"Aku tidak tahu apa yang kamu maksud Fredirica," ujar Feronica, terlalu banyak hal yang dipikirkan olehnya dan pada akhirnya ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari temannya itu.
Wajah Fredirica jadi muram, sepertinya karena ia tidak mendengar jawaban yang diharapkannya. Terkadang apa yang diharapkan memang tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya.
"Bagaimana dengan kisah yang diceritakan oleh orang tua kita, kau ingat?" Rossa memberikan petunjuk lain, memecah keheningan yang terjadi beberapa saat tadi.
"...."
Feronica terdiam, rasa merinding yang tadi ia alami ketika mendengar pembicaraan para siswa saat jam sebelum kelas dimulai
Apakah hal itu yang dimaksud oleh mereka?
Bukankah memang kita tidak boleh mengumbarnya bahkan membahasnya?
Raut wajah Feronica berubah perlahan namun pasti, ia yang tadinya berusaha untuk tidak mengingat hal itu kini malah terbayang dengan jelas apa yang ingin ia lupakan.
Mengapa Rossa dan Fredirica membicarakan hal ini? Feronica terdiam, ia berusaha untuk tidak terhanyut dalam rumor yang sebaiknya tidak diungkut ini.
"Memangnya kenapa dengan rumor itu?" Feronica terpaksa bertanya tentang hal itu, terlepas dari begitu tidak inginnya ia mengungkit hal ini.
Rossa dan Fredirica memasang wajah penasaran sekaligus tertarik, seolah mereka akan melakukan eksprerimen yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Dan tentunya Feronica tidak merasa nyaman dipandang seperti itu oleh mereka, seolah Feronica sudah bisa memprediksi apa yang akan dibicarakan oleh kedua temannya itu.
"Maukah kau membuktikannya Feronica?" tanya Rossa seketika seperti petir di siang- ah maksudnya di hujan yang kecil yang di mana tidak ada yang memirkan gemuruh dan kilatan cahaya di tengah hujan kecil yang indah. Begitulah perasaan Feronica sekarang ini, tidak menyangka ternyata kemungkinan yang ia prediksi malah benar adanya.
"Kamu bercanda' kan Rossa?" Feronica memastikan lagi apa yang dimaksud oleh Rossa sekarang ini.
Rossa menggelengkan kepalanya perlahan sembari terus menerus menunjukkan wajah yang seolah-olah membujuknya untuk mengerti apa yang ia maksud itu.
Meskipun Feronica akhirnya tahu apa yang dimaksud oleh mereka berdua, namun pada akhirnya keinginan batinnya terus melawan agar tidak lagi menbicarakan hal yang mengerikan seperti ini.
Namun pada akhirnya, apa yang bisa diperbuatnya untuk melawan mereka? Feronica sudah tahu jawabannya dari awal.
Feronica mengambil langkah sedikit demi sedikit, jika saja ia bisa meraih payung yang terletak di rak payung yang berada tak jauh darinya maka mungkin saja ia bisa melarikan diri dan tak perlu berurusan dengan mereka berdua.
'Aku tak mau berurusan dengan mereka.' Feronica hanya memikirkan hal itu. Ia merasa tidak aneh dengan perbuatan mereka berdua selama ini, namun untuk kali ini ia merasa enggan melakukan apa yang mereka minta.
SRRR....
Suara rintik air hujan terus terdengar tak ada yang bisa menghentikanya malahan yang ada semakin deras.
Feronica berharap akan Rossa dan Fredirica membatalkan apa yang dimintanya itu dan segera pulang, mengingat hari sudah semakin beranjak petang, tak lama lagi malam pun tiba.
Bagi sebagian besar siswa tentulah menunggu dengan serius jam pulang agar mereka bisa melakukan apapun setelah pulang sekolah, menjalani hobi, makan makanan favorit, bermain, bersantai dan banyak lagi yang bisa mereka lakukan.
Dan seharusnya itu juga berlaku untuk mereka bukan? Sudahlah menyerahlah saja dan pulang ke rumah. Feronica agak memaksakan harapannya itu agar menjadi kenyataan.
'Sedikit lagi' batin Feronica yang diam-diam mengarahkan tangannya ke arah rak payung, selagi kedua temannya itu tadi terkejut melihat keluar karena beberapa kilat dan guntur dan itulah yang menjadi kesempatannya, sekarang atau tidak sama sekali.
"Ah...." Belum sempat Feronica mengambil payung miliknya, Fredirica sudah tahu akan rencana rahasianya itu dan malahan kini payungnya ada di tangan Fredirica.
"Mau mengambil ini?" tanya Fredirica sembari memasang wajah muram dan kasihan (bukan mengasihani dalam hal baik).
Krek....
Payung Feronica yang hanya satu itu patah, dipatahkan dengan mudah oleh Fredirica dan itu membuat Feronica terdiam di tempatnya terpaku karena kaget temannya itu bisa tahu rencananya.
"Kau tidak akan kemana-mana sebelum menyetujuinya," ujar Rossa tegas, ia kini bahkan tidak peduli akan cuaca yang semakin ganas dan hari yang semakin beranjak petang ini.
Seolah yang ada dalam pikiran kedua orang ini hanyalah agar Feronica menuruti apa yang mereka inginkan, tak peduli akan waktunya dan dalam kondisi apapun.
"...."
Feronica tertunduk, kali ini ia benar-benar tidak mau menerima permintaan mereka berdua, hatinya menolak dengan keras bahkan ketakutan akan rumor tersebut sudah membuatnya lemas dan tidak mau lagi membahasnya, apalagi menerima permintaan mereka?
"...."
"Aku tidak mau...." Feronica mengatakan jawabannya dengan tenang, singkat, padat dan jelas.
Berharap kedua temannya itu mau mendengarkannya kali ini, Feronica berusaha agar tetap tenang.
"Apa yang perlu ditakutkan? Semua itu hanya cerita orang tua kita bukan? Mengapa berlebihan seperti itu?" ujar Rossa dengan nada yang tenang, selayaknya ia memang tidak percaya akan rumor yang beredar itu.
Fredirica mengangguk setuju, dengan begini Feronica sudah terpojok, rasanya percuma juga ia mengatakan apapun lagi, toh ia tidak bisa menolak permintaan aneh mereka kok?
"Aku tidak mau, jika mau membuktikan rumor itu kalian kan bisa melakukannya sendiri?" Feronica berbagi ide dalam kepalanya, kenapa mereka meminta orang lain melakukan apa yang ingin mereka tahu?
Bukankah lebih baik untuk mencari tahu sendiri dan puas dengan hasilnya dibanding dengan tidak mengalami langsung proses mencari tahu itu?
"Kamu kan lebih cocok untuk hal seperti ini," balas Rossa lagi, kali ini nadanya tinggi dan memaksa.
Feronica mulai kehilangan kesabarannya, ia ingin pulang dan beristirahat di rumah, dan mengapa kedua orang ini menghalangi jalannya?
Gadis itu melangkahkan kakinya meninggalkan Rossa dan Fredirica yang masih memaksanya itu, sebuah aksi yang cukup ekstrim namun tetap dilakukannya mengingat kesabarannya memang sudah habis dari tadi.
DUG!
BLUGH!
"Ah...." Tepat ketika Feronica membalikkan badan di dekat pintu keluar sekolah, Fredirica mendorongnya dengan keras sampai-sampai Feronica terjatuh ke depan, ke tanah yang basah karena hujan deras ini.
Seharusnya ia sudah bisa memprediksi akan hal ini, pada kenyataannya memang ia tidak bisa lari dari permintaan kedua temannya itu. Sekali mereka menginginkan sesuatu pada akhirnya dengan berbagai cara pula mereka harus bisa mendapatkannya.
Dan semua ini pada akhirnya kembali ke awal, tidak ada lagi yang bisa dilakukan Feronica, bahkan setiap ide dan usahanya untuk melepaskan diri dari permintaan mereka pun tidak kunjung membuahkan hasil.
Ssrrrr...
Feronica perlahan bangun dengan lambat sekali, sudah masih sakit karena terjauh tadi sekarang terjatuh lagi. Sakitnya masih terasa....
Semua pakaiannya basah kuyup, mantel tebal yang ia pakai untuk menghindari udara dingin sudah tidak berguna lagi. Kini hawa dingin merasuk ke seluruh badannya.
Rasanya Feronica ingin diam saja duduk di tanah dan merenungi apa yang terjadi, atau jika memang ia punya banyak waktu ia ingin merenungi seluruh momen di yang dijalaninya selama hampir tiga tahun ini.
Namun entah mengapa yang Feronica rasakan hanyalah tatap kosong dan tidak peduli yang dilihatnya, perlakuan yang seperti ini, dan banyak hal lain yang tidak pernah ia bayangkan bisa terjadi sebelumnya ketika masuk ke Akademi Sihir Wolfden
Apakah semua itu berarti?
Semua hal tentang pelajaran? Ilmu sihir itu? Apakah memang hanya orang-orang tertentu saja yang bisa belajar di tempat ini?
Lantas untuk alasan apa ia sekarang berada di sini? Hanya menjadi alat demi memuaskan keinginan orang lain?
Feronica merenungi hal ini dengan cukup dalam, pada akhirnya dalam pikirannya berkecamuk hal-hal yang selama ini tidak ingin diingatnya, atau kalau bisa dirasakannya.
Namun semua itu kerap kali terjadi, membuat pandangan Feronica jadi sedikit kabur. Yang pada awalnya ia memutuskan untuk menjadi ahli sihir terhebat dan membuat ibunya bangga kini ia mulai bisa melihat sisi yang sebenarnya yang terjadi sekarang.
Apakah memang mimpinya itu tidak realistis untuk dicapai? Mungkinkah tekadnya selama ini hanyalah usaha semu yang mengaburkan fakta yang seharusnya ia ketahui sebelumnya?
Fakta mengenai begitu tidak pantasnya ia menuntut ilmu di tempat ini, dan lagi usaha yang dikeluarkan oleh ibunya agar ia bisa mengejar mimpinya dengan leluasa, yang seharusnya ibunya tidak perlu melakukan pekerjaan yang berlebihan, hanya demi putrinya yang tercinta.
Memikirkan semua hal dibalik mimpinya itu membuat Feronica merasa tidak karuan, pada akhirnya gejolak emosi dirasakannya, bersamaan dengan air hujan yang menerpa tubuhnya, kini ia siap untuk mengambil keputusan....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments