Part 17

"Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya seseorang yang baru dateng.

Fani sedang mengaduh karena tumpahan sup panas yang baru di angkat, bi Sumi membantu mengoleskan odol di tangan Fani yang tersiram kuah panas walaupun cuma sedikit tetapi tetep sajah terasa panas.

Sinta tersenyum sinis melihat Fani yang sedang kesakitan, Bu Rina mendekati Fani dan bi Sumi yang lagi mengobati luka Fani, Sinta dan bu Rina saling lempar senyum melihat Fani yang sedang kesakitan.

"Saya bertanya ada apa ini ribut-ribut? Kenapa kalian hanya diem sajah apa kalian tuli hah!" Teriak bu Rina marah.

Fani dan bi Sumi melihat bu Rina yang lagi menatap mereka berdua dengan tajam, bi Sumi mendekati nyonya besarnya beliau menundukan wajahnya.

"Maaf nyah tadi Sinta menumpahkan kua sup panas di tangan Fani, saya izin untuk mengantarkan Fani kekamar dulu nya kasian dia kesakitan," Ucap bi Sumi melihat majikannya.

"Saya kan nggak sengaja bi Sumi, bibi jangan kaya gitu dong ngomongnya." Ujar Santi pura-pura merasa bersalah.

"Enak sajah kamu bilang menyuruh dia beristirahat dia sajah kerjanya nggak hati-hati. Nggak bisa dia harus tetep melanjutkan pekerjaannya." Sahut bu Rina menatap tajam mereka berdua.

"Tapi nya tangan Fani sedang melepuh." Ujar bi Sumi.

"Saya nggak peduli, sekarang kalian kembali bekerja, kamu jangan cari alasan supaya nggak ikut masak membantu mereka." Bu Rina menunjuk wajah Fani.

"Iya nya." Sahut Fani menahan sakit.

Fani dan bi Sumi kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan bu Rina mendekati Sinta yang masih berdiri beliau mendekati Sinta dan berbisik di telinganya.

"Kerja bagus terus kerjain dia, bikin dia merasa nggak betah bekerja di sini." Bisiknya.

"Siap nya." Jawab Sinta menganggukan kepalanya pelan.

Dengan sekuat tenaga Fani masi melanjutkan membantu bi Sumi dan Sinta, walaupun Fani menahan perih akibat tangannya yang melepuh.

"Fani maafin bibi ya, bibi nggak bisa berbuat apa-apa untuk membantu kamu," Ucap bi Sumi mengusap kepala Fani yang tertutup hijab.

"Iya bi nggak papa. Fani baik-baik saja ko, bibi nggak usa khawatir ya." Fani menenangkan bi Sumi biar beliau nggak merasa bersalah.

"Duh... Kamu ini lebay banget si, baru segitu saja udah cengeng." Sinta menyela ucapan mereka berdua.

Mendengar ucapan Sinta bi Sumi melihat ke arah Sinta dan mendekatinya, beliau menatap tajam Sinta membuat Sinta memutar bola matanya malas, dia tau bi Sumi pasti mau membela Fani dan menyalahkan dia.

"Saya tau kalau kamu sengaja menumpahkan kua panas di tangan Fani?" Tanyanya menunjuk-nunjuk wajah Sinta.

"Dih... Sudah aku katakan kalau aku nggak sengaja kenapa bibi masih saja menuduhku." Ucap Sinta pergi meninggalkan bi Sumi yang masi menyalakannya.

Biar Bagaimanapun Sinta juga takut sama bi Sumi, karena bi Sumi sudah lama bekerja sama Abimana dan bi Sumi juga orang kepercayaan Abimana dia takut kalau-kalau bi Sumi mengadukannya sama Abimana.

"Bi sudah bi, Fani nggak papa ko mungkin memang bener Sinta nggak sengaja menumpahkan kua panas." Ujar Fani.

Semua menu makan malam sudah tersaji di meja makan, tinggal menunggu para penghuni rumah mewah milik Abimana berkumpul untuk menyantap makan malam yang sudah tersaji.

Fani masuk kedalam kamar Dikta dia melihat Dikta yang masih mewarnai gambarnya, Fani melihat Dikta yang sudah berganti baju dan sudah terlihat begitu tampan dia merasa bersalah sudah meninggalkan Dikta terlalu lama sampai Dikta mandi sendiri.

"Den Dikta." Panggilnya.

Dikta mendongakan wajahnya dia tersenyum mendekati Fani dia menggandeng tangan Fani dan menyuruhnya duduk, Dikta menunjukan gambar yang tadi sudah di warnai.

"Mah lihat Dikta sudah selsai mewarnai semua gambar Dikta, bagus nggak mah!" Tanyanya.

"Bagus, den Dikta memang pinter." Jawabnya.

Dikta tersenyum senang mendengar jawaban dari Fani, Dikta melihat tangan Fani yang di perban dia memegang tangan Fani yang ada perbannya.

"Mamah tangan mamah kenapa? Ko bisa di perban kaya gini kata papah kalau ada bagian tubuh kita yang di perban kaya gini itu tandanya orang itu sedang terluka, apa mamah sedang terluka?" Tanyanya mengusap-usap perban Fani.

"Nggak papa Sayang, mba Fani cuma terluka sedikit saja ko sebentar lagi juga sembuh." Jawabnya nggak mau membuat Dikta khawatir.

"Oh, begitu mamah nggak bohong kan?" Dikta masih belum percaya sama ucapan Fani.

"Iya den, mba Fani nggak bohong ko ayo sekarang kita turun ke bawah ya buat makan malam, omah, aunty sudah nungguin Dikta." Fani mengusap kepala Dikta.

"Apa papah belum juga pulang mah? Ko yang nungguin Dikta cuma omah dan aunty sajah." Sahutnya melihat Fani dengan wajah meminta jawaban.

"Papah sudah pulang, mungkin sebentar lagi juga papah pasti turun, makanya ayo jangan sampe papah yang nungguin Dikta, nggak baik loh orang tua nungguin anaknya saat kalau mau makan." Fani kasih pengertian lagi.

"Iya baiklah ayo mah kita turun, Dikta nggak mau kalau sampai papah nungguin Dikta." Ucapnya.

Fani dan Dikta keluar dari kamar dan kebetulan Abimana juga baru keluar dari kamarnya mereka bertiga berpapasan, Dikta menggandeng tangan kanan papahnya sedangkan Dikta menggandeng tangan kiri Fani, mereka bertiga menuruni anak tangga layaknya keluarga bahagia Fani merasa nggak enak apalagi dia mendapat tatapan tajam dari bu Rina, membuat Fani nggak berani melihat tatapan tajam bu Rina.

Sinta mengepalkan tangannya melihat mereka bertiga, dia rasanya nggak terima Fani yang baru beberapa minggu kerja di kediaman Abimana sudah mendapatkan tempat special di hati Dikta, sedangkan dirinya yang sudah bertahun-tahun kerja di rumah Abimana nggak bisa meluluhkan hati Dikta anak majikannya itu.

Pricilia dan bi Sumi tersenyum melihat mereka bertiga layaknya keluarga bahagia, mereka berharap semoga sajah suatu saat mereka beneran menjadi keluarga yang bahagia semoga Fani bisa menggantikan Voke di hati mas Abi batin Pricilia penuh harap.

Abimana duduk di samping ibunya, Dikta ikut duduk di samping papahnya Fani mengambilkan makanan untuk Dikta sesuai ke inginannya.

"Mah kenapa mamah nggak mengambilkan papah juga?" Tanyanya polos.

Pricilia tersenyum sedangkan Abimana terkejut mendengar perkataan Dikta, bu Rina wajahnya sudah merah padam menahan amarah.

"Den Dikta nggak boleh bilang seperti itu ya nggak boleh dosa loh," Fani memberi pengertian pada Dikta.

Dikta menganggukan kepalanya pelan mereka semua menyantap hidangan makan malam, sedari tadi Abimana memperhatikan tangan Fani yang di perban tapi dia enggan untuk menanyakannya gengsi lah apalagi ada adiknya Pricilia.

Selepas makan malam Dikta kembali ke kamarnya di temani Fani, bu Rina, Pricilia dan Abimana ngobrol di ruang tamu sebelum akhirnya Abimana ikut berpamitan sama mamah dan juga adiknya, Abimana ingin memastikan kenapa tangan Fani bisa di perban apa yang terjadi padanya dia nggak mau kalau Fani sampai terluka dan lalai menjaga anaknya.

Abimana sudah ada di depan pintu kamar Dikta, dia ingin membu pintu kamar Dikta tapi keduluan di buka Fani dari dalam, Abimana kaget tertarik ke dalam dan jatuh menimpa Fani dia ada di atasnya sedangkan Fani ada di bawahnya.

Cup.

Degh.

"Pak Abi." Suara orang yang baru dateng mengagetkan mereka.

Bersambung..

Terpopuler

Comments

Reny Saputro

Reny Saputro

semangat

2023-01-04

1

lihat semua
Episodes
1 Part 1
2 Part 2
3 Part 3
4 Part 4
5 Part 5
6 Part 6
7 Part 7
8 Part 8
9 Part 9
10 Part 10
11 Part 11
12 Part 12
13 Part 13
14 Part 14
15 Part 15
16 Part 16
17 Part 17
18 Part 18
19 Part 19
20 Part 20
21 Part 21
22 Part 22
23 Part 23
24 Part 24
25 Part 25
26 Part 26
27 Part 27
28 Part 28
29 Part 29
30 Part 30
31 Part 31
32 Part 32
33 Part 33
34 Part 34
35 Part 35.
36 Part 36
37 Part 37
38 Part 38
39 Part 39
40 Part 40
41 part 41
42 Part 42
43 Part 43
44 Part 44
45 Part 45
46 Part 46
47 Part 47
48 Part 48
49 Part 49
50 Part 50
51 Part 51
52 Part 52
53 part 53
54 Par 54
55 Part 55
56 Part 56
57 Part 57
58 Part 58
59 Part 59
60 Part 60
61 Part 61
62 Part 62
63 Part 63
64 Part 64
65 Part 65
66 Part 66
67 Part 67
68 Part 68
69 Part 69
70 Part 70
71 Part 71
72 part 72
73 Part 73
74 Part 74
75 Part 75
76 Part 76
77 Part 77
78 Part 78
79 Part 79
80 Part 80
81 Part 81
82 Part 82
83 Part 83
84 Par 84
85 Part 85
86 Par 86
87 Part 87
88 Part 88
89 Part 89
90 Part 90
91 Part 91
92 Part 92
93 Part 93
94 Part 94
95 Part 95
96 Part 96
97 Part 97
98 Part 98
99 Part 99
100 Part 100
101 Part 101
102 Part 102
103 Part 103
104 Par 104
105 Episode. 105. Promosi cerita baru
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Part 1
2
Part 2
3
Part 3
4
Part 4
5
Part 5
6
Part 6
7
Part 7
8
Part 8
9
Part 9
10
Part 10
11
Part 11
12
Part 12
13
Part 13
14
Part 14
15
Part 15
16
Part 16
17
Part 17
18
Part 18
19
Part 19
20
Part 20
21
Part 21
22
Part 22
23
Part 23
24
Part 24
25
Part 25
26
Part 26
27
Part 27
28
Part 28
29
Part 29
30
Part 30
31
Part 31
32
Part 32
33
Part 33
34
Part 34
35
Part 35.
36
Part 36
37
Part 37
38
Part 38
39
Part 39
40
Part 40
41
part 41
42
Part 42
43
Part 43
44
Part 44
45
Part 45
46
Part 46
47
Part 47
48
Part 48
49
Part 49
50
Part 50
51
Part 51
52
Part 52
53
part 53
54
Par 54
55
Part 55
56
Part 56
57
Part 57
58
Part 58
59
Part 59
60
Part 60
61
Part 61
62
Part 62
63
Part 63
64
Part 64
65
Part 65
66
Part 66
67
Part 67
68
Part 68
69
Part 69
70
Part 70
71
Part 71
72
part 72
73
Part 73
74
Part 74
75
Part 75
76
Part 76
77
Part 77
78
Part 78
79
Part 79
80
Part 80
81
Part 81
82
Part 82
83
Part 83
84
Par 84
85
Part 85
86
Par 86
87
Part 87
88
Part 88
89
Part 89
90
Part 90
91
Part 91
92
Part 92
93
Part 93
94
Part 94
95
Part 95
96
Part 96
97
Part 97
98
Part 98
99
Part 99
100
Part 100
101
Part 101
102
Part 102
103
Part 103
104
Par 104
105
Episode. 105. Promosi cerita baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!