Seseorang menangkap tangan Abimana saat dia mau melayangkan tangannya ke arah anaknya, semua terkejut terutama Pricilia dia nggak menyangka kakanya hilang kendali dan hampir menapar anaknya dan lebih mengejutkan Pricilia adalah Fani yang berani menangkap tangan kakanya, seenggaknya Pricilia bernafas denga lega kalau nggak ada Fani mungkin Dikta sudah pingsan karena ulah papanya sendiri.
"kamu!" Teriak Abimana menatap tajam Fani.
Fani nggak takut dengan tatapan majikannya itu yang seakan ingin menerkamnya hidup-hidup, dia bahkan rela mati untuk membelah seorang anak kecil yang nggak tau apa-apa mau di sakiti seseorang. Apa lagi ini papahnya sendiri yang mau menyakiti anaknya.
"Maaf pak, enggak seharusnya bapak berlaku kasar sama Dikta, bahkan Dikta nggak tau apa-apa kenapa bapak se marah itu hanya dengan mendengar ucapan Dikta, kalau anak kecil melakukan kesalahan seharusnya di nasehatin bukan di kasarin seperti yang mau bapak lakukan tadi," Ucap Fani di depan semua orang yang melihatnya.
"Mamah!" Teriak Dikta menghambur ke pelukan Fani.
Fani memeluk Dikta dengan sayang di depan semuanya, dia nggak peduli dengan tatapan tajam bu Rina dan Abimana jangankan hanya sekedar tatapan tajam mereka, kalaupun harus di sakiti sama mereka semua Fani rela asal mereka nggak berbuat kasar sama anak kecil, bukan cuma Dikta siapapun anak kecilnya kalau ada orang yang mau berbuat kasar Fani akan membelanya.
"Dia anak saya, kamu nggak usah ikut campur." Ujar Abimana mengeraskan rahangnya.
"Iya saya tau dan saya paham betul kalau Dikta anak bapak, tapi apa bapak tega bermain kasar sama anak sendiri apalagi sampai main tangan? Anak kecil seperti Dikta harusnya di nasehatin kalau dia melakukan kesalahan dia masih ber umur lima tahun pak nggak kebayang kalau anak kecil seperti Dikta sampai kena pukulan dari tangan papahnya yang nggak ringan. Dan cukup berat mungkin Dikta akan terluka bahkan sampai pingsan di depan papahnya sendiri." Sahut Fani tanpa rasa takut.
Degh.
Abimana terkejut saat mendengar penuturan Fani, dirinya nggak sadar hampir sajah dia menyakiti anaknya yang selama ini sudah di jaganya sejak umur satu tahun saat mantan istrinya tega meninggakan anaknya yang masih butuh kasih sayang seorang ibu, Abimana terduduk di sofa dia menyesali perbuatannya sendiri, dia mengumpati kesalahannya yang hampir membuat anaknya terluka, Pricilia bangga sama Fani dia sampai berani melawan ucapan kakanya nggak sia-sia dia memperkejakan Fani sebagai pengasuh ponakannya, Pricilia berharap semoga suatu saat Fani beneran menjadi mamah sambung untuk Dikta putra semata wayang dari Voke dan kakanya Abimana.
"Hei, perempuan udik berani ya kamu menasehati anak saya, dia itu papahnya dia tau apa yang harus dia lakukan untuk mendidik anaknya," Ucap bu Rina berang.
"Dengan cara menyakiti anaknya dan hampir memukul anaknya, apa nyonya membenarkan tindakan putra anda untuk mengasari anaknya sendiri? Nyonya bahkan oma dari Dikta ko bisa-bisanya membela anak nyonya yang salah." Jawab Fani tanpa rasa takut.
Dia nggak peduli walaupun dirinya hanya pengasuh anak dari majikannya, tapi dia nggak takut walaupun harus di caci maki sama mereka berdua, dia nggak akan mentolerir tindak kekerasan orang tua sama anaknya.
"Dasar pembantu nggak punya sopan santun berani melawan ucapan majikan ya kamu." Sahut bu Rina menujuk-nunjuk Fani dengan jari telunjuknya.
"Maaf nyonya bukan maksud saya melawan nyonya dan pak Abi, saya cuma membela apa yang memang harus di bela." Kata Fani lagi.
"Kau." Ujar bu Rina.
"Diam!" Teriak Abimana membanting gelas yang ada di meja membuat bu Rina dan Pricilia terkejut.
Prang!
"Mamah." Dikta memeluk Fani semakin erat.
"Sayang ayo kita kekamar yah, Dikta harus segera tidur besok kan Dikta harus sekolah, Dikta nggak mau terlambat kan biar nanti nggak di suruh bu guru berdiri di depan kelas," Ucap Fani mengusap kepala Dikta.
"Iya mah, mamah bacain dongeng buat Dikta ya?" Tanyanya penuh harap.
"Iya sayang." Jawab Fani membuat Dikta kegirangan.
"Yea, ayo mah kita kemar." Sahutnya.
"Saya permisi dulu nyonya, pak Abi, nona Pricil." Fani berpamitan sama semuanya.
"Good night, papah." Sambung Dikta berpamitan sama papahnya.
Bu Rina mendengus, Pricilia tersenyum sedangkan Abimana masih diam mematung melihat interaksi antara Fani dan juga anaknya, maafin papah nak. Fani berjalan menaiki tangga sambil menggendong Dikta yang terlihat manja.
Pricilia juga ikut berpamitan sama mamahnya dan juga kakanya untuk masuk ke dalam kamarnya meninggalkan mereka berdua, Abimana masih terdiam mengingat kejadian tadi betapa bodohnya dia hampir menampar anaknya sendiri. Bu Rina mendekati anaknya dan memegang pundaknya.
"Abi." Panggilnya.
"Abi cape mah, Abi mau istrirahat dulu mamah istirahatlah ini sudah malam." Abimana meninggalkan bu Rina sendirian.
Bu Rina mengumpati Fani yang sudah berani melawannya dan juga melawan anaknya, seumur-umur nggak ada yang berani melawan dirinya dan juga anaknya Abimana. "Dasar perempuan udik kampungan lihat sajah saya akan membuatmu menderita selama kerja di sini. bu Rina tersenyum sinis dan masuk ke dalam kamarnya."
Bi Sumi yang melihat kejadian barusan sunggu salut dengan sikap Fani yang berani melawan majikannya demi untuk membantu Dikta, beliau nggak menyangka Fani ternyata punya keberanian juga beliau pikir Fani akan diem sajah saat Abimana dan bu Rina menyudutkannya yang sudah berani ikut campur dengan urusan mereka, bi Sumi tesenyum senang beliau juga harus segera istrirahat.
Di dalam kamar Fani lagi menasehati Dikta dengan cara yang mampu di pahami oleh Dikta, biar bagaimanapun Dikta harus mematuhi ucapan bu Rina dan papahnya dan nggak boleh melawannya setiap perkataan yang di katakan oma dan papahnya.
"Dikta, Dikta sayang nggak sama oma dan papah?" Tanyanya.
"Tentu sajah Dikta sayang sama oma dan papah, bukan cuma mereka berdua yang Dikta sayang tapi sama aunty Pricil dan aunty Ayumi sama om Irham juga Dikta sayang mereka semuanya.
Fani tersenyum mendengar jawaban dari Dikta, Fani bisa melihat kalau sesungguhnya Dikta itu anak yang pintar dan bisa mencerna ucapan yang menurutnya baik dan nggak baik.
"Kalau Dikta sayang sama mereka, Dikta nggak boleh menjawab ucapan oma dan papah yah? Mereka cuma mau yang terbaik demi Dikta ko jadi Dikta harus nurut sama mereka ya," Ucapnya membelai rambut Dikta.
"Dikta selalu nurut ko sama mereka, cuma Dikta nggak mau kalau oma menyuruh Dikta untuk memanggil aunty Jenna dengan sebutan mamah." Jawabnya.
"Terus Dikta sayang nggak sama mba Fani?" Tanyanya.
"Jelas sayang lah, Dikta nggak mau memanggil mamah Fani dengan sebutan mba." Jawabnya membuat Fani terharu.
"Kalau Dikta sayang sama mba Fani, Dikta jangan manggil mba Fani dengan sebutan mamah ya, Dikta nggak mau kan kalau mba Fani di marahin sama oma gara-gara Dikta manggil mba Fani dengan sebutan mamah? Karena mba Fani cuma kerja di sini sebagai pengasuh Dikta apa Dikta mengerti?" Tanyanya melihat Dikta yang sedang menatapnya dalam.
"Apa salahnya Dikta memanggil mba Fani dengan sebutan mamah? Sejak kecil Dikta nggak punya mamah dan sejak kecil Dikta nggak pernah merasakan kasih sayang seorang mamah, bahkan setiap hari papah sibuk ke kantor tanpa menanyakan Dikta sudah makan belum? Gimana pelajaran sekolah papah selalu sibuk ke kantor berangkat pagi pulang malam papah nggak ada waktu buat Dikta, hanya aunty Pricil yang perhatian sama Dikta itupun kalau aunty nggak kulia, kalau aunty berangkat kulia Dikta kembali sendirian di rumah, apa Dikta nggak boleh memanggil mba Fani dengan sebutan mamah?Sejak kedatangan mbak Fani Dikta merasakan kasih sayang seorang mamah. Jadi bolehkan Dikta memanggil mba Fani mamah?" Tanyanya penuh harap.
Fani meneteskan air matanya saat mendengar cerita Dikta yang panjang lebar, Fani merasa kasihan ternyata di balik senyum dan kelucuan yang Dikta perlihatkan hanya untuk menutupi kesedihannya yang membutuhkan kasih sayang seorang ibu, supaya nggak bikin papahnya khawatir kalau sebenernya dia nggak baik-baik sajah. Dimana mamahnya Dikta sampai sekarang dia juga belum tau.
"Boleh sayang, Dikta boleh memanggil mba Fani dengan sebutan mamah." Jawabnya.
"Terimakasih mah, Dikta mau berdoa sama Allah semoga mamah Fani bener-bener menjadi mamah Dikta.
Degh.
bersambung.
Jangan lupa dukung author dengan cara Like, coment kasih hadia buat author atau vote buat author biar dong 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
delesia
omongan Dikta terlalu berlebihan deh 😂 sejenius apapun anak kecil, ga bs omong dewasa sepanjang itu😂
2023-07-08
0
LISA
Kasian Dikta..papanya aj g perhatian ke dia..moga aj Fani beneran jadi Mamanya Dikta
2022-12-29
0
Reny Saputro
semangat
2022-12-28
1