untuk tidak bertindak gegabah, pasalnya prioritas utamanya saat ini adalah melindungi kedua putrinya.

"HAH!"

Stephen tiba-tiba berteriak, seolah-olah sudah tersadar, dan memang itulah yang terjadi padanya saat ini.

Kini kesadarannya sudah kembali lagi sepenuhnya.

Bulu-bulu halus yang keluar dari tubuhnya perlahan namun pasti mulai hilang, gigi taringnya yang tajam perlahan perlahan berubah kembali menjadi normal, dan matanya yang tajam dan ganas sudah kembali seperti semula.

Pada akhirnya setelah beberapa saat Stephen mulai kembali ke wujud manusianya, entah karena satu atau dua alasan Stephen bisa kembali seperti semula setelah bertemu dengan pria yang menyelamatkan kedua anak kecil targetnya.

"Ukh...." Stephen memegangi kepalanya sendiri, rasanya masih sedikit berat, dan ia tidak ingat semua yang telah terjadi sebelumnya.

"Apa yang?" Stephen melihat dengan jelas sosok pria dewasa menggendong kedua anaknya yang masih kecil, sontak ia bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi tadi?

Waktu terakhir yang Stephen ingat hanyalah ketika ia sedang menikmati suasana tenang di antara pepohonan rindang di malam hari.

Namun mengapa malah sekarang ia sedang ditatap tajam oleh pria dewasa ini? Apa yang sebenarnya telah terjadi tadi?

DEG!

Raut wajah pemuda ini berubah, ada satu satu kemungkinan besar yang membuat hal ini bisa terjadi.

"Slurp...." Tanpa disadarinya air liurnya masih sedikit menetes, Stephen mulai semakin yakin soal penyebab ia tidak ingat beberapa saat yang lalu.

"Jangan-jangan...." Stephen menatap khawatir pada pria dengan kedua anaknya itu, apa yang sebenarnya terjadi?

Satu pertanyaan itu yang terus menerus ditanyakan hatinya saat ini, ia tergerak mencari tahu jawaban akan pertanyaannya itu.

Stephen makin penasaran, namun tatapan yang diberikan pria itu adalah tatapan yang sebenarnya ingin ia hindari... dan kini terjadi kembali.

Tatapan tidak percaya dan tajam disertai kemarahan, itulah yang dilihat olehnya sekarang ... tidak jauh berbeda dengan apa yang selama ini ia lihat sebelumnya.

Stephen tidak tahu ini akan mengarah ke mana, mengingat tatapan tajam nan tegas disertai amarah itu bukan yang pertama kali ia lihat.

Ia tidak ingin melihat tatapan seperti itu lagi....

Stephen terdiam, ia tak punya urusan apapun lagi. tidak ada yang terluka baik pria ataupun dua gadis kecil itu.

Itu artinya ia berhenti di saat yang tepat.

Husshh!!

Angin kencang tiba-tiba muncul di sana, tanpa bisa diduga siapapun, pemuda berjubah hitam itu menghilang bak sekelebat burung yang terbang cepat meninggalkan pria dan kedua anaknya di malam yang terasa semakin dingin.

Episodes
1 Bab 1: Tempat Pelarian
2 Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3 Bab 3: Kehausan
4 Bab 4: Berhenti, Kumohon
5 Bab 5: Aku Mengerti
6 Bab 6: Keputusan Mutlak
7 Bab 7: Tujuan Awal
8 Bab 8: Sedikit Bantuan
9 Bab 9: Awal Rumor
10 Bab 10: Sedikit Rumor
11 Bab 11: Kedua Teman
12 Bab 12: Hal Hangat
13 Bab 13: Break The Rules
14 Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15 Bab 15: Pembuktian
16 Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17 Bab 17: Bebas
18 Bab 18: Mencari Kebenaran
19 Bab 19: Rossa dan Fredirica
20 Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21 Bab 21: Menerima
22 Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23 Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24 Bab 24: Melawan
25 Bab 25: Rasa Penasaran
26 Bab 26: Dilema
27 Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28 Bab 28: Masih Jauh
29 Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30 Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31 Bab 31: Rencana Baru
32 Bab 32: Apa Yang Terjadi
33 Bab 33: Kehangatan
34 Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35 Bab 35: Waktunya Beraksi
36 Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37 Bab 37: Berbeda
38 Bab 38: Akhir
39 Bab 39: Berusaha
40 Bab 40: Tepat Waktu
41 Bab 41: Memulai Kembali
42 Bab 42: Yelena
43 Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44 Bab 44: Sebuah Alasan
45 Bab 45: Sebuah Alasan
46 Bab 46: Tumbang
47 Bab 47: Bangga
48 Bab 48: Diskusi
49 Bab 49: Dampak
50 Bab 50: Sembuh
51 Bab 51: Hasil
52 Bab 52: Pulang
53 Bab 53: Perjuangan
54 Bab 54: Konsekuensi
55 Bab 55: Kalian Mengganggu
56 Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57 Bab 57: Mencoba Mengerti
58 Bab 58: Menerima Perasaan
59 Bab 59: Menerima Kenyataan
60 Bab 60: Sadar Dan Menerima
61 Bab 61: Menghadapi Tekanan
62 Bab 62: Kabar Dari Jauh
63 Bab 63: Sedikit Berubah
64 Bab 64: Keluar
65 Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66 Bab 66: Membela
67 Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68 Bab 68: Inilah Kekuatanku
69 Bab 69: Melawan Juga
70 Bab 70: Tak Sadar
71 Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72 Bab 72: Lebih Kuat
73 Bab 73: Masih Mau?
74 Bab 74: Kesempatan Emas
75 Bab 75: Tenang
76 Bab 76: Alasan Sebenarnya
77 Bab 77: Memilih
78 Bab 78: Diriku
79 Bab 79: Sebuah Kenyataan
80 Bab 80: Sunguh Nyata
81 Bab 81: Kabar
82 Bab 82: Berdamai
83 Bab 83: Heran
84 Bab 84: Penampilan Baru
85 Bab 85: Insting
86 Bab 86: Tamu
87 Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88 Bab 88: Pertemuan
89 Bab 89: Saudara
90 Bab 90: Alasan Berubah
91 Bab 91: Memanas
92 Bab 92: Makin Panas
93 Bab 93: Menjauh
94 Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95 Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96 Bab 96: Sudah Habis
97 Bab 97: Perbedaan
98 Bab 98: Curiga
99 Bab 99: Menunjukkan Tekad
100 Bab 100: Ragu
101 Bab 101: Percaya
102 Bab 102: Tidak Terduga
103 Bab 103: Tanda
104 Bab 104: Terdesak
105 Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106 Bab 106: Keputusan
107 Bab 107: Undangan
108 Bab 108: Berjalan
109 Bab 109: Dingin
110 Bab 110: Pertanyaan Lagi
111 Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112 Bab 112: Balas Budi
113 Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114 Bab 114: Sadar
115 Bab 115: Bertemu
116 Bab 116: Terdampar
117 Bab 117: Panggilan Alami
118 Bab 118: Jalan-jalan
119 Bab 119: Jadi Kenyataan
120 Bab 120: Membuka
121 Bab 121: Tertangkap
122 Bab 122: Bersinggah
123 Bab 123: Bertemu... lagi
124 Bab 124: Perasaan
125 Bab 125: Rasakanlah
126 Bab 126: Usaha
127 Bab 127: Perlawanan
128 Bab 128: Kena Mental
129 Bab 129: Sosok Misterius
130 Bab 130: Mengincar
131 Bab 131: Heran
132 Bab 132: Rasakanlah!
133 Bab 133: Yang Kupercayai
134 Bab 134: Penasaran
135 Bab 135: Sadar
136 Bab 136: Jahat
137 Bab 137: Berbalik
138 Bab 138: Belum Selesai
139 Bab 139: Kerinduan
140 Bab 140: Pulang
141 Bab 141: Kunjungan
142 Bab 142: Menyebalkan
143 Bab 143: Mengingatkan
144 Bab 144: Nostalgia
145 Bab 145: Mana Keadilan?
146 Bab 146: Menyelesaikan
147 Bab 147: Fakta
148 Bab 148: Tak Sabar
149 Bab 149: Mengerti
150 Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Bab 1: Tempat Pelarian
2
Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3
Bab 3: Kehausan
4
Bab 4: Berhenti, Kumohon
5
Bab 5: Aku Mengerti
6
Bab 6: Keputusan Mutlak
7
Bab 7: Tujuan Awal
8
Bab 8: Sedikit Bantuan
9
Bab 9: Awal Rumor
10
Bab 10: Sedikit Rumor
11
Bab 11: Kedua Teman
12
Bab 12: Hal Hangat
13
Bab 13: Break The Rules
14
Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15
Bab 15: Pembuktian
16
Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17
Bab 17: Bebas
18
Bab 18: Mencari Kebenaran
19
Bab 19: Rossa dan Fredirica
20
Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21
Bab 21: Menerima
22
Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23
Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24
Bab 24: Melawan
25
Bab 25: Rasa Penasaran
26
Bab 26: Dilema
27
Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28
Bab 28: Masih Jauh
29
Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30
Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31
Bab 31: Rencana Baru
32
Bab 32: Apa Yang Terjadi
33
Bab 33: Kehangatan
34
Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35
Bab 35: Waktunya Beraksi
36
Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37
Bab 37: Berbeda
38
Bab 38: Akhir
39
Bab 39: Berusaha
40
Bab 40: Tepat Waktu
41
Bab 41: Memulai Kembali
42
Bab 42: Yelena
43
Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44
Bab 44: Sebuah Alasan
45
Bab 45: Sebuah Alasan
46
Bab 46: Tumbang
47
Bab 47: Bangga
48
Bab 48: Diskusi
49
Bab 49: Dampak
50
Bab 50: Sembuh
51
Bab 51: Hasil
52
Bab 52: Pulang
53
Bab 53: Perjuangan
54
Bab 54: Konsekuensi
55
Bab 55: Kalian Mengganggu
56
Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57
Bab 57: Mencoba Mengerti
58
Bab 58: Menerima Perasaan
59
Bab 59: Menerima Kenyataan
60
Bab 60: Sadar Dan Menerima
61
Bab 61: Menghadapi Tekanan
62
Bab 62: Kabar Dari Jauh
63
Bab 63: Sedikit Berubah
64
Bab 64: Keluar
65
Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66
Bab 66: Membela
67
Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68
Bab 68: Inilah Kekuatanku
69
Bab 69: Melawan Juga
70
Bab 70: Tak Sadar
71
Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72
Bab 72: Lebih Kuat
73
Bab 73: Masih Mau?
74
Bab 74: Kesempatan Emas
75
Bab 75: Tenang
76
Bab 76: Alasan Sebenarnya
77
Bab 77: Memilih
78
Bab 78: Diriku
79
Bab 79: Sebuah Kenyataan
80
Bab 80: Sunguh Nyata
81
Bab 81: Kabar
82
Bab 82: Berdamai
83
Bab 83: Heran
84
Bab 84: Penampilan Baru
85
Bab 85: Insting
86
Bab 86: Tamu
87
Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88
Bab 88: Pertemuan
89
Bab 89: Saudara
90
Bab 90: Alasan Berubah
91
Bab 91: Memanas
92
Bab 92: Makin Panas
93
Bab 93: Menjauh
94
Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95
Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96
Bab 96: Sudah Habis
97
Bab 97: Perbedaan
98
Bab 98: Curiga
99
Bab 99: Menunjukkan Tekad
100
Bab 100: Ragu
101
Bab 101: Percaya
102
Bab 102: Tidak Terduga
103
Bab 103: Tanda
104
Bab 104: Terdesak
105
Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106
Bab 106: Keputusan
107
Bab 107: Undangan
108
Bab 108: Berjalan
109
Bab 109: Dingin
110
Bab 110: Pertanyaan Lagi
111
Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112
Bab 112: Balas Budi
113
Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114
Bab 114: Sadar
115
Bab 115: Bertemu
116
Bab 116: Terdampar
117
Bab 117: Panggilan Alami
118
Bab 118: Jalan-jalan
119
Bab 119: Jadi Kenyataan
120
Bab 120: Membuka
121
Bab 121: Tertangkap
122
Bab 122: Bersinggah
123
Bab 123: Bertemu... lagi
124
Bab 124: Perasaan
125
Bab 125: Rasakanlah
126
Bab 126: Usaha
127
Bab 127: Perlawanan
128
Bab 128: Kena Mental
129
Bab 129: Sosok Misterius
130
Bab 130: Mengincar
131
Bab 131: Heran
132
Bab 132: Rasakanlah!
133
Bab 133: Yang Kupercayai
134
Bab 134: Penasaran
135
Bab 135: Sadar
136
Bab 136: Jahat
137
Bab 137: Berbalik
138
Bab 138: Belum Selesai
139
Bab 139: Kerinduan
140
Bab 140: Pulang
141
Bab 141: Kunjungan
142
Bab 142: Menyebalkan
143
Bab 143: Mengingatkan
144
Bab 144: Nostalgia
145
Bab 145: Mana Keadilan?
146
Bab 146: Menyelesaikan
147
Bab 147: Fakta
148
Bab 148: Tak Sabar
149
Bab 149: Mengerti
150
Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!