Cup.
Degh!
Jantung Abimana berdetak lebih cepat saat dia nggak sengaja menindih dan mengecup kening Fani walapun nggak di sengaja, Fani membulatkan matanya saat Abimana sang bos sedang mengecup keningnya dia langsung mendorong Abimana dari tubuhnya tanpa rasa takut.
Abimana terjungkal akibat dorongan keras dari Fani, Abimana menatap tajam pengasuh baru anaknya beraninya dia mendorongnya sampai dirinya terjungkal, Fani segera bangun dan mengusap-usap keningnya yang di kecup Abimana. "Ya ampun jantungku kenapa lagi ini ?" Tanyanya dalam hati.
"Hei, kamu berani mendorong saya!" Teriak Abimana.
"Maaf pak saya nggak sengaja," Ucapnya menunduk.
"Pak Abi." Suara seseorang yang baru dateng mengagetkan mereka bedua.
Bi Sumi heran melihat Abimana dan Fani yang sedang menundukan kepalanya, bi Sumi menyangka kalau Fani habis di marahin sama majikannya soal yang tadi waktu Dikta menyuruh Fani untuk mengambilkan makanan untuk tuan mudahnya.
"Bi Sumi kenapa datang nggak ketuk pintu dulu? Apa bibi sudah lupa sama peraturan di rumah ini?" Tanyanya.
"Maaf tuan bibi nggak sengaja, bibi tadi cuma mau memanggil Fani untuk mengobati lukahnya terus bibi lihat kalau pintu kamar den Dikta nggak di tutup jadi bibi nggak ketuk pintu dulu." Jawab bi Sumi menjelaskan sama tuan mudanya.
Abimana melihat Fani yang sedari tadi menundukan kepalanya, dia beralih melihat tangan Fani yang di perban dan kembali melihat bi sumi meminta penjelasan dari bi Sumi.
Bi Sumi yang tau maksud dari tuan mudahnya menganggukan kepalanya pelaj, Abimana keluar dari kamar anaknya dan berjalan keluar menuju ke ruang kerjanya di ikuti bi Sumi dari belakang, Abimana duduk di kursi kebesarannya yang ada di ruangan kerjanya.
"Ceritakan bi apa yang terjadi sama dia?" Tanyanya to the point.
"Sewaktu Fani lagi membantu saya di dapur, nggak sengaja Sinta menumpahkan kua sup yang baru mateng dan mengenai tangan Fani." Ujar bi Sumi menceritakan kejadian tadi sore.
Abimana mengepalkan tangannya mendengar cerita bi Sumi, Abimana bingung kenapa dia merasa sangat marah saat mendengar Sinta yang sudah menumpahkan kua panas di tangan Fani. "Ada apa denganku nggak mungkin kan kalau aku marah hanya karena mendengar tangan pengasuh anakku terluka."
"Panggilkan Fani dan Sinta untuk menemui saya bi," Ucapnya.
"Baik tuan." Jawab bi Sumi beliau meninggalkan ruangan kerja tuan mudanya.
Saat ini Fani dan Sinta sudah ada di depan Abimana, Fani bingung kenapa dia dan Sinta bisa di panggil ke ruang kerja tuan mudanya? Sinta sudah merasa was-was dia tau kalau dia di panggil pasti mau membahas masalah tangan Fani yang terluka Sinta nggak bakalan salah tebakannya. Sinta menyangka kalau Fani sudah mengadukannya sama Dikta dan membuat Dikta mengadukannya sama papahnya. "Dasar brengsek berani-beraninya dia mengaduh lihat saja aku akan membalasnya." Sinta merencanakan sesuatu untuk Fani.
"Bisa kamu jelaskan Sinta kenapa kamu menyiram tangan Fani dengan kua panas?" Tanyanya melihat Sinta yang sedang meremas tangannya.
Sinta belum menjawab pertanyaan tuan mudanya dia bingung nggak tau harus menjawab apa? Nggak mungkin dia jujur kalau dia sengaja menumpahkan kua panas di tangan Fani karena di suruh sama bu Rina mamahnya, kalau dia nggak jujur pasti Abimana bakalan tau sendiri kalau dia berbohong.
"Saya nggak sengaja tuan Abi, saat saya lagi membawa sayur tiba-tiba kakiku terpeleset." Jawabnya menunduk.
"Apa kamu yakin?" Tanya Abimana melihat Sinta.
"Iya tuan, saya yakin." Sahutnya.
"Baiklah marin kita lihat cctv yang ada di dapur sama-sama." Ujar Abimana tersenyum melihat Sinta.
Sinta membelakakan matanya dia sungguh nggak tau kalau di dapur ada cctv, dahinya berkeringat badannya bergetar hebat, dia sudah ketakutan kalau dirinya sudah berani membohongi tuan mudanya.
Abimana membuka laptopnya dan mecari rekaman cctv tadi sore saat kejadian di dapur, Abimana mengarahkan laptopnya ke arah Fani dan Sinta agar mereka bisa melihatnya dengan jelas.
Fani dan Sinta melihat rekaman cctv yang sedang menujukan kejadian tadi sore saat di dapur, dari Fani yang sedang mengulek sambel, bi Sumi yang sedang menggoreng ikan dan Sinta yang baru sajah mengangkat sayur dan dengan sengaja menumpahkan kua panas di tangan Fani walaupun cuma sedikit.
"Jadi kamu mau menjelaskan apa Sinta? Kamu berani membohongi saya kamu tau apa akibatnya kalau sampai Fani terluka, dia nggak akan bisa menjaga Dikta dan dia cuma bisa makan gaji buta. Saya nggak mau rugi apa kamu mengerti." Ucapnya.
Abimana terpaksa mengatakan kalau Fani cuma makan gaji buta, dia nggak mau kalau Fani dan Sinta tau kalau dia lagi membela Fani di depan mereka berdua, Sinta tersenyum kirain di bakalan kena omelan ternyata tuan mudanya nggak mau kalau beliau rugi karena mengeluarkan gaji untuk Fani.
Fani geram mendengar Abimana mengatakan kalau dia hanya akan makan gaji buta saat dia terluka, tapi Fani hanya bisa diam nggak mau mengatakan apa-apa sama tuan mudahnya yang super kaku ini.
"Jadi sebagai gantinya gaji kamu saya potong satu bulan ini," Ucap Abimana melihat Sinta.
"Tapi tuan." Sinta nggak jadi protes saat melihat tatapan maut dari Abimana.
"Bapak nggak usa potong gaji Sinta, bapak bisa potong gaji saya sajah biar saya nggak menerima gaji buta." Sahutnya.
Abimana merasa tersindir dengan ucapan Fani, dia menatap Fani yang berani membantah ucapan tuan mudanya.
"Saya nggak menerima protesan kalian dan saran dari kalian sekarang kalian boleh pergi dari sini." Perintahnya.
...****************...
Voke suda sampai di sekolahan Dikta dia ingin menjemput Dikta dan mengajaknya jalan ke mall, karen sudah waktunya Dikta pulang sekolah sedangkan Fani belum datang menjemput Dikta akibat terkena macet di jalan.
Dikta sudah keluar dari kelasnya dia duduk di kursi biasa saat dia menunggu Fani menjemputnya, tapi tumben sekali Fani belum dateng menjemputnya nggak seperti biasanya Fani nggak perma telat menjemputnya tapi untuk hari ini untuk pertama kalinya Fani terlambat.
"Dikta kamu belum di jemput sayang?" Tanya guru yang mengajarnya.
"Belum bu mungkin mamah Fani terkena macet di jalan." Jawabnya.
"Ooh, begitu ibu guru temenin mau nggak, biar Dikta nggak sendirian?" Tanyanya meminta izin sama Dikta.
"Boleh bu, apa bu Dea nggak keberatan untuk temenin Dikta di sini?" Dikta balik bertanya.
"Nggak dong sayang." Sahutnya.
Dari jau Voke melihat Dikta yang sedang ngobrol sama gurunya, di lihat dari seragam yang di pakai perempuan muda yang lagi ngobrol sama Dikta anak semata wayangnya bua cintanya bersama mantan suaminya Abimana.
Voke rasanya sudah sangat merindukan anaknya yang sudah bertahun-tahun nggak ketemu. Dia ingin berusaha mengambil hati anaknya agar dia gampang untuk mendapatkan Abimana kembali bersamanya. Voke berjalan dan mendekati Dikta dia sudah ada di depan mereka berdua.
"Hai, kamu Dikta kan?" Tanya Voke basa basi.
Dikta dan Dea melihat perempuan cantik yang ada di depanya. Dikta nggak menjawab dia masi sangat asing dan nggak mengenal perempuan yang ada di depannya, Voke yang tau kalau Dikta bingung langsung menjelaskannya.
"Kenalin nama ma.. eh... Maksudnya nama tante Voke, tante temen dari mba Fani tante di suruh tante Fani untuk menjemput Dikta untuk mengantarkan Dikta pulang karena mba Fani lagi di suruh omah buat belanja, apa Dikta mau pulang bersama tante." Ujar Voke meminta mengajak Dikta untuk pulang bersama.
"Jangan mau!" Teriak seseorang dari belakang.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments