Feronica melihat ada dua siswi yang tengah berbincang satu sama lain, rasanya ia pernah mendengar topik yang mereka bicarakan... tapi di mana ya?
"Makhluk mengerikan? Oh aku pernah mendengarnya sih," jawab siswi lain yang berambut panjang, keduanya mengobrolkan topik yang memang tidak terlalu hangat, namun tetap meninggalkan kesan yang menakutkan.
"Itu loh, yang sering di ceritakan orang tua kita," ujar siswi berambut pendek lagi.
Untuk seterusnya Feronica memerhatikan kedua siswi itu mengobrol satu sama lain, dan ternyata memang benar rasanya ia pernah mendengar hal serupa.
Mendengar mereka bercerita kisah makhluk menyeramkan yang ada di area pekuburannya mengingatkan Feronica, ia memang pernah mendengar cerita itu dari ibunya ketika ia kecil.
Namun ketika kecil memang ingatan kita tidak begitu tajam, untuk sebagian orang ada yang mengingat masa kecilnya dengan detil, dan ada pula yang tidak.
Feronica masuk ke bagian orang yang lupa akan sebagian besar momen masa kecilnya.
Meskipun ia berusaha untuk mengingat apa yang ibunya katakan mengenai makhluk mengerikan ini, namun detilnya ia lupa lagi, pada akhirnya daripada susah-susah mengingat Feronica membuka tasnya dan mengambil buku ajar sihir yang dipunyainya itu.
"Hm, makhluk mengerikan? Astaga mengapa orang-orang menyukai cerita seperti ini?" Feronica penuh dengan pertanyaan, namun alih-alih ikut mengobrol dengan dua siswi itu, Feronica membuka buku tulisan sihirnya dan mulai membacanya.
Banyaknya tulisan tanpa gambar membuat Feronica terdiam, bukannya ia membenci tulisan yang ada pada buku ajar ilmu sihirnya.
Hanya saja jika ia bisa banyak mengerti apa yang tertulis di buku itu, maka tentunya ia bisa mentolelir buku tanpa gambar ini, namun banyaknya bahasa dan gaya tulisan yang rumit membuat Feronica kehilangan minat bacanya secara instan.
"Astaga!"
Plak!
Feronica menepuk pipinya dengan kedua tangannya. Berusaha menyadarkan dirinya bahwa apa yang ia tidak sukai sebenarnya adalah kunci dimana ia akan mengeluarkan sihir tersebut.
Pada kenyataannya ilmu sihir tidak langsung dipelajari secara praktek, namun harus dimulai dengan mempelajarinya di berbagai macam buku sihir yang ada.
Seorang yang ingin belajar dan menguasai ilmu sihir tertentu tidak lepas dari peran penting buku, yang merupakan sumber dari apa yang akan dipelajari.
"Buku Materi Kelas Akhir Akademi Sihir Wolfden membuatku pusing, haah...." Feronica mendaratkan wajah dibukunya sendiri, tanda ia memang tidak serta merta mengerti isi dalam buku tersebut.
Namun bagaimanapun juga Feronica adalah siswa kelas akhir Akademi Wolfden, tentu saja tingkat pengetahuan dan dan keterampilan sihirnya harusnya sudah meningkat dibanding dengan ketika ia kelas satu dan dua.
Namun entah mengapa Feronica akhir-akhir ini merasa apa yang dipelajarinya itu tidak semudah yang ia pikirkan sebelumnya, bukannya mau bermaksud mengeluh namun memang kenyataannya seperti itu.
Lalu bagaimana dengan dua tahun terakhir yang telah dijalaninya itu? Hm, pertanyaan yang bagus, tanyakan saja pada gadis yang sedang menaruh wajahnya di atas buku ini.
Feronica terdiam, masih menenggelamkan wajahnya di atas bukunya, mengacuhkan kegaduhan yang ada di kelasnya itu. Di saat begitu banyak siswa berinteraksi satu sama lain dan mengobrol dengan seru, Feronica malah diam saja di kursinya.
Jika dilihat dari luar tentulah terasa membosankan, bayangkan saja ada orang yang tidak membaur dengan orang lain, tentu saja kemungkinan besar orang lain akan menganggap kita sombong dan menarik diri.
Namun sebenarnya apa yang terlihat tidak selamanya kenyataan yang sesungguhnya. Gadis berambut panjang dengan penampilan sangat biasa dan sifat biasa bukannya tidak ingin membaur dengan yang lain, hanya saja dia ... tidak bisa melakukannya.
Apakah kalian ingat ketika sebelumnya dikatakan bahwa Akademi Sihir Wolfden adalah sekolah sihir bergengsi yang menarik minat banyak orang, bahkan dari luar sekalipun?
Hampir semua siswa-siswi yang menuntut ilmu di sini adalah berasal dari kalangan atas, ataupula yang terkemuka, Feronica tidak memenuhi standar sosial di sekolah ini.
Hanya sesingkat itu alasannya, dan sekaligus menjawab pertanyaan akan mengapa Feronica tidak membaur dengan warga sekolah di sini, kecuali dengan Tuan Jack yang ramah padanya bahkan sejak ia mulai menuntut ilmu di sini.
Apakah itu terlalu cepat untuk menilai sesuatu? Tidak juga, bukannya Feronica tidak pernah mencoba untuk membaur dengan siswa lain, hanya saja usahanya itu tidak berjalan sebagaimana yang ia harapkan.
Orang terpandang akan lebih suka bergaul dengan orang yang derajatnya sama, prinsip itulah yang menyebabkan Feronica yang hanyalah siswa biasa dan bahkan sangat biasa ini sulit untuk membaur, bahkan di kelasnya sendiri tidak ada yang benar-benar mempedulikannya.
Maksudnya apa? Tidak ada yang memedulikannya? Para siswa lain bersenang-senang dan mengobrol dengan lawan bicara yang mereka percayai dan terlebih lagi setara dengan nilai kehormatan yang dimiliki dalam keluarga mereka, dalam kata sederhananya seberapa terpandang mereka satu sama lain.
Lalu bagaimana dengan Feronica yang hanyalah siswa biasa yang tidak terpandang ini? Yah kembali lagi ke awal, itulah alasan dibalik Feronica tidak ambil pusing dengan semua yang terjadi di sekitarnya, yang meskipun ia pikirkan tidak ada gunanya juga, toh ia sendiri tidak sepandan dengan mereka.
Namun jangan terlalu khawatir, lagipula Feronica tetap berada di sini, bahkan setelah dua tahun berlalu dan sat ini tahun terakhirnya. Jalannya masih panjang, jadi apapun yang sekarang terjadi Feronica berusaha untuk tetap tenang dan apa adanya.
Feronica perlahan mengangkat wajahnya dan melihat ke luar, suasana begitu cerah seolah memberinya energi baru untuk menjalani momen ini.
Kegaduhan ini membuatnya sulit berkonsentrasi, bahkan untuk membaca buku yang sudah sulit dimengerti ditambah kondisi yang tidak tenang maka sudah lengkaplah semuanya.
Feronica terpaku di kursinya, hanya melihat siswa lain yang mengobrol dan bersenang-senang, sembari berharap waktu berjalan lebih cepat agar ia bisa pulang ke rumah dan menghabiskan waktu dengan ibunya.
Berjalannya waktu Feronica sadar ada beberapa siswa yang melihat ke arahnya, ia berusaha untuk ramah dan tersenyum, dan begitu mereka melihatnya tatapan mereka dingin dan kembali pada keasyikannya mereka lagi.
"Haaah." Feronica merasa agak tidak nyaman berada di keramaian di mana ia hanya sendirian saja, rasanya itu begitu unik sampai-sampai sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Feronica kembali melihat keluar, terlihat di bawah Tuan penjaga sekolah, Jack sedang bersih-bersih tepat di ruangan kelas satu, di mana itu adalah ruangan Feronica dahulu dua tahun lalu.
"Hei Tuan Jack! Kerja yang bagus!" Feronica berteriak dengan keras, atau mungkin bisa dibilang menyapa dengan keras pada Jack, dan lagi-lagi pria paruh baya bertopi itu kaget dan tersenyum kecil sembari kembali menjalankan pekerjaannya.
TENG!
Bunyi bel sekolah terdengar, semua siswa di ruangan kelas Feronica langsung meninggalkan keasyikan mereka dan duduk di kursinya masing-masing.
"Aku harus mengerti materi sihir ini," ujar Feronica sembari menutup bukunya, berharap bisa menemukan cara lain untuk mengerti, selain dari bukunya.
Apa dengan mendengar penjelasan gurunya ia bisa mengerti? Siapa tahu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments