Bab 13: Break The Rules

"Aku tidak tahu apa yang kamu maksud Fredirica," ujar Feronica, terlalu banyak hal yang dipikirkan olehnya dan pada akhirnya ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari temannya itu.

Wajah Fredirica jadi muram, sepertinya karena ia tidak mendengar jawaban yang diharapkannya. Terkadang apa yang diharapkan memang tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya.

"Bagaimana dengan kisah yang diceritakan oleh orang tua kita, kau ingat?" Rossa memberikan petunjuk lain, memecah keheningan yang terjadi beberapa saat tadi.

"...."

Feronica terdiam, rasa merinding yang tadi ia alami ketika mendengar pembicaraan para siswa saat jam sebelum kelas dimulai

Apakah hal itu yang dimaksud oleh mereka?

Bukankah memang kita tidak boleh mengumbarnya bahkan membahasnya?

Raut wajah Feronica berubah perlahan namun pasti, ia yang tadinya berusaha untuk tidak mengingat hal itu kini malah terbayang dengan jelas apa yang ingin ia lupakan.

Mengapa Rossa dan Fredirica membicarakan hal ini? Feronica terdiam, ia berusaha untuk tidak terhanyut dalam rumor yang sebaiknya tidak diungkut ini.

"Memangnya kenapa dengan rumor itu?" Feronica terpaksa bertanya tentang hal itu, terlepas dari begitu tidak inginnya ia mengungkit hal ini.

Rossa dan Fredirica memasang wajah penasaran sekaligus tertarik, seolah mereka akan melakukan eksprerimen yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Dan tentunya Feronica tidak merasa nyaman dipandang seperti itu oleh mereka, seolah Feronica sudah bisa memprediksi apa yang akan dibicarakan oleh kedua temannya itu.

"Maukah kau membuktikannya Feronica?" tanya Rossa seketika seperti petir di siang- ah maksudnya di hujan yang kecil yang di mana tidak ada yang memirkan gemuruh dan kilatan cahaya di tengah hujan kecil yang indah. Begitulah perasaan Feronica sekarang ini, tidak menyangka ternyata kemungkinan yang ia prediksi malah benar adanya.

"Kamu bercanda' kan Rossa?" Feronica memastikan lagi apa yang dimaksud oleh Rossa sekarang ini.

Rossa menggelengkan kepalanya perlahan sembari terus menerus menunjukkan wajah yang seolah-olah membujuknya untuk mengerti apa yang ia maksud itu.

Meskipun Feronica akhirnya tahu apa yang dimaksud oleh mereka berdua, namun pada akhirnya keinginan batinnya terus melawan agar tidak lagi menbicarakan hal yang mengerikan seperti ini.

Namun pada akhirnya, apa yang bisa diperbuatnya untuk melawan mereka? Feronica sudah tahu jawabannya dari awal.

Feronica mengambil langkah sedikit demi sedikit, jika saja ia bisa meraih payung yang terletak di rak payung yang berada tak jauh darinya maka mungkin saja ia bisa melarikan diri dan tak perlu berurusan dengan mereka berdua.

'Aku tak mau berurusan dengan mereka.' Feronica hanya memikirkan hal itu. Ia merasa tidak aneh dengan perbuatan mereka berdua selama ini, namun untuk kali  ini ia merasa enggan melakukan apa yang mereka minta.

SRRR....

Suara rintik air hujan terus terdengar tak ada yang bisa menghentikanya malahan yang ada semakin deras.

Feronica berharap akan Rossa dan Fredirica membatalkan apa yang dimintanya itu dan segera pulang, mengingat hari sudah semakin beranjak petang, tak lama lagi malam pun tiba.

Bagi sebagian besar siswa tentulah menunggu dengan serius jam pulang agar mereka bisa melakukan apapun setelah pulang sekolah, menjalani hobi, makan makanan favorit, bermain, bersantai dan banyak lagi yang bisa mereka lakukan.

Dan seharusnya itu juga berlaku untuk mereka bukan? Sudahlah menyerahlah saja dan pulang ke rumah. Feronica agak memaksakan harapannya itu agar menjadi kenyataan.

'Sedikit lagi' batin Feronica yang diam-diam mengarahkan tangannya ke arah rak payung, selagi kedua temannya itu tadi terkejut melihat keluar karena beberapa kilat dan guntur dan itulah yang menjadi kesempatannya, sekarang atau tidak sama sekali.

"Ah...." Belum sempat Feronica mengambil payung miliknya, Fredirica sudah tahu akan rencana rahasianya itu dan malahan kini payungnya ada di tangan Fredirica.

"Mau mengambil ini?"  tanya Fredirica sembari memasang wajah muram dan kasihan (bukan mengasihani dalam hal baik).

Krek....

Payung Feronica yang hanya satu itu patah, dipatahkan dengan mudah oleh Fredirica dan itu membuat Feronica terdiam di tempatnya terpaku karena kaget temannya itu bisa tahu rencananya.

"Kau tidak akan kemana-mana sebelum menyetujuinya," ujar Rossa tegas, ia kini bahkan tidak peduli akan cuaca yang semakin ganas dan hari yang semakin beranjak petang ini.

Seolah yang ada dalam pikiran kedua orang ini hanyalah agar Feronica menuruti apa yang mereka inginkan, tak peduli akan waktunya dan dalam kondisi apapun.

"...."

Feronica tertunduk, kali ini ia benar-benar tidak mau menerima permintaan mereka berdua, hatinya menolak dengan keras bahkan ketakutan akan rumor tersebut sudah membuatnya lemas dan tidak mau lagi membahasnya, apalagi menerima permintaan mereka?

"...."

"Aku tidak mau...." Feronica mengatakan jawabannya dengan tenang, singkat, padat dan jelas.

Berharap kedua temannya itu mau mendengarkannya kali ini, Feronica berusaha agar tetap tenang.

"Apa yang perlu ditakutkan? Semua itu hanya cerita orang tua kita bukan? Mengapa berlebihan seperti itu?" ujar Rossa dengan nada yang tenang, selayaknya ia memang tidak percaya akan rumor yang beredar itu.

Fredirica mengangguk setuju, dengan begini Feronica sudah terpojok, rasanya percuma juga ia mengatakan apapun lagi, toh ia tidak bisa menolak permintaan aneh mereka kok?

"Aku tidak mau, jika mau membuktikan rumor itu kalian kan bisa melakukannya sendiri?" Feronica berbagi ide dalam kepalanya, kenapa mereka meminta orang lain melakukan apa yang ingin mereka tahu?

Bukankah lebih baik untuk mencari tahu sendiri dan puas dengan hasilnya dibanding dengan tidak mengalami langsung proses mencari tahu itu?

"Kamu kan lebih cocok untuk hal seperti ini," balas Rossa lagi, kali ini nadanya tinggi dan memaksa.

Feronica mulai kehilangan kesabarannya, ia ingin pulang dan beristirahat di rumah, dan mengapa kedua orang ini menghalangi jalannya?

Gadis itu melangkahkan kakinya meninggalkan Rossa dan Fredirica yang masih memaksanya itu, sebuah aksi yang cukup ekstrim namun tetap dilakukannya mengingat kesabarannya memang sudah habis dari tadi.

DUG!

BLUGH!

"Ah...." Tepat ketika Feronica membalikkan badan di dekat pintu keluar sekolah, Fredirica mendorongnya dengan keras sampai-sampai Feronica terjatuh ke depan, ke tanah yang basah karena hujan deras ini.

Seharusnya ia sudah bisa memprediksi akan hal ini, pada kenyataannya memang ia tidak bisa lari dari permintaan kedua temannya itu. Sekali mereka menginginkan sesuatu pada akhirnya dengan berbagai cara pula mereka harus bisa mendapatkannya.

Dan semua ini pada akhirnya kembali ke awal, tidak ada lagi yang bisa dilakukan Feronica, bahkan setiap ide dan usahanya untuk melepaskan diri dari permintaan mereka pun tidak kunjung membuahkan hasil.

Ssrrrr...

Feronica perlahan bangun dengan lambat sekali, sudah masih sakit karena terjauh tadi sekarang terjatuh lagi. Sakitnya masih terasa....

Semua pakaiannya basah kuyup, mantel tebal yang ia pakai untuk menghindari udara dingin sudah tidak berguna lagi. Kini hawa dingin merasuk ke seluruh badannya.

Rasanya Feronica ingin diam saja duduk di tanah dan merenungi apa yang terjadi, atau jika memang ia punya banyak waktu ia ingin merenungi seluruh momen di yang dijalaninya selama hampir tiga tahun ini.

Namun entah mengapa yang Feronica rasakan hanyalah tatap kosong dan tidak peduli yang dilihatnya, perlakuan yang seperti ini, dan banyak hal lain yang tidak pernah ia bayangkan bisa terjadi sebelumnya ketika masuk ke Akademi Sihir Wolfden

Apakah semua itu berarti?

Semua hal tentang pelajaran? Ilmu sihir itu? Apakah memang hanya orang-orang tertentu saja yang bisa belajar di tempat ini?

Lantas untuk alasan apa ia sekarang berada di sini? Hanya menjadi alat demi memuaskan keinginan orang lain?

Feronica merenungi hal ini dengan cukup dalam, pada akhirnya dalam pikirannya berkecamuk hal-hal yang selama ini tidak ingin diingatnya, atau kalau bisa dirasakannya.

Namun semua itu kerap kali terjadi, membuat pandangan Feronica jadi sedikit kabur. Yang pada awalnya ia memutuskan untuk menjadi ahli sihir terhebat dan membuat ibunya bangga kini ia mulai bisa melihat sisi yang sebenarnya yang terjadi sekarang.

Apakah memang mimpinya itu tidak realistis untuk dicapai? Mungkinkah tekadnya selama ini hanyalah usaha semu yang mengaburkan fakta yang seharusnya ia ketahui sebelumnya?

Fakta mengenai begitu tidak pantasnya ia menuntut ilmu di tempat ini, dan lagi usaha yang dikeluarkan oleh ibunya agar ia bisa mengejar mimpinya dengan leluasa, yang seharusnya ibunya tidak perlu melakukan pekerjaan yang berlebihan, hanya demi putrinya yang tercinta.

Memikirkan semua hal dibalik mimpinya itu membuat Feronica merasa tidak karuan, pada akhirnya gejolak emosi dirasakannya, bersamaan dengan air hujan yang menerpa tubuhnya, kini ia siap untuk mengambil keputusan....

Episodes
1 Bab 1: Tempat Pelarian
2 Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3 Bab 3: Kehausan
4 Bab 4: Berhenti, Kumohon
5 Bab 5: Aku Mengerti
6 Bab 6: Keputusan Mutlak
7 Bab 7: Tujuan Awal
8 Bab 8: Sedikit Bantuan
9 Bab 9: Awal Rumor
10 Bab 10: Sedikit Rumor
11 Bab 11: Kedua Teman
12 Bab 12: Hal Hangat
13 Bab 13: Break The Rules
14 Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15 Bab 15: Pembuktian
16 Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17 Bab 17: Bebas
18 Bab 18: Mencari Kebenaran
19 Bab 19: Rossa dan Fredirica
20 Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21 Bab 21: Menerima
22 Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23 Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24 Bab 24: Melawan
25 Bab 25: Rasa Penasaran
26 Bab 26: Dilema
27 Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28 Bab 28: Masih Jauh
29 Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30 Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31 Bab 31: Rencana Baru
32 Bab 32: Apa Yang Terjadi
33 Bab 33: Kehangatan
34 Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35 Bab 35: Waktunya Beraksi
36 Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37 Bab 37: Berbeda
38 Bab 38: Akhir
39 Bab 39: Berusaha
40 Bab 40: Tepat Waktu
41 Bab 41: Memulai Kembali
42 Bab 42: Yelena
43 Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44 Bab 44: Sebuah Alasan
45 Bab 45: Sebuah Alasan
46 Bab 46: Tumbang
47 Bab 47: Bangga
48 Bab 48: Diskusi
49 Bab 49: Dampak
50 Bab 50: Sembuh
51 Bab 51: Hasil
52 Bab 52: Pulang
53 Bab 53: Perjuangan
54 Bab 54: Konsekuensi
55 Bab 55: Kalian Mengganggu
56 Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57 Bab 57: Mencoba Mengerti
58 Bab 58: Menerima Perasaan
59 Bab 59: Menerima Kenyataan
60 Bab 60: Sadar Dan Menerima
61 Bab 61: Menghadapi Tekanan
62 Bab 62: Kabar Dari Jauh
63 Bab 63: Sedikit Berubah
64 Bab 64: Keluar
65 Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66 Bab 66: Membela
67 Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68 Bab 68: Inilah Kekuatanku
69 Bab 69: Melawan Juga
70 Bab 70: Tak Sadar
71 Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72 Bab 72: Lebih Kuat
73 Bab 73: Masih Mau?
74 Bab 74: Kesempatan Emas
75 Bab 75: Tenang
76 Bab 76: Alasan Sebenarnya
77 Bab 77: Memilih
78 Bab 78: Diriku
79 Bab 79: Sebuah Kenyataan
80 Bab 80: Sunguh Nyata
81 Bab 81: Kabar
82 Bab 82: Berdamai
83 Bab 83: Heran
84 Bab 84: Penampilan Baru
85 Bab 85: Insting
86 Bab 86: Tamu
87 Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88 Bab 88: Pertemuan
89 Bab 89: Saudara
90 Bab 90: Alasan Berubah
91 Bab 91: Memanas
92 Bab 92: Makin Panas
93 Bab 93: Menjauh
94 Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95 Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96 Bab 96: Sudah Habis
97 Bab 97: Perbedaan
98 Bab 98: Curiga
99 Bab 99: Menunjukkan Tekad
100 Bab 100: Ragu
101 Bab 101: Percaya
102 Bab 102: Tidak Terduga
103 Bab 103: Tanda
104 Bab 104: Terdesak
105 Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106 Bab 106: Keputusan
107 Bab 107: Undangan
108 Bab 108: Berjalan
109 Bab 109: Dingin
110 Bab 110: Pertanyaan Lagi
111 Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112 Bab 112: Balas Budi
113 Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114 Bab 114: Sadar
115 Bab 115: Bertemu
116 Bab 116: Terdampar
117 Bab 117: Panggilan Alami
118 Bab 118: Jalan-jalan
119 Bab 119: Jadi Kenyataan
120 Bab 120: Membuka
121 Bab 121: Tertangkap
122 Bab 122: Bersinggah
123 Bab 123: Bertemu... lagi
124 Bab 124: Perasaan
125 Bab 125: Rasakanlah
126 Bab 126: Usaha
127 Bab 127: Perlawanan
128 Bab 128: Kena Mental
129 Bab 129: Sosok Misterius
130 Bab 130: Mengincar
131 Bab 131: Heran
132 Bab 132: Rasakanlah!
133 Bab 133: Yang Kupercayai
134 Bab 134: Penasaran
135 Bab 135: Sadar
136 Bab 136: Jahat
137 Bab 137: Berbalik
138 Bab 138: Belum Selesai
139 Bab 139: Kerinduan
140 Bab 140: Pulang
141 Bab 141: Kunjungan
142 Bab 142: Menyebalkan
143 Bab 143: Mengingatkan
144 Bab 144: Nostalgia
145 Bab 145: Mana Keadilan?
146 Bab 146: Menyelesaikan
147 Bab 147: Fakta
148 Bab 148: Tak Sabar
149 Bab 149: Mengerti
150 Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Bab 1: Tempat Pelarian
2
Bab 2: Jati Diri Sebenarnya
3
Bab 3: Kehausan
4
Bab 4: Berhenti, Kumohon
5
Bab 5: Aku Mengerti
6
Bab 6: Keputusan Mutlak
7
Bab 7: Tujuan Awal
8
Bab 8: Sedikit Bantuan
9
Bab 9: Awal Rumor
10
Bab 10: Sedikit Rumor
11
Bab 11: Kedua Teman
12
Bab 12: Hal Hangat
13
Bab 13: Break The Rules
14
Bab 14: Kehangatan Dan Ketakutan
15
Bab 15: Pembuktian
16
Bab 16: Aku Lelah Dan Ingin Pulang
17
Bab 17: Bebas
18
Bab 18: Mencari Kebenaran
19
Bab 19: Rossa dan Fredirica
20
Bab 20: Hal Yang Ditunggu
21
Bab 21: Menerima
22
Bab 22: Kekhawatiran Dan Pertanyaan
23
Bab 23: Hari Penting Aku Datang!
24
Bab 24: Melawan
25
Bab 25: Rasa Penasaran
26
Bab 26: Dilema
27
Bab 27: Melakukan Yang Terbaik
28
Bab 28: Masih Jauh
29
Bab 29: Siapa Yang Dimaksud
30
Bab 30: Coba Jelaskan Apa Yang Kamu Tahu
31
Bab 31: Rencana Baru
32
Bab 32: Apa Yang Terjadi
33
Bab 33: Kehangatan
34
Bab 34: Sebuah Pertanyaan
35
Bab 35: Waktunya Beraksi
36
Bab 36: Cara Lain? Siapa Takut!
37
Bab 37: Berbeda
38
Bab 38: Akhir
39
Bab 39: Berusaha
40
Bab 40: Tepat Waktu
41
Bab 41: Memulai Kembali
42
Bab 42: Yelena
43
Bab 43: Sekarang Atau Tidak Sama Sekali
44
Bab 44: Sebuah Alasan
45
Bab 45: Sebuah Alasan
46
Bab 46: Tumbang
47
Bab 47: Bangga
48
Bab 48: Diskusi
49
Bab 49: Dampak
50
Bab 50: Sembuh
51
Bab 51: Hasil
52
Bab 52: Pulang
53
Bab 53: Perjuangan
54
Bab 54: Konsekuensi
55
Bab 55: Kalian Mengganggu
56
Bab 56: Bukan Diri Sendiri
57
Bab 57: Mencoba Mengerti
58
Bab 58: Menerima Perasaan
59
Bab 59: Menerima Kenyataan
60
Bab 60: Sadar Dan Menerima
61
Bab 61: Menghadapi Tekanan
62
Bab 62: Kabar Dari Jauh
63
Bab 63: Sedikit Berubah
64
Bab 64: Keluar
65
Bab 65: Ada Yang Tidak Beres
66
Bab 66: Membela
67
Bab 67: Waktu Tidak Akan Menunggu
68
Bab 68: Inilah Kekuatanku
69
Bab 69: Melawan Juga
70
Bab 70: Tak Sadar
71
Bab 71: Lebih Kuat? Siapa Takut
72
Bab 72: Lebih Kuat
73
Bab 73: Masih Mau?
74
Bab 74: Kesempatan Emas
75
Bab 75: Tenang
76
Bab 76: Alasan Sebenarnya
77
Bab 77: Memilih
78
Bab 78: Diriku
79
Bab 79: Sebuah Kenyataan
80
Bab 80: Sunguh Nyata
81
Bab 81: Kabar
82
Bab 82: Berdamai
83
Bab 83: Heran
84
Bab 84: Penampilan Baru
85
Bab 85: Insting
86
Bab 86: Tamu
87
Bab 87: Kekuatan Yang Hilang
88
Bab 88: Pertemuan
89
Bab 89: Saudara
90
Bab 90: Alasan Berubah
91
Bab 91: Memanas
92
Bab 92: Makin Panas
93
Bab 93: Menjauh
94
Bab 94: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
95
Bab 95: Berusaha Lebih Keras
96
Bab 96: Sudah Habis
97
Bab 97: Perbedaan
98
Bab 98: Curiga
99
Bab 99: Menunjukkan Tekad
100
Bab 100: Ragu
101
Bab 101: Percaya
102
Bab 102: Tidak Terduga
103
Bab 103: Tanda
104
Bab 104: Terdesak
105
Bab 105: Terima Kasih Sudah Disini
106
Bab 106: Keputusan
107
Bab 107: Undangan
108
Bab 108: Berjalan
109
Bab 109: Dingin
110
Bab 110: Pertanyaan Lagi
111
Bab 111: Jadi Diri Sendiri
112
Bab 112: Balas Budi
113
Bab 113: Menghadapi Kenyataan
114
Bab 114: Sadar
115
Bab 115: Bertemu
116
Bab 116: Terdampar
117
Bab 117: Panggilan Alami
118
Bab 118: Jalan-jalan
119
Bab 119: Jadi Kenyataan
120
Bab 120: Membuka
121
Bab 121: Tertangkap
122
Bab 122: Bersinggah
123
Bab 123: Bertemu... lagi
124
Bab 124: Perasaan
125
Bab 125: Rasakanlah
126
Bab 126: Usaha
127
Bab 127: Perlawanan
128
Bab 128: Kena Mental
129
Bab 129: Sosok Misterius
130
Bab 130: Mengincar
131
Bab 131: Heran
132
Bab 132: Rasakanlah!
133
Bab 133: Yang Kupercayai
134
Bab 134: Penasaran
135
Bab 135: Sadar
136
Bab 136: Jahat
137
Bab 137: Berbalik
138
Bab 138: Belum Selesai
139
Bab 139: Kerinduan
140
Bab 140: Pulang
141
Bab 141: Kunjungan
142
Bab 142: Menyebalkan
143
Bab 143: Mengingatkan
144
Bab 144: Nostalgia
145
Bab 145: Mana Keadilan?
146
Bab 146: Menyelesaikan
147
Bab 147: Fakta
148
Bab 148: Tak Sabar
149
Bab 149: Mengerti
150
Bab 150: Ayah Ibu, Terima Kasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!