"Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya seseorang yang baru dateng.
Fani sedang mengaduh karena tumpahan sup panas yang baru di angkat, bi Sumi membantu mengoleskan odol di tangan Fani yang tersiram kuah panas walaupun cuma sedikit tetapi tetep sajah terasa panas.
Sinta tersenyum sinis melihat Fani yang sedang kesakitan, Bu Rina mendekati Fani dan bi Sumi yang lagi mengobati luka Fani, Sinta dan bu Rina saling lempar senyum melihat Fani yang sedang kesakitan.
"Saya bertanya ada apa ini ribut-ribut? Kenapa kalian hanya diem sajah apa kalian tuli hah!" Teriak bu Rina marah.
Fani dan bi Sumi melihat bu Rina yang lagi menatap mereka berdua dengan tajam, bi Sumi mendekati nyonya besarnya beliau menundukan wajahnya.
"Maaf nyah tadi Sinta menumpahkan kua sup panas di tangan Fani, saya izin untuk mengantarkan Fani kekamar dulu nya kasian dia kesakitan," Ucap bi Sumi melihat majikannya.
"Saya kan nggak sengaja bi Sumi, bibi jangan kaya gitu dong ngomongnya." Ujar Santi pura-pura merasa bersalah.
"Enak sajah kamu bilang menyuruh dia beristirahat dia sajah kerjanya nggak hati-hati. Nggak bisa dia harus tetep melanjutkan pekerjaannya." Sahut bu Rina menatap tajam mereka berdua.
"Tapi nya tangan Fani sedang melepuh." Ujar bi Sumi.
"Saya nggak peduli, sekarang kalian kembali bekerja, kamu jangan cari alasan supaya nggak ikut masak membantu mereka." Bu Rina menunjuk wajah Fani.
"Iya nya." Sahut Fani menahan sakit.
Fani dan bi Sumi kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan bu Rina mendekati Sinta yang masih berdiri beliau mendekati Sinta dan berbisik di telinganya.
"Kerja bagus terus kerjain dia, bikin dia merasa nggak betah bekerja di sini." Bisiknya.
"Siap nya." Jawab Sinta menganggukan kepalanya pelan.
Dengan sekuat tenaga Fani masi melanjutkan membantu bi Sumi dan Sinta, walaupun Fani menahan perih akibat tangannya yang melepuh.
"Fani maafin bibi ya, bibi nggak bisa berbuat apa-apa untuk membantu kamu," Ucap bi Sumi mengusap kepala Fani yang tertutup hijab.
"Iya bi nggak papa. Fani baik-baik saja ko, bibi nggak usa khawatir ya." Fani menenangkan bi Sumi biar beliau nggak merasa bersalah.
"Duh... Kamu ini lebay banget si, baru segitu saja udah cengeng." Sinta menyela ucapan mereka berdua.
Mendengar ucapan Sinta bi Sumi melihat ke arah Sinta dan mendekatinya, beliau menatap tajam Sinta membuat Sinta memutar bola matanya malas, dia tau bi Sumi pasti mau membela Fani dan menyalahkan dia.
"Saya tau kalau kamu sengaja menumpahkan kua panas di tangan Fani?" Tanyanya menunjuk-nunjuk wajah Sinta.
"Dih... Sudah aku katakan kalau aku nggak sengaja kenapa bibi masih saja menuduhku." Ucap Sinta pergi meninggalkan bi Sumi yang masi menyalakannya.
Biar Bagaimanapun Sinta juga takut sama bi Sumi, karena bi Sumi sudah lama bekerja sama Abimana dan bi Sumi juga orang kepercayaan Abimana dia takut kalau-kalau bi Sumi mengadukannya sama Abimana.
"Bi sudah bi, Fani nggak papa ko mungkin memang bener Sinta nggak sengaja menumpahkan kua panas." Ujar Fani.
Semua menu makan malam sudah tersaji di meja makan, tinggal menunggu para penghuni rumah mewah milik Abimana berkumpul untuk menyantap makan malam yang sudah tersaji.
Fani masuk kedalam kamar Dikta dia melihat Dikta yang masih mewarnai gambarnya, Fani melihat Dikta yang sudah berganti baju dan sudah terlihat begitu tampan dia merasa bersalah sudah meninggalkan Dikta terlalu lama sampai Dikta mandi sendiri.
"Den Dikta." Panggilnya.
Dikta mendongakan wajahnya dia tersenyum mendekati Fani dia menggandeng tangan Fani dan menyuruhnya duduk, Dikta menunjukan gambar yang tadi sudah di warnai.
"Mah lihat Dikta sudah selsai mewarnai semua gambar Dikta, bagus nggak mah!" Tanyanya.
"Bagus, den Dikta memang pinter." Jawabnya.
Dikta tersenyum senang mendengar jawaban dari Fani, Dikta melihat tangan Fani yang di perban dia memegang tangan Fani yang ada perbannya.
"Mamah tangan mamah kenapa? Ko bisa di perban kaya gini kata papah kalau ada bagian tubuh kita yang di perban kaya gini itu tandanya orang itu sedang terluka, apa mamah sedang terluka?" Tanyanya mengusap-usap perban Fani.
"Nggak papa Sayang, mba Fani cuma terluka sedikit saja ko sebentar lagi juga sembuh." Jawabnya nggak mau membuat Dikta khawatir.
"Oh, begitu mamah nggak bohong kan?" Dikta masih belum percaya sama ucapan Fani.
"Iya den, mba Fani nggak bohong ko ayo sekarang kita turun ke bawah ya buat makan malam, omah, aunty sudah nungguin Dikta." Fani mengusap kepala Dikta.
"Apa papah belum juga pulang mah? Ko yang nungguin Dikta cuma omah dan aunty sajah." Sahutnya melihat Fani dengan wajah meminta jawaban.
"Papah sudah pulang, mungkin sebentar lagi juga papah pasti turun, makanya ayo jangan sampe papah yang nungguin Dikta, nggak baik loh orang tua nungguin anaknya saat kalau mau makan." Fani kasih pengertian lagi.
"Iya baiklah ayo mah kita turun, Dikta nggak mau kalau sampai papah nungguin Dikta." Ucapnya.
Fani dan Dikta keluar dari kamar dan kebetulan Abimana juga baru keluar dari kamarnya mereka bertiga berpapasan, Dikta menggandeng tangan kanan papahnya sedangkan Dikta menggandeng tangan kiri Fani, mereka bertiga menuruni anak tangga layaknya keluarga bahagia Fani merasa nggak enak apalagi dia mendapat tatapan tajam dari bu Rina, membuat Fani nggak berani melihat tatapan tajam bu Rina.
Sinta mengepalkan tangannya melihat mereka bertiga, dia rasanya nggak terima Fani yang baru beberapa minggu kerja di kediaman Abimana sudah mendapatkan tempat special di hati Dikta, sedangkan dirinya yang sudah bertahun-tahun kerja di rumah Abimana nggak bisa meluluhkan hati Dikta anak majikannya itu.
Pricilia dan bi Sumi tersenyum melihat mereka bertiga layaknya keluarga bahagia, mereka berharap semoga sajah suatu saat mereka beneran menjadi keluarga yang bahagia semoga Fani bisa menggantikan Voke di hati mas Abi batin Pricilia penuh harap.
Abimana duduk di samping ibunya, Dikta ikut duduk di samping papahnya Fani mengambilkan makanan untuk Dikta sesuai ke inginannya.
"Mah kenapa mamah nggak mengambilkan papah juga?" Tanyanya polos.
Pricilia tersenyum sedangkan Abimana terkejut mendengar perkataan Dikta, bu Rina wajahnya sudah merah padam menahan amarah.
"Den Dikta nggak boleh bilang seperti itu ya nggak boleh dosa loh," Fani memberi pengertian pada Dikta.
Dikta menganggukan kepalanya pelan mereka semua menyantap hidangan makan malam, sedari tadi Abimana memperhatikan tangan Fani yang di perban tapi dia enggan untuk menanyakannya gengsi lah apalagi ada adiknya Pricilia.
Selepas makan malam Dikta kembali ke kamarnya di temani Fani, bu Rina, Pricilia dan Abimana ngobrol di ruang tamu sebelum akhirnya Abimana ikut berpamitan sama mamah dan juga adiknya, Abimana ingin memastikan kenapa tangan Fani bisa di perban apa yang terjadi padanya dia nggak mau kalau Fani sampai terluka dan lalai menjaga anaknya.
Abimana sudah ada di depan pintu kamar Dikta, dia ingin membu pintu kamar Dikta tapi keduluan di buka Fani dari dalam, Abimana kaget tertarik ke dalam dan jatuh menimpa Fani dia ada di atasnya sedangkan Fani ada di bawahnya.
Cup.
Degh.
"Pak Abi." Suara orang yang baru dateng mengagetkan mereka.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Reny Saputro
semangat
2023-01-04
1