Bab 7: Tujuan Awal

Pria berjubah merah mengungkap identitasnya tepat setelah ia menyelesaikan tujuannya, sebagai rasa hormat pada pemuda yang telah ia kalahkan itu.

William, itulah namanya, lengkapnya adalah William Reiss, seorang ahli sihir yang tersohor dari Kota Frost, seorang yang mampu mengenali Stephen dan bahkan mengikuti jejaknya sampai ke tempat ini.

Dari mana ia mengetahui identitas Stephen? Bukankah pelarian seperti Stephen susah untuk diketahui informasinya?

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, William bukanlah seorang yang biasa saja namun juga pengetahuannya mengenai berbagai macam hal di dunia ini sungguhlah luas, dari buku-buku, pengalamannya, dan jalan hidupnya sebagai ahli sihir membawanya bisa mengetahui identitas Stephen dan bahkan kini ia sudah menyegel pemuda berbahaya itu di peti mati coklat berukuran besar.

Stephen memegang peti coklat besar itu, tanda luka bakar di dekat mata kanannya menyala terang, dan tanda segel menyebar seketika pada peti coklat besar itu.

Segel bercahaya merah keemasan dengan pola yang rumit adalah cara William untuk membuat Stephen diam untuk alasan yang baik, ia pada akhirnya bisa menuntaskan tujuannya untuk menghentikan Stephen dari segala apa yang telah diperbuatnya itu.

Tidak perlu ditanya lagi bagaimana cara William bisa mengenali jejak Stephen dan bahkan menjumpainya di area ini, seorang ahli sihir yang begitu hebat dan berpengalaman bisa mengatasi hal ini tentunya.

Stephen melihat rembulan yang kini terlihat jelas setelah awan kabut pergi beberapa saat setelah Stephen sudah disegel. "Indah sekali .... Aku tidak sabar melihat pemandangan ini dengan anggota keluarga baru nanti ...."

Dari bibirnya tergurat senyum lega, William bisa memastikan keselamatan kedua putrinya kemarin, dan memastikan keselamatan orang lain setelah Stephen berhasil disegelnya.

Meskipun dalam hatinya masih saja ada keraguan akan keputusannya ini, dan itu menghasilkan berbagai macam pertanyaan pula ke dalam benaknya.

Seperti bagaimana jika Stephen bisa membuka segelnya dan kemudian melancarkan kembali aksi tak terpujinya itu?

Bagaimana jika ada seseornag yang mampu membuka segel yang telah dipasangnya itu?

Dan berbagai pertanyaan lain yang kini menghampiri benak William, namun pada akhirnya ia memang sudah melakukan tujuan awalnya itu, dan jika ia lebih memikirkan dari itu maka tujuannya itu belum selesai adanya.

Dalam keraguannya itu Stephen terus menerus diingatkan akan bagaimana pembelaan Stephen yang sulit dimengerti namun begitu jujur dirasakannya, terlepas dari aura jahat yang dimilikinya dan bahkan 'jati dirinya' yang sebenarnya.

Hal itulah yang membuat William yang tadinya hampir melenceng aksinya akan tujuan awal dari apa yang telah ia rencanakan sebelumnya.

Apakah merubah tujuan itu salah? Tentu tidak... siapapun bisa merubah tujuan, bahkan di tengah jalan sekalipun ... namun perlu diingat bilamana mengubah tujuan tidak akan selalu menghasilkan hal yang baik.

Ada kalanya tujuan awal adalah tujuan yang mutlak dan membawa pada kebenaran yang sesungguhnya, dibanding dengan merubah tujuan itu.

Dan ada pula tujuan awal yang memang harus diubah demi menghasilkan hal yang lebih baik.

Kedua pilihan itu sama-sama penting, William tahu betul akan hal itu dan bahkan memikirkannya dengan detil.

Di tengah jalan ia hampir merubah tujuan awalnya, ke arah yang menurutnya lebih baik, namun karena satu hal ia disadarkan pula pada tujuan awalnya.

"Membunuhnya tidak serta merta menyelesaikan masalah ini ...." gumam William.

William tahu betul alasan mengapa Stephen bertarung tidak dengan kekuatan penuhnya, ia merasa bahwa pemuda itu sudah lelah dari awal seolah ia mengalami banyak kejadian serupa. Dan akhirnya pada satu titik ia sama sekali tidak melawan dan malah menyerahkan dirinya.

Sebuah titik yang tidak bisa diperkirakan William, hal itulah yang menyebabkan  William tidak menyimpang dari tujuan awalnya, dan pada akhirnya memutuskan untuk menyegel Stephen saja.

Meskipun risiko masih ada dan banyak hal yang bisa terjadi, namun setidaknya William sudah mengambil satu langkah dan menyelesaikan bagiannya.

Kini yang harus ia pastikan adalah bagaimana caranya agar peti coklat besar ini tidak diganggu oleh orang banyak, dan sudah dipastikannya dengan menggunakan sihir tingkat tinggi, salah satu sihir segel yang paling kuat yang pernah digunakannya selama menjadi ahli sihir.

Sihir segel suci adalah sihir tingkat tinggi yang hanya segelintir orang di dunia yang bisa menggunakan sihir jenis ini, salah satunya adalah William ini.

Karena kekuatan suci adalah musuh utama dari kekuatan gelap, maka kekuatan suci adalah langkah yang paling tepat untuk menghentikan pergerakan Stephen.

Kekuatan sihir segel peti suci tidak akan melemah, dan lebih lagi siapapun yang tersegel di dalamnya tidak akan punya kekuatan untuk membukanya, terutama Stephen yang harus notabene kekuatannya adalah energi gelap.

William tahu pasti kekuatan sihir suci adalah kekuatan yang sangat jarang digunakan dan tentunya membutuhkan energi yang besar, ia merasa sedikit kelelahan karena menggunakan sihir jenis ini.

Namun rasa lelahnya itu tidak nampak dari luar, William terlihat biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa, seorang ahli sihir yang hebat.

Sihir segel tidak membunuh seseorang di dalamnya, melainkan melemahkannya sampai titik di mana yang tersegel tidak bisa melakukan apapun yang berarti, dan dalam jangka panjang sihir jenis ini dipakai ketika dalam situasi tertentu saja.

Jika orang biasa terkena sihir  penyegelan seperti ini cenderung akan tetap tersegel sampai di mana ia kehilangan seluruh energi kehidupannya, dalam kata lain ... mati.

Namun untuk kasus Stephen, William berpikir tidak akan berjalan skenario seperti itu yang perlu ia lakukan adalah tetap mengawasi, bahkan dari jauh sekalipun demi menjaga segel yang ia gunakan tetap berfungsi sebagaimana mestinya.

William bisa mendeteksi bagaimana sihir penyegelan ini bekerja, seperti sebuah alarm yang dipasang akan berbunyi pada waktunya, energi sihir penyegelan akan memberi tahu apabila ada informasi dari segel yang telah digunakan.

Jadi ibaratnya sihir segel itu hidup dan memberikan informasi pada William.

Jadi dengan begitu William bisa tetap mengontrol bagaimana keadaan segel yang telah dipasangnya itu dan pula bisa melakukan tindakan yang diperlukan bila memang terjadi sesuatu.

Pada akhirnya William mendinginkan kepalanya di tengah hujan deras ini, ia tidak mau terus-terusan ragu akan keputusannya itu, dan melangkah maju adalah hal yang harus dilakukannya.

William menaruh sedikit harapan pada Stephen bilamana ia punya kesempatan untuk bertemu dengannya kembali, tidak lain tidak bukan adalah perubahan.

Dengan diam saja di sana, Stephen punya waktu lebih dari cukup untuk berpikir dan merenungi akan apa yang selama ini diperbuatnya.

William berbalik badan dan kemudian melihat ada seseorang di sana, pria paruh baya sedang memegang payung dengan tatapan yang agak kaget.

Pria tersebut memakai topi, dengan setelan baju rapi sebagaimana mestinya, ia membawa segenggam bunga hias di tangannya.

William sedikit kaget karena ia masih merenung tadi, tiba-tiba ada orang datang di area seperti ini di malam yang larut.

Pria paruh baya bertopi itu terlihat sederhana dan apa adanya, wajahnya ramah sebagaimana yang terlihat dan setelah beberapa saat ia mulai berbicara, "Malam yang dingin Tuan."

Pria paruh baya itu memanggil William dengan panggilan tuan, seolah ia tahu bahkan dari pandangan sekilas pun penampilan William ini bukanlah penampilan orang biasa.

William tidak menjawabnya secara langsung, ia tidak menyangka akan ada pengunjung di malam hari dengan hujan deras di area bukit pekuburan ini.

Dan seketika itu juga rasa penasaran muncul pada raut wajah pria paruh baya bertopi itu, tepatnya ketika ia melihat akan adanya peti mati coklat besar ada tepat di belakang pria berjubah merah itu. "Ah apa ada yang mau dikuburkan di sini?"

Episodes
1 Bab 1: Tempat Pelarian
2 Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3 Bab 3: Kehausan
4 Bab 4: Berhenti, Kumohon
5 Bab 5: Aku Mengerti
6 Bab 6: Keputusan Mutlak
7 Bab 7: Tujuan Awal
8 Bab 8: Sedikit Bantuan
9 Bab 9: Awal Rumor
10 Bab 10: Sedikit Rumor
11 Bab 11: Kedua Teman
12 Bab 12: Hal Hangat
13 Bab 13: Break The Rules
14 Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15 Bab 15: Pembuktian
16 Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17 Bab 17: Bebas
18 Bab 18: Mencari Kebenaran
19 Bab 19: Rossa dan Fredirica
20 Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21 Bab 21: Menerima
22 Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23 Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24 Bab 24: Melawan
25 Bab 25: Rasa Penasaran
26 Bab 26: Dilema
27 Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28 Bab 28: Masih Jauh
29 Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30 Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31 Bab 31: Rencana Baru
32 Bab 32: Apa Yang Terjadi
33 Bab 33: Kehangatan
34 Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35 Bab 35: Waktunya Beraksi
36 Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37 Bab 37: Berbeda
38 Bab 38: Akhir
39 Bab 39: Berusaha
40 Bab 40: Tepat Waktu
41 Bab 41: Memulai Kembali
42 Bab 42: Yelena
43 Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44 Bab 44: Sebuah Alasan
45 Bab 45: Sebuah Alasan
46 Bab 46: Tumbang
47 Bab 47: Bangga
48 Bab 48: Diskusi
49 Bab 49: Dampak
50 Bab 50: Sembuh
51 Bab 51: Hasil
52 Bab 52: Pulang
53 Bab 53: Perjuangan
54 Bab 54: Konsekuensi
55 Bab 55: Kalian Mengganggu
56 Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57 Bab 57: Mencoba Mengerti
58 Bab 58: Menerima Perasaan
59 Bab 59: Menerima Kenyataan
60 Bab 60: Sadar Dan Menerima
61 Bab 61: Menghadapi Tekanan
62 Bab 62: Kabar Dari Jauh
63 Bab 63: Sedikit Berubah
64 Bab 64: Keluar
65 Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66 Bab 66: Membela
67 Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68 Bab 68: Inilah Kekuatanku
69 Bab 69: Melawan Juga
70 Bab 70: Tak Sadar
71 Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72 Bab 72: Lebih Kuat
73 Bab 73: Masih Mau?
74 Bab 74: Kesempatan Emas
75 Bab 75: Tenang
76 Bab 76: Alasan Sebenarnya
77 Bab 77: Memilih
78 Bab 78: Diriku
79 Bab 79: Sebuah Kenyataan
80 Bab 80: Sunguh Nyata
81 Bab 81: Kabar
82 Bab 82: Berdamai
83 Bab 83: Heran
84 Bab 84: Penampilan Baru
85 Bab 85: Insting
86 Bab 86: Tamu
87 Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88 Bab 88: Pertemuan
89 Bab 89: Saudara
90 Bab 90: Alasan Berubah
91 Bab 91: Memanas
92 Bab 92: Makin Panas
93 Bab 93: Menjauh
94 Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95 Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96 Bab 96: Sudah Habis
97 Bab 97: Perbedaan
98 Bab 98: Curiga
99 Bab 99: Menunjukkan Tekad
100 Bab 100: Ragu
101 Bab 101: Percaya
102 Bab 102: Tidak Terduga
103 Bab 103: Tanda
104 Bab 104: Terdesak
105 Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106 Bab 106: Keputusan
107 Bab 107: Undangan
108 Bab 108: Berjalan
109 Bab 109: Dingin
110 Bab 110: Pertanyaan Lagi
111 Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112 Bab 112: Balas Budi
113 Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114 Bab 114: Sadar
115 Bab 115: Bertemu
116 Bab 116: Terdampar
117 Bab 117: Panggilan Alami
118 Bab 118: Jalan-jalan
119 Bab 119: Jadi Kenyataan
120 Bab 120: Membuka
121 Bab 121: Tertangkap
122 Bab 122: Bersinggah
123 Bab 123: Bertemu... lagi
124 Bab 124: Perasaan
125 Bab 125: Rasakanlah
126 Bab 126: Usaha
127 Bab 127: Perlawanan
128 Bab 128: Kena Mental
129 Bab 129: Sosok Misterius
130 Bab 130: Mengincar
131 Bab 131: Heran
132 Bab 132: Rasakanlah!
133 Bab 133: Yang Kupercayai
134 Bab 134: Penasaran
135 Bab 135: Sadar
136 Bab 136: Jahat
137 Bab 137: Berbalik
138 Bab 138: Belum Selesai
139 Bab 139: Kerinduan
140 Bab 140: Pulang
141 Bab 141: Kunjungan
142 Bab 142: Menyebalkan
143 Bab 143: Mengingatkan
144 Bab 144: Nostalgia
145 Bab 145: Mana Keadilan?
146 Bab 146: Menyelesaikan
147 Bab 147: Fakta
148 Bab 148: Tak Sabar
149 Bab 149: Mengerti
150 Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Bab 1: Tempat Pelarian
2
Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3
Bab 3: Kehausan
4
Bab 4: Berhenti, Kumohon
5
Bab 5: Aku Mengerti
6
Bab 6: Keputusan Mutlak
7
Bab 7: Tujuan Awal
8
Bab 8: Sedikit Bantuan
9
Bab 9: Awal Rumor
10
Bab 10: Sedikit Rumor
11
Bab 11: Kedua Teman
12
Bab 12: Hal Hangat
13
Bab 13: Break The Rules
14
Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15
Bab 15: Pembuktian
16
Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17
Bab 17: Bebas
18
Bab 18: Mencari Kebenaran
19
Bab 19: Rossa dan Fredirica
20
Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21
Bab 21: Menerima
22
Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23
Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24
Bab 24: Melawan
25
Bab 25: Rasa Penasaran
26
Bab 26: Dilema
27
Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28
Bab 28: Masih Jauh
29
Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30
Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31
Bab 31: Rencana Baru
32
Bab 32: Apa Yang Terjadi
33
Bab 33: Kehangatan
34
Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35
Bab 35: Waktunya Beraksi
36
Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37
Bab 37: Berbeda
38
Bab 38: Akhir
39
Bab 39: Berusaha
40
Bab 40: Tepat Waktu
41
Bab 41: Memulai Kembali
42
Bab 42: Yelena
43
Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44
Bab 44: Sebuah Alasan
45
Bab 45: Sebuah Alasan
46
Bab 46: Tumbang
47
Bab 47: Bangga
48
Bab 48: Diskusi
49
Bab 49: Dampak
50
Bab 50: Sembuh
51
Bab 51: Hasil
52
Bab 52: Pulang
53
Bab 53: Perjuangan
54
Bab 54: Konsekuensi
55
Bab 55: Kalian Mengganggu
56
Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57
Bab 57: Mencoba Mengerti
58
Bab 58: Menerima Perasaan
59
Bab 59: Menerima Kenyataan
60
Bab 60: Sadar Dan Menerima
61
Bab 61: Menghadapi Tekanan
62
Bab 62: Kabar Dari Jauh
63
Bab 63: Sedikit Berubah
64
Bab 64: Keluar
65
Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66
Bab 66: Membela
67
Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68
Bab 68: Inilah Kekuatanku
69
Bab 69: Melawan Juga
70
Bab 70: Tak Sadar
71
Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72
Bab 72: Lebih Kuat
73
Bab 73: Masih Mau?
74
Bab 74: Kesempatan Emas
75
Bab 75: Tenang
76
Bab 76: Alasan Sebenarnya
77
Bab 77: Memilih
78
Bab 78: Diriku
79
Bab 79: Sebuah Kenyataan
80
Bab 80: Sunguh Nyata
81
Bab 81: Kabar
82
Bab 82: Berdamai
83
Bab 83: Heran
84
Bab 84: Penampilan Baru
85
Bab 85: Insting
86
Bab 86: Tamu
87
Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88
Bab 88: Pertemuan
89
Bab 89: Saudara
90
Bab 90: Alasan Berubah
91
Bab 91: Memanas
92
Bab 92: Makin Panas
93
Bab 93: Menjauh
94
Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95
Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96
Bab 96: Sudah Habis
97
Bab 97: Perbedaan
98
Bab 98: Curiga
99
Bab 99: Menunjukkan Tekad
100
Bab 100: Ragu
101
Bab 101: Percaya
102
Bab 102: Tidak Terduga
103
Bab 103: Tanda
104
Bab 104: Terdesak
105
Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106
Bab 106: Keputusan
107
Bab 107: Undangan
108
Bab 108: Berjalan
109
Bab 109: Dingin
110
Bab 110: Pertanyaan Lagi
111
Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112
Bab 112: Balas Budi
113
Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114
Bab 114: Sadar
115
Bab 115: Bertemu
116
Bab 116: Terdampar
117
Bab 117: Panggilan Alami
118
Bab 118: Jalan-jalan
119
Bab 119: Jadi Kenyataan
120
Bab 120: Membuka
121
Bab 121: Tertangkap
122
Bab 122: Bersinggah
123
Bab 123: Bertemu... lagi
124
Bab 124: Perasaan
125
Bab 125: Rasakanlah
126
Bab 126: Usaha
127
Bab 127: Perlawanan
128
Bab 128: Kena Mental
129
Bab 129: Sosok Misterius
130
Bab 130: Mengincar
131
Bab 131: Heran
132
Bab 132: Rasakanlah!
133
Bab 133: Yang Kupercayai
134
Bab 134: Penasaran
135
Bab 135: Sadar
136
Bab 136: Jahat
137
Bab 137: Berbalik
138
Bab 138: Belum Selesai
139
Bab 139: Kerinduan
140
Bab 140: Pulang
141
Bab 141: Kunjungan
142
Bab 142: Menyebalkan
143
Bab 143: Mengingatkan
144
Bab 144: Nostalgia
145
Bab 145: Mana Keadilan?
146
Bab 146: Menyelesaikan
147
Bab 147: Fakta
148
Bab 148: Tak Sabar
149
Bab 149: Mengerti
150
Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!