"Kau," Voke terkejut melihat Abimana di depan nya.
Sama seperti Voke, Fani pun sama terkejut melihat tuan mudanya ada di hadapannya, dia heran kenapa Abimana ada di sini.
"Berani kau menyentuh calon istri saya, maka kamu harus berhadapan dengan saya langsung." Ujarnya memeluk pinggang Fani untuk mendekatinya.
Voke menggelengkan kepalanya dia nggak percaya kalau, Abimana seleranya perempuan kampung seperti pengasuh anaknya, dia tersenyum meledek melihat Abimana dan Fani secara bergantian.
Fani terkejut mendengar ucapan tuan mudanya, bagaimana bisa Abimana mengatakan kalau dirinya adalah calon istrinya bener-bener meresahkan.
"Kamu nggak usah bohong mana mungkin selera kamu turun kaya begini mas, dari permata ke batu akik." Voke memandang rendah Fani.
Abimana melihat Fani yang sedang melihat Voke nggak suka karena sudah merendahkan dirinya, Abimana punya ide untuk membuat Voke percaya kalau ucapanya yang mengatakan kalau Fani memang benar calon istrinya.
"Apa kamu nggak percaya sama ucapan aku?" Tanyanya mengangkat satu alisnya.
"Iya lah jelas aku nggak percaya." Jawabnya.
Abimana mendekati Fani dan berdiri di depannya, tanpa menghiraukan tatapan Fani yang waspada melihat dirinya, tapi Abimana nggak memperdulikannya.
Cup.
Abimana mengecup kening Fani membuat Fani membelakakan matanya, Voke nggak kalah terkejut melihat perlakuan Abimana sama pengasuh anaknya.
Abimana berbalik badan dan melihat Voke yang sedang menatapnya marah, Abimana berharap Semoga saja Voke percaya dengan semua yang dia perlihatkan di depannya.
"Jadi gimana apa kamu masi belum percaya? Setelah melihat semuanya dan inget nggak ada permata yang rela terjun ke lumpur dengan secara sengaja, lebih baik batu akik yang ternyata keindahannya melebihi permata." Ucapnya.
"Aku nggak terima kamu perlakuan aku seperti ini!" Teriaknya di depan wajah Abimana.
"Dan kamu harus inget kalau kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi." Abimana melihat Voke dengan senyum meledek.
Voke meninggalkan Abimana dan Fani yang saling berpandangan, setelah kepergian Voke, Fani mencubit pinggang tuan mudanya dengan keras sembuat Abimana mengadu.
Auh!
"Kamu," Ucapnya berang melihat Fani.
"Apa ha... Jangan mentang-mentang bapak bos saya bapak seenaknya, main Sentuh-sentuh saya dan main cuim-cium segala," Ucapnya menatap tajam melihat Abimana.
"Hei, jangan kepedean ya kamu, saya melakukan ini bukan buat kamu, tapi buat saya sendiri biar Voke nggak mendekati saya lagi." Sahutnya.
"Saya nggak peduli, kalau bapak mau bikin mantan istri bapak nggak berani mendekati bapak cari pasangan makanya." Fani nggak mau kalah sama bosnya.
Fani nggak takut kalau orang yang ada di depannya ini adalah bos yang menggaji dirinya. Fani berani melawan bosnya sendiri.
"Dasar bos mesum," Ucapnya meninggalkan Abimana sendirian.
Abimana mendelik saat di katakan bos mesum sama pengasuh baru anaknya, beraninya Fani mengatakan dia bos mesum.
"Hei, berani ya kamu mengatakan saya mesum!" Teriaknya yang nggak di hiraukan Fani.
Fani mendekati Dikta yang sedari tadi di titipkan sama satpam penjaga sekolah, Dikta yang melihat Fani dan papahnya tersenyum senang.
"Mamah, Papah!" Teriak Dikta memanggil Fani dan papahnya.
"Pak terimakasih yah sudah mau jagain Dikta." Fani mengucapkan terimakasih sama pak satpam.
"Sama-sama bu, kalau gitu saya permisi dulu." Pamitnya.
Dikta berhambur memeluk papahnya, Abimana menggendong anaknya yang terlihat senang dengan kedatangannya.
"Papah, papah kesini?" Tanyanya menangkup pipi Abimana.
"Iya sayang, apa papah nggak boleh datang kesini untuk menjemput anak papah ini?" Tanyanya mencubit gemas pipi Dikta.
Dikta terkekeh dan tersenyum bahagia, Fani yang melihat Dikta dan Abimana, dia ikut merasakan bahagia, mereka berdua masi saja tersenyum bahagia.
"Pah kita jalan-jalan yah?" Tanyanya.
"Dikta mau jalan kemana sayang? Apa nggak nanti saja hari libur biar bisa puas jalan-jalannya, soalnya papah harus kembali ke kantor." Abimana merasa nggak enak melihat anaknya yang terlihat sedih.
Fani yang nggak mau melihat Dikta bersedih, Fani mencoba untuk menghiburnya.
"Dikta nggak boleh sedih gitu dong, bener apa kata papah mending jalannya hari libur sajah biar rame, nanti Dikta mau pergi jalan kemanapun papah pasti akan menemani Dikta, sekarang biarkan papah kerja dulu yah kan papah cari uang buat bikin Dikta bahagia." Fani memberi pengertian sama Dikta biar Dikta nggak terlalu sedih.
Abimana yang melihat ketulusan Fani terhadap anaknya jadi merasa bahagia, akhirnya ada juga perempuan yang membuat Dikta merasakan kasih sayang seseorang ibu.
"Baiklah mah, tapi mamah nanti ikut yah?" Tanyanya melihat Fani.
Fani bingung harus menjawab apa nggak mungkin dia mengatakan iya karena dia juga nggak tau apa Abimana mengizinkan dia ikut atau nggak, Abimana yang tau kelau Fani sedang kebingungan dia membantu Fani untuk menjawabnya.
"Iya sayang mba Fani boleh ikut kita jalan-jalan." Jawabannya.
"Horeee...!" Teriak Dikta ke girangan.
Abimana dan Fani tersenyum melihat Dikta bahagia.
...****************...
Di kampus Pricilia lagi duduk di kantin bersama teman-temannya, mereka sedang tertawa nggak tau apa yang mereka obrolin sampai Pricilia tersenyum begitu lebar.
Tiba-tiba seseorang dengan sengaja menumpahkan jus di baju Pricilia dan membuat baju yang di kenakan Pricilia kotor kena tumpahan jus, dia mendongakkan wajahnya melihat seseorang yang sedang tersenyum meledek ke arahnya.
"Ups... Sengaja," Ucapnya menutup mulutnya.
"Monik!" Teriaknya bediri melihat Monika.
Monika cewe yang sangat membenci Pricilia karena menganggap dirinya saingannya di kampus, Monika sangat membenci Pricilia karena dia Monika jadi merasa di nomor duakan di kampusnya, semua dosen dan cowo-cowo di kampusnya selalu memujinya.
"Apa, nggak Terima?" Tanyanya.
"Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu menyiram jus di baju gue." Ujarnya menatap Monika.
"Karena gue nggak suka sama luh, gara-gara luh semua dosen dan semua cowo yang ada di sini selalu memuji luh." Jawabnya.
"Nggak waras luh ya, hanya gara-gara itu luh benci sama gue, pantes saja si semua orang nggak suka sama luh karena luh cewe nggak waras." Ujarnya.
"Apa luh bilang gue nggak waras!" Monika melihat Pricilia dengan kesal.
"Iya, luh memang cewe nggak waras." Sahutnya.
"Luh." Monika menjambak rambut Pricilla.
"Lepaskan Monik sakit," Pricilia berusaha melepaskan tangan Monik dari rambutnya.
Kedua temen Monika mentertawakannya, melihat Monika yang sedang menjambak rambut Pricilia. Sedangkan kedua temen Pricilia berusaha membantu Monik untuk melepaskannya.
"Hei, kalian berdua kenapa diem saja, lihat temen kalian yang nggak waras ini lagi kesetanan, cepatan bawa dia pergi dari sini." Ujar Sintia temen Pricilla.
Pricilia yang sudah merasakan kesakitan karena rambutnya di tarik, dia mendorong Monika cukup keras sampai dia terjatuh dan mengenai meja, sampai Monika mengaduh kesakitan.
"Pricilia apa yang luh lakukan sama Monik!" Seseorang berteriak.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments