Bab 18: Mencari Kebenaran

"Kemungkinan yang bisa terjadi ...."

"Mereka berdua berhubungan satu sama lain...."

Stephen mengatakan pendapatnya, bukannya ia sok tahu namun lebih kepada analisis cepat yang ia lakukan pada tanda api seperti lava menyala-nyala yang sama pada kedua orang ini.

Tapi mengapa? Tanda api lava menyala-nyala seharusnya adalah representasi dari kekuatan penyegelan yang sangat kuat dari pria berjubah merah itu, dan sekarang mengapa ia melihat tanda yang sama namun terjadi hal yang berbeda?

Jika sebelumnya tanda merah api lava menyala-nyala pada pria dari Keluarga Reiss berarti adalah penyegelan, namun yang sekarang terjadi ketika ia melihat tanda yang sama pada gadis ini ia malah bebas dan bisa keluar dari segel yang amat kuat itu.

Apa maksudnya? Stephen kembali memikirkan hal ini, namun satu hal yang paling masuk akal saat ini. Yaitu bahwa tanda yang sama yang ia lihat memiliki fungsi yang berbeda.

Tanda api lava menyala-nyala pada pria berjubah merah berarti kekuatan penuh untuk menyegel, sedangkan pada gadis ini berlaku sebaliknya.

"Dia membebaskanku?" Stephen kembali melihat wajah gadis itu dengan seksama, bibirnya sedikit naik ke atas seolah ia merasa nyaman tadi, apakah itu adalah kekuatan yang sama namun memiliki fungsi yang berbeda?

Pemuda itu mempelajari bahwa memang benar jelas-jelas kekuatan yang ia lihat adalah kekuatan yang sama, sungguh kuat namun dengan hasil yang berbeda.

Pada akhirnya Stephen percaya gadis ini memiliki satu atau dua hal yang berkaitan dengan pria berjubah merah yang menyegelnya dahulu.

Dan sebenarnya yang ia rasakan tidak hanya kekuatan pengegelan yang kuat ataupun sihir pembebasan, tanda merah api lava menyala-nyala sebenarnya lebih dari pada semua itu.

Seolah orang yang memiliki tanda seperti itu bukanlah orang biasa, melainkan seorang yang memiliki potensi besar dalam ilmu sihir.

Dan itu terbukti dengan betapa besarnya kekuatan pria berjubah merah yang telah dilawannya sebelumnya, sehingga ia tidak yakin apa akan ada saat di mana ia bisa melepaskan diri dari sihir segel yang diterimanya itu.

Namun sekarang semua pertanyaannya itu terjawab, ia bisa bebas, namun bukan karena kekuatannya sendiri melainkan karena keberadaan gadis ini dan pula tanda kekuatan yang muncul darinya.

Dan semua ini mengarah pada pertanyaan baru, mengapa gadis ini menggunakan kekuatan itu untuk membebaskan dirinya saat ini?

Apakah ada alasan tertentu? Ataukah memang semua ini hanyalah kebetulan belaka?

Stephen tidak bisa memperoleh jawabannya sekarang, pasalnya kondisi gadis itu lemah dan tubuhnya sangat dingin. Akan berbahaya apabila ia terus-terusan berada di luar seperti ini.

Tidak ada lagi alasan untuk terus berada di tempat ini, Stephen melihat tempat ini tidak baik bagi manusia seperti gadis ini.

Mata pemuda itu sekilas melihat ke langit dan berkata, "Syukurlah bulan tidak terlihat sekarang ini...."

Lagi-lagi menyinggung soal bulan, ada apa sebenarnya dengan bulan? Apa hubungannya dengan Stephen? Hanya dia yang tahu jawabannya sekarang ini.

Stephen perlahan bangkit sembari menggendong gadis muda itu, turun ke bawah meninggalkan area pekuburan dengan cepat melesat menembus kegelapan malam dan tetesan hujan yang deras.

***

Stephen menggendong  gadis itu, dan tepat ketika ia sampai di gerbang keluar area pekuburan Wolfden ada seorang wanita tua sedang basah kuyup melihatnya dengan cukup terkejut.

"Feronica!" Wanita tua itu berteriak sembari menghampiri Stephen yang sedang menggendong gadis ini, dan seketika pula Stephen tahu nama dari gadis ini.

Wanita tua itu menghampirinya dan segera melihat keadaannya, ia terlihat sangat khawatir sekaligus sedih melihat putrinya yang tidak sadarkan diri.

"Anda ibunya?" tanya Stephen perlahan meskipun ia sendiri sudah tahu jawabannya. Ia ingin memastikan sendiri dengan mendengar jawaban langsung wanita tua ini.

Stephen merasakan hawa kepedulian yang luar biasa dari ibu tua ini, seorang ibu yang khawatir pada putrinya berbicara lebih keras dibanding dengan hanya perkataan saja.

Wanita tua itu mengangguk perlahan, entah sudah berapa lama ia menunggu di depan gerbang pekuburan ini, mengingat wajahnya mulai pucat dan lelah, kurang lebih sama dengan kondisi gadis ini.

Apakah mungkin ibu tua ini berdiri di sini dalam waktu yang cukup lama hingga akhirnya ia terlihat pucat seperti itu?

Stephen hanya bisa berspekulasi di sini, namun kemungkinan memang seperti itu adanya. Ada kemungkinan ibu gadis ini memiliki firasat bahwa memang putrinya itu berada di tempat seperti ini.

"Putri ibu butuh istirahat di rumah, mari saya antar." Stephen memberikan usulannya mengingat memang kondisi gadis itu sudah tidak sadarkan diri, dan pula ibu ini yang sudah lelah dan pucat, tidak memungkinkan untuk membawa orang lain dengan kekuatannya sendiri.

Wanita tua itu mengangguk kecil lagi, terlihat agak kebingungan dan penuh pertanyaan akan suatu hal. Raut wajahnya memberitahukan semuanya pada Stephen saat ini.

"Tenang saja ibu, putri anda baik-baik saja," ujar Stephen lagi, kemudian wanita tua itu memimpin jalan mereka dan segera masuk ke dalam desa, menuju rumah di mana ibu itu dan Feronica tinggal.

Memang wajar apabila ibu tersebut memandangnya seperti itu, akan adanya orang asing yang tiba-tiba membawa putrinya di tengah malam di cuaca seperti ini bukanlah hal yang biasa untuk dicerna.

Terlebih lagi ibu tua itu memercayai Stephen dan tidak mercurigai apapun padanya, dengan ini membuat Stephen tahu ternyata memang ada orang baik yang tidak berprasangka buruk padanya saat ini.

Tak lama berselang, Stephen sampai di rumah ibu tersebut, membawa gadis itu masuk ke kamarnya, dan setelah berkenalan satu sama lain mereka saing mengobrol sejenak selama beberapa waktu.

Stephen menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi, semuanya berdasarkan apa yang ia ketahui sebelumnya dan apa adanya.

Ibu tua itu mengangguk mengerti akan penjelasan yang diberikan oleh pemuda itu padanya. "Ah begitu ceritanya nak Stephen, lalu mengapa putriku berada di tempat itu? Apa dia mengatakan sesuatu?"

Ibu Elisabeth ingin mengetahui kebenaran yang sesungguhnya dan dengan secepat yang ia bisa. Karena memang ada kemungkinan putrinya itu tidak mau menjelaskan yang sebenarnya padanya.

Sepertinya memang penjelasan yang diberikan oleh Stephen belum bisa memuaskan rasa penasaran ibunya, namun meskipun begitu apa yang ia jelaskan memang seperti itu adanya tidak lebih tidak kurang.

"Maaf Bu, memang kebetulan ketika saya sedang ada urusan di area pekuburan itu saya tidak sengaja bertemu dengan putri ibu namun kemudian dia langsung tidak sadarkan diri...."

"Saya tidak tahu alasan putri ibu berada di sana." Stephen berusaha menyakinkan ibu Elisabeth akan cerita singkatnya itu.

Untuk selanjutnya Ibu Elisabeth menerima apa yang dikatakan oleh pemuda itu, dan pada akhirnya ia berhenti untuk bertanya lagi.

Ia sepertinya memang hanya memiliki jalan untuk mengetahui kebenaran hanya melalui dari putrinya sendiri.

Akan mengapa putrinya itu bisa-bisanya ditemukan di tempat yang terlarang seperti itu? Di mana ia sebagai ibunya sudah memperingatkannya akan jauh-jauh hari tentang tempat itu?

Perasaan Ibu Elisabeth masih naik turun, yaitu dalan arti ia memang senang putrinya di temukan dalam keadaan yang baik-baik saja, namun pada saat yang bersamaan rasa sedih, khawatir dan emosi marah masih dirasakan oleh Ibu Elisabeth saat ini.

Ia hanya bisa mengandalkan kejujuran putrinya untuk menjelaskan semuanya padanya. Dan yang terpenting saat ini adalah membiarkannya beristirahat sampai ia benar-benar pulih esok hari.

Mengingat ia sudah memberi tahu apa yang diketahuinya pada ibunya,  Pemuda itu kemudian berpamitan dengan ibu Elisabeth.

"Terima kasih atas bantuan anda Nak Stephen," Wanita tua itu membungkukkan badan tanda hormat dan rasa terima kasih yang dalam pada pemuda yang telah menjaga putrinya itu.

"Ah Jangan begitu ibu, saya senang bisa menolong putri ibu." Stephen memegang pundak ibu tua itu seraya menyakinkannya agar tidak perlu memberi hormat seperti itu.

"Kalau begitu saya pamit." Stephen segera meninggalkan rumah ibu tua dan putrinya. Meninggalkan area desa yang damai dan tentram, kembali ke area pekuburan tadi ke tempatnya semula sadar.

"Aku harus mencari tahu mengapa aku bisa bebas sekaligus menyembunyikan keberadaanku dari antara orang banyak."

Stephen memiliki tujuan baru sekarang, yaitu mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya, mengapa ia bisa bebas, dan apa yang akan dilakukannya setelah kebebasannya ini.

***

Sementara Ibu Elisabeth kini menunggui putrinya yang sedang tidur terlelap, ia masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, namun di tengah berbagai pertanyaan yang ada dalam benaknya itu ada satu yang cukup mengganggunya.

"Pemuda bernama Stephen itu, tangannya dingin sekali ...."

Ibu Elisabeth berpikir berkali-kali, pundaknya yang telah disentuh oleh pemuda bernama Stephen itu terasa dingin, bukan dingin seperti biasa yang mudah hilang namun lebih kepada dingin yang berkepanjangan.

Padahal dingin yang dirasakannya karena cuaca bisa hilang dengan cepat ketika ia mendekat ke perapian, namun setelah ia mencoba menghangatkan diri pun rasa dingin yang menusuk itu tetap terasa di pundaknya yang lemah itu.

Bagian tubuh yang dingin memanglah hal yang biasa, namun ketika itu berada di luar batas kewajaran maka agaknya itu sudah berlebihan adanya.

Apakah pemuda bernama Stephen itu memang memiliki suhu tubuh seperti itu? Ataukah memang ada alasan lain dibalik tubuhnya yang amat dingin itu?

Terlepas dari apa yang ada di pikirannya, Ibu Elisabeth tetap berusaha berpikir baik pada pemuda yang bernama Stephen itu. Mengingat dia sangat berjasa menolong Feronica yang tidak sadarkan diri di tempat yang sudah jelas-jelas terlarang itu.

Episodes
1 Bab 1: Tempat Pelarian
2 Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3 Bab 3: Kehausan
4 Bab 4: Berhenti, Kumohon
5 Bab 5: Aku Mengerti
6 Bab 6: Keputusan Mutlak
7 Bab 7: Tujuan Awal
8 Bab 8: Sedikit Bantuan
9 Bab 9: Awal Rumor
10 Bab 10: Sedikit Rumor
11 Bab 11: Kedua Teman
12 Bab 12: Hal Hangat
13 Bab 13: Break The Rules
14 Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15 Bab 15: Pembuktian
16 Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17 Bab 17: Bebas
18 Bab 18: Mencari Kebenaran
19 Bab 19: Rossa dan Fredirica
20 Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21 Bab 21: Menerima
22 Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23 Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24 Bab 24: Melawan
25 Bab 25: Rasa Penasaran
26 Bab 26: Dilema
27 Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28 Bab 28: Masih Jauh
29 Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30 Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31 Bab 31: Rencana Baru
32 Bab 32: Apa Yang Terjadi
33 Bab 33: Kehangatan
34 Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35 Bab 35: Waktunya Beraksi
36 Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37 Bab 37: Berbeda
38 Bab 38: Akhir
39 Bab 39: Berusaha
40 Bab 40: Tepat Waktu
41 Bab 41: Memulai Kembali
42 Bab 42: Yelena
43 Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44 Bab 44: Sebuah Alasan
45 Bab 45: Sebuah Alasan
46 Bab 46: Tumbang
47 Bab 47: Bangga
48 Bab 48: Diskusi
49 Bab 49: Dampak
50 Bab 50: Sembuh
51 Bab 51: Hasil
52 Bab 52: Pulang
53 Bab 53: Perjuangan
54 Bab 54: Konsekuensi
55 Bab 55: Kalian Mengganggu
56 Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57 Bab 57: Mencoba Mengerti
58 Bab 58: Menerima Perasaan
59 Bab 59: Menerima Kenyataan
60 Bab 60: Sadar Dan Menerima
61 Bab 61: Menghadapi Tekanan
62 Bab 62: Kabar Dari Jauh
63 Bab 63: Sedikit Berubah
64 Bab 64: Keluar
65 Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66 Bab 66: Membela
67 Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68 Bab 68: Inilah Kekuatanku
69 Bab 69: Melawan Juga
70 Bab 70: Tak Sadar
71 Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72 Bab 72: Lebih Kuat
73 Bab 73: Masih Mau?
74 Bab 74: Kesempatan Emas
75 Bab 75: Tenang
76 Bab 76: Alasan Sebenarnya
77 Bab 77: Memilih
78 Bab 78: Diriku
79 Bab 79: Sebuah Kenyataan
80 Bab 80: Sunguh Nyata
81 Bab 81: Kabar
82 Bab 82: Berdamai
83 Bab 83: Heran
84 Bab 84: Penampilan Baru
85 Bab 85: Insting
86 Bab 86: Tamu
87 Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88 Bab 88: Pertemuan
89 Bab 89: Saudara
90 Bab 90: Alasan Berubah
91 Bab 91: Memanas
92 Bab 92: Makin Panas
93 Bab 93: Menjauh
94 Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95 Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96 Bab 96: Sudah Habis
97 Bab 97: Perbedaan
98 Bab 98: Curiga
99 Bab 99: Menunjukkan Tekad
100 Bab 100: Ragu
101 Bab 101: Percaya
102 Bab 102: Tidak Terduga
103 Bab 103: Tanda
104 Bab 104: Terdesak
105 Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106 Bab 106: Keputusan
107 Bab 107: Undangan
108 Bab 108: Berjalan
109 Bab 109: Dingin
110 Bab 110: Pertanyaan Lagi
111 Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112 Bab 112: Balas Budi
113 Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114 Bab 114: Sadar
115 Bab 115: Bertemu
116 Bab 116: Terdampar
117 Bab 117: Panggilan Alami
118 Bab 118: Jalan-jalan
119 Bab 119: Jadi Kenyataan
120 Bab 120: Membuka
121 Bab 121: Tertangkap
122 Bab 122: Bersinggah
123 Bab 123: Bertemu... lagi
124 Bab 124: Perasaan
125 Bab 125: Rasakanlah
126 Bab 126: Usaha
127 Bab 127: Perlawanan
128 Bab 128: Kena Mental
129 Bab 129: Sosok Misterius
130 Bab 130: Mengincar
131 Bab 131: Heran
132 Bab 132: Rasakanlah!
133 Bab 133: Yang Kupercayai
134 Bab 134: Penasaran
135 Bab 135: Sadar
136 Bab 136: Jahat
137 Bab 137: Berbalik
138 Bab 138: Belum Selesai
139 Bab 139: Kerinduan
140 Bab 140: Pulang
141 Bab 141: Kunjungan
142 Bab 142: Menyebalkan
143 Bab 143: Mengingatkan
144 Bab 144: Nostalgia
145 Bab 145: Mana Keadilan?
146 Bab 146: Menyelesaikan
147 Bab 147: Fakta
148 Bab 148: Tak Sabar
149 Bab 149: Mengerti
150 Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Bab 1: Tempat Pelarian
2
Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3
Bab 3: Kehausan
4
Bab 4: Berhenti, Kumohon
5
Bab 5: Aku Mengerti
6
Bab 6: Keputusan Mutlak
7
Bab 7: Tujuan Awal
8
Bab 8: Sedikit Bantuan
9
Bab 9: Awal Rumor
10
Bab 10: Sedikit Rumor
11
Bab 11: Kedua Teman
12
Bab 12: Hal Hangat
13
Bab 13: Break The Rules
14
Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15
Bab 15: Pembuktian
16
Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17
Bab 17: Bebas
18
Bab 18: Mencari Kebenaran
19
Bab 19: Rossa dan Fredirica
20
Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21
Bab 21: Menerima
22
Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23
Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24
Bab 24: Melawan
25
Bab 25: Rasa Penasaran
26
Bab 26: Dilema
27
Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28
Bab 28: Masih Jauh
29
Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30
Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31
Bab 31: Rencana Baru
32
Bab 32: Apa Yang Terjadi
33
Bab 33: Kehangatan
34
Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35
Bab 35: Waktunya Beraksi
36
Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37
Bab 37: Berbeda
38
Bab 38: Akhir
39
Bab 39: Berusaha
40
Bab 40: Tepat Waktu
41
Bab 41: Memulai Kembali
42
Bab 42: Yelena
43
Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44
Bab 44: Sebuah Alasan
45
Bab 45: Sebuah Alasan
46
Bab 46: Tumbang
47
Bab 47: Bangga
48
Bab 48: Diskusi
49
Bab 49: Dampak
50
Bab 50: Sembuh
51
Bab 51: Hasil
52
Bab 52: Pulang
53
Bab 53: Perjuangan
54
Bab 54: Konsekuensi
55
Bab 55: Kalian Mengganggu
56
Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57
Bab 57: Mencoba Mengerti
58
Bab 58: Menerima Perasaan
59
Bab 59: Menerima Kenyataan
60
Bab 60: Sadar Dan Menerima
61
Bab 61: Menghadapi Tekanan
62
Bab 62: Kabar Dari Jauh
63
Bab 63: Sedikit Berubah
64
Bab 64: Keluar
65
Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66
Bab 66: Membela
67
Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68
Bab 68: Inilah Kekuatanku
69
Bab 69: Melawan Juga
70
Bab 70: Tak Sadar
71
Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72
Bab 72: Lebih Kuat
73
Bab 73: Masih Mau?
74
Bab 74: Kesempatan Emas
75
Bab 75: Tenang
76
Bab 76: Alasan Sebenarnya
77
Bab 77: Memilih
78
Bab 78: Diriku
79
Bab 79: Sebuah Kenyataan
80
Bab 80: Sunguh Nyata
81
Bab 81: Kabar
82
Bab 82: Berdamai
83
Bab 83: Heran
84
Bab 84: Penampilan Baru
85
Bab 85: Insting
86
Bab 86: Tamu
87
Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88
Bab 88: Pertemuan
89
Bab 89: Saudara
90
Bab 90: Alasan Berubah
91
Bab 91: Memanas
92
Bab 92: Makin Panas
93
Bab 93: Menjauh
94
Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95
Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96
Bab 96: Sudah Habis
97
Bab 97: Perbedaan
98
Bab 98: Curiga
99
Bab 99: Menunjukkan Tekad
100
Bab 100: Ragu
101
Bab 101: Percaya
102
Bab 102: Tidak Terduga
103
Bab 103: Tanda
104
Bab 104: Terdesak
105
Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106
Bab 106: Keputusan
107
Bab 107: Undangan
108
Bab 108: Berjalan
109
Bab 109: Dingin
110
Bab 110: Pertanyaan Lagi
111
Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112
Bab 112: Balas Budi
113
Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114
Bab 114: Sadar
115
Bab 115: Bertemu
116
Bab 116: Terdampar
117
Bab 117: Panggilan Alami
118
Bab 118: Jalan-jalan
119
Bab 119: Jadi Kenyataan
120
Bab 120: Membuka
121
Bab 121: Tertangkap
122
Bab 122: Bersinggah
123
Bab 123: Bertemu... lagi
124
Bab 124: Perasaan
125
Bab 125: Rasakanlah
126
Bab 126: Usaha
127
Bab 127: Perlawanan
128
Bab 128: Kena Mental
129
Bab 129: Sosok Misterius
130
Bab 130: Mengincar
131
Bab 131: Heran
132
Bab 132: Rasakanlah!
133
Bab 133: Yang Kupercayai
134
Bab 134: Penasaran
135
Bab 135: Sadar
136
Bab 136: Jahat
137
Bab 137: Berbalik
138
Bab 138: Belum Selesai
139
Bab 139: Kerinduan
140
Bab 140: Pulang
141
Bab 141: Kunjungan
142
Bab 142: Menyebalkan
143
Bab 143: Mengingatkan
144
Bab 144: Nostalgia
145
Bab 145: Mana Keadilan?
146
Bab 146: Menyelesaikan
147
Bab 147: Fakta
148
Bab 148: Tak Sabar
149
Bab 149: Mengerti
150
Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!