Bab 10: Sedikit Rumor

Feronica melihat ada dua siswi yang tengah berbincang satu sama lain, rasanya ia pernah mendengar topik yang mereka bicarakan... tapi di mana ya?

"Makhluk mengerikan? Oh aku pernah mendengarnya sih," jawab siswi lain yang berambut panjang, keduanya mengobrolkan topik yang memang tidak terlalu hangat, namun tetap meninggalkan kesan yang menakutkan.

"Itu loh, yang sering di ceritakan orang tua kita," ujar siswi berambut pendek lagi.

Untuk seterusnya Feronica memerhatikan kedua siswi itu mengobrol satu sama lain, dan ternyata memang benar rasanya ia pernah mendengar hal serupa.

Mendengar mereka bercerita kisah makhluk menyeramkan yang ada di area pekuburannya mengingatkan Feronica, ia memang pernah mendengar cerita itu dari ibunya ketika ia kecil.

Namun ketika kecil memang ingatan kita tidak begitu tajam, untuk sebagian orang ada yang mengingat masa kecilnya dengan detil, dan ada pula yang tidak.

Feronica masuk ke bagian orang yang lupa akan sebagian besar momen masa kecilnya.

Meskipun ia berusaha untuk mengingat apa yang ibunya katakan mengenai makhluk mengerikan ini, namun detilnya ia lupa lagi, pada akhirnya daripada susah-susah mengingat Feronica membuka tasnya dan mengambil buku ajar sihir yang dipunyainya itu.

"Hm, makhluk mengerikan? Astaga mengapa orang-orang menyukai cerita seperti ini?" Feronica penuh dengan pertanyaan, namun alih-alih ikut mengobrol dengan dua siswi itu, Feronica membuka buku tulisan sihirnya dan mulai membacanya.

Banyaknya tulisan tanpa gambar membuat Feronica terdiam, bukannya ia membenci tulisan yang ada pada buku ajar ilmu sihirnya.

Hanya saja jika ia bisa banyak mengerti apa yang tertulis di buku itu, maka tentunya ia bisa mentolelir buku tanpa gambar ini, namun banyaknya bahasa dan gaya tulisan yang rumit membuat Feronica kehilangan minat bacanya secara instan.

"Astaga!"

Plak!

Feronica menepuk pipinya dengan kedua tangannya. Berusaha menyadarkan dirinya bahwa apa yang ia tidak sukai sebenarnya adalah kunci dimana ia akan mengeluarkan sihir tersebut.

Pada kenyataannya ilmu sihir tidak langsung dipelajari secara praktek, namun harus dimulai dengan mempelajarinya di berbagai macam buku sihir yang ada.

Seorang yang ingin belajar dan menguasai ilmu sihir tertentu tidak lepas dari peran penting buku, yang merupakan sumber dari apa yang akan dipelajari.

"Buku Materi Kelas Akhir Akademi Sihir Wolfden membuatku pusing, haah...." Feronica mendaratkan wajah dibukunya sendiri, tanda ia memang tidak serta merta mengerti isi dalam buku tersebut.

Namun bagaimanapun juga Feronica adalah siswa kelas akhir Akademi Wolfden, tentu saja tingkat pengetahuan dan dan keterampilan sihirnya harusnya sudah meningkat dibanding dengan ketika ia kelas satu dan dua.

Namun entah mengapa Feronica akhir-akhir ini merasa apa yang dipelajarinya itu tidak semudah yang ia pikirkan sebelumnya, bukannya mau bermaksud mengeluh namun memang kenyataannya seperti itu.

Lalu bagaimana dengan dua tahun terakhir yang telah dijalaninya itu? Hm, pertanyaan yang bagus, tanyakan saja pada gadis yang sedang menaruh wajahnya di atas buku ini.

Feronica terdiam, masih menenggelamkan wajahnya di atas bukunya, mengacuhkan kegaduhan yang ada di kelasnya itu. Di saat begitu banyak siswa berinteraksi satu sama lain dan mengobrol dengan seru, Feronica malah diam saja di kursinya.

Jika dilihat dari luar tentulah terasa membosankan, bayangkan saja ada orang yang tidak membaur dengan orang lain, tentu saja kemungkinan besar orang lain akan menganggap kita sombong dan menarik diri.

Namun sebenarnya apa yang terlihat tidak selamanya kenyataan yang sesungguhnya. Gadis berambut panjang dengan penampilan sangat biasa dan sifat biasa bukannya tidak ingin membaur dengan yang lain, hanya saja dia ... tidak bisa melakukannya.

Apakah kalian ingat ketika sebelumnya dikatakan bahwa Akademi Sihir Wolfden adalah sekolah sihir bergengsi yang menarik minat banyak orang, bahkan dari luar sekalipun?

Hampir semua siswa-siswi yang menuntut ilmu di sini adalah berasal dari kalangan atas, ataupula yang terkemuka, Feronica tidak memenuhi standar sosial di sekolah ini.

Hanya sesingkat itu alasannya, dan sekaligus menjawab pertanyaan akan mengapa Feronica tidak membaur dengan warga sekolah di sini, kecuali dengan Tuan Jack yang ramah padanya bahkan sejak ia mulai menuntut ilmu di sini.

Apakah itu terlalu cepat untuk menilai sesuatu? Tidak juga, bukannya Feronica tidak pernah mencoba untuk membaur dengan siswa lain, hanya saja usahanya itu tidak berjalan sebagaimana yang ia harapkan.

Orang terpandang akan lebih suka bergaul dengan orang yang derajatnya sama, prinsip itulah yang menyebabkan Feronica yang hanyalah siswa biasa dan bahkan sangat biasa ini sulit untuk membaur, bahkan di kelasnya sendiri tidak ada yang benar-benar mempedulikannya.

Maksudnya apa? Tidak ada yang memedulikannya? Para siswa lain bersenang-senang dan mengobrol dengan lawan bicara yang mereka percayai dan terlebih lagi setara dengan nilai kehormatan yang dimiliki dalam keluarga mereka, dalam kata sederhananya seberapa terpandang mereka satu sama lain.

Lalu bagaimana dengan Feronica yang hanyalah siswa biasa yang tidak terpandang ini? Yah kembali lagi ke awal, itulah alasan dibalik Feronica tidak ambil pusing dengan semua yang terjadi di sekitarnya, yang meskipun ia pikirkan tidak ada gunanya juga, toh ia sendiri tidak sepandan dengan mereka.

Namun jangan terlalu khawatir, lagipula Feronica tetap berada di sini, bahkan setelah dua tahun berlalu dan sat ini tahun terakhirnya. Jalannya masih panjang, jadi apapun yang sekarang terjadi Feronica berusaha untuk tetap tenang dan apa adanya.

Feronica perlahan mengangkat wajahnya dan melihat ke luar, suasana begitu cerah seolah memberinya energi baru untuk menjalani momen ini.

Kegaduhan ini membuatnya sulit berkonsentrasi, bahkan untuk membaca buku yang sudah sulit dimengerti ditambah kondisi yang tidak tenang maka sudah lengkaplah semuanya.

Feronica terpaku di kursinya, hanya melihat siswa lain yang mengobrol dan bersenang-senang, sembari berharap waktu berjalan lebih cepat agar ia bisa pulang ke rumah dan menghabiskan waktu dengan ibunya.

Berjalannya waktu Feronica sadar ada beberapa siswa yang melihat ke arahnya, ia berusaha untuk ramah dan tersenyum, dan begitu mereka melihatnya tatapan mereka dingin dan kembali pada keasyikannya mereka lagi.

"Haaah." Feronica merasa agak tidak nyaman berada di keramaian di mana ia hanya sendirian saja, rasanya itu begitu unik sampai-sampai sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Feronica kembali melihat keluar, terlihat di bawah Tuan penjaga sekolah, Jack sedang bersih-bersih tepat di ruangan kelas satu, di mana itu adalah ruangan Feronica dahulu dua tahun lalu.

"Hei Tuan Jack! Kerja yang bagus!" Feronica berteriak dengan keras, atau mungkin bisa dibilang menyapa dengan keras pada Jack, dan lagi-lagi pria paruh baya bertopi itu kaget dan tersenyum kecil sembari kembali menjalankan pekerjaannya.

TENG!

Bunyi bel sekolah terdengar, semua siswa di ruangan kelas Feronica langsung meninggalkan keasyikan mereka dan duduk di kursinya masing-masing.

"Aku harus mengerti materi sihir ini," ujar Feronica sembari menutup bukunya, berharap bisa menemukan cara lain untuk mengerti, selain dari bukunya.

Apa dengan mendengar penjelasan gurunya ia bisa mengerti? Siapa tahu?

Episodes
1 Bab 1: Tempat Pelarian
2 Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3 Bab 3: Kehausan
4 Bab 4: Berhenti, Kumohon
5 Bab 5: Aku Mengerti
6 Bab 6: Keputusan Mutlak
7 Bab 7: Tujuan Awal
8 Bab 8: Sedikit Bantuan
9 Bab 9: Awal Rumor
10 Bab 10: Sedikit Rumor
11 Bab 11: Kedua Teman
12 Bab 12: Hal Hangat
13 Bab 13: Break The Rules
14 Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15 Bab 15: Pembuktian
16 Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17 Bab 17: Bebas
18 Bab 18: Mencari Kebenaran
19 Bab 19: Rossa dan Fredirica
20 Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21 Bab 21: Menerima
22 Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23 Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24 Bab 24: Melawan
25 Bab 25: Rasa Penasaran
26 Bab 26: Dilema
27 Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28 Bab 28: Masih Jauh
29 Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30 Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31 Bab 31: Rencana Baru
32 Bab 32: Apa Yang Terjadi
33 Bab 33: Kehangatan
34 Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35 Bab 35: Waktunya Beraksi
36 Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37 Bab 37: Berbeda
38 Bab 38: Akhir
39 Bab 39: Berusaha
40 Bab 40: Tepat Waktu
41 Bab 41: Memulai Kembali
42 Bab 42: Yelena
43 Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44 Bab 44: Sebuah Alasan
45 Bab 45: Sebuah Alasan
46 Bab 46: Tumbang
47 Bab 47: Bangga
48 Bab 48: Diskusi
49 Bab 49: Dampak
50 Bab 50: Sembuh
51 Bab 51: Hasil
52 Bab 52: Pulang
53 Bab 53: Perjuangan
54 Bab 54: Konsekuensi
55 Bab 55: Kalian Mengganggu
56 Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57 Bab 57: Mencoba Mengerti
58 Bab 58: Menerima Perasaan
59 Bab 59: Menerima Kenyataan
60 Bab 60: Sadar Dan Menerima
61 Bab 61: Menghadapi Tekanan
62 Bab 62: Kabar Dari Jauh
63 Bab 63: Sedikit Berubah
64 Bab 64: Keluar
65 Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66 Bab 66: Membela
67 Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68 Bab 68: Inilah Kekuatanku
69 Bab 69: Melawan Juga
70 Bab 70: Tak Sadar
71 Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72 Bab 72: Lebih Kuat
73 Bab 73: Masih Mau?
74 Bab 74: Kesempatan Emas
75 Bab 75: Tenang
76 Bab 76: Alasan Sebenarnya
77 Bab 77: Memilih
78 Bab 78: Diriku
79 Bab 79: Sebuah Kenyataan
80 Bab 80: Sunguh Nyata
81 Bab 81: Kabar
82 Bab 82: Berdamai
83 Bab 83: Heran
84 Bab 84: Penampilan Baru
85 Bab 85: Insting
86 Bab 86: Tamu
87 Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88 Bab 88: Pertemuan
89 Bab 89: Saudara
90 Bab 90: Alasan Berubah
91 Bab 91: Memanas
92 Bab 92: Makin Panas
93 Bab 93: Menjauh
94 Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95 Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96 Bab 96: Sudah Habis
97 Bab 97: Perbedaan
98 Bab 98: Curiga
99 Bab 99: Menunjukkan Tekad
100 Bab 100: Ragu
101 Bab 101: Percaya
102 Bab 102: Tidak Terduga
103 Bab 103: Tanda
104 Bab 104: Terdesak
105 Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106 Bab 106: Keputusan
107 Bab 107: Undangan
108 Bab 108: Berjalan
109 Bab 109: Dingin
110 Bab 110: Pertanyaan Lagi
111 Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112 Bab 112: Balas Budi
113 Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114 Bab 114: Sadar
115 Bab 115: Bertemu
116 Bab 116: Terdampar
117 Bab 117: Panggilan Alami
118 Bab 118: Jalan-jalan
119 Bab 119: Jadi Kenyataan
120 Bab 120: Membuka
121 Bab 121: Tertangkap
122 Bab 122: Bersinggah
123 Bab 123: Bertemu... lagi
124 Bab 124: Perasaan
125 Bab 125: Rasakanlah
126 Bab 126: Usaha
127 Bab 127: Perlawanan
128 Bab 128: Kena Mental
129 Bab 129: Sosok Misterius
130 Bab 130: Mengincar
131 Bab 131: Heran
132 Bab 132: Rasakanlah!
133 Bab 133: Yang Kupercayai
134 Bab 134: Penasaran
135 Bab 135: Sadar
136 Bab 136: Jahat
137 Bab 137: Berbalik
138 Bab 138: Belum Selesai
139 Bab 139: Kerinduan
140 Bab 140: Pulang
141 Bab 141: Kunjungan
142 Bab 142: Menyebalkan
143 Bab 143: Mengingatkan
144 Bab 144: Nostalgia
145 Bab 145: Mana Keadilan?
146 Bab 146: Menyelesaikan
147 Bab 147: Fakta
148 Bab 148: Tak Sabar
149 Bab 149: Mengerti
150 Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Bab 1: Tempat Pelarian
2
Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3
Bab 3: Kehausan
4
Bab 4: Berhenti, Kumohon
5
Bab 5: Aku Mengerti
6
Bab 6: Keputusan Mutlak
7
Bab 7: Tujuan Awal
8
Bab 8: Sedikit Bantuan
9
Bab 9: Awal Rumor
10
Bab 10: Sedikit Rumor
11
Bab 11: Kedua Teman
12
Bab 12: Hal Hangat
13
Bab 13: Break The Rules
14
Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15
Bab 15: Pembuktian
16
Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17
Bab 17: Bebas
18
Bab 18: Mencari Kebenaran
19
Bab 19: Rossa dan Fredirica
20
Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21
Bab 21: Menerima
22
Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23
Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24
Bab 24: Melawan
25
Bab 25: Rasa Penasaran
26
Bab 26: Dilema
27
Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28
Bab 28: Masih Jauh
29
Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30
Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31
Bab 31: Rencana Baru
32
Bab 32: Apa Yang Terjadi
33
Bab 33: Kehangatan
34
Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35
Bab 35: Waktunya Beraksi
36
Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37
Bab 37: Berbeda
38
Bab 38: Akhir
39
Bab 39: Berusaha
40
Bab 40: Tepat Waktu
41
Bab 41: Memulai Kembali
42
Bab 42: Yelena
43
Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44
Bab 44: Sebuah Alasan
45
Bab 45: Sebuah Alasan
46
Bab 46: Tumbang
47
Bab 47: Bangga
48
Bab 48: Diskusi
49
Bab 49: Dampak
50
Bab 50: Sembuh
51
Bab 51: Hasil
52
Bab 52: Pulang
53
Bab 53: Perjuangan
54
Bab 54: Konsekuensi
55
Bab 55: Kalian Mengganggu
56
Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57
Bab 57: Mencoba Mengerti
58
Bab 58: Menerima Perasaan
59
Bab 59: Menerima Kenyataan
60
Bab 60: Sadar Dan Menerima
61
Bab 61: Menghadapi Tekanan
62
Bab 62: Kabar Dari Jauh
63
Bab 63: Sedikit Berubah
64
Bab 64: Keluar
65
Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66
Bab 66: Membela
67
Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68
Bab 68: Inilah Kekuatanku
69
Bab 69: Melawan Juga
70
Bab 70: Tak Sadar
71
Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72
Bab 72: Lebih Kuat
73
Bab 73: Masih Mau?
74
Bab 74: Kesempatan Emas
75
Bab 75: Tenang
76
Bab 76: Alasan Sebenarnya
77
Bab 77: Memilih
78
Bab 78: Diriku
79
Bab 79: Sebuah Kenyataan
80
Bab 80: Sunguh Nyata
81
Bab 81: Kabar
82
Bab 82: Berdamai
83
Bab 83: Heran
84
Bab 84: Penampilan Baru
85
Bab 85: Insting
86
Bab 86: Tamu
87
Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88
Bab 88: Pertemuan
89
Bab 89: Saudara
90
Bab 90: Alasan Berubah
91
Bab 91: Memanas
92
Bab 92: Makin Panas
93
Bab 93: Menjauh
94
Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95
Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96
Bab 96: Sudah Habis
97
Bab 97: Perbedaan
98
Bab 98: Curiga
99
Bab 99: Menunjukkan Tekad
100
Bab 100: Ragu
101
Bab 101: Percaya
102
Bab 102: Tidak Terduga
103
Bab 103: Tanda
104
Bab 104: Terdesak
105
Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106
Bab 106: Keputusan
107
Bab 107: Undangan
108
Bab 108: Berjalan
109
Bab 109: Dingin
110
Bab 110: Pertanyaan Lagi
111
Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112
Bab 112: Balas Budi
113
Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114
Bab 114: Sadar
115
Bab 115: Bertemu
116
Bab 116: Terdampar
117
Bab 117: Panggilan Alami
118
Bab 118: Jalan-jalan
119
Bab 119: Jadi Kenyataan
120
Bab 120: Membuka
121
Bab 121: Tertangkap
122
Bab 122: Bersinggah
123
Bab 123: Bertemu... lagi
124
Bab 124: Perasaan
125
Bab 125: Rasakanlah
126
Bab 126: Usaha
127
Bab 127: Perlawanan
128
Bab 128: Kena Mental
129
Bab 129: Sosok Misterius
130
Bab 130: Mengincar
131
Bab 131: Heran
132
Bab 132: Rasakanlah!
133
Bab 133: Yang Kupercayai
134
Bab 134: Penasaran
135
Bab 135: Sadar
136
Bab 136: Jahat
137
Bab 137: Berbalik
138
Bab 138: Belum Selesai
139
Bab 139: Kerinduan
140
Bab 140: Pulang
141
Bab 141: Kunjungan
142
Bab 142: Menyebalkan
143
Bab 143: Mengingatkan
144
Bab 144: Nostalgia
145
Bab 145: Mana Keadilan?
146
Bab 146: Menyelesaikan
147
Bab 147: Fakta
148
Bab 148: Tak Sabar
149
Bab 149: Mengerti
150
Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!