Degh.
Jantung Abimana berdetak lebih cepat, saat dia nggak sengaja menangkap Tifani yang hampir sajah terjatuh dia langsung melepaskan dekapannya dan menatap tajam sama Tifani.
Tifani yang melihat tatapan tuan mudahnya menundukan kepalanya dia nggak berani melihat tampang serem majikannya.
"Maafkan saya tuan, saya nggak sengaja," Ucapnya menundukan wajahnya.
Abimana meninggalkan Tifani begitu sajah, ada apa denganku kenapa jantungku berdetak sangat cepat, apa ada masalah sama jantungku? Aku harus secepatnya periksakan ke dokter aku takut ada masalah dengan jantungku.
Tifani bergegas masuk kedalam kamar Dikta, dia masih melihat Dikta yang masih bergelut di bawah selimutnya, dia mendekat keranjang Dikta untuk segera membangunkannya.
"Den Dikta bangun yu sudah siang," Ucapnya membangunkan anak majikannya.
Dikta membuka matanya dia melihat Tifani sedang tersenyum ke arahnya. Dikta bangun dan menyadarkan badannya di kepala ranjang dia tersenyum melihat Tifani yang lagi berdiri.
"Pagi mamah." Sapah Dikta sebagai ucapan selamat paginya.
Fani sudah nggak kaget lagi dengan panggilan Dikta untuknya, terkadang dia merasa nggak enak kalau Dikta memanggilnya mamah mengingat bu Rina dan Abimana terlihat nggak suka dengannya.
"Pagi den Dikta, sekarang aden mandi yah kan mau sekolah, papah, omah dan tante Pricil sudah nunggin di luar loh," Ucapnya tersenyum.
"Iya, Dikta mau mandi sekarang." Jawabnya antusias.
Tifani dan Dikta berjalan menuruni anak tangga, Dikta yang melihat papahnya melangkah terburu-buru untung sajah dia nggak terjatuh Tifani sudah was-was takut kalau sampai Dikta terjatuh bisa kena semprot sama tuan mudanya.
"Papah!" Teriaknya langsung duduk di pangkuan papahnya.
"Hai sayang, anak papah sudah ganteng." Ujarnya mencium pipi anaknya.
"Iya dong papah, mamah yang dandanin Dikta sampai Dikta jadi ganteng seperti ini." Dikta berkata dengan mata berbinar.
Abimana bingung siapa perempuan yang Dikta panggil mamah? Apaka Jenna yang sering menyuruh Dikta untuk memanggilnya mamah, tapi Dikta kan selalu menolak kalau Jenna memaksanya untuk memanggil dia dengan sebutan mamah.
"Mamah?" Tanyanya penasaran.
"Iya pah, mama Fani." Sahutnya melebarkan senyumnya melihat ke arah Tifani yang sedang berdiri.
Abimana mengikuti arah pandang anaknya dia terkejut perempuan yang di maksud Dikta adalah perempuan yang dia peluk semalem walaupun tanpa sengaja, Tifani menggelengkan kepalanya pelan dia nggak mau kalau Abimana menuduh dirinya yang menyuruh Dikta untuk memanggilnya mamah.
"Dikta sekarang duduk di kursi ya kita sarapan sekarang, nanti Dikta terlambat loh." Pricil mengalihkan pikiran kakanya.
...****************...
Saat ini Abimana sudah berada di kantornya, banyak karyawan yang menyapanya tapi dia hanya menjawab dengan deheman tanpa bersuara, dia bertemu Alfin sang asistennya.
"Pagi pak." Sapahnya.
Abimana menganggukan kepalanya, sebelum dirinya masuk kedalam ruangannya dia berbalik dan menyuruh Alfin untuk mendatangi ruangannya, Alfin menganggukan kepalanya dan mengikuti Abimana masuk kedalam ruangannya.
Abimana duduk di kursi kebesarannya dia menyuruh Alfin duduk karena ada sesuatu yang mau di katakan padanya, tanpa bantahan Alfin duduk di kursi yang berhadapan dengan atasannya, mereka memang sahabatan tapi kalau di jam kerja mereka tetep konsisten layaknya atasan dan bawahan.
"Fin gue minta luh cari dokter spesialis jantung terbaik yang ada di jakarta, pokoknya yang terbaik." Ujarnya menatap Alfin yang sedang kebingungan.
"Apa bapak sakit?" Tanyanya khawatir.
"Ayolah hanya ada kita berdua nggak usah se formal itu." Sahutnya.
"Ok, ok baiklah, jadi gimana apa luh sakit jantung?" Tanyanya masih tetep khawatir.
"Entah lah gue nggak tau, tiba-tiba sajah tadi pagi jantungku berdetak sangat kencang nggak seperti biasanya.
"Ok, gue pergi sekarang ya untuk mencarikan luh dokter spesialis jantung terbaik yang ada di jakarta, gue juga takut luh mati bagaimanapun luh duda yang belum laku." Sahutnya tergalak.
Abimana melototkan matanya melihat Alfin yang sedang terbahak menetertawakan dirinya, Alfin memang sering kali meledek sahabatnya ini emang sahabat dan asisten nggak ada akhlak.
"Sialan luh, gue mending sudah pernah laku dari pada luh, sekalipun belum pernah laku." Sahut Abimana bergantian meledek Alfin.
"Hah, kebiasaan luh, gue bukannya nggak laku tapi gue lagi pilih-pilih sajah." Ujarnya lagi.
"Hala alesan sajah luh." Kata Aditama lagi.
"Taraaa!" Teriakan seseorang mengagetkan mereka.
Bersambug..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
susi 2020
😍😍🥰
2023-04-09
0
susi 2020
😎😎😎😘
2023-04-09
0
ᴍ֟፝ᴀʜ ᴇ •
temen ga ada akhlak🤣🤣
2023-02-24
0